Para dewa tidak membawa kedamaian-mereka membawa penindasan.
Di bawah kekuasaan Vasilias, langit menginjak manusia tanpa ampun. Ketika Dewa Matahari sejati dijatuhkan dan seorang wanita manusia dibunuh demi menjaga "kemurnian", seorang anak lahir dari pengkhianatan.
Setengah dewa. Setengah manusia.
Dan penuh dendam.
Dengan api matahari dalam darahnya, ia bangkit untuk memburu para dewa-termasuk pewaris palsu langit, Filius.
Namun semakin dekat pada balas dendam, ia mulai menyadari:
Tidak semua dewa layak dibunuh.
Dan tidak semua manusia layak diselamatkan.
Ketika langit mulai retak, satu pertanyaan tersisa-
Apakah ia akan menghancurkan para dewa...
atau menjadi yang paling kejam di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Franzzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 22
Malam telah sepenuhnya turun di Hutan Alfheim.
Api unggun tinggal bara.
Cahaya redup.
Sebagian besar elf sudah pergi.
Hanya menyisakan keheningan.
Grachius berbaring.
Matanya tertutup.
Napasnya tenang.
Di dekatnya—
Daji juga tertidur.
Sunyi.
Namun—
sesuatu terasa.
Tipis.
Hampir tak terlihat.
Namun cukup—
untuk membangunkan Grachius.
Matanya terbuka.
Pelan.
Tanpa suara.
Tatapannya langsung fokus.
Ia tidak bergerak.
Hanya merasakan.
Langkah kaki.
Empat.
Teratur.
Terlatih.
“…hm.”
Ia duduk perlahan.
Bangkit tanpa suara.
Berjalan menjauh sedikit.
Mengintip dari balik pohon.
Dan—
ia melihat mereka.
Empat sosok.
Armor berat.
Cahaya bulan memantul di logam.
Ksatria Templar.
Mereka bergerak masuk ke dalam hutan.
Arah—
menuju sini.
Grachius menatap sebentar.
Lalu—
ia kembali.
Secepat ia pergi.
Tanpa suara.
Ia berjongkok di dekat Daji.
Dan—
menutup mulutnya.
Daji langsung terbangun.
Matanya melebar.
Tubuhnya menegang.
Namun suara—
tidak keluar.
Grachius menatapnya.
“Sssttt.”
Bisikan pelan.
Daji mengangguk cepat.
Grachius melepas tangannya.
Daji menarik napas pelan.
“Apa—”
Grachius langsung memotong.
“Empat Ksatria Templar.”
Daji membeku.
“Apa?”
Nada suaranya nyaris tak terdengar.
Grachius menatap ke arah luar.
“Sepertinya mereka mengejarku.”
Sunyi.
Daji menyipitkan mata.
“Lalu?”
Ia menyeringai kecil.
“Bunuh saja.”
“…seperti bandit tadi.”
tok.
Grachius mengetuk kepalanya.
Pelan.
Namun cukup membuat Daji meringis.
“Sakit…”
Namun ia menahan suara.
Grachius meliriknya.
“Aku tidak mau membuat keributan.”
“…kita di wilayah mereka.”
Daji langsung mengerti.
“...Elf…”
Grachius mengangguk kecil.
Sunyi.
Namun—
tidak lama.
shhhk…
Langkah.
Banyak.
Cepat.
Dari dua arah.
Selatan—
dan utara.
Daji menegang.
“Itu…”
Grachius tidak menjawab.
Namun matanya mengarah ke sana.
Dan—
mereka muncul.
Light Elf.
Dipimpin Sylvia.
Dari arah lain—
Dark Elf.
Dipimpin Karrie.
Mereka bergerak cepat.
Mengelilingi.
Dan—
berhenti.
Di depan empat Ksatria Templar.
Sunyi.
Ketegangan langsung terasa.
Salah satu elf maju.
“Kalian memasuki wilayah kami.”
Nada tegas.
Namun—
Ksatria Templar tidak mundur.
Tidak gentar.
Salah satu dari mereka melangkah.
“Kami tidak peduli.”
Jawaban dingin.
Karrie menyipitkan mata.
“Tempat ini bukan untuk manusia sepertimu.”
Ksatria itu menyeringai tipis.
“Kami tidak datang untuk kalian.”
“…jangan menghalangi.”
Nada meremehkan.
Sejenak—
sunyi.
Lalu—
aura berubah.
Para elf tersinggung.
Kemarahan terasa.
Sylvia melangkah maju.
“Kau pikir bisa masuk dan pergi sesuka hati?”
Tidak ada jawaban.
Hanya—
gerakan.
Cepat.
Dan—
pertarungan pecah.
Di balik bayangan—
Grachius dan Daji bersembunyi.
Mengamati.
Tidak bergerak.
Daji menatap.
Matanya berbinar.
“Wah…”
Bisiknya pelan.
Grachius tetap diam.
Tatapannya fokus.
Tidak ikut campur.
Tidak bergerak.
Membiarkan—
para elf melawan.
Empat Ksatria Templar.
Dan malam di Hutan Alfheim—
yang sebelumnya tenang—
kini berubah.
Menjadi medan pertempuran.
...----------------...
...----------------...
Benturan pertama terjadi cepat.
CLANG!
Logam beradu.
Percikan api kecil menyala di kegelapan.
Para Light Elf menyerang dari depan.
Gerakan mereka ringan.
Cepat.
Seperti angin.
Sementara Dark Elf—
menghilang.
Masuk ke bayangan.
Menunggu celah.
Namun—
Ksatria Templar tidak goyah.
Formasi mereka rapat.
Terlatih.
Salah satu mengangkat perisai.
Menahan serangan.
Yang lain—
membalas.
Tebasan berat.
WHOOSH.
Seorang Light Elf mundur cepat.
Hampir terlambat.
“…kuat.”
Bisik salah satu elf.
Di balik bayangan—
Grachius memperhatikan.
Diam.
Matanya tajam.
"Terlatih… bukan prajurit biasa."
Daji di sampingnya menelan ludah.
“…mereka beda dari bandit…”
Grachius tidak menjawab.
Namun jelas—
ia setuju.
Di tengah pertempuran—
seorang Dark Elf muncul dari belakang.
Menyerang.
Cepat.
Namun—
CLANG!
Serangannya ditahan.
Tanpa melihat.
Ksatria itu memutar tubuh.
Dan—
DUAGH!
Pukulan menghantam.
Dark Elf itu terpental.
Menghantam tanah.
Daji membelalakkan mata.
“…gila…”
Sylvia melangkah maju.
Aura-nya berubah.
Lebih serius.
Ia mengangkat tangannya.
Cahaya mulai terkumpul.
Di sisi lain—
Karrie juga bergerak.
Bayangan di sekitarnya menebal.
Kedua pemimpin itu—
tidak lagi menahan diri.
Empat Ksatria Templar berdiri.
Masih utuh.
Meski dikelilingi.
Salah satu dari mereka membuka suara.
“…gangguan.”
Nada dingin.
“…habisi cepat.”
Tiga lainnya mengangguk.
Lalu—
mereka bergerak bersamaan.
Cepat.
Lebih cepat dari sebelumnya.
Pertarungan berubah.
Tidak lagi sekadar bentrokan.
Namun—
pembantaian yang tertahan.
Para elf mulai terdesak.
Meski jumlah lebih banyak—
namun kualitas lawan berbeda.
Di balik bayangan—
Daji menggenggam tangannya.
“…mereka bisa kalah…”
Ia melirik Grachius.
“…kau tidak bantu?”
Sunyi.
Grachius tetap menatap.
“…belum.”
Jawaban singkat.
Daji mengernyit.
“…belum?”
Grachius tidak menjelaskan.
Namun matanya—
tidak lepas dari pertarungan.
Menghitung.
Menilai.
Di tengah medan—
Sylvia akhirnya menyerang.
Cahaya dari tangannya melesat.
Cepat.
Mengarah langsung ke salah satu ksatria.
Namun—
BOOM.
Serangan itu ditepis.
Dengan pedang.
Tanpa kesulitan.
Mata Sylvia sedikit melebar.
Karrie muncul dari bayangan.
Menyerang bersamaan.
Namun—
Ksatria lain sudah siap.
Menahan.
Mengimbangi.
Empat melawan banyak.
Namun—
belum ada yang jatuh.
Dan di balik kegelapan—
Grachius tetap duduk.
Tenang.
Seolah menunggu sesuatu.
Sementara Daji—
semakin tidak sabar.
"Orang ini… menunggu apa?"
Malam terus berjalan.
Dan pertarungan—
baru saja dimulai.
...----------------...
...----------------...
Sunyi kembali turun—
namun berbeda.
Bukan tenang.
Melainkan berat.
Para Light Elf dan Dark Elf berdiri.
Namun banyak yang terengah.
Beberapa terjatuh.
Luka terlihat jelas.
Darah menetes ke tanah.
Tidak ada yang mati.
Namun—
kalah.
Mereka kalah.
Di tengah mereka—
empat Ksatria Templar masih berdiri.
Nyaris tanpa luka serius.
Tatapan mereka tetap dingin.
Tanpa emosi.
Seolah itu hal biasa.
Salah satu dari mereka melangkah maju.
“…selesai.”
Namun—
suara lain memotong.
Tenang.
Santai.
“…jadi…”
Langkah kaki terdengar.
Pelan.
Tidak tergesa.
Dari balik bayangan—
Grachius keluar.
Berjalan santai.
Melewati para elf yang terluka.
Seolah tidak ada apa-apa.
“Kalau aku ikut campur…”
Ia berhenti.
Menatap sekeliling.
“…aku tidak akan disebut pembuat onar, bukan?”
Sunyi.
Tidak ada yang menjawab.
Para elf masih terdiam.
Menahan napas.
Grachius mengangguk kecil.
“Berarti tidak.”
Keempat Ksatria Templar menatapnya.
Untuk pertama kalinya—
ada reaksi.
Sedikit.
“…target.”
Salah satu dari mereka berbicara.
Nada suaranya berubah.
Lebih tajam.
Lebih fokus.
“Akhirnya muncul sendiri.”
Yang lain menyeringai tipis.
“…mempermudah pekerjaan.”
Sunyi.
Grachius menatap mereka.
Lalu—
tersenyum tipis.
“Ya.”
“…aku ikut senang.”
Nada satir.
Namun—
dalam sekejap—
ekspresinya berubah.
Tatapannya mengeras.
Udara terasa berbeda.
Lebih berat.
Lebih panas.
“Tapi satu hal.”
Sunyi.
“…aku tidak akan lunak…”
Ia mengangkat tangan kanannya.
Telapak mengarah ke depan.
“…pada para penyembah dewa.”
Detik itu—
sesuatu berubah.
Di balik bayangan—
Daji membeku.
Matanya melebar.
"Ini… lagi…"
Namun—
berbeda.
Lebih kuat.
Lebih dalam.
Lebih gelap.
"Lebih besar dari sebelumnya."
Ia menelan ludah.
"Ini bukan sekadar aura…"
"Ini… sesuatu yang lain…"
Para elf juga merasakannya.
Tubuh mereka menegang.
Naluri mereka berteriak.
Bahaya.
Grachius membuka matanya sedikit lebih lebar.
Tatapannya dingin.
Lalu—
WHOOSH.
Api muncul.
Namun—
bukan merah.
Bukan oranye.
Hitam.
Pekat.
Seolah menelan cahaya.
Api itu menyembur dari telapak tangannya.
Langsung.
Tanpa peringatan.
Mengarah ke—
empat Ksatria Templar.
“…Apa—?!”
Terlambat.
Api hitam itu menelan mereka.
Seketika.
Tidak ada waktu menghindar.
Tidak ada waktu bertahan.
Hanya—
terbakar.
Dalam kegelapan.
Suara logam mulai meleleh.
Jeritan—
terputus.
Tertelan api.
Beberapa detik—
namun terasa lama.
Lalu—
sunyi.
Api menghilang.
Yang tersisa—
hanya tanah hangus.
Dan sisa armor yang gosong.
Tidak ada yang bergerak.
Tidak ada yang berbicara.
Para elf terpaku.
Mata mereka melebar.
Tidak percaya.
Daji juga diam.
Benar-benar diam.
"…ini…"
Ia menatap Grachius.
"…monster."
Sementara itu—
Grachius menurunkan tangannya.
Tenang.
Seolah tidak terjadi apa-apa.
Ia menatap sisa-sisa itu sebentar.
Lalu—
berbalik.
Kembali berjalan.
Seperti sebelumnya.
Namun kali ini—
tidak ada yang melihatnya sama lagi.
Bukan manusia.
Bukan setengah dewa.
Namun sesuatu—
yang bahkan para elf—
tidak bisa pahami.
Dan malam itu—
di Hutan Alfheim—
semua yang melihat—
menyadari satu hal.
Grachius—
bukan sekadar ancaman bagi para dewa.
Namun juga—
sesuatu yang jauh lebih berbahaya.
...----------------...
...----------------...
Sunyi.
Tidak ada suara.
Hanya sisa panas—
yang masih tertinggal di udara.
Para elf tidak bergerak.
Mata mereka masih terpaku—
pada tanah hangus di depan mereka.
Tempat—
empat Ksatria Templar itu berdiri tadi.
Kini—
tidak ada apa-apa.
Di sisi lain—
Daji masih duduk diam.
Matanya tidak berkedip.
Menatap Grachius.
"Itu…"
"bukan sekadar kekuatan…"
Ia menelan ludah.
"itu… kegelapan."
Pikirannya mulai berputar.
"Esensi itu…"
"aku sudah merasakannya sebelumnya…"
Namun kali ini—
lebih jelas.
Lebih pekat.
Lebih nyata.
"Dia… memiliki esensi iblis."
Daji menyipitkan mata.
"Atau…"
Sedikit jeda.
"…dia sudah menjadi iblis?"
Sunyi.
Ia mengingat sesuatu.
Pengetahuan lama.
Dari ratusan tahun kultivasi.
"Iblis…"
"bukan sekadar makhluk."
"mereka tercipta…"
"dari kegelapan yang dipelihara."
Matanya sedikit bergetar.
"Kebencian…"
"amarah…"
"dendam…"
"semakin dalam… semakin kuat…"
Ia menatap Grachius lagi.
"bahkan dewa…"
"bisa jatuh menjadi iblis…"
Sunyi.
Lalu—
ia menunduk sedikit.
"…jadi dia…"
"setengah dewa…"
"dan membawa kegelapan sebesar itu…"
Ia menarik napas pelan.
"ini bukan hal kecil."
Daji melirik tangannya sendiri.
"berbeda dengan kami…"
"siluman…"
"kami lahir dari alam…"
"hewan… atau roh…"
"yang menyerap energi…"
"lalu mendapatkan kesadaran…"
"dan kekuatan."
Ia mengangkat pandangannya lagi.
Menatap Grachius.
"tapi dia…"
"bukan itu."
"dia… sesuatu yang lain."
Di sekitar mereka—
para elf masih diam.
Sylvia tidak bergerak.
Karrie juga.
Tidak ada yang berbicara.
Karena tidak ada yang tahu—
apa yang harus dikatakan.
Grachius sendiri—
sudah kembali duduk.
Seolah tidak terjadi apa-apa.
Tenang.
Dingin.
...----------------...
...----------------...
Sementara itu—
jauh dari sana.
Di Kota Heimdall.
Di dalam kuil.
Seorang pria berdiri.
Sebastian.
Di tangannya—
sebuah kristal kecil.
Berpendar redup.
Terkoneksi.
Dengan sesuatu.
Dengan seseorang.
Atau—
dengan mereka.
Empat Ksatria Templar.
Ia menatapnya.
Diam.
Menunggu.
Namun—
CRACK.
Suara retakan kecil terdengar.
Mata Sebastian melebar.
Retakan itu menjalar.
Cepat.
Lalu—
CRASH.
Kristal itu hancur.
Menjadi serpihan kecil.
Jatuh dari tangannya.
Sunyi.
Beberapa detik.
Tidak bergerak.
Tidak bernapas.
Lalu—
“…tidak mungkin…”
Suaranya pelan.
Namun jelas.
Tangannya sedikit bergetar.
“…empat… sekaligus…”
Matanya menajam.
Ada sesuatu di dalamnya.
Bukan hanya terkejut.
Namun—
ketakutan.
Dan kesadaran.
Bahwa sesuatu—
yang seharusnya tidak terjadi—
telah terjadi.
Dan di suatu tempat—
di dalam hutan—
orang yang mereka cari—
bukan sekadar target.
Namun—
ancaman nyata.
Bagi segalanya.