NovelToon NovelToon
Di Jodohin Sama Santri

Di Jodohin Sama Santri

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikahmuda / Romansa
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mooniecaa_moon

Celina adalah ratu clubbing yang hidupnya cuma soal hura-hura, alkohol, dan gonta-ganti cowok sesuka hati. Baginya, pakaian seksi adalah seragam wajib untuk menaklukkan malam. Dia nggak butuh aturan, apalagi komitmen.

Muak melihat kelakuan Celina yang makin liar, sang Mama akhirnya memberikan ultimatum keras: Menikah dengan seorang santri pilihan Mama, atau angkat kaki dari rumah tanpa sepeser pun uang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooniecaa_moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

"Maksud Mbak Sarah gimana?" tanya salah satu santriwati ragu.

"Nanti malam ada pengajian rutin di masjid utama yang dihadiri Ummi Cahya dan Kyai. Celina pasti akan diminta datang karena orang tuanya sendiri yang punya acara," Sarah tersenyum licik. "Aku bakalan 'ngejebak' dia supaya Celina menunjukkan aslinya di depan semua orang. Kita pastikan dia melakukan kesalahan fatal yang bikin Ummi Siska sendiri yang minta dia pergi."

Rencana Sarah sederhana tapi kemungkinan bakalan bikin orang jadi gaduh. Jadi ia akan menukar mukena yang akan dipakai Celina dengan mukena yang sudah ia "modifikasi" atau sengaja disiapkan agar Celina terlihat sangat tidak sopan saat berada di shaf depan, tepat di samping Bundanya.

Celina sedang asyik rebahan sambil scrolling HP (yang ia sembunyikan di bawah bantal setiap kali ada orang masuk) ketika Zuhair masuk ke kamar untuk bersiap-siap ke masjid.

"Nanti malam ada pengajian di masjid. Ayah dan Bundamu juga ikut hadir. Saya harap kamu bisa datang dan duduk di samping Bunda nanti" ucap Zuhair sambil merapikan koko putihnya di depan cermin.

Celina mendesah keras. "Males banget, Anjir Pasti isinya cuma ceramah yang nyindir-nyindir gue, kan?"

Zuhair berbalik, menatap Celina yang masih memakai hotpants dan kaos oblong. "Ini bukan soal ceramah, ini soal menghargai orang tuamu. Pakailah pakaian yang pantas. Saya sudah minta pengurus menyiapkan mukena dan baju kurung di ruang ganti luar."

"Iya, iya! Bawel banget sih," sahut Celina ketus.

Begitu Zuhair keluar, Celina berjalan ke ruang ganti dengan malas. Di sana, sudah ada sebuah tas berisi baju kurung putih dan mukena sutra yang terlihat sangat cantik. Celina tidak tahu bahwa Sarah baru saja keluar dari sana dengan senyum kemenangan.

Suasana masjid sangat megah dan ramai penuh dengan tamu dan para santri. Di shaf wanita paling depan, Ummi Cahya dan Bunda Siska sudah duduk anggun. Sarah sengaja duduk tepat di belakang mereka, memantau pintu masuk.

Tak lama, Celina muncul. Ia terlihat sangat cantik dan—untuk pertama kalinya—terlihat seperti "Ning. Ia duduk di samping Ummi Cahya dengan wajah yang berusaha dibuat seramah mungkin.

"Cantik sekali anak Bunda," bisik Bunda Siska haru.

Namun, saat adzan berkumandang dan semua orang bersiap untuk shalat berjamaah, Celina mulai mengenakan mukenanya. Sarah menahan napas, menunggu momen itu.

Ternyata, Sarah sudah merusak bagian tali dan kancing mukena tersebut secara halus, sehingga saat dipakai, mukena itu akan terus melorot. Tak hanya itu, Sarah juga diam-diam menaruh parfum yang sangat menyengat dan beraroma "aneh"—aroma yang biasa dipakai di tempat-tempat hiburan malam—pada kain mukena tersebut agar orang di sekitar Celina menyangka Celina habis melakukan hal yang tidak benar.

Begitu Celina mulai memakai mukenanya, aroma menyengat itu langsung menyebar. Ummi Cahya mengerutkan kening, menoleh ke arah Celina dengan tatapan bingung.

"Celina... bau apa ini? Kenapa baunya seperti..." Ummi Cahya menggantung kalimatnya, wajahnya tampak kecewa.

Belum sempat Celina menjawab, tali mukenanya mendadak terlepas, membuat bagian kepala mukena itu jatuh dan memperlihatkan rambut pirang Celina di tengah kerumunan yang sedang hening.

"Astagfirullah!" gumam beberapa santriwati di belakang.

Sarah yang melihat itu langsung memanas-manasi keadaan dengan berbisik agak keras, "Ya Allah, masak ke masjid pakainya parfum seperti itu? Terus mukenanya juga nggak bener... apa Ning Celina sengaja?"

Celina membeku. Ia sadar ada yang nggak beres. Ia melirik ke arah Sarah yang sedang pura-pura istigfar, lalu beralih ke wajah Ummi Cahya yang kini tampak menahan malu di depan jamaah lain.

Sialan. Ini pasti kerjaan si pick me itu, batin Celina geram.

Suasana di shaf wanita mendadak riuh dengan bisikan-bisikan miring. Wajah Bunda Siska memerah menahan malu, sementara Ummi Cahya tampak sangat tertekan melihat menantunya menjadi pusat perhatian karena aroma yang tidak pantas dan mukena yang melorot.

Sarah, yang duduk tepat di belakang mereka, hampir tidak bisa menyembunyikan senyum puasnya. Ia merasa sebentar lagi Celina akan diusir atau setidaknya mendapat teguran keras dari Ummi Cahya.

Namun, langkah kaki yang tegas terdengar dari arah pembatas shaf pria. Zuhair muncul dengan wajah yang tetap tenang namun tatapannya sangat tajam, menyapu seluruh ruangan hingga suasana seketika senyap. Ia tidak berdiri di kejauhan, melainkan mendekat ke arah batas suci tempat istri dan ibunya berada di sana.

"Astagfirullah, Zuhair. Ada apa ini?" tanya Ummi Cahya dengan suara bergetar.

Zuhair melihat Celina yang masih mematung dengan mukena yang rusak di tangannya. Bukannya menghakimi, Zuhair justru mengambil langkah di depan Celina, seolah menjadi perisai bagi istrinya dari tatapan ratusan pasang mata.

"Ummi, Bunda... tolong jangan salah paham. Ini bukan salah Celina," ucap Zuhair.

Ia menatap ke arah kerumunan pengurus, termasuk Sarah yang tiba-tiba merasa nyalinya menciut.

"Saya sendiri yang menyiapkan pakaian Celina tadi di ruang ganti. Dan mukena yang dia pakai ini adalah pemberian langsung dari Abi Damar untuk Celina," lanjut Zuhair. "Jika aromanya aneh atau talinya rusak, saya yakin ada yang sengaja berbuat iseng untuk mengacaukan pengajian malam ini."

Mendengar kata "Abi Damar" (Ayah Zuhair/Kyai Besar), suasana masjid semakin tegang. Tidak ada yang berani main-main jika sudah menyangkut barang pemberian sang Kyai.

Zuhair beralih menatap Sarah yang wajahnya kini mulai pucat pasi. "Sarah, bukankah tadi kamu yang terakhir keluar dari ruang ganti sebelum saya masuk mengambil pakaian ini? Kamu pengurus senior, harusnya kamu tahu siapa saja yang masuk ke sana."

Pertanyaan Zuhair yang telak itu membuat semua mata kini beralih menatap Sarah. Sarah tergagap, keringat dingin mulai bercucuran di dahinya. "I-iya Gus, tapi saya tidak tahu kalau—"

"Sudah," potong Zuhair. "Celina, ikut saya ke ndalem. Ganti pakaianmu dengan yang lebih layak. Kita tidak ingin ibadah malam ini terganggu oleh aroma yang tidak jelas asalnya."

Zuhair menoleh ke arah ibunya dan Bunda Siska. "Ummi, Bunda, mohon maaf atas ketidaknyamanan ini. Saya yang akan mengurus semuanya."

Zuhair kemudian memberi isyarat pada Celina untuk mengikutinya. Celina yang tadinya sudah siap meledak marah, mendadak diam seribu bahasa. Ia tidak menyangka Zuhair akan membelanya sedemikian rupa, bahkan membawa-bawa nama ayahnya untuk membungkam mulut orang-orang.

Begitu sampai di luar masjid yang mulai sepi, Celina menarik lengan baju Zuhair.

"Woi, lo bohong ya? Lo nggak nyiapin baju gue tadi," bisik Celina dengan nada heran.

Zuhair berhenti melangkah, tapi ia tidak menoleh. "Saya tahu siapa yang melakukannya. Dan saya tidak akan membiarkan martabat istri saya dijatuhkan di rumah saya sendiri, sekalipun istri saya itu nakalnya minta ampun."

Celina tertegun. Ada rasa hangat yang aneh menjalar di dadanya mendengar kalimat terakhir Zuhair.

"Terus soal bokap gue? Emang itu mukena dari bokap?" tanya Celina lagi.

Zuhair akhirnya menoleh, menatap mata Celina dengan lekat. "Bukan. Itu mukena yang saya beli sendiri saat umrah kemarin. Saya hanya bilang begitu agar tidak ada yang berani menghina kamu lebih jauh. Sekarang cepat ganti baju, parfum itu benar-benar bikin pusing."

Celina mendengus, mencoba menyembunyikan senyum kecil yang hampir muncul di bibirnya. "Ternyata Gus alim bisa bohong juga demi gue, ya?"

"Bukan bohong, tapi adalah pokoknya," sahut Zuhair santai sambil terus berjalan.

1
Ulfa 168
seru lanjut thor
Veronicacake: aaaaa maacie udah baca yaaaa, jan lupa like komennya yahhhh! aku update tiap hari kok ka💕💕
total 1 replies
ChaManda
😭😭
Veronicacake: kak😭😭
total 1 replies
Ntaaa___
Jangan lupa mampir di ceritaku kak🤭😇
Anonim
SUKAAAA, GA TAMPLATE NARASINYAAAA! SEMANGAT THOR DI TUNGGU UDATE💕💕💕💕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!