Elisa pikir hari ini adalah hari paling bahagia dalam hidupnya, karena laki-laki yang dia idamkan akan menikahinya. setelah mereka melakukan ta'aruf sebelumnya. Tapi bak disambar petir adiknya datang dan mengatakan jika calon suaminya mengatakan pernikahannya dibatalkan dulu. Tanpa alasan yang pasti.
Elisa merasa malu dan dikhianati, sampai seorang dokter datang dan mengatakan siap menikah dengannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5
Sore harinya, Di depan rumah, tenda-tenda mulai terlihat lengang. Tamu undangan sudah sangat sedikit, hanya tersisa beberapa kerabat dekat yang masih asyik berbincang di pojokan.
Lilis yang merasa tenaganya sudah terkuras habis, memilih turun dari kursi pelaminan. Langkahnya gontai.
Melihat putrinya berjalan menjauh, Rita langsung menegur. "Mau ke mana kamu, Lis?"
Lilis menghentikan langkahnya sejenak tanpa menoleh sepenuhnya.
"Ke kamar, Ma. Lilis capek. Lagian tamunya tinggal dikit lagi," jawabnya.
Rita melirik ke arah Arka yang masih berdiri tegak di atas pelaminan, tampak canggung karena ditinggal sendirian.
"Arka ikut ya, mana mungkin pria itu menunggu sendirian di pelaminan. Dia itu suamimu sekarang, Lis," perintah Rita dengan nada yang tak terbantahkan.
Lilis tidak menjawab. Ia terus melangkah masuk ke dalam rumah, melewati ruang tengah yang berantakan dengan sisa katering, lalu masuk ke kamarnya yang telah didekor dengan nuansa putih dan bunga-bunga segar. Harusnya kamar ini menjadi saksi kebahagiaannya dengan Rama, namun kenyataan berkata lain.
Begitu pintu tertutup, Lilis langsung menjatuhkan dirinya di tepi tempat tidur dan menangis kembali. Isakannya terdengar lebih pedih dari sebelumnya. Rasa malu, benci, dan bingung bercampur menjadi satu.
Ia tanpa mempedulikan Arka yang duduk di sofa sudut kamar tersebut. Arka hanya diam mematung, menatap punggung istrinya yang terguncang hebat karena tangis. Ia tahu, meskipun ia telah menyelamatkan martabat Lilis, ia belum sepenuhnya mendapatkan ruang di hati wanita itu.
Sekitar satu jam berlalu, Lilis masih meringkuk di atas tempat tidur, menyembunyikan wajahnya di balik bantal yang kini lembap oleh air mata. Isaknya sudah mereda, menyisakan napas yang sesekali masih tersengal.
Tiba-tiba, Lilis mendengar pintu kamar dibuka. Ia sempat menegang sejenak, namun kemudian terdengar langkah kaki menjauh dan pintu ditutup kembali dengan perlahan. Arka pergi. Lilis hanya bergeming, ia juga tak peduli ke mana pria itu pergi atau apa yang sedang dipikirkannya.
Sementara itu, Arka melangkah keluar dari rumah utama dengan sisa kelelahan yang terpancar jelas di wajahnya. Saat menuruni tangga teras, ia berpapasan dengan ayah mertuanya, Jefri, yang baru saja selesai merapikan kursi di depan.
"Mau ke mana, Ka?" tanya Jefri saat melihat menantunya itu.
"Mau ke rumah samping, Om. Mau ganti baju," jawab Arka. Ia memang masih mengenakan pakaian pengantin lengkap yang terasa semakin berat dan panas.
"Ibu sama yang lain di sana juga kan, Om?"
"Iya, tadi ke sana bentar," sahut Jefri.
Arka mengangguk, lalu melanjutkan langkahnya menuju rumah keluarganya yang hanya berjarak beberapa meter saja.
"Assalamualaikum," ucap Arka saat melangkah masuk ke dalam rumah samping yang ditempati keluarganya.
"Waalaikumsalam," jawab mereka serempak. Di ruang tengah, tampak Kirana, Yuda, dan adik-adiknya sedang beristirahat setelah hari yang panjang.
"Mau ke mana, Bang?" tanya Tiara yang sedang duduk di karpet sambil menyandarkan kepalanya ke sofa.
"Mau ganti baju, Dek. Tadi baju Abang dibawa, kan?" tanya Arka.
Tiara menunjuk ke arah salah satu kamar tamu. "Oh, itu ada di dalam kamar, Bang. Udah diletakin di atas kasur tadi sama Ibu."
Arka hanya mengangguk pelan sebagai tanda terima kasih, lalu segera melangkah masuk ke dalam kamar.
Sementara itu, di luar kamar, mereka juga tak banyak tanya. Yuda dan Kirana saling berpandangan, namun memilih untuk diam. Mereka tahu Arka butuh waktu untuk menenangkan diri setelah keputusan besar yang ia ambil secara mendadak tadi. Suasana rumah pun kembali hening, masing-masing sibuk dengan pikiran mereka sendiri.
Mbak Rita kembali masuk ke dalam kamar putrinya. Di dalam kamar, Lilis sebenarnya sudah mandi dan berganti pakaian dengan gamis rumahan yang lebih santai, namun ia masih saja duduk di tepi ranjang sambil terisak pelan.
Melihat putrinya yang seolah tidak punya semangat hidup itu, Mbak Rita tidak bisa lagi menahan kekesalannya.
"Kamu mau sampai kapan nangis terus, Lis?" suara Mbak Rita meninggi.
Lilis menyeka air matanya dengan kasar. "Tapi Lilis belum siap, Ma..."
"Tidak ada kata belum siap! Kamu sudah sah jadi istrinya," potong Mbak Rita cepat.
"Arka langsung ke sini setelah keluarganya pulang tadi. Dia tidak mengeluh, dia sabar menghadapi sikap kamu yang seperti ini. Jangan sampai kesabarannya habis cuma karena kamu sibuk menangisi orang yang bahkan tidak peduli padamu!"
Lilis hanya terdiam mendengar rentetan amarah ibunya. Tak lama kemudian, terdengar suara pintu depan terbuka. Itu adalah Arka.
Mbak Rita menghela napas panjang, mencoba meredam emosinya. "Sana, hapus sisa air matamu. Suamimu sudah datang. Jangan buat dia merasa menyesal karena sudah menyelamatkan keluarga kita."
Lilis akhirnya melangkah keluar dari kamar dengan gerakan pelan. Ia sudah mengenakan gamis panjang dan kembali memakai cadarnya.
Arka sudah duduk di meja makan bersama ayahnya, Jefri. Keduanya tampak sedang berbincang.
"Iya, Ayah. Nanti biar Arka yang urus soal itu kalau Arka sudah kembali ke rumah sakit," ucap Arka.
Lilis tak tahu sejak kapan Arka mulai memanggil ayahnya dengan sebutan itu.
Jefri yang menyadari kehadiran putrinya langsung menoleh. "Eh, Lilis. Sini, Nak. Makan dulu, ini suamimu juga baru sampai."
Arka ikut menoleh ke arah Lilis. Tatapannya teduh, tidak ada sisa kemarahan atau kekecewaan atas sikap Lilis di kamar tadi. Ia menarik sebuah kursi di sampingnya, mengisyaratkan Lilis untuk duduk.
"Sini, Lis. Kita makan bareng Ayah," ajak Arka.
Lilis berjalan mendekat dengan kepala tertunduk, masih merasa asing dengan perubahan status yang begitu mendadak ini.
Lilis baru saja melipat sajadah setelah shalat Isya. Tiba-tiba, terdengar ketukan di pintu kamar. Dengan cepat, Lilis meraih dan memakai cadarnya.
Pintu terbuka. Arka berdiri di sana mengenakan sarung dan peci, baru saja pulang dari masjid bersama ayahnya.
"Mama menyuruhku ke sini," kata Arka pelan.
Lilis menunduk, merasa gugup karena sekarang mereka harus tinggal satu kamar. "Iya nggak apa-apa, Mas," jawabnya singkat.
Suasana terasa sangat kaku. Lilis yang merasa tidak nyaman langsung mencari alasan untuk keluar.
"Mas, Lilis mau ke dapur dulu ya. Mau bantu Ibu membereskan sisa barang acara tadi," ucap Lilis sambil melangkah menuju pintu.
Sebelum benar-benar keluar, ia berhenti sejenak tanpa melihat ke arah Arka. "Kalau Mas mau istirahat, istirahat aja duluan," tambahnya.
Lilis pun bergegas pergi ke dapur. Arka hanya diam melihat istrinya pergi. Ia tahu Lilis masih butuh waktu untuk menerima kenyataan ini. Arka kemudian menutup pintu dan duduk di tepi kasur sambil menghela napas panjang.
Di dapur, Lilis sedang sibuk mencuci piring sisa acara tadi. Mbak Rita ada di sampingnya, sedang merapikan sisa makanan ke dalam wadah.
"Ma, Lilis," panggil Arka pelan.
Lilis menghentikan kegiatannya dan menoleh, sementara Mbak Rita meletakkan kain lapnya.
"Kenapa, Ka? Kok sudah rapi lagi?" tanya Mbak Rita heran.
"Maaf, Ma. Arka harus ke rumah sakit sekarang. Ada pasien darurat yang harus segera ditangani, dokter jaga di sana minta bantuan Arka," jelas Arka sambil menatap Lilis sejenak.
Lilis hanya terdiam, merasa bingung harus merespons apa. Ada rasa lega karena mereka tidak jadi berduaan di kamar, tapi ada juga rasa aneh melihat suaminya harus pergi di malam pertama mereka.
"Ya Allah, malam-malam begini? Kamu nggak capek?" tanya Mbak Rita cemas.
"Sudah tugas, Ma. Arka pamit dulu ya. Assalamualaikum," ucap Arka.
Ia sempat mendekat ke arah Lilis sebentar, seolah ingin pamit, namun Lilis hanya menunduk dalam. Arka kemudian bergegas pergi meninggalkan dapur, menuju pintu depan.