NovelToon NovelToon
Di Balik Tirai Luka

Di Balik Tirai Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Sistem
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: wyzy

Bagi Alya, pernikahan adalah sebuah janji suci. Namun, di usianya yang ke-22, janji itu berubah menjadi transaksi gelap. Demi menyelamatkan ayahnya dari jeratan hukum akibat kebangkrutan besar dan serangan jantung ibunya, Alya terpaksa menerima pinangan Arka Dirgantara, seorang pengusaha muda nan dingin yang memiliki kekuasaan mutlak.
Alya mengira dia hanya akan menjalani pernikahan tanpa cinta. Namun, kenyataan jauh lebih pahit: Arka tidak menginginkan hatinya, ia menginginkan kehancurannya.
Arka menyimpan dendam masa lalu yang membara. Ia meyakini bahwa ayah Alya adalah penyebab kematian tragis ibunya bertahun-tahun silam. Baginya, menikahi Alya adalah cara paling elegan untuk menyiksa musuhnya melalui tangan orang yang paling dicintai sang musuh. Di mansion megah yang lebih menyerupai penjara emas, Alya harus bertahan menghadapi dinginnya sikap Arka, intimidasi ibu mertua yang kejam, hingga kehadiran masa lalu Arka yang terus memojokkannya.
Namun, di tengah badai air mata dan perlak

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wyzy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Ambang Badai

Lorong Rumah Sakit St. Mary di London terasa begitu panjang dan mencekam. Lampu-lampu neon yang dingin seolah menertawakan Arka yang kini berlari sambil menggendong tubuh Alya. Kemeja mahalnya kini basah oleh keringat dan rintik hujan yang belum sempat kering, sementara tangannya gemetar merasakan napas Alya yang memburu dan pendek.

"Dokter! Seseorang, tolong!" raung Arka. Suaranya bergema di aula rumah sakit, penuh dengan otoritas yang bercampur dengan keputusasaan yang murni.

Tim medis segera datang dengan brankar dorong. Arka terpaksa melepaskan dekapannya, membiarkan para perawat mengambil alih tubuh mungil itu. Ia melihat Alya yang masih merintih, tangannya mencengkeram ujung kain selimut dengan kuku-kuku yang memutih. Mata Alya yang setengah terpejam sempat menatap Arka—bukan dengan benci yang dulu sering ia lihat, melainkan dengan ketakutan seorang ibu yang tidak ingin kehilangan hartanya yang paling berharga.

"Tuan, Anda harus menunggu di sini," seorang perawat menahan dada Arka saat ia mencoba ikut masuk ke ruang tindakan.

"Dia istriku! Itu anakku di dalam sana!" bentak Arka, namun suaranya pecah di akhir kalimat.

"Anda hanya akan menghambat kami. Tolong, biarkan kami bekerja."

Pintu ayun tertutup dengan suara debuman yang telak, meninggalkan Arka di lorong yang sunyi. Ia berdiri mematung, menatap tangannya yang tadi digunakan untuk menggendong Alya. Ia merasa tangannya masih hangat, namun hatinya membeku.

Beberapa saat kemudian, Reno datang dengan napas terengah-engah. Tanpa peringatan, pria itu melayangkan satu pukulan keras ke rahang Arka hingga Arka terhuyung menabrak dinding.

"Ini semua salahmu, Arka!" teriak Reno, matanya menyala penuh amarah. "Jika kau tidak muncul, dia tidak akan stres! Jika kau tidak mengejarnya seperti monster, dia tidak akan berada di ambang keguguran!"

Arka tidak membalas. Ia hanya mengusap darah yang keluar dari sudut bibirnya—luka yang mengingatkannya pada luka yang pernah ia berikan pada Alya di gudang bawah tanah itu. Ia menatap Reno dengan tatapan yang kosong namun tajam.

"Aku tahu aku bersalah, Reno. Tapi aku tidak akan pergi. Tidak kali ini."

"Kau sudah menceraikannya! Kau menandatangani surat itu!"

"Surat itu tidak bisa menghapus darah dagingku yang ada di rahimnya," desis Arka. Ia duduk di kursi tunggu kayu yang keras, menundukkan kepalanya dalam-dalam di antara kedua lututnya. "Kau bisa membenciku, kau bisa memukulku sampai mati setelah ini. Tapi biarkan aku memastikan mereka selamat."

Tiga jam berlalu seperti siksaan abadi bagi Arka. Setiap kali pintu ruang tindakan terbuka, jantungnya seolah berhenti berdetak. Ia membayangkan skenario terburuk; ia membayangkan kehilangan Alya dan anaknya sekaligus. Itu adalah jenis ketakutan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya, bahkan saat ia kehilangan ibunya. Kehilangan ibunya adalah dendam, tapi kehilangan Alya adalah kehilangan jiwanya sendiri.

Akhirnya, seorang dokter paruh baya keluar sambil melepas masker bedahnya. Arka dan Reno serentak berdiri.

"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya Arka cepat.

Dokter itu menatap kedua pria di depannya, lalu menghela napas. "Pasien mengalami kontraksi dini akibat stres berat dan kelelahan fisik. Beruntung, detak jantung janin masih stabil. Kami berhasil menekan kontraksinya, namun ini adalah peringatan serius. Pasien harus menjalani bed rest total selama sisa kehamilannya. Tidak boleh ada guncangan emosional sedikit pun."

Lutut Arka terasa lemas. Ia bersandar pada dinding, mengembuskan napas panjang yang seolah sudah ia tahan selama berjam-jam. "Boleh saya melihatnya?"

"Dia sudah dipindahkan ke ruang pemulihan. Dia masih dalam pengaruh obat penenang, jadi dia mungkin belum sepenuhnya sadar."

Arka masuk ke dalam kamar rawat dengan langkah yang sangat perlahan, seolah-olah suara langkah kakinya bisa merusak keheningan yang rapuh di sana. Kamar itu berbau lavender dan obat-obatan. Alya terbaring di sana, wajahnya tampak lebih damai karena pengaruh obat, namun tetap terlihat pucat pasi.

Arka duduk di kursi di samping ranjang. Ia meraih tangan Alya yang bebas dari jarum infus, menggenggamnya dengan sangat lembut—seperti memegang porselen yang sudah pecah dan baru saja direkatkan kembali.

"Maafkan aku, Alya," bisik Arka. Suaranya serak dan pelan di tengah kesunyian kamar. "Aku menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk membencimu karena kesalahan yang tidak kau lakukan. Aku membangun istana untukmu, tapi aku menjadikannya penjara. Aku mencintaimu, tapi aku melakukannya dengan cara seorang pengecut."

Ia mencium punggung tangan Alya. Air matanya jatuh di atas kulit tangan wanita itu.

"Aku tidak meminta kau kembali padaku sekarang. Aku tahu aku tidak layak. Tapi tolong, biarkan aku menjagamu. Biarkan aku menebus setiap tamparan dengan perlindungan. Biarkan aku menebus setiap air matamu dengan kedamaian."

Tiba-tiba, jemari Alya bergerak sedikit. Arka tersentak, menahan napasnya. Alya perlahan membuka matanya. Pandangannya masih kabur, namun saat matanya fokus pada wajah Arka, tidak ada jeritan atau kemarahan. Hanya ada kelelahan yang luar biasa.

"Arka..." bisiknya sangat lirih.

"Aku di sini, Alya. Aku di sini. Anak kita selamat. Dia kuat, sama sepertimu."

Alya menatap langit-langit kamar sebentar, lalu beralih menatap tangan Arka yang masih menggenggam tangannya. Ia tidak menarik tangannya. Ia terlalu lelah untuk terus berperang, terlalu letih untuk terus berlari.

"Kenapa kau tidak bisa membiarkanku pergi?" tanya Alya, air mata mulai menggenang di sudut matanya.

"Karena aku kehilangan arah tanpamu. Aku mencoba menjadi kuat dengan dendam, tapi ternyata dendam itu hanya membuatku menjadi monster yang kesepian," jawab Arka tulus. "Alya, aku sudah memproses semuanya. Nyonya Ratna dan Sisil akan menghadapi hukum. Aku sudah membersihkan nama ayahmu secara publik. Aku tahu itu tidak cukup untuk menghapus lukamu, tapi aku ingin kau tahu bahwa kebenaran sudah menang."

Alya terdiam cukup lama. "Ayah... bagaimana dengan Ayah?"

"Dia bersamaku di Jakarta sebelum aku ke sini. Dia merawat Ibu Dewi di sana lewat videocall setiap hari. Dia sangat menyesal, Alya. Dia ingin bertemu denganmu, tapi dia takut kau tidak mau melihatnya."

Alya memejamkan mata, membiarkan air matanya mengalir bebas. Di satu sisi, ia merasa lega karena semua fitnah itu berakhir. Namun di sisi lain, beban emosional yang ia pikul selama ini terasa begitu berat hingga ia merasa tidak sanggup untuk bangkit lagi.

"Arka, aku butuh waktu," ucap Alya akhirnya. "Aku tidak bisa berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja hanya karena kau minta maaf."

"Aku tahu. Aku akan menunggumu. Seberapa lama pun itu. Aku akan tinggal di London, aku akan berada di luar pintu ini, memastikan tidak ada satu pun orang yang bisa menyakitimu lagi. Termasuk diriku sendiri."

Arka berdiri, lalu menyelimuti Alya dengan penuh kasih. Ia sadar, perjalanan untuk mendapatkan kembali hati Alya akan jauh lebih sulit daripada membangun imperium bisnisnya. Ia harus meruntuhkan ego Dirgantara-nya dan menjadi pria yang layak bagi wanita hebat di depannya ini.

Saat Arka keluar dari kamar, ia menemukan Reno yang masih menunggu di koridor. Kedua pria itu saling menatap. Tidak ada lagi pukulan, hanya sebuah pengertian tanpa kata-kata bahwa mulai sekarang, prioritas mereka adalah satu: keselamatan Alya.

"Dia sudah sadar," ucap Arka pada Reno. "Dia butuh kau di sana."

Arka berjalan menjauh, menuju jendela besar yang menghadap ke jalanan London yang masih basah. Ia melihat ke arah langit yang mulai menunjukkan semburat fajar. Badai itu memang belum sepenuhnya reda, tapi untuk pertama kalinya, Arka melihat secercah cahaya di balik awan mendung. Ia akan belajar menjadi pelindung, bukan lagi penghancur. Demi Alya, dan demi nyawa kecil yang kini menjadi harapan barunya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!