Di jantung kota Sisilia yang kelam, Kaivan Vittorio, sang "Re Re Nero" (Raja Hitam) yang memimpin sindikat mafia paling ditakuti di Italia, hidup dalam bayang-bayang dendam masa lalu. Ia dingin, kejam, dan tidak percaya pada hal tak kasat mata. Namun, wibawanya runtuh seketika saat ia bertemu Gendis, gadis asal Indonesia yang sedang bepergian ala backpacker ke Italia.
Gendis bukan gadis biasa; dia adalah indigo "semprul" yang hobi memarahi hantu penunggu kastil Kaivan karena berisik saat ia sedang makan mi instan. Pertemuan mereka dimulai dari salah paham maut: Gendis mengira Kaivan adalah cosplayer "om-om galak" dan menawari jasa pembersihan aura karena melihat ribuan arwah korban Kaivan sedang mengantre minta maaf. Di balik komedi situasi yang absurd, ada benang merah dendam yang ternyata menyatukan masa lalu keluarga mereka. Kaivan yang terbiasa memegang senjata, kini harus belajar memegang kemenyan dan sabar menghadapi tingkah ajaib Gendis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak Darah dari Masa Lalu
Palermo sedang dirundung mendung yang berat, seolah langit ikut merasakan beban rahasia yang baru saja terkuak dari brankas bawah tanah klan Vittorio. Setelah serangan L'Ombra del Peccato yang hampir membuat Kaivan kehilangan kewarasannya, suasana di mansion menjadi lebih sunyi namun mencekam. Kaivan menghabiskan malam dengan mempelajari dokumen-dokumen lama yang ia ambil dari brankas, sementara Gendis masih dalam pemulihan energinya di kamar sebelah.
Namun, sejarah tidak pernah benar-benar tidur. Ia mengalir seperti sungai darah di bawah fondasi kota tua ini.
Kaivan menatap sebuah foto hitam putih yang menunjukkan ayahnya bersama seorang pria muda yang wajahnya sangat ia kenali—Paman Lorenzo—dan seorang pria ketiga yang wajahnya sengaja dicoret dengan tinta hitam. Di balik foto itu tertulis sebuah tanggal: 15 Oktober 1995. Itu adalah tanggal di mana sebuah perjanjian besar ditandatangani, perjanjian yang seharusnya membawa perdamaian, namun malah menjadi pemicu kehancuran.
"Kak, jangan liat foto itu terus," suara Gendis terdengar dari ambang pintu. Ia tampak lebih segar, meski wajahnya masih sedikit pucat. Ia mengenakan piyama panjang bergambar kucing, sangat kontras dengan suasana ruangan yang penuh dengan sejarah berdarah.
Kaivan mendongak. "Kau seharusnya istirahat, Gendis."
"Gimana mau istirahat kalau di ruangan ini auranya kayak kebakaran hutan? Bau darahnya makin kuat, Kak. Bukan darah baru, tapi darah lama yang minta 'dibersihkan'," Gendis berjalan mendekat dan duduk di lantai di samping meja Kaivan.
Gendis menyentuh foto yang sedang dipegang Kaivan. Seketika, matanya memutih. Badannya menegang, dan hawa dingin yang menusuk kembali menyelimuti ruangan.
Gendis tidak lagi berada di ruang kerja Kaivan. Ia berada di sebuah gudang tua di pinggir dermaga Palermo, tiga puluh tahun yang lalu. Ia melihat ayah Kaivan—Antonio Vittorio—sedang berdiri dengan gagah, namun wajahnya penuh dengan kecemasan. Di depannya, Lorenzo muda dan pria misterius itu sedang berdebat hebat.
"Kita tidak bisa melakukannya, Antonio! Moretti itu ular! Dia akan memakan kita semua!" teriak Lorenzo muda.
"Ini demi perdamaian, Lorenzo. Kita tidak bisa terus berperang sementara anak-anak kita tumbuh dalam bayang-bayang peluru," jawab Antonio tenang.
Pria ketiga, yang wajahnya dicoret di foto, melangkah maju. Suaranya terdengar seperti gesekan logam. "Perdamaian itu mahal, Antonio. Harganya adalah kesetiaan. Dan aku... aku tidak punya itu."
Gendis melihat pria itu mengeluarkan sebilah pisau kecil dengan ukiran elang yang sama dengan tato di punggung Kaivan. Pria itu bukan musuh dari luar. Dia adalah Pietro, adik kandung Antonio yang selama ini dianggap sudah meninggal dalam kecelakaan kapal.
Pietro tidak mati. Dia dipalsukan kematiannya oleh Lorenzo untuk menjadi "tangan bayangan" yang akan menghancurkan Antonio dari dalam.
"Gendis! Gendis, bangun!"
Kaivan mengguncang bahu Gendis. Gadis itu tersentak kembali ke kenyataan, napasnya memburu. Ia mencengkeram tangan Kaivan dengan kuku-kukunya.
"Kak... Paman Lorenzo nggak sendirian. Dia punya partner yang selama ini Kakak pikir sudah mati. Namanya Pietro. Adik ayah Kakak sendiri," bisik Gendis dengan suara gemetar.
Kaivan terpaku. "Pietro? Ayah bilang dia tenggelam saat aku masih bayi. Jenazahnya tidak pernah ditemukan."
"Dia nggak tenggelam, Kak. Dia disembunyikan. Dan dia adalah orang yang selama ini ngelatih para penyihir gelap Moretti. Dia yang ngirim bayangan itu kemarin malam. Dia tahu soal tato di punggung Kakak karena dia yang ngerancang simbol-simbolnya bareng ibu Kakak!"
Kaivan merasa dunianya kembali berputar. Pengkhianatan ini lebih dalam dari yang ia bayangkan. Ini bukan sekadar perebutan kekuasaan, ini adalah dendam keluarga yang tertimbun selama puluhan tahun.
Tanpa membuang waktu, Kaivan memerintahkan Marco untuk menyiapkan tim kecil. Ia tahu ke mana harus pergi: dermaga tua yang ia lihat dalam visi Gendis. Itu adalah satu-satunya tempat yang belum pernah diperiksa oleh intelijen klan Vittorio karena dianggap sebagai tanah terkutuk yang sudah ditinggalkan.
"Gendis, kau tetap di sini," perintah Kaivan sambil memeriksa Glock 17 miliknya.
"Nggak mau! Kalau saya nggak ikut, Kakak bakal masuk ke jebakan batin lagi. Pietro itu bukan Mafia biasa, Kak. Dia itu... dia itu sudah bukan manusia seutuhnya. Dia sudah jual jiwanya buat kekuatan hitam," bantah Gendis.
Kaivan menatap Gendis lama, lalu ia menghela napas. "Bawa sapu lidimu. Dan jangan pernah lepas dari pandanganku."
Mereka berangkat menuju Dermaga 13 di bawah lindungan kegelapan malam. Hujan mulai turun, menyamarkan jejak roda mobil mereka. Dermaga itu tampak seperti kerangka raksasa di tepi laut Mediterania. Gudang-gudang tua yang berkarat berdiri angkuh di tengah kabut laut.
"Hati-hati, Kak. Di sini airnya nggak warna biru," bisik Gendis saat mereka turun dari mobil. "Airnya warna hitam pekat. Ada ribuan tangan yang mencoba narik siapa saja yang lewat di atas dermaga ini."
Marco dan timnya bergerak dengan taktik militer tingkat tinggi, namun Gendis mengarahkan mereka lewat jalur yang tidak masuk akal—melewati tumpukan kontainer tua yang sudah keropos.
"Jangan lewat jalan utama, di sana ada 'jerat' yang kalau diinjak bakal bikin jantung berhenti secara mendadak," peringatan Gendis membuat para pengawal tangguh itu berkeringat dingin.
Mereka sampai di gudang pusat. Pintunya terbuka sedikit, mengeluarkan cahaya merah temaram yang berdenyut seperti jantung yang sedang sekarat. Kaivan memimpin masuk dengan senjata ditodongkan ke depan.
Di tengah gudang, dikelilingi oleh ratusan lilin hitam yang menyala tanpa asap, duduk seorang pria tua dengan rambut putih panjang. Ia sedang mengukir sesuatu di atas sebuah pelat perak.
"Kau datang juga, Keponakanku," suara itu persis seperti yang didengar Gendis dalam visinya. Dingin dan tajam.
Pietro mendongak. Wajahnya adalah versi tua dari ayah Kaivan, namun matanya kosong, hanya ada kegelapan yang dalam di sana.
"Paman Pietro," ucap Kaivan, suaranya tetap stabil meski hatinya berkecamuk. "Kenapa?"
Pietro tertawa, sebuah suara yang terdengar seperti retakan tulang. "Kenapa? Karena Antonio terlalu lemah untuk memimpin klan ini. Dia ingin kita menjadi pedagang zaitun yang jujur! Dia ingin menghapus warisan darah kita! Aku hanya menyelamatkan kehormatan Vittorio dengan cara yang tidak bisa dia pahami."
"Dengan membunuhnya? Dengan mengkhianati darahmu sendiri?!" geram Kaivan.
"Darah harus ditumpahkan untuk memberi makan kekuatan, Kaivan. Kau lihat tato di punggungmu? Itu bukan sekadar peta. Itu adalah kontrak. Kontrak yang ditandatangani ibumu untuk menyelamatkan nyawamu saat kau hampir mati karena sakit saat bayi. Dan sekarang, aku datang untuk menagih kontrak itu."
Pietro berdiri, dan tiba-tiba bayangan di gudang itu mulai memanjang dan membentuk tangan-tangan raksasa yang mencoba menangkap Kaivan.
"Gendis, sekarang!" teriak Kaivan.
Gendis melompat maju, ia mengeluarkan botol berisi air yang sudah dicampur dengan garam suci dan bunga melati yang ia siapkan sejak pagi. Ia memercikkannya ke udara sambil berteriak.
"Sengkolo, minggir! Dewo, teko! Jangan biarkan kegelapan ini menyentuh darah yang murni!"
Saat air itu mengenai bayangan-bayangan hitam, terdengar suara desisan seperti besi panas yang dicelupkan ke air dingin. Bayangan itu mundur, menjerit kesakitan.
Pietro terkejut. "Gadis ini... dari mana kau mendapatkan kekuatan rendahan ini?!"
"Rendahan mata mu! Ini kekuatan dari doa orang-orang yang jujur, Om! Bukan hasil tumbal kayak Om!" seru Gendis berani.
Kaivan tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia melepaskan tembakan ke arah Pietro. Namun, peluru-peluru itu berhenti di udara, tertahan oleh dinding energi hitam yang dikeluarkan Pietro.
"Senjata api tidak berguna di sini, Keponakanku!" Pietro mengangkat tangannya, dan sebuah gelombang energi hitam menghantam Kaivan hingga terpental ke tumpukan peti kayu.
"KAK KAIVAN!" Gendis berlari menuju Kaivan, namun ia dicegat oleh arwah-arwah prajurit kuno yang muncul dari lantai gudang.
Gendis terjepit. Ia melihat Pietro mulai berjalan mendekati Kaivan dengan pisau perak di tangannya. Pisau itu ditujukan tepat ke arah tulang belakang Kaivan, tempat "kunci" tato itu berada.
"Jangan sentuh dia!" Gendis berteriak dengan seluruh kekuatannya. Secara refleks, ia mengeluarkan sapu lidi saktinya dan melemparkannya seperti tombak ke arah Pietro.
Lidi itu tidak mengenai Pietro secara fisik, namun saat meluncur di udara, lidi itu bercahaya emas terang. Don Alessandro tiba-tiba muncul di tengah udara, menangkap lidi itu yang berubah menjadi pedang cahaya di tangannya.
"CUKUP, PIETRO!" suara Don Alessandro menggelegar, membuat seluruh gudang bergetar. "KAU TELAH MENCEMARI DARAH VITTORIO!"
Don Alessandro menebaskan pedang cahayanya. Benturan antara kekuatan cahaya kuno dan sihir gelap Pietro menciptakan ledakan yang menghancurkan seluruh kaca gudang dan membuat air laut di bawah dermaga bergejolak hebat.
Pietro terpental, dinding pelindungnya hancur. Ia menatap Don Alessandro dengan ketakutan yang murni. "Kau... kau seharusnya sudah tenang di alam sana!"
"Aku tidak akan tenang selama ada pengkhianat sepertimu yang merusak masa depan cucuku!"
Kaivan bangkit, ia melihat celah. Ia tidak menggunakan pistolnya kali ini. Ia mengambil sebuah belati perak milik keluarga yang ia temukan di brankas—belati yang memiliki ukiran doa perlindungan. Dengan satu gerakan cepat yang ia pelajari dari tahun-tahun latihan tanpa henti, Kaivan menerjang maju.
SLAB!
Belati itu menembus bahu Pietro, memutus aliran energi gelap yang ia kumpulkan. Pietro menjerit, tubuhnya mulai mengeluarkan asap hitam saat sihir yang ia gunakan mulai memakan dirinya sendiri karena tidak lagi memiliki pelindung.
"Ini untuk ayahku," bisik Kaivan di telinga Pietro.
Pietro menatap Kaivan dengan benci yang luar biasa, namun perlahan matanya meredup. Tubuhnya perlahan berubah menjadi abu hitam yang terbang terbawa angin laut, menyisakan hanya belati Kaivan yang terjatuh di lantai beton yang dingin.
Suasana gudang mendadak hening. Lilin-lilin hitam padam secara bersamaan. Gendis terduduk lemas di lantai, napasnya tersengal. Ia melihat Don Alessandro yang perlahan memudar, memberikan hormat terakhir kepada Kaivan sebelum menghilang kembali ke alam baka.
Kaivan berjalan mendekati Gendis, tangannya berlumuran debu hitam sisa tubuh Pietro. Ia berlutut di depan Gendis dan menariknya ke dalam pelukan yang sangat erat.
"Sudah berakhir, Gendis. Jejak darah itu... sudah terhapus," bisik Kaivan.
Gendis menangis di bahu Kaivan. "Sakit banget, Kak... auranya tadi sakit banget. Saya nggak mau liat yang kayak gitu lagi."
"Aku janji, aku akan melindungimu. Selalu."
Marco dan timnya masuk, mereka terpaku melihat gudang yang hancur namun kini terasa sangat "ringan" dan bersih dari hawa jahat yang selama ini menghantui Dermaga 13.
"Tuan... apakah Anda baik-baik saja?" tanya Marco ragu.
"Kita pulang, Marco. Dan bakar gudang ini sampai habis. Jangan biarkan ada satu pun sisa dari kegelapan ini yang tertinggal," perintah Kaivan.
Saat mereka keluar dari dermaga, hujan mulai mereda. Cahaya bulan mulai menembus awan, memantul di permukaan air laut yang kini kembali berwarna biru tua yang tenang.
Di dalam mobil, Gendis tertidur lelap karena kelelahan di bahu Kaivan. Kaivan menatap tangannya sendiri. Ia menyadari bahwa tato di punggungnya bukan lagi beban atau kontrak yang menakutkan. Itu adalah pengingat bahwa meskipun masa lalu penuh dengan darah, ia memiliki kekuatan untuk menghentikan siklus itu.
Dan ia tidak melakukannya sendirian. Ia melakukannya bersama seorang gadis yang membawa kearifan lokal Indonesia ke tanah Mafia Italia, seorang gadis yang mengajarinya bahwa keberanian bukan hanya soal menarik pelatuk, tapi soal menjaga jiwa agar tetap murni di tengah dunia yang penuh noda.
"Mimpi indah, Nona Indigo," bisik Kaivan sambil menyelimuti Gendis dengan jasnya.
Palermo malam itu terasa sedikit lebih damai. Sang Raja Mafia telah menyelesaikan utang darah masa lalunya, dan kini ia siap menghadapi masa depan—masa depan yang mungkin masih penuh tantangan, tapi setidaknya, ia tahu bahwa ada cahaya yang selalu menemaninya di setiap langkah yang gelap.
aku like banget
seribu jempol
aku like...