Shafiya Elara Hanum, namanya. Ia tidak pernah menyangka hidupnya akan berakhir dalam sebuah pernikahan dengan pria yang tak pernah benar-benar menjadi suaminya.
Ia adalah putri seorang kiai.
Dibesarkan dengan kehormatan dan batasan.
Namun satu kesalahan yang tidak ia lakukan, telah merenggut segalanya. Pernikahannya batal. Nama baik keluarganya ikut hancur, dan ia pun terseret ke dalam ikatan dengan SAGARA ADINATA.
Pewaris tunggal keluarga Adinata.
Seorang pria yang dingin. Tegas. Dan tidak percaya pada pernikahan.
Mereka menikah tanpa cinta.
Tanpa keinginan. Tanpa sentuhan.
Namun satu hal mengikat mereka--Seorang anak yang tumbuh di rahim Shafiya…
anak yang bahkan tidak pernah mereka rencanakan.
Di balik hubungan yang datar dan penuh jarak, rahasia demi rahasia mulai terkuak.
Dan perlahan, batas yang mereka jaga mulai goyah.
Mampukah mereka bertahan dalam pernikahan yang bukan hanya sekedar kesepakatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6. Takdir Telah Memilih Jalannya Sendiri
"Jadi, anak itu, akan lahir tanpa nasab?"
Pertanyaan pelan, nada tenang. Tapi jatuh menjadi hantaman.
"Ada," jawab Shafiya cepat.
"Nasabnya ke Sagara. Ayah kandungnya."
Kyai Fakih terdongak. "Shafa?"
"Saat menikah kami memang belum tahu perihal anak ini, Abi. Tapi sekarang semuanya sudah jelas. Ini memang anak Sagara."
Dalam prosedur medis inseminasi yang dipilih Sagara, seseorang di luar prosedur datang diam-diam.
Ia menukar sampel itu untuk dipakainya sendiri. Ia ingin mengikat Sagara dengan hubungan.
Tapi semuanya gagal. Bukan karena ketahuan. Melainkan karena ketentuan takdir yang tak bisa dielakkan
Saat Shafiya datang ke Adinata Medical Center untuk memeriksakan diri, ada prosedur medis yang berjalan tidak sebagaimana mestinya.
Sampel yang telah ditukar itu, tanpa disadari, justru digunakan untuk Shafiya.
Maka tanpa sepengetahuan Shafiya, proses pembuahan itu terjadi di dalam tubuhnya.
Dan dari sanalah kehamilan itu bermula.
Setelah keterangan Shafiya, ruangan itu mendadak sunyi.
Bukan karena tidak ada yang ingin bicara,
tapi karena setiap orang sedang mencerna sesuatu yang terlalu besar untuk langsung ditanggapi.
Kyai Fakih menunduk. Jemarinya bergerak pelan di atas lututnya, seolah sedang menimbang sesuatu yang tak kasat mata. Bukan lagi tentang benar atau salah--melainkan tentang menerima takdir yang datang dengan cara yang tidak biasa.
“Innalillahi…” lirihnya.
Bukan penolakan.
Lebih seperti bentuk tunduk… pada sesuatu yang sudah terjadi.
Bibi Shafiya tampak ingin mengatakan sesuatu. Bibirnya sempat terbuka, tapi kembali terkatup. Ia merasa tidak punya kalimat yang cukup untuk menanggapi.
Khadijah juga tidak bicara. Sesekali menatap Shafiya dengan pandangan berkabut. Takdir memilih dengan caranya sendiri. Dan Shafiya terpilih untuk suatu hal yang di luar prediksi.
Sementara itu, Ilzam tetap diam.
Tatapannya tidak lagi mencari jawaban--karena kini semuanya sudah jelas. Perlahan, ia mengangguk. Sekali.
Bukan sebagai tanda setuju.
Tapi sebagai bentuk menerima… bahwa takdir yang dulu hampir menyatukan mereka, kini benar-benar telah memilih jalannya sendiri.
Shafiya menunduk lebih dalam. Tangannya saling menggenggam, menahan gemetar yang sejak tadi ia tahan.
Ia tidak lagi menunggu pertanyaan.
Atau menyiapkan diri untuk pembelaan.
Karena semua hal yang belum selesai itu telah ia buka. Meski bersamanya ia bukan merasa lega. Tapi justru seakan ada tambahan beban--tapi tidak diketahui dari arah mana.
...
...
Waktu menjelang sore ketika mobil itu mendekati Adinata Residence. Sebuah perumahan elite yang ditinggali keluarga Adinata.
Adinata Residence bukan sekadar kawasan hunian biasa, melainkan ruang yang dibangun dengan batas yang jelas--siapa yang boleh masuk, dan siapa yang tidak.
Hanya lima unit rumah yang berdiri di dalamnya. Masing-masing megah, menjulang tiga lantai, dengan garis arsitektur tegas yang lebih menekankan fungsi daripada sekadar kemewahan.
Dan di antara lima rumah itu, unit nomor tiga berdiri sedikit berbeda.
Bukan dari bentuknya, melainkan dari cara mencapainya.
Sebuah jalur memutar dibangun khusus, menyusuri sisi luar kawasan, menghindari jalan utama yang digunakan penghuni lain. Akses khusus yang sengaja dibuat. Dan hanya satu orang yang menggunakannya.
Sagara Deva Adinata.
Rumahnya tetap berada di dalam lingkar yang sama.
Namun caranya masuk, selalu berbeda.
Mobil menapaki halaman yang luas. Winda turun lebih dulu, kemudian menyilakan Shafiya. Selanjutnya mereka menaiki teras rumah setelah melintasi separuh halaman dengan taman yang hijau.
Ratri sudah menunggu di teras.
Perempuan 30 tahun itu berdiri di sana. Seragamnya rapi, tapi sederhana. Sikapnya tegak. Tidak menunduk berlebihan, juga tidak terlalu santai. Gerak yang terlatih. Terbiasa mengikuti aturan sistem.
Dan ia adalah otoritas sistem di rumah itu.
"Baru datang, Nona?"
"Iya." Shafiya mengangguk. "Tuan sudah datang?"
"Tuan sampai setengah jam yang lalu."
Shafiya diam sejenak kemudian mengangguk. Ia lalu melangkah masuk diikuti Winda.
Ratri sudah berlalu lebih dulu. Ia hanya memastikan jam berapa Shafiya datang--sebagai salah satu materi laporan.
Di koridor dalam yang menghubungkan arah ke kamar, langkah lain terdengar.
Dan Shafiya berhenti saat tubuh tinggi tegap Sagara yang masih berbalut pakaian kerja itu mendekat.
Sagara menatapnya. Masih datar seperti biasa. "Baru selesai." Dan seperti biasa pula, dua kata yang terucap itu bukan pertanyaan.
"Iya." Shafiya menjawab singkat. Tetap diam di tempatnya hingga Sagara hampir melintas.
"Saya--mau bicara." Shafiya mencegah langkah itu dengan ucapannya.
"Nanti." Satu kata. Singkat saja.
"Kamu sibuk?" Shafiya menatap wajah itu.
Sagara menoleh. "Seharusnya istirahat." Langkahnya kembali diambil.
"Kamu pucat." Dan ia terus berlalu.
Shafiya diam sejenak. Kemudian menoleh ke Winda.
"Benar. Nona sedikit pucat. Mungkin lelah, sebaiknya istirahat," kata Winda.
"Oh."
Shafiya tidak langsung bergerak. Ucapan Sagara itu tetap tinggal di pikirannya. Itu seperti bentuk perhatian. Tapi tidak benar-benar bisa disebut memperhatikan.
Mungkin hanya seperti melihat sesuatu, merespon, lalu pergi tanpa perlu memastikan.
Shafiya menarik napas pelan.
Lalu mengangguk kecil.
Mungkin… memang seperti itu caranya.
Cukup tahu.
Tanpa perlu benar-benar peduli.
Shafiya kembali ke kamar. Ruang yang berbeda dan cukup jauh dari wilayah pribadi Sagara. Ia membersihkan diri, lalu sholat ashar. Setelahnya ia benar-benar beristirahat, meski tidak sepenuhnya tidur.
Senja perlahan turun menyelimuti kawasan Adinata Residence. Semburat jingga itu perlahan masuk ke kamar Shafiya yang jendelanya dibiarkan terbuka. Semilir angin mengikuti. Dan seharusnya lantunan bacaan sholawat dari santri di masjid selalu menjadi irama senja yang menyejukkan hati. Itu--suasana di pesantren Darun Najah.
Beda di sini.
Shafiya bangkit dari sisi pembaringan yang mewah itu. Tatapannya mengarah ke luar jendela. Ke suasana taman dikala senja. Hening. Sepi. Bahkan angin seakan tak diizinkan berhembus di sini. Sejuk yang datang, berasal dari pendingin ruangan. Bukan kinerja alam.
Ia merindukan suasana itu. Suasana pesantren yang selalu terasa hangat. Dan itu membawa ingatan Shafiya pada pesan abinya yang belum sempat sampai ke Sagara.
Shafiya keluar dari kamar. Winda yang sedang duduk di kursi depan kamar, sigap berdiri. "Nona."
"Saat ini, tuan ada di mana?"
Winda mengangguk, dan langsung pergi. Tak butuh lama ia datang lagi.
"Tuan masih di ruang kerja. Sejak siang tadi."
Shafiya mengangguk dan segera bergegas, Winda mengikuti. "Saya sendiri saja, Winda," cegahnya sambil tersenyum.
"Baik."
Shafiya melintasi Koridor yang masih sama. Panjang. Tenang.
Lampu-lampu mulai menyala, menggantikan sisa cahaya senja yang semakin tipis.
Di ujung koridor, cahaya dari ruang kerja itu terlihat.
Pintu tidak sepenuhnya tertutup.
Shafiya berhenti sebentar di depannya.
Sebelum akhirnya mengetuk. Satu kali.
“Masuk.”
Shafiya membuka pintu itu lebih lebar, dan melangkah masuk.
Sagara masih dengan pakaian kerjanya. Duduk di balik meja, berkas terbuka di depannya. Tidak tampak terkejut melihat siapa yang datang.
Seolah… memang tidak ada yang perlu dipertanyakan.
Shafiya berdiri beberapa langkah dari meja itu. “Saya tidak lama. Hanya perlu bicara sebentar."
Sagara tidak langsung menjawab.
Matanya masih pada berkas di tangannya.
"Iya."
Shafiya menunggu beberapa detik untuk respon itu. Dan ternyata hanya berupa satu kata. Singkat.
Mau bilang aneh. Tapi itu memang, Sagara.
“Ada pesan dari Abi.”
Baru kali itu Sagara mengangkat pandangannya. Tidak lama. Hanya untuk menunjukkan bahwa ia mendengar.
Eeeeee Panassss sagara awas lo cemburu 🤣
Ayok mas Agam pelet trus ning cantik
Masih bnyak yg nunggu jandanya😍
Semoga Sagara & Ning Shafiya sukses menaklukan retensi dari 20 bab sampai 100 bab, aamiin.
Semangat & semoga sukses, Ning Najwa ♥️
Semoga update nya lebih sering