Bayu Alexander adalah seorang karyawan rendahan yang sedang berada di titik terendah hidupnya setelah difitnah dan gajinya dipotong semena-mena oleh atasannya. Nasib miskinnya berbalik seratus delapan puluh derajat ketika ia memindai sebuah barcode misterius di halte bus yang diam-diam menginstal Aplikasi Toko Ajaib di ponselnya.
Berbekal sisa saldo lima puluh ribu rupiah, Bayu memanfaatkan fitur diskon kilat aplikasi tersebut untuk membeli kacamata ajaib penilai barang antik, yang menjadi batu loncatan pertamanya meraup ratusan juta rupiah dari pasar loak.
Dari seorang budak korporat yang diinjak-injak, Bayu perlahan membangun kerajaan bisnisnya sendiri, menggunakan item-item tak masuk akal dari sistem untuk menghancurkan karir musuh-musuhnya, mendominasi pasar saham, hingga menumpas mafia kejam yang mencoba mengusiknya, semuanya ia lakukan dalam diam sebagai miliarder baru Jakarta yang rahasianya tidak akan pernah terbongkar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Lampu kristal di langit-langit ballroom memantulkan cahaya yang berkilauan di atas lantai marmer, namun bagi Bayu, semua kemewahan itu hanyalah kebisingan visual. Di sampingnya, Victoria Lin berjalan dengan keanggunan yang alami. Setiap pasang mata di ruangan itu mengikuti pergerakan mereka, berbisik tentang siapa pemuda asing yang berani mempermalukan Richard di depan umum.
"Kamu sepertinya tidak terganggu dengan tatapan mereka, Alexander," gumam Victoria, matanya tetap menatap lurus ke depan.
"Tatapan mereka tidak membuatku tertarik sama sekali, Nona Lin. Jadi, untuk apa aku peduli?" jawab Bayu tenang.
Victoria tertawa kecil, suara yang terdengar sangat kontras dengan suasana formal di sana.
"Pemikiran yang bagus. Sekarang, buktikan ketajaman matamu lagi. Pelelangan utama akan dimulai dalam tiga puluh menit. Aku butuh sesuatu yang benar-benar bisa membuat kakekku terkesan. Beliau tidak butuh uang, beliau butuh cerita dan sejarah."
Bayu menyesuaikan letak kacamatanya. Meskipun sistem di ponselnya masih mati, artefak fisik ini tetap bekerja dengan sempurna. Ia memindai barisan barang yang dipajang di atas meja-meja beludru.
Kebanyakan adalah barang yang membosankan. Perhiasan berlian yang harganya selangit namun tidak memiliki jiwa, atau guci-guci era Qing yang meskipun asli, namun sangat umum ditemukan di koleksi para pejabat.
Langkah Bayu terhenti di sebuah sudut yang agak gelap, jauh dari sorotan lampu utama. Di sana, di dalam sebuah kotak kayu jati yang terlihat agak usang, tergeletak sebuah bongkahan batu giok berwarna hijau gelap, hampir hitam. Bentuknya kotak sederhana dengan ukiran singa di bagian atasnya. Permukaannya kusam, tertutup oleh lapisan patina yang tebal.
Label harganya tertulis: Stempel Batu Hiasan Meja. Estimasi Harga: Rp 50.000.000.
"Hanya stempel hiasan?" Victoria ikut berdiri di samping Bayu, mengerutkan kening. "Ini terlihat seperti barang yang biasa dipakai untuk menindih kertas agar tidak terbang. Tidak ada yang istimewa."
Bayu tidak menjawab. Matanya terfokus pada benda itu melalui lensa kacamatanya. Sebuah jendela informasi berwarna emas cerah meledak di pandangannya, jauh lebih terang daripada informasi lukisan Raden Saleh tadi.
STEMPEL KERAJAAN MAJAPAHIT - MILIK MAHAPATIH GAJAH MADA.
MATERIAL: GIOK HITAM LANGKA DARI PEGUNUNGAN JATIMULYA.
USIA: 600 TAHUN LEBIH.
CATATAN SEJARAH: STEMPEL INI DIGUNAKAN UNTUK MENGESAHKAN PERINTAH EKSPEDISI NUSANTARA. TERDAPAT UKIRAN AKSARA KAWI RAHASIA DI BAGIAN DASAR YANG HANYA BISA DILIHAT DENGAN CAHAYA DARI SUDUT TERTENTU.
NILAI PASAR ASLI: TIDAK TERNILAI (ESTIMASI KOLEKTOR: RP 80.000.000.000).
Bayu menelan ludah. Jantungnya berdegup kencang. Ini bukan lagi soal jutaan atau miliaran kecil. Ini adalah pusaka nasional yang hilang dari catatan sejarah. Bagaimana benda ini bisa berakhir di pelelangan amal sebagai penindih kertas seharga lima puluh juta rupiah?
"Nona Lin," suara Bayu terdengar sedikit lebih dalam. "Beli benda ini. Berapa pun harganya nanti saat lelang dimulai, jangan biarkan orang lain mengambilnya."
Victoria menoleh, menatap Bayu dengan tatapan menyelidik. "Lima puluh juta untuk batu penindih kertas? Kamu serius?"
"Ini bukan penindih kertas. Ini adalah alasan mengapa Nusantara ini ada," bisik Bayu. "Kakekmu menyukai sejarah dan cerita, bukan? Berikan dia stempel yang pernah menyatukan ribuan pulau ini, dan Richard tidak akan pernah berani menginjakkan kakinya di rumahmu lagi."
Victoria terdiam. Ia menatap Bayu, mencari tanda-tanda kebohongan atau candaan. Namun yang ia temukan hanyalah keyakinan mutlak.
"Baik. Aku akan memegang kata-katamu," ucap Victoria.
Acara lelang dimulai. Suasana menjadi panas saat beberapa kolektor mulai memperebutkan barang-barang mewah. Namun, saat stempel giok hitam itu dimunculkan, ruangan menjadi sunyi. Kebanyakan orang menganggapnya sebagai barang selingan yang tidak menarik.
"Barang nomor empat puluh dua, stempel giok hiasan. Dibuka di harga lima puluh juta rupiah," seru sang juru lelang.
Hening. Tidak ada yang mengangkat papan bicara.
"Lima puluh juta?" ulang juru lelang.
Victoria mengangkat papan bicaranya dengan tenang. "Lima puluh juta."
"Lima puluh juta dari Nona Victoria Lin! Ada lagi?"
Tiba-tiba, seorang pria paruh baya di barisan depan, yang tampaknya adalah seorang kurator museum swasta, mengangkat papannya. "Enam puluh juta."
Victoria tidak berkedip. "Seratus juta."
Pria itu menoleh ke arah Victoria, lalu menggelengkan kepala. Ia tidak ingin menghabiskan uang lebih banyak untuk sesuatu yang ia anggap hanya sekadar artefak kecil.
"Seratus juta satu kali... dua kali... tiga kali! Terjual kepada Nona Victoria Lin!"
Bayu menghela napas lega. Ia baru saja membantu Victoria membeli sesuatu seharga delapan puluh miliar dengan harga seratus juta.
Setelah acara selesai, Victoria mengajak Bayu ke area teras hotel yang lebih sepi. Ia memegang kotak berisi stempel itu dengan ekspresi penuh tanda tanya.