Selama 15 tahun pernikahan dengan Angga, Nayra bahkan tidak pernah bahagia. Meskipun dia sudah memiliki dua orang putri. Sikap kasar Angga tidak pernah hilang, dia sering memarahi Nayra di depan kedua anaknya. Ternyata sikap Angga, bukan hanya membuat Nayra tersiksa, tapi juga anak pertamanya yang mulai beranjak remaja. Nayra sempat berpikir keras untuk pergi dari rumah itu, tapi yang dia pikirkan hanya kedua anaknya, bagaiman masa depannya. Nayra terus bertahan meskipun luka di hatinya semakin besar, rasa cinta untuk Angga kini telah hilang. Saat Nayra terjebak hutang, Angga masih saja menyalahkannya, kini Nayra sudah berada di titik pasrah. Tapi Tuhan maha baik hidup Nayra di tolong oleh Arsen Wiratama, pemilik perusahaan terbesar di kota itu. Arsen menolong Nayra, tapi semua tidak gratis, Nayra harus bersedia meninggalkan Angga dan juga menikah dengannya secara kontrak. Bagaimana kelanjutan pernikahan kontrak mereka.
IG : purpleflower3125
FB : Flower Arsyta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6 : Hanya Sementara
Nayra tidak langsung menjawab.
Tatapannya menyapu ruangan itu sekali lagi. Dinding tinggi, lantai marmer, pelayan yang berdiri rapi… semua terasa begitu asing. Terlalu mewah untuk dirinya.
“Rumah?” ulang Nayra pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri.
Arsen tidak bergerak. Tatapannya tetap tenang, seolah sudah memperkirakan reaksi itu.
“Untuk sementara,” tambahnya singkat.
Kalimat itu justru membuat Nayra semakin bingung.
“Untuk sementara?” Nayra mengernyit. “Apa maksud Anda?”
Arsen berjalan mendekat beberapa langkah. Tidak terlalu dekat, tapi cukup untuk membuat suasana terasa lebih serius.
“Kamu nanti akan mengerti,” jawabnya datar. Jawaban yang… sama sekali tidak membantu.
Nayra menahan napas. Rasa tidak nyaman mulai muncul lagi. Dari awal, pria ini selalu berbicara setengah-setengah. Seolah semua sudah direncanakan, tapi hanya dia yang tahu arah akhirnya.
“Om,” panggil Raya tiba-tiba.
Suasana langsung berubah. Arsen menoleh padanya.
Raya berdiri tegak di samping Nayra. Tatapannya lurus, tidak takut, tapi jelas penuh kewaspadaan. “Kami tidak akan tinggal di tempat ini kalau Mama tidak nyaman,” ucapnya tegas.
Nayra sedikit terkejut mendengarnya. Ia menoleh ke arah putrinya. Hatinya… menghangat sekaligus perih.
Arsen menatap Raya beberapa detik. Lalu sudut bibirnya terangkat tipis. “Kamu anak yang berani,” katanya.
Raya tidak menjawab. Tangannya justru semakin menggenggam tangan Nayra.
Alea yang sejak tadi diam, ikut berbicara pelan, “Kalau Mama takut… kita pulang aja ya?”
Kalimat sederhana itu seperti menekan sesuatu di dada Nayra. Ia menarik napas dalam. Lalu… perlahan menggeleng.
“Tidak apa-apa,” ucapnya pelan, tapi cukup jelas.
Raya langsung menoleh. “Ma...”
Nayra menatapnya lembut. “Kita… coba dulu ya tinggal disini untuk beberapa waktu.”
Keputusan itu tidak mudah. Tapi Nayra tahu… ia tidak bisa kembali ke tempat sebelumnya. Setelah semua yang terjadi.
Arsen memperhatikan itu semua tanpa menyela. “Bagus,” ucapnya singkat.
Nada suaranya tetap datar, tapi ada sesuatu yang berbeda. Seperti… kepuasan yang disembunyikan. Ia lalu berbalik sedikit. “Kamar kalian sudah disiapkan.”
Seorang wanita paruh baya segera melangkah maju. Wajahnya ramah, sikapnya sopan. “Saya akan mengantar, Nona,” ucapnya lembut pada Nayra.
Nayra ragu sejenak, lalu mengangguk kecil.
“Ayo,” katanya pada anak-anaknya.
Raya masih terlihat tidak sepenuhnya percaya, tapi ia tetap mengikuti. Alea justru sudah kembali penasaran, matanya sibuk melihat ke sana kemari.
Mereka berjalan mengikuti wanita itu menaiki tangga besar yang melingkar. Langkah demi langkah… Nayra merasa seperti memasuki kehidupan lain.
Sementara itu, Arsen tetap berdiri di bawah. Matanya mengikuti punggung mereka sampai menghilang di lantai atas.
Wajahnya kembali datar. Namun perlahan… ia memasukkan tangan ke dalam saku celananya.
“Pastikan keamanan diperketat,” ucapnya tanpa menoleh.
Seorang pria berbaju hitam di sudut ruangan langsung mengangguk. “Baik, Tuan.”
Arsen menatap ke arah pintu utama. Bayangan wajah Angga terlintas sekilas di pikirannya.
“Dia tidak akan diam,” gumamnya pelan.
Dan Arsen… sudah siap untuk itu.
Di lantai atas, Nayra berhenti di depan sebuah pintu besar. Wanita tadi membukanya perlahan.
“Ini kamar Anda, Nona.”
Begitu pintu terbuka… Nayra kembali terdiam. Kamar itu luas. Tempat tidur besar, jendela tinggi dengan tirai elegan, dan balkon yang menghadap taman.
“Ini… terlalu berlebihan,” gumam Nayra tanpa sadar.
Alea langsung berlari kecil ke dalam. “Ma! Ada balkon!” serunya senang.
Raya masuk lebih pelan. Ia memeriksa ruangan itu dengan teliti, seperti biasa. Nayra masih berdiri di ambang pintu.
Perasaan aneh kembali muncul. Tempat ini indah, tapi bukan miliknya. Dan tiba-tiba… sesuatu terlintas di pikirannya, Nikah kontrak. Tangannya sedikit menegang.
Tanpa berkata apa-apa, ia berjalan masuk, lalu membuka tasnya dengan cepat. Kertas itu masih ada di dalamnya. Ia menariknya keluar.
Matanya mulai membaca ulang setiap baris, dan detik berikutnya, napasnya terhenti. Wajahnya memucat.
“Tidak mungkin…” bisiknya pelan. Tangannya gemetar.
Di sana… tertulis jelas. Jika hutang telah lunas, maka ia harus meninggalkan rumah ini. Nayra membeku, matanya menatap kosong pada kertas itu.
Kalau begitu… semua ini hanya sementara? Dan lebih dari itu, artinya ia juga harus meninggalkan...
“Ma?” suara Raya membuatnya tersentak.
Nayra langsung melipat kertas itu cepat. Tapi sudah terlambat. Wajahnya tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
“Ada apa?” tanya Raya, curiga.
Nayra terdiam. Bibirnya terbuka, tapi tidak ada suara yang keluar. Karena untuk pertama kalinya, ia merasa keputusan yang baru saja ia ambil, mungkin akan menghancurkan hatinya sendiri.
Ketukan pelan terdengar di pintu.
Tok… tok…
Nayra tersentak kecil. Ia buru-buru menyimpan kembali kertas kontrak itu ke dalam tas, seolah takut seseorang melihatnya.
“Masuk,” ucapnya pelan.
Pintu terbuka, dan seorang pelayan wanita yang tadi mengantar mereka masuk. Ia menunduk sopan.
“Maaf mengganggu, Nona. Tuan Arsen meminta Anda ke ruangannya.”
Nayra terdiam sesaat. Jantungnya kembali berdegup tidak teratur. Seolah firasatnya mengatakan, pembicaraan ini tidak akan sederhana.
“Sekarang?” tanyanya memastikan.
“Ya, Nona.”
Nayra mengangguk pelan. Di belakangnya, Raya langsung menatapnya. Tatapannya tajam, penuh tanya.
“Mama?” panggilnya pelan.
Nayra menoleh, lalu tersenyum tipis. Senyum yang berusaha terlihat tenang.
“Tidak apa-apa,” katanya lembut.
Ia memberi isyarat kecil dengan matanya, berusaha menenangkan. Raya tidak langsung percaya, tapi ia akhirnya mengangguk pelan.
Pelayan itu kemudian menoleh ke arah kedua anak itu. “Tuan juga meminta Nona kecil untuk makan siang. Silahkan ikut saya ke ruang makan.”
Mata Alea langsung berbinar. “Makan?” ulangnya antusias.
Pelayan itu tersenyum kecil. “Iya, semua sudah siap.”
Tanpa menunggu lama, Alea langsung melompat turun dari tempat tidur. “Ayo, Kak!” ajaknya semangat.
Ia bahkan berlari kecil menuju pintu lebih dulu. Raya menghela napas pelan, lalu menatap Nayra sekali lagi. Seolah ingin memastikan ibunya benar-benar baik-baik saja.
“Cepat kembali ya, Ma,” ucapnya.
Nayra mengangguk. “Iya.”
Raya akhirnya berbalik dan mengikuti pelayan itu, langkahnya lebih tenang dibanding Alea, tapi tetap waspada.
Pintu tertutup.
Dan kamar itu kembali sunyi. Senyum di wajah Nayra perlahan menghilang. Tangannya tanpa sadar kembali menyentuh tasnya, tempat kertas kontrak itu disimpan.
“Ada apa ya,” bisiknya pelan.
Ia menarik napas panjang, lalu menguatkan diri. Tidak ada waktu untuk ragu sekarang. Perlahan, Nayra melangkah keluar kamar.
Langkahnya terasa lebih berat saat menuruni tangga. Setiap langkah seperti membawa beban yang tidak terlihat.
Beberapa pelayan yang dilewati menunduk hormat, tapi Nayra hampir tidak memperhatikan. Pikirannya penuh, tentang surat kontrak itu.
Ia akhirnya sampai di depan sebuah pintu besar di sisi lain mansion. Seorang penjaga berdiri di sana.
“Silahkan, Nona. Tuan sudah menunggu.”
Nayra menelan ludah pelan. Lalu… ia mengetuk.
Tok… tok…
“Masuk.”
Suara Arsen terdengar dari dalam. Tenang dan datar seperti biasa.
Nayra membuka pintu. Ruangan itu berbeda dari yang lain. Lebih gelap, dindingnya dipenuhi rak buku, meja besar di tengah, dan jendela tinggi di belakangnya.
Arsen berdiri di sana, membelakanginya, menatap ke luar jendela. Ia tidak langsung menoleh.
“Kamu sudah lihat kontraknya lagi, kan?”
Deg.
Langkah Nayra terhenti. Tangannya langsung mengepal, perlahan… Arsen berbalik. Tatapannya tajam, seolah bisa membaca semua yang Nayra sembunyikan.
“Wajahmu terlalu mudah untuk di tebak,” lanjutnya tenang.
Nayra terdiam. Tidak bisa menyangkal.
“Kenapa… Anda tidak bilang dari awal?” tanya Nayra akhirnya. Suaranya pelan, tapi penuh tekanan.
Arsen tidak langsung menjawab. Ia berjalan mendekat beberapa langkah.
“Karena kamu tetap akan menandatanganinya,” ucapnya datar.
Kalimat itu… menampar. Nayra menatapnya tak percaya. “Anda yakin sekali.”
“Saya tidak yakin,” jawab Arsen singkat. “Saya tahu.”
Beberapa detik yang terasa panjang.
“Jadi ini semua…” Nayra menggigit bibirnya. “Hanya sementara bagi Anda?”
Arsen menatapnya dalam. Tidak menghindar.
“Ya.” Jawaban itu terlalu jujur.
Dan justru itu yang membuat dada Nayra terasa sesak.
“Kalau hutang saya lunas… saya harus pergi,” lanjut Nayra pelan, seolah sedang memastikan kenyataan yang tidak ingin ia terima.
Arsen tidak menyangkal. “Itu isi kontraknya.”
Nayra menunduk, tangannya bergetar halus. “Lalu… anak-anak saya?” tanyanya lirih.
Untuk pertama kalinya… Arsen terdiam sedikit lebih lama. Tatapannya berubah tipis.
“Kontrak itu hanya mengikat kamu, Nayra,” ucapnya akhirnya.
Nayra mengangkat wajahnya cepat. “Maksud Anda?”
“Artinya…” Arsen menatapnya lurus. “Mereka tidak terikat.”
Jawaban itu tidak menenangkan. Justru… membuka kemungkinan yang lebih menakutkan.
“Jadi… kalau waktunya tiba,” suara Nayra melemah, “saya harus pergi sendiri?”
Ruangan itu tiba-tiba terasa lebih dingin. Arsen tidak langsung menjawab. Dan diamnya… sudah cukup menjadi jawaban.
Nayra tersenyum pahit, hatinya seperti diremas.
“Baik…” bisiknya pelan.
semangat, lanjut thoor😄👍