Elora Kirana bukan lagi nama yang dipuja seperti dulu. Sekali waktu dia adalah bintang yang bersinar terang, tapi satu skandal cukup untuk menjatuhkannya tanpa ampun. Dalam semalam, dunia yang dulu memujanya berubah jadi lautan hujatan. Kariernya hampir runtuh, kontrak diputus, dan kepercayaan publik hilang begitu saja. Saat semua orang menjauh, satu orang justru datang dengan cara yang paling tidak ia duga. Arshaka Bhumisvara. Seorang CEO muda yang dikenal dingin, tak tersentuh, dan selalu terlihat terlalu sempurna untuk dunia yang penuh drama seperti milik Elora. Tidak ada yang mengira dia akan ikut campur dalam skandal seorang artis. Tapi Arshaka datang bukan untuk simpati. Dia menawarkan sebuah kesepakatan. “Jadilah pacarku di depan publik.” Sebuah hubungan palsu untuk menutupi skandal, meredam media, dan menyelamatkan nama baik mereka berdua. Syarat yang terdengar sederhana, tapi jelas bukan tanpa risiko. Awalnya, Elora hanya menjalani semuanya seperti akting. Senyum di depan kamera, genggaman tangan yang dibuat seolah nyata, dan tatapan hangat yang sebenarnya kosong makna. Tapi Arshaka… terlalu meyakinkan untuk sekadar berpura-pura. Dan Elora mulai sadar, batas antara sandiwara dan kenyataan perlahan menghilang. Di balik sikap dinginnya, Arshaka menyimpan cara memandang Elora yang membuatnya ragu. Terlalu dalam. Terlalu nyata untuk dianggap pura-pura. Masalahnya sekarang bukan lagi soal skandal yang ingin mereka tutupi… Tapi perasaan yang diam-diam tumbuh di antara dua orang yang sama-sama tidak siap untuk jatuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nanda Amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 - Dunia Melihat Tanpa Izin
Tidak ada yang benar benar siap untuk kehilangan kendali atas dirinya sendiri apalagi ketika yang hilang bukan hanya privasi tapi juga bagaimana orang lain melihat dan menilai tanpa memberi ruang untuk menjelaskan dan bagi Elora pagi itu datang bukan sebagai awal hari tapi seperti jatuh ke dalam sesuatu yang tidak bisa ia hentikan sejak pertama kali ia membuka matanya
Semua dimulai dari satu notifikasi yang tidak ia kenal sebuah pesan masuk dari nomor yang asing tanpa nama tanpa identitas hanya sebuah file yang dikirim tanpa penjelasan dan untuk beberapa detik Elora hanya menatap layar itu tanpa benar benar memahami kenapa jantungnya tiba tiba berdetak lebih cepat seolah tubuhnya sudah tahu sesuatu sebelum pikirannya sempat mengejar
Tangannya sedikit gemetar saat ia membuka file itu bukan karena rasa penasaran tapi karena sesuatu dalam dirinya menolak untuk melihat namun tetap memaksanya untuk tahu
Dan dalam satu detik
dunianya berhenti
Napasnya tertahan matanya membeku pada layar yang menampilkan sesuatu yang tidak seharusnya ada sesuatu yang terlalu nyata terlalu dekat terlalu jelas untuk disebut kebetulan karena wajah itu adalah miliknya gerakan itu adalah dirinya dan meskipun ia tahu bahwa itu bukan sesuatu yang ia lakukan dengan sadar bukan sesuatu yang ia ingat namun kenyataan yang terlihat di layar tidak memberi ruang untuk penjelasan
Ponselnya hampir terlepas dari tangannya tubuhnya langsung terasa dingin seolah semua darahnya berhenti mengalir dan pikirannya tidak bisa langsung menyusun apa yang ia lihat menjadi sesuatu yang masuk akal karena semua terasa seperti mimpi buruk yang datang tanpa peringatan
“Ini bukan aku…”
Kalimat itu keluar pelan hampir seperti bisikan kepada dirinya sendiri
Namun layar itu tidak berubah
Tetap di sana
Menampilkan sesuatu yang membuatnya ingin menghilang
Notifikasi lain masuk satu demi satu lebih banyak lebih cepat hingga layar ponselnya penuh dengan pesan yang sama tautan yang sama komentar yang sama yang semuanya mengarah pada satu hal yang kini tidak lagi bisa ia sembunyikan
Video itu
Sudah tersebar
Pintu kamar terbuka lebih cepat dari biasanya dan Arshaka masuk tanpa mengetuk sesuatu yang jarang ia lakukan kecuali ada hal yang benar benar mendesak dan dari cara ia melangkah dari tatapannya yang langsung tertuju pada Elora sudah cukup untuk menunjukkan bahwa ia tahu
Elora menatapnya dengan mata yang sudah tidak lagi bisa menyembunyikan apa yang ia rasakan ketakutan rasa malu dan sesuatu yang jauh lebih dalam yang sulit dijelaskan
“Ini bukan aku…”
Kalimat itu keluar lagi kali ini lebih jelas lebih putus asa
Arshaka tidak langsung menjawab ia hanya mendekat mengambil ponsel dari tangan Elora melihat layar itu beberapa detik tanpa perubahan ekspresi yang besar namun matanya langsung mengeras
Bukan karena terkejut
Tapi karena ia mengerti
Ini bukan kebetulan
“Lihat aku”
Suaranya rendah
Tegas
Elora menggeleng pelan
“Aku tidak bisa…”
“Lihat aku”
Kali ini lebih tegas
Tidak memberi ruang untuk menghindar
Perlahan Elora mengangkat wajahnya meskipun matanya masih bergetar
Arshaka menatapnya langsung
“Ini bukan kamu”
Kalimat itu keluar tanpa ragu
Tanpa jeda
Dan untuk pertama kalinya sejak ia melihat video itu Elora merasa napasnya sedikit kembali meskipun rasa sakit di dalam dirinya tidak hilang
“Tapi semua orang lihat itu…”
Suaranya pecah
“Aku tahu”
Jawaban Arshaka tetap tenang
“Tapi aku juga tahu ini dibuat”
Kalimat itu bukan sekadar menenangkan tapi pernyataan yang sudah ia yakini
Elora menutup wajahnya dengan kedua tangan bahunya mulai bergetar pelan semua tekanan yang sejak tadi ia tahan akhirnya mulai keluar tanpa bisa ia kendalikan
“Aku nggak bisa keluar lagi…”
Arshaka langsung menarik tangannya pelan menjauhkan dari wajah Elora memaksanya untuk kembali melihat ke arah yang sama
“Kamu tidak sembunyi”
Nada suaranya lebih dalam sekarang
Lebih keras dalam cara yang tidak perlu dinaikkan
Elora menatapnya
“Semua orang bakal hancurin aku…”
Arshaka mendekat lebih dekat dari sebelumnya hingga jarak di antara mereka hampir tidak ada
“Tidak selama aku di sini”
Kalimat itu keluar pelan
Tapi kuat
Hening beberapa detik
Namun kali ini bukan keheningan yang kosong
Melainkan sesuatu yang sedang dibangun
“Besok kamu jumpa pers”
Kalimat itu tiba tiba keluar
Langsung
Elora membeku
“Apa…”
“Kita selesaikan di depan semua orang”
Nada suara Arshaka tetap stabil
Seolah itu adalah langkah yang paling logis
Elora langsung menggeleng
“Aku nggak bisa…”
Napasnya kembali tidak stabil
“Aku nggak kuat…”
Arshaka tidak mundur
Tatapannya tetap
“Kamu bisa”
Elora menatapnya
Matanya penuh ketakutan
“Aku di sana”
Lanjut Arshaka
“Tidak ada yang sentuh kamu”
Kalimat itu sederhana
Tapi cukup untuk membuat Elora diam
Karena di tengah semua kekacauan itu satu satunya hal yang masih ia pegang adalah keyakinan bahwa Arshaka tidak akan membiarkan sesuatu terjadi tanpa kendalinya
Malam itu tidak benar benar tenang karena di luar sana dunia sudah bergerak terlalu cepat berita menyebar komentar terus bermunculan dan nama Elora menjadi sesuatu yang dibicarakan tanpa henti tanpa konteks tanpa belas kasihan
Namun di dalam rumah itu ada sesuatu yang berbeda
Sesuatu yang jauh lebih dingin
Arshaka berdiri sendirian di ruang kerja ponselnya di tangan layar menampilkan kembali video itu bukan untuk melihat ulang tapi untuk memahami setiap detail setiap potongan setiap kemungkinan yang bisa ia gunakan untuk menemukan siapa yang berada di balik semua ini
Tatapannya tidak berubah
Tetap dingin
Tetap fokus
“Aku sudah kasih kamu waktu”
Gumamnya pelan
Lebih kepada seseorang yang tidak ada di sana
“Sekarang giliran aku”
Dan di titik itu
Ini bukan lagi tentang melindungi
Tapi tentang menghancurkan
————
Yuk yuk jangan lupa di like sama dikomen yaa!!