NovelToon NovelToon
Terjebak CEO Tampan

Terjebak CEO Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Selama 15 tahun pernikahan dengan Angga, Nayra bahkan tidak pernah bahagia. Meskipun dia sudah memiliki dua orang putri. Sikap kasar Angga tidak pernah hilang, dia sering memarahi Nayra di depan kedua anaknya. Ternyata sikap Angga, bukan hanya membuat Nayra tersiksa, tapi juga anak pertamanya yang mulai beranjak remaja. Nayra sempat berpikir keras untuk pergi dari rumah itu, tapi yang dia pikirkan hanya kedua anaknya, bagaiman masa depannya. Nayra terus bertahan meskipun luka di hatinya semakin besar, rasa cinta untuk Angga kini telah hilang. Saat Nayra terjebak hutang, Angga masih saja menyalahkannya, kini Nayra sudah berada di titik pasrah. Tapi Tuhan maha baik hidup Nayra di tolong oleh Arsen Wiratama, pemilik perusahaan terbesar di kota itu. Arsen menolong Nayra, tapi semua tidak gratis, Nayra harus bersedia meninggalkan Angga dan juga menikah dengannya secara kontrak. Bagaimana kelanjutan pernikahan kontrak mereka.

IG : purpleflower3125
FB : Flower Arsyta

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18 : Menyebalkan

Setelah Nayra dan Arsen pergi, Raya tetap berdiri di balkon. Jarinya mencengkeram pagar besi. Buku-buku jarinya memutih, tapi ia tidak sadar. Tatapannya mengikuti mobil yang perlahan menjauh sampai benar-benar hilang di ujung jalan.

Dada Raya naik turun pelan. “Mama,” gumamnya nyaris tak terdengar. Bibirnya mengeras. Rahangnya menegang. “Aku nggak akan pernah setuju…” lanjutnya lirih, suaranya serak tertahan. “Mama nikah sama manusia kulkas itu.”

Ia menghembuskan napas kasar, lalu menunduk sebentar, seolah mencoba menelan sesuatu yang mengganjal di dadanya.

“Ha...!”

Raya tersentak. Ia langsung berbalik, refleks mundur satu langkah sambil mengelus dadanya cepat.

“Tante? Astaga, ngagetin aja...” keluhnya, napasnya masih belum sepenuhnya stabil.

Martha berdiri rapi seperti biasa, kedua tangan terlipat sopan di depan. “Maaf, Nona Raya,” ucapnya lembut, sedikit menundukkan kepala. “Saya tidak bermaksud mengagetkan.”

Raya masih menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya menghela napas.

“Saya hanya ingin memberi tahu,” lanjut Martha, “pakaian Nona sudah disiapkan. Sebaiknya Nona bersiap sebelum Tuan kembali bersama Tuan Besar.”

Raya tidak langsung menjawab. Tatapannya bergeser sesaat, lalu kembali lagi ke Martha. Ada sesuatu yang tertahan di sana.

Tiba-tiba, ia meraih tangan Martha. “Tante…” suaranya lebih pelan sekarang. “Aku boleh tanya sesuatu?”

Martha mengangguk cepat. “Tentu, Nona.”

Raya menarik napas dalam. “Om Arsen itu…” ia berhenti sebentar, seperti memilih kata. “Kenapa dia kayak gitu?”

Alis Martha terangkat tipis.

“Dingin. Kaku,” lanjut Raya, kini menatap lurus. “Kayak… manusia kulkas.”

Sudut bibir Martha sempat bergerak, nyaris tersenyum. Ia menutupinya cepat dengan batuk kecil, lalu kembali tegak seperti biasa.

Beberapa detik ia diam, menimbang.

“Saya rasa… itu memang pembawaan Tuan Arsen,” jawabnya akhirnya. Suaranya tenang. “Beliau tidak banyak bicara, jadi terlihat sedikit kaku.”

Raya menunggu. Tatapannya tidak lepas.

“Tapi,” Martha menambahkan pelan, “Tuan Arsen tidak pernah bersikap buruk pada siapa pun di rumah ini.”

Raya mengerjapkan mata.

“Tidak pernah semena-mena pada kami,” lanjut Martha. “Dia selalu baik pada semua pelayan disini."

Hening sejenak, Raya tidak langsung merespon. Tatapannya turun sebentar ke lantai, lalu kembali naik. Namun kali ini, ekspresinya tidak sekeras sebelumnya, meski belum juga lunak.

Ia melepaskan tangan Martha. Tanpa berkata apa-apa lagi, Raya berbalik dan masuk ke dalam kamar. Pintu tertutup pelan di belakangnya.

Martha tetap berdiri di tempatnya beberapa saat. “Manusia kulkas…” gumamnya pelan, kali ini benar-benar tersenyum tipis. Lalu ia berbalik dan berjalan turun.

Beberapa jam berlalu.

Suara mesin mobil memecah keheningan siang. Raya muncul lebih dulu di balkon, langkahnya cepat. Alea menyusul di belakangnya dengan langkah kecil yang tergesa.

“Mereka sudah datang…” bisik Raya, matanya langsung mencari ke bawah.

Alea berdiri di sampingnya, berpegangan pada pagar. “Wah…” matanya membesar. “Itu pasti kakek sama nenek.”

Raya tidak menanggapi. Ia mempersempit pandangannya, fokus.

Pintu terbuka.

Mereka turun satu per satu. Lalu Alea menunjuk lagi. “Kak… itu siapa?”

Raya tidak langsung melihat ke arah yang ditunjuk. Tapi ketika akhirnya ia mengalihkan pandangan... ia diam. Lebih lama dari sebelumnya.

Alea menarik lengan kakaknya pelan. “Kakek tua itu siapa?”

Raya tidak menjawab, tangannya kembali mencengkeram pagar. Tatapannya mengeras. Kali ini, ia tidak sekadar melihat... ia mengamati.

Pintu utama terbuka.

Mereka masuk satu per satu. Langkah mereka teratur dan membuat suasana yang langsung terasa berbeda.

Dari atas, Raya masih berdiri diam. Tatapannya mengikuti.

Sementara itu, di bawah... Nayra sudah berdiri lebih dulu di ruang tamu. Bahunya tegak, tangannya saling menggenggam pelan di depan. Alea tidak menunggu lama, ia berlari kecil, langkahnya cepat menyeberangi ruangan.

“Mama!” serunya.

Tubuh kecil itu langsung memeluk Nayra tanpa ragu. Nayra sedikit terkejut, tapi refleks tangannya langsung membalas pelukan itu. Jemarinya mengusap punggung Alea pelan.

“Iya sayang,” ucapnya lirih.

Di sisi lain, Raya akhirnya turun. Ia berhenti beberapa jarak dari mereka, tidak mendekat, hanya berdiri… mengamati. Tatapannya sulit dibaca.

Di depan Nayra, pria tua itu memperhatikan adegan kecil itu dengan seksama. Sudut matanya sedikit melembut. “Apakah gadis kecil ini anakmu, Nayra?”

Nayra perlahan melepaskan pelukan Alea. Tangannya masih berada di bahu anak itu saat ia menoleh ke arah pria tersebut.

“I-iya,” jawabnya singkat, namun sedikit gugup.

Alea mengintip dari samping Nayra, matanya bulat memperhatikan pria tua itu tanpa rasa takut.

Pria itu tersenyum tipis. “Lucu sekali,” gumamnya pelan.

Tatapannya turun sejenak ke Alea, lalu kembali ke Nayra. Aura tegasnya tidak hilang, tapi ada sesuatu yang berbeda disana. Pria tua itu bernama Sanjaya Wiratama. Pemilik utama perusahaan besar yang selama ini hanya Nayra dengar namanya. Sosok yang selama ini berada di puncak dan kini berdiri tepat di hadapannya.

Nayra menahan napas sesaat. Namun yang mengejutkan, Sanjaya tidak menunjukkan penolakan sedikit pun. Tidak ada kerutan tidak suka atau tatapan merendahkan. Justru sebaliknya.

Ia kembali menatap Alea, lalu berkata pelan, “Namamu siapa?”

“Alea!” jawabnya cepat, polos.

Sanjaya terkekeh kecil. “Nama yang bagus.”

Di belakangnya, wanita elegan itu ikut tersenyum tipis.

Sementara di tangga, Raya masih berdiri. Tatapannya berpindah dari Alea… Nayra… lalu berhenti, di samping pria itu.

Seorang wanita berdiri dengan postur tegap. Gaunnya rapi, elegan, tanpa satu lipatan pun yang salah. Perhiasannya sederhana, tapi jelas mahal. Wajahnya cantik, terawat… namun dingin.

Tatapannya tidak sama seperti pria tua tadi, tidak ada kehangatan. Matanya menyapu Nayra, dari ujung kepala sampai kaki lalu turun ke Alea yang masih berdiri dekat ibunya. Tatapan itu tipis, tapi cukup tajam.

Alea tanpa sadar merapat ke Nayra. Jemarinya mencengkeram kain baju ibunya pelan. Nayra merasakannya. Ia menoleh sedikit, lalu mengusap kepala Alea dengan lembut... gerakan kecil yang tenang, tapi jelas protektif.

Wanita itu memperhatikan. Alisnya terangkat nyaris tak terlihat.

“Arsen,” panggilnya pelan.

Suaranya halus, tapi mengandung tekanan yang tidak perlu dikeraskan.

Arsen menoleh. “Ya, Mom.”

Wanita itu tidak langsung menjawab. Tatapannya kembali ke Nayra. Beberapa detik, lalu...

“Antar Mommy ke kamar, Mommy lelah," ucapnya.

Wanita itu adalah Ambar Anggraini Wiratama, dia istri dari Arya Wiratama dan hanya menantu Sanjaya Wiratama. tapi sikapnya yang sedikit berkuasa tidak ada pelayan yang suka jika ia datang berkunjung ke rumah Arsen.

Bahkan tatapannya sekarang sangat sinis saat mengetahui Arsen ingin menikah dengan Nayra, wanita yang memiliki status janda dua orang anak.

"Ambar, kamu baru saja datang, kenapa kita tidak duduk dulu dan berbicaran dengan calon menantumu ini," ucap Kakek Sanjaya.

Raya yang dari tadi berdiri di dekat tangga, ia kini mulai melangkah maju menghampiri ibunya.

Wajah Ibu Ambar terlihat kesal dan tidak nyaman jika harus berbicara dengan Nayra. "Mungkin lain waktu saja, Pa. Aku sangat lelah, " jawabnya ketus dan pergi begitu saja.

1
Arditya
Buku ini bagus ceritanya. Authornya mendalami banget ya sama cerita ini. lanjut thor sampai ratusan bab.
Vhiie Chavtry
suka banget, ada gambar visualnya di babnya... semangat Thoor😍
Vhiie Chavtry
aku suka banget sama Alea...hheee

semangat, lanjut thoor😄👍
Vhiie Chavtry
Ceritanya sangat menarik, dan relate... semangat author. recommended bangt sih😎
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!