Lupakan apa yang kalian ketahui tentang Zhang Yuze yang lama. Di Jilid 2 ini, panggung kehidupan akan menjadi jauh lebih luas dan berbahaya.
Bukan lagi sekadar urusan asmara di bangku sekolah, Zhang Yuze akan mulai melangkah ke dunia bisnis yang penuh intrik, berhadapan dengan tokoh dunia bawah tanah yang kuat, hingga terjebak di antara pesona selebritas papan atas yang memabukkan. Akankah Kitab Santo Cinta cukup untuk melindunginya saat kekuatan rahasia mulai mengincar dirinya? Ataukah godaan dari para wanita menawan di sekelilingnya justru akan menjadi bumerang bagi takdirnya?
Persiapkan diri kalian. Ambisi yang lebih besar, romansa yang lebih membara, dan rahasia pusaka yang lebih dalam akan segera dimulai.
Pastikan kalian berada di barisan terdepan saat langkah baru ini dimulai!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
"Hmm!" Tepat saat itu, seorang instruktur dari kelas lain datang menghampiri, memberi hormat dengan tegas, dan berseru lantang, "Lapor Komandan Kompi, apakah barisan bisa segera dibubarkan?"
"Baik! Cukup untuk hari ini! Bubarkan sekarang juga!" Cahyo melirik jam tangannya dan mengangguk.
Yudha sedikit terperangah mendengar percakapan itu. Seorang Komandan Kompi di usia pertengahan dua puluh tahunan? Itu benar-benar pencapaian yang hebat.
"Latihan militer hari ini selesai. Besok kalian libur, dan kami harap kalian semua memberikan hasil terbaik dalam kompetisi parade hari Minggu nanti!" sang instruktur mengumumkan berakhirnya latihan.
Keesokan harinya adalah hari libur. Yudha menghabiskan waktu di asrama bermain gim. Tak disangka, Kurnia, Wahno, dan Zenal semua membawa laptop, menandakan bahwa keluarga mereka cukup berada. Meskipun mereka berasal dari daerah, penghasilan keluarga mereka dilaporkan mencapai ratusan juta rupiah setahun—lebih besar dari rata-rata penduduk kota.
"Ketua Kedua apa sih isi harddisk-mu? Aku lihat datanya penuh sekali, tapi sisa ruangnya tinggal sedikit. Kamu menyembunyikan sesuatu ya?" tanya Yudha penasaran sambil melirik layar laptop Wahno.
"Sialan, sudah kubilang berapa kali, berhenti memanggilku 'Ketua Kedua'! Kamu tidak tahu betapa menyebalkannya itu?" ujar Wahno dengan wajah masam.
Yudha meliriknya santai dan tertawa, "Memangnya kenapa? Kamu kan memang yang nomor dua di asrama ini! Itu kan panggilan hormat!" Lalu, seolah teringat sesuatu, Yudha berbisik misterius pada Wahno, "Apa kamu menyembunyikan koleksi film biru di laptopmu? Koleksi Maria Ozawa atau Sora Aoi?"
"Hei! Aku tidak menyangka kamu punya selera yang sama, Yud! Tentu saja aku punya koleksi Sora Aoi. Bukankah ada pepatah kalau belum nonton karyanya, jangan ngaku pernah nonton film Jepang? Jadi... aku sudah mengoleksi semua filmnya selama bertahun-tahun," ujar Wahno dengan wajah bangga yang menyebalkan.
"Cih, apa bagusnya dia? Selera klasik seperti Shizuka Kudo itu baru jalan yang benar," Yudha menggelengkan kepala dengan nada meremehkan.
"Kamu saja yang tidak bisa apresiasi seni. Cuma tipe orang tertekan yang suka gaya kolot begitu," balas Wahno sambil menepuk bahu Yudha dengan raut serius.
Yudha: "..."
......................
Biasanya, setiap kali Yudha masuk ke aplikasi Game Online, Anya pasti akan langsung mengiriminya pesan. Entah itu sekadar getaran jendela atau stiker kartun lucu. Hal itu sudah menjadi kebiasaan, tapi hari ini berbeda. Yudha sudah menunggu setengah jam, namun akun Anya masih gelap. Ini membuat Yudha merasa tidak nyaman; ketika sebuah kebiasaan tiba-tiba hilang, rasanya ada sesuatu yang mengganjal.
Setelah menunggu lama tanpa ada tanda-tanda Anya masuk, Yudha merasa sedikit kecewa. Ia menutup aplikasi dan mematikan laptopnya, membatin: Kemana perginya Anya hari ini?
Yudha sama sekali tidak menyadari bahwa jauh di sana, di sebuah pulau seberang, Anya sedang menghadapi situasi yang paling tidak ingin ia hadapi seumur hidupnya.
Di sebuah vila mewah di pinggiran kota besar, seorang gadis yang luar biasa cantik dan imut—yang tampak seperti Putri Salju dari negeri dongeng—sedang berdebat sengit dengan keluarganya.
"Papah, aku baru saja ulang tahun yang kedelapan belas hari ini. Aku sudah bisa memikirkan banyak hal sendiri. Kenapa Papah harus mengatur semuanya untukku? Bisakah Papah menghargai keputusanku sedikit saja...?" ujar Anya kepada pria paruh baya di depannya.
"Omong kosong! Aku ayahmu. Kenapa aku tidak boleh mengaturnya? Apa kurangnya Bimo? Bukankah kalian tumbuh besar bersama? Kalian akrab sekali waktu kecil, kan? Sekarang dia sudah pulang dari luar negeri, aku rasa kalian bisa mulai menjalin hubungan lagi. Lagipula, Paman Irwan sangat menyukaimu. Kalau kamu jadi menantunya, dia pasti akan sangat senang." Pria paruh baya itu berkata dengan raut wajah gelap.
"Papah, waktu itu aku masih kecil dan tidak tahu dia orang seperti apa. Pokoknya sekarang aku tidak suka dia! Dan Papah, jangan pikir aku tidak tahu apa yang Papah rencanakan. Papah hanya menginginkan koneksi keluarganya untuk memperluas wilayah kekuasaan Papah, kan? Kekuasaan Papah sudah yang terbesar di pulau ini, kenapa Papah belum puas juga? Apa Papah tidak sadar kalau melakukan ini sama saja dengan menghancurkan kebahagiaanku?" seru Anya dengan suara keras, menatap ayahnya dengan mata berkaca-kaca.
"Berani-beraninya kamu! Begitukah caramu bicara pada ayahmu sendiri?" bentak pria paruh baya itu dengan sorot mata tajam. Namun, melihat wajah putrinya, gurat ketegasan itu perlahan luluh menjadi rasa tidak berdaya. "Pokoknya, kamu tidak boleh lagi keluyuran tanpa izin. Papah tidak mau Bimo datang dan tidak bisa menemukanmu. Dia sudah mengadu kalau kamu selalu menghindar darinya. Apa kamu benar-benar sesibuk itu sampai tidak bisa menemuinya?"
Anya memeluk erat boneka beruang grizzly besarnya dan mendengus kesal. "Pokoknya aku tidak suka dia. Dia orangnya sarkastis dan menyebalkan. Aku benar-benar tidak habis pikir kenapa dulu waktu kecil aku bisa akrab dengannya."
"Keputusanku sudah bulat. Mulai sekarang kamu tidak boleh pergi ke mana pun kecuali ke kampus. Papah akan mengirim orang untuk mengantarmu, jadi jangan berani-berani keluyuran sepanjang hari!" Setelah menjatuhkan titah itu, sang ayah melangkah keluar ruangan dengan langkah berat.
......................
Hari yang dinanti pun tiba. Seluruh mahasiswa baru berkumpul untuk kompetisi parade militer. Semua mahasiswa di Jurusan Akuntansi sudah bertekad bulat untuk meraih posisi pertama, atau setidaknya membawa pulang sertifikat penghargaan. Gadis-gadis di kelas Yudha tampak sangat termotivasi; mereka telah berlatih dengan sangat keras selama beberapa hari terakhir.
Kompetisi ini berfokus pada ketepatan hadap kiri-kanan, balik kanan, dan kekompakan baris-berbaris. Kemenangan sangat bergantung pada seberapa selaras koordinasi tim.
Setelah melewati gemblengan Instruktur Cahyo, para mahasiswi ini berjanji tidak akan mempermalukannya. Mereka siap menunjukkan taringnya. Mahasiswa dari lebih dua puluh kelas di Fakultas Ekonomi, berbaris rapi di lapangan besar kampus. Satu per satu tim maju untuk dinilai oleh jajaran pimpinan universitas. Tim dengan skor tertinggi akan dinobatkan sebagai pemenang.
Yudha merasakan debaran halus di dadanya. Melihat tim-tim di depan mereka yang tampil nyaris sempurna dengan langkah kaki yang serempak, ia sadar bahwa standar kompetisi tahun ini sangatlah tinggi. Meski begitu, ia tetap berusaha membakar semangat timnya.
Yudha membenarkan posisi topinya, melangkah ke depan barisan dengan ekspresi serius yang dibuat-buat, lalu berseru dengan suara lantang:
"Saudari-saudariku..." Yudha baru mengucapkan kalimat pertama saat ia merasakan hawa dingin di punggungnya. Ia baru tersadar betapa anehnya panggilan itu terdengar, tak peduli bagaimana pun ia mengucapkannya.
Namun, menatap lima puluh lebih gadis di depannya yang menatapnya dengan mata berbinar, hati Yudha terasa hangat.