Rumi sudah tiga tahun menikah dengan Fathur. Sebenarnya rumah tangga mereka baik-baik saja. Hanya saja menjadi tidak baik-baik karena selalu di recoki oleh ibu dan keluarga Fathur lainnya.
Hingga akhirnya saat Rumi kembali hamil, namun untuk kedua kalinya juga dia harus kegu guran karena ulah sang ibu mertua. Bu Sri tak pernah ingin jika Fathur memiliki anak dari Rumi.
Rumi jelas marah dan pun cak amarahnya saat Bu Sri membawa mantan dari Fathur ke dalam kehidupan ruang tangga mereka. Fathur bahkan tak mampu untuk membela istrinya.
Apakah dengan kenyataan seperti ini Rumi siap menjadi janda? Ataukah dia malah lebih memilih bertahan dengan kenyataan seperti itu?
"Jangan banyak membantah jika kamu tak ingin di Jan da kan oleh Fathur!" ancam Bu Sri.
"Jadi Jan da? Siapa takut Bu!" jawab Rumi membuat suami dan ibu mertuanya melongo tak percaya.
Ikuti terus kisah Arumi selengkapnya. Jangan lupa baca sampai akhir, karena ada banyak keseruan dari Rumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jadi Janda? Siapa Takut? 24
"Masa iya Fathur begitu? Setahuku Fathur itu yang paling penurut sama ibu. Bahkan dia tak akan membiarkan ibu menangis apalagi sampai tak memberikan uang bulanan. Gaji manager itu besar Bu! bahkan fasilitasnya juga sangat banyak!" Bu Sri hanya terisak.
Sedangkan kedua anak lelakinya saling pandang menahan kesal. Kesal karena memikirkan harus menanggung biaya ibu dan kuliah adiknya jika sampai Fathur tak mau lagi memberikan biaya kepada ibu dan adiknya. Jangan sampai hal itu terjadi, karena pada akhirnya malah akan membuat mereka perang dunia dengan istrinya. Apalagi semua gaji mereka di pegang oleh para istrinya.
"Itu dulu sebelum Rumi hamil dan punya penghasilan sendiri dari toko roti kecil itu sebagai tukang cuci!" ketus Bu Sri.
"Aku juga kesal Mas. Sekarang Mas Fathur hitung-hitungan. Aku datang ke ruang mereka tadi pagi karena melihat ibu sakit dan demam karena ucapan Mas Fathur yang mempermalukan Ibu di depan tetangganya. Tapi dia malah bilang nggak akan ngasih uang kebutuhan aku, termasuk kuliah. Apalagi kalau aku belum menerima Mbak Rumi. Bahkan Mas Fathur memberikan bukti pembayaran motorku tiap bulan,"
"Mana aku tahu kalau motorku itu di bayar oleh Mbak Rumi dan Mas Fathur. Selama ini akan ibu dan kalian selalu mengatakan kalau motor itu hadiah dari kalian berdua dan para istri tercinta! Kalian membuat aku malu di depan Mbak Rumi!" kesal Elisa
Ucapan Rumi membuat wajah kedua kakaknya memerah. Malu karena selama ini memang mereka mengaku-ngaku motor yang di gunakan oleh Elisa adalah pemberian mereka dan kedua istrinya yang sangat sayang kepada Elisa. Oleh karena itulah Elisa juga membela Hana dan Intan. Tanpa dia tahu jika kedua kakak iparnya itu mana mau mengeluarkan uang belasan juta untuknya. Untuk uang kuliah dia aja mereka tak pernah mau tahu.
"Sudah! Jangan bahas masalah motor dulu! Itu tak lebih penting dari masalah ibu saat ini!" Fajar mengambil alih.
"Ibu ingin kalian bicarakan masalah ini dengan Fathur tanpa ada Rumi di sana. Semoga saja jika kalian yang berbicara, dia akan mendengarnya. karena kata-kata Ibu sepertinya sudah mental di telinga Fathur. Jujur Ibu kecewa dan sakit hati dengan ucapan Fathur. Apalagi dia lebih percaya dan memilih wanita itu dibanding ibu. Hanya karena Rumi sedang hamil saat ini!" Bu Sri berbicara dengan wajah sendu dan Isak yang di buat-buat.
"Fathur benar-benar sangat keterlaluan! Dia Memang harus di beri peringatan agar paham dan tak terlalu mementingkan istrinya itu!" kesal Fikri.
Tanpa sadar sebenarnya mereka sedang membicarakan kelakuan diri mereka sendiri. Setelah menikah bahkan beban untuk mengurus ibunya berpindah kepada Fathur. Bahkan saat mereka berpacaran dan merencanakan pernikahan saja tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan rumah dan ibunya adalah Fathur.
Sehingga saat menikah Fathur tak memiliki tabungan yang cukup. Bahkan saat menikah dengan Rumi hanya akad sederhana dengan mahar seadanya yang dia punya. Karena kedua abangnya tak mau memberinya sumbangan.
"Baiklah lebih baik sekarang Ibu istirahat, besok kami akan ke kantor Fathur untuk bicara dengan dia!" Fajar menenangkan ibunya.
"Kalau begitu kami pamit dulu! Udah terlalu malam nanti anak dan istri kami mencari!" pamit Fikri.
"Boleh ibu minta uang untuk pegangan selama Fathur tak memberikan ibu uang? Besok Elisa juga harus kuliah belum ada yang bensin dan jajan dia di kampus!" ucapan Bu Sri membuat kedua anaknya saling pandang.
Ucapan yang selama ini selalu mereka hindari. Namun hari ini pada akhirnya mereka dengar juga. Akhinya masing-masing dari mereka dengan berat hati mengeluarkan dua lembar uang berwarna merah untuk ibu dan adiknya.
"Ini buat berapa hari Mas?" tanya Elisa saat melihat empat lembar di meja.
"Memangnya kamu akan terus memberi kamu uang jajan setiap hari? kebutuhan kami juga banyak apalagi Hana juga sedang hamil lagi! Ibu hamil itu harus banyak makan makanan yang bernutrisi agar anak aku lahir dengan sehat!" kesal Fajar.
"Kalau begitu Mas Fathur juga sama memiliki pengeluaran yang banyak. Apalagi sekarang baru Rumi juga sedang hamil. Dia juga sama-sama membutuhkan nutrisi untuk anak dalam kandungannya! Apalagi sebelumnya kalian sudah menggu-gurkan anak yang ada di dalam Mbak Rumi dua tahun lalu. Jangan sampai sekarang Mas Fatur juga kehilangan anaknya lagi! Aku nggak akan membiarkan hal itu terjadi! Apalagi kalian adalah dua orang kakak yang pelit dan perhitungan!" kesal Elisa pergi dari sana dengan rasa kecewa kepada dua Kaka laki-lakinya.
Sejujurnya dia merasa bersalah kepada Rumi. Apalagi saat mengetahui kalau Rumi yang selama ini mencicil motor yang dia gunakan setiap hari. Bahkan dia juga tidak tahu uang dari mana yang Rumi dapatkan untuk bisa memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. Karena selama dua tahun terakhirnya dia tahu gaji Fathur berapa. Dan itu tidak pernah cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka.
Cicilan motor, kontrakan rumah, air, listrik belum juga kebutuhan mereka sehari-hari untuk makan. Bensin Mas Fatur untuk pulang pergi ke kantor. Sedangkan selama ini kedua kakaknya tidak pernah mau mengeluarkan uang lebih dari dua ratus ribu untuk ibu dan adiknya. Sedangkan kalaupun memberikan uang besar, itu karena memang mereka mengadakan acara di rumah ibunya. Seperti sebelumnya, Hana mengadakan syukuran atas kehamilan keduanya dan untuk menghemat biaya. Mereka meminta Rumi untuk memasak dan mengerjakan semuanya hampir sendirian dari subuh.
Tanpa terasa air matanya mengalir saat melihat berkas yang di berikan Fathur tadi kepadanya
rencana pura2 sakit akhir ny sakit beneran ,, fathur yg kecewa krn di bohongi dg alasan sakit ,, jd gx percaya ( semoga ) dsaat ibu ny sakit beneran ,, gmna tuuuh rasa ny bu sriii Dan kawan2 ,, 😒😒😒😒
punya rencana koq dangkal ,,
semoga rencana mereka gagal total ,, biarin tu si Dona Dan menantu bu Sri yg lain jd babu dadakan ,,
Dan Elisa yg tau rencana ini bisa kasih tau fathur ,,
biar fathur gx ke jebak ,,
nnti penyesalan akn tiba tempat pda waktu ny ,, disaat semua terjadii mungkin Rumi udh pergiii atau udh menjadi sosok yg gx mereka kiraa sebelum ny ,, 😒😒😒😒
bukan sama manusia ,, bner kata Rumi ,, rencana manusia tu baik ,, tp rencana Tuhan tu luar biasa ,,, semangat trus rumii ,, Tuhan tu tdak tidur ,, /Smile//Smile//Smile/