"Hanya karena aku miskin, kau membuangku seperti sampah?"
Andra, seorang kurir yang bekerja keras 14 jam sehari, baru saja diusir dari kontrakannya dan diputuskan oleh kekasihnya demi pria bermobil mewah. Namun, di saat titik terendah hidupnya, sebuah suara mekanis bergema di kepalanya:
[Ding! Sistem Saldo Tak Terbatas Diaktifkan!]
[Level 1: Menghasilkan Rp 1.000 setiap detik secara otomatis.]
[Saldo saat ini: Rp 1.000... Rp 2.000...]
Dalam satu menit, ia mendapatkan Rp 60.000. Dalam satu jam, jutaan rupiah masuk ke rekeningnya tanpa melakukan apa pun. Dunia yang dulu menghinanya kini harus bersiap. Siapa pun yang pernah memandangnya rendah akan bersujud di bawah kakinya.
Bagi Andra, satu-satunya masalah sekarang bukan lagi cara mencari uang, tapi bagaimana cara menghabiskannya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruang_Magenta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Interogasi Sang Kurator
Asap hitam mengepul dari reruntuhan laboratorium 'Elysium'. Bau kabel terbakar dan cairan kimia menyengat hidung, namun Andra tetap berdiri tegak di tengah kehancuran itu. Di depannya, sang Kurator—pria yang selama ini merasa menjadi tuhan atas hidup dan mati orang lain—kini terpaku di pintu baja dengan belati energi yang menembus bahunya. Masker peraknya retak, memperlihatkan separuh wajah yang penuh bekas luka bakar lama yang mengerikan.
"Tuan, Siska sudah dalam perjalanan ke jet medis. Kondisinya stabil namun otaknya masih dalam fase reboot akibat beban data tadi," lapor Sang Jagal yang muncul dari balik asap dengan seragam yang koyak. Di belakangnya, tim elit Andra menyeret Erwin yang sudah pingsan dan terlihat seperti bangkai tak berharga.
Andra mengangguk singkat. Matanya tertuju pada sang Kurator. "Tinggalkan kami. Aku ingin bicara pribadi dengan 'Arsitek' gadungan ini."
"Tapi Tuan, dia mungkin punya mekanisme pertahanan diri yang tersembunyi," Sang Jagal memperingatkan.
"Sistemku sudah mengunci seluruh sarafnya. Dia tidak lebih berbahaya daripada seekor serangga sekarang," jawab Andra dingin.
Setelah para pengawal pergi, kesunyian yang mencekam menyelimuti ruangan. Hanya terdengar suara percikan listrik dari server yang mati dan tetesan cairan dari tabung yang pecah. Andra melangkah mendekati sang Kurator, setiap langkah kakinya terdengar seperti lonceng kematian.
"Bicaralah," kata Andra. "Siapa yang mengirimmu? Dan apa sebenarnya 'Benih' yang kalian tanam di otakku?"
Sang Kurator terbatuk, darah hitam keluar dari sela-sela masker peraknya. Ia tertawa—suara parau yang terdengar seperti gesekan batu. "Kamu pikir... kamu adalah pemenang, Andra? Kamu baru saja membakar hartamu hanya untuk menyelamatkan seorang wanita yang pernah mengkhianatimu. Itu adalah kelemahan, bukan kekuatan."
Andra mencengkeram rahang Kurator, menekannya hingga terdengar suara tulang yang retak. "Kelemahanku adalah urusanku. Urusanmu adalah menjawab pertanyaanku sebelum aku membiarkan Sistemku menghapus kesadaranmu sel-per-sel."
[Ding! Mengaktifkan Mode Interogasi Neural.] [Status: Memaksa akses ke memori target. Peringatan: Target memiliki proteksi 'Suicide Encryption'.]
"Jangan mencoba meretas otaknya secara langsung, Sistem," bisik Andra. "Gunakan tekanan mental. Aku ingin dia bicara sendiri."
Andra melepaskan cengkeramannya dan mundur satu langkah. Ia memanggil hologram kecil yang menampilkan grafik kekayaannya yang baru saja pulih. "Kau bilang aku kehilangan hartaku? Lihat ini."
Di layar hologram, angka saldo Andra yang tadi nol kini mulai merayap naik. Namun, simbol mata uangnya bukan lagi Rupiah, Dollar, atau Euro. Simbol itu berbentuk kristal geometris yang berputar.
[Ding! Sinkronisasi Saldo Galaksi Dimulai.] [Sumber: Perdagangan Energi Sektor Orion.] [Nilai Konversi: 1 Kristal = Rp 150 Triliun.]
Mata sang Kurator melebar hingga hampir keluar dari kelopaknya. "Tidak mungkin... Bagaimana bisa... Kau sudah mencapai tahap Interstellar Trade? Itu... itu seharusnya baru terjadi setelah sepuluh tahun!"
"Waktu hanyalah variabel yang bisa kuubah," jawab Andra, meskipun ia sendiri sebenarnya terkejut dengan notifikasi sistem itu. "Sekarang katakan padaku, siapa 'Majikan' di balik topeng perakmu? Apakah mereka manusia, atau sesuatu yang lain?"
Kurator gemetar. Ketakutannya pada Andra kini jauh lebih besar daripada ketakutannya pada organisasinya sendiri. "Kami... kami hanyalah Harvester (Pemanen). Kami adalah organisasi bernama 'The Void'. Kami bertugas mencari planet-planet dengan peradaban primitif yang memiliki potensi pertumbuhan ekonomi tinggi, lalu menanamkan Sistem pada satu individu untuk melihat apakah mereka bisa mengonsolidasikan seluruh kekayaan planet itu ke dalam satu tangan."
Andra menyipitkan mata. "Jadi, aku hanya alat untuk mengumpulkan seluruh uang di bumi agar kalian bisa mengambilnya sekaligus?"
"Tepat," bisik Kurator. "Setelah seluruh kekayaan bumi terkumpul pada satu orang, kami akan memanen individu tersebut. Jantungmu, otakmu, dan sistemmu akan diekstraksi untuk menjadi 'Baterai Energi' bagi peradaban kami di luar sana. Erwin... dia seharusnya menjadi penggantimu jika kau gagal. Tapi kau... kau justru melampaui batas yang ditetapkan."
"Dimana markas pusat 'The Void'?" tanya Andra, auranya semakin menekan.
"Mereka tidak punya markas tetap di bumi, Andra. Mereka ada di antara bintang-bintang. Tapi mereka punya perwakilan di setiap benua. Orang-orang yang kau temui di The Sovereign Club? Mereka hanya pion. Pemain aslinya adalah mereka yang memegang kunci 'Gerbang Bintang' di Antartika."
Tiba-tiba, tubuh sang Kurator mulai mengeluarkan cahaya ungu yang tidak stabil. Ia mulai kejang-kejang.
[Peringatan! Protokol Penghancuran Diri Jarak Jauh Diaktifkan oleh Pihak Luar!]
"Andra... dengarkan aku..." Kurator bicara dengan sisa tenaga terakhirnya. "Siska... dia bukan sekadar wanita. Dia sengaja didekatkan padamu sejak sekolah karena dia memiliki struktur DNA yang kompatibel untuk menjadi jembatan data. Pernikahanmu... pengkhianatannya... semuanya telah dirancang oleh The Void untuk memicu emosimu agar Sistem cepat berkembang!"
Andra membeku. Seluruh hidupnya, rasa sakitnya, kemarahannya pada Siska... semuanya adalah skenario yang ditulis oleh orang lain?
"Bahkan pengkhianatan Siska... itu settingan?" suara Andra bergetar karena amarah yang luar biasa.
"Dia tidak tahu... dia juga dimanipulasi melalui sugesti bawah sadar..." Kurator tidak sempat menyelesaikan kalimatnya. Tubuhnya tiba-tiba menguap menjadi abu hitam dalam hitungan detik, meninggalkan bau belerang yang tajam.
Andra berdiri terpaku di tengah reruntuhan. Kenyataan ini menghantamnya lebih keras daripada pukulan Erwin. Ia merasa seperti pion di papan catur raksasa yang membentang hingga ke galaksi lain. Semua dendam yang ia pupuk selama ini terasa seperti lelucon yang pahit.
[Ding! Memori Inang Terdeteksi Mengalami Guncangan Hebat.] [Saran: Jangan biarkan emosi menghentikan proses Upgrading. Target Berikutnya: Antartika.]
"Sistem," panggil Andra dengan suara yang sangat rendah. "Jika Siska juga adalah korban... maka siapa pun yang menulis skenario ini, aku akan membakar mereka hingga menjadi debu bintang."
Andra berbalik dan berjalan keluar dari laboratorium yang runtuh itu. Di permukaan, matahari Kalimantan mulai terbit, cahayanya menembus sela-sela pohon. Ia melihat Sang Jagal sedang menunggu di depan jet pribadi yang mesinnya sudah menderu.
"Tuan, kita berangkat?" tanya Sang Jagal.
Andra menatap ke langit biru, menembus atmosfer bumi. "Siapkan seluruh armada tempur kita. Kita tidak lagi bermain-main dengan pengusaha atau bankir. Kita akan pergi berburu dewa."
Saat jet itu lepas landas dan melesat ke angkasa, Andra membuka layar hologram pribadinya. Ia melihat profil Siska yang sedang dirawat di ruang medis jetnya. Ada rasa benci yang mulai pudar, digantikan oleh rasa haus akan keadilan yang jauh lebih besar.
[Saldo Galaksi Terakumulasi: 1.000 Kristal.] [Membuka Menu Senjata: Railgun Orbital\, Armor Star-Slayer\, dan Kapal Induk Kelas 'Nemesis'.]
"Ayo kita lihat seberapa kuat 'The Void' ini saat mereka harus menghadapi seseorang yang punya uang tanpa batas di seluruh galaksi," gumam Andra.
Di sudut Jakarta yang jauh, orang-orang melihat ke langit saat sebuah objek bercahaya emas melesat dengan kecepatan hipersonik menuju selatan, menuju benua es yang menyimpan rahasia terbesar umat manusia. Zaman baru bukan lagi soal siapa yang paling kaya di bumi, tapi siapa yang paling berkuasa di alam semesta.