Sepupu menghina, anggota klan memandang rendah, tiga tahun tanpa kemajuan. Lin Han tahu rasa pahit berada di dasar. Namun ia tidak pernah membenci jalan keabadian. Sebaliknya, ia justru semakin keras mengejarnya. Dunia Hunyuan perlahan membuka topengnya. Di balik kemuliaan keabadian tersimpan kenyataan bahwa para pendekar bisa berubah menjadi binatang, sekte suci bisa menjadi sarang ular. Lin Han pun menyadari bahwa satu satunya jalan untuk selamat adalah menjadi lebih kejam daripada mereka. Ia memutuskan untuk tidak lagi mencari pengakuan, melainkan kekuatan absolut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ada iblis Di Perutmu
Lin Han melihat semua itu dengan dahi berkerut.
"Kau kenapa begitu tergesa gesa?"
Liu Mei menoleh ke arah suaminya. Matanya sedikit lebih lebar dari biasanya.
"Itu... aku sebelumnya terhenti di Foundation Establishment selama empat tahun. Tapi tadi tiba tiba aku merasa Dantianku kembali normal. Biasanya seperti tertutup kabut hitam, dan aku tidak bisa berkultivasi. Tapi sekarang kabutnya hilang."
Lin Han langsung berdiri tegak. Pikirannya langsung menghubungkan kejadian semalam dengan apa yang baru saja ia alami sendiri.
"Pasti ada iblis di perutmu. Atau lebih tepatnya di Dantianmu."
Liu Mei menegang. Suaranya berubah dingin menusuk. "Apa kau mengatakan aku ini menyimpan iblis?"
Lin Han menghela napas dan menggeleng.
"Tidak. Bukan itu maksudku."
Ia kemudian duduk kembali dan mulai menjelaskan semua yang ia lihat tadi malam. Tentang aura hitam pekat yang memenuhi kamar. Tentang iblis yang menawarinya wanita, kekayaan, kekuasaan, dan kultivasi dengan syarat membunuh Liu Mei. Tentang penolakannya. Dan tentang perubahan iblis itu menjadi sesosok nenek tua yang menitipkan pesan untuk menjaga cucunya.
Liu Mei mendengarkan semuanya tanpa memotong. Wajahnya berubah dari dingin menjadi terkejut, lalu menjadi pucat. Setelah Lin Han selesai, ia langsung berdiri dan keluar kamar dengan langkah cepat.
Waktu berlalu...
Beberapa menit kemudian ia kembali. Tangannya membawa sebuah gulungan lukisan tua. Ia membuka gulungan itu di hadapan Lin Han, memperlihatkan potret seorang nenek dengan rambut putih diikat sederhana, wajah penuh keriput, dan senyum yang lembut.
"Apakah nenek yang kau lihat wajahnya seperti ini?"
Lin Han menatap lukisan itu dan mengangguk mantap.
"Benar. Itu sama persis dengan sosok nenek yang kulihat tadi malam. Senyumnya, matanya, semuanya sama."
Liu Mei menarik napas panjang. Ia menggulung kembali lukisan itu dan meletakkannya di atas meja. Tangannya memegang dagunya sendiri, pose berpikir yang dalam.
"Kalau begitu, itu menjawab banyak hal. Setelah nenek meninggal empat tahun yang lalu, aku tidak bisa berkultivasi lagi. Aku juga sudah menikah tiga kali sebelumnya. Tapi setiap pagi... setelah malam pernikahan, suamiku selalu mati. Tubuh mereka ditemukan tanpa luka, hanya seperti tertidur lalu tidak bangun lagi."
Ia menatap Lin Han dengan tatapan yang rumit.
"Mungkinkah nenek selama ini melindungiku? Menguji setiap pria yang menjadi suamiku? Dan mereka semua gagal karena memiliki niat jahat terhadapku?"
Liu Mei menatap Lin Han lebih dalam.
"Tapi... kenapa nenek percaya padamu? Bisa saja ucapanmu itu, hanya kebohongan yang kau karang untuk menyelamatkan diri. Atau karena rasa takut melihat iblis, kau tidak jadi membunuhku."
Lin Han menatap balik dengan tajam. Suaranya tetap datar tapi tegas.
"Jika kau meragukanku, setidaknya jangan menduga-duga terlalu jauh. Aku sudah mengatakan apa yang terjadi. Percaya atau tidak, itu urusanmu."
Ia berbalik dan duduk bersila di lantai, membelakangi Liu Mei.
"Aku akan bermeditasi. Kau lakukan apapun yang kau mau."
Tanpa menunggu jawaban, Lin Han menatap pil hijau di tangannya. Ia memasukkan pil itu ke mulutnya dan menelannya tanpa keraguan sedikit pun. Pil itu meluncur turun ke tenggorokannya, meninggalkan rasa pahit yang khas.
Lin Han menutup matanya.
Liu Mei terdiam memandangi punggung suaminya selama beberapa saat. Ada sesuatu dalam nada bicara Lin Han yang membuatnya berpikir. Tidak ada kepura puraan, tidak ada ketakutan, hanya ketulusan yang sederhana dan datar.
Liu Mei menghela nafas.
Lalu ia berbalik dan berjalan ke pintu, menutupnya pelan agar Lin Han tidak terganggu.
Lin Han fokus sepenuhnya pada proses di dalam tubuhnya. Pil Pembuka Fondasi itu melebur di dalam perutnya, berubah menjadi aliran energi hangat yang mulai menyebar. Energi itu bergerak melalui jalur jalur meridiannya yang sekarang sudah terbuka, mengalir tanpa hambatan, dan perlahan berkumpul di Dantiannya.
Ia memulai proses pemurnian. Energi dari pil itu tidak semuanya murni. Ada kotoran kotoran energi yang harus dipisahkan dan dibuang. Prosesnya lambat dan membutuhkan konsentrasi penuh, membuat ia mengabaikan segala hal di sekitarnya.
Keringat mulai muncul di dahinya. Napasnya teratur tapi dalam. Tangannya yang bertumpu di atas lutut sedikit bergetar.
Ia terus memurnikan. Menyaring yang bersih. Membuang yang kotor.
Proses itu berlangsung entah berapa lama. Waktu terasa tidak relevan ketika seseorang sedang tenggelam dalam kultivasi. Yang ada hanyalah siklus demi siklus pernapasan, aliran Qi, dan pemurnian energi.
Dan di suatu titik di dalam proses itu, Lin Han merasakan sesuatu yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Dantiannya yang biasanya kosong dan gelap, mulai terasa penuh. Padat. Seperti sebuah wadah yang akhirnya diisi dengan benar.
Ia belum mencapai Foundation Establishment. Tapi ia berada di jalur yang benar. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, ia merasakan kemajuan nyata dalam kultivasinya.