Setelah hidup selama 500 tahun penuh pengkhianatan, kesengsaraan, dan perjuangan, Tian Hao akhirnya kembali ke masa lalu.
Dengan ingatan dari kehidupan sebelumnya, ia memperoleh Warisan Mutiara Surgawi yang mempercepat jalur kultivasinya.
"Kali ini... aku akan mencapai keabadian."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Amarah
Beberapa hari telah berlalu sejak badai amarah Ular Putih meluluhlantakkan sebagian Hutan Terlarang.
Kediaman keluarga Tian masih diselimuti duka yang pekat; kepulan asap dupa untuk para leluhur membubung dari banyak rumah, bercampur dengan isak tangis yang tertahan.
Banyak murid muda berbakat yang kini hanya tinggal nama, meninggalkan ruang hampa di antara barisan praktisi.
Tian Hao berdiri di lapangan latihan seperti biasanya. Di sekelilingnya, para murid yang selamat tampak seperti bayangan dari diri mereka yang dulu. Mata mereka cekung, gerakan mereka lesu, dan aura trauma masih membekas jelas di wajah-wajah yang memucat.
Fei Lin melangkah ke tengah lapangan. Ia menghentakkan tongkat kayunya ke lantai batu dengan kekuatan penuh, menciptakan riak energi yang menyapu debu dan memaksa para murid untuk tegak.
"Fokus!" suaranya menggelegar, namun ada nada letih yang terselip di sana. "Kematian adalah bagian dari jalan kultivasi. Jangan biarkan ketakutan mematikan ambisi kalian. Hari ini, aku akan membagikan jatah sumber daya sebagai imbalan atas keberhasilan kalian menyelesaikan ujian kemarin, bagi yang kembali dengan bendera."
Satu per satu murid maju menerima kantong berisi batu energi dan ramuan pemulihan. Saat tiba giliran Tian Hao, suasana mendadak senyap. Fei Lin menatapnya cukup lama, matanya menyipit seolah mencoba menembus kabut misteri yang menyelimuti remaja di depannya.
"Karena kau adalah satu-satunya yang berada di kelompokmu dan berhasil membawa kembali bendera," Fei Lin berkata dengan nada datar, "maka jatah yang seharusnya dibagikan untuk satu tim penuh, kini menjadi milikmu sendiri."
Fei Lin menyerahkan sebuah cincin logam kusam sebuah cincin ruang kualitas rendah. Meski itu adalah jenis yang paling dasar, bagi para murid tingkat awal, benda itu adalah harta karun yang luar biasa mewah.
Seketika, atmosfer di lapangan berubah. Rasa trauma mendadak digantikan oleh percikan iri hati yang membara.
Mata para murid tertuju pada cincin di tangan Tian Hao dengan tatapan yang seolah ingin menguliti kulitnya.
"Iri adalah racun yang paling cepat menyebar di hati manusia; ia bisa mengubah kesedihan menjadi kebencian dalam sekejap."
Tian Hao menerima cincin itu dengan membungkuk sopan. "Terima kasih, Guru. Saya akan menghargai kemurahan hati ini."
"Manusia memang bisa ditebak," batinnya dingin. "Mereka akan menjauh saat kau dianggap sampah, namun akan mengasah pisau saat kau memiliki apa yang mereka inginkan."
"Besok," lanjut Fei Lin, "akan ada murid baru yang diangkat langsung oleh Tuan Besar Tian Fei. Pastikan kalian tidak mempermalukan keluarga. Latihan selesai!"
Begitu punggung Fei Lin menghilang di balik gerbang, tekanan di lapangan itu meledak. Hampir tiga puluh murid perlahan mengepung Tian Hao, membentuk lingkaran yang mencekam.
"Sialan kau, Tian Hao!" salah satu murid berteriak, suaranya bergetar karena amarah yang dipaksakan. "Kenapa orang sepertimu yang harus hidup dan mendapatkan semua ini?! Teman-temanku mati di hutan itu sementara kau bersembunyi seperti tikus dan sekarang kau merampas jatah mereka!"
Tian Hao menatap mereka dengan mata yang kosong, tanpa ada sedikit pun getaran ketakutan. "Kenapa menyalahkan aku? Bukankah itu adalah takdir mereka? Langit yang memutuskan siapa yang jatuh, dan siapa yang tetap berdiri."
"Takdir?!" Seorang murid maju, mencengkeram kerah baju Tian Hao. "Kau hanyalah pembawa sial! Bahkan ayah dan ibumu sendiri tidak sudi melihat wajahmu. Di dunia ini, bakat adalah satu-satunya hukum. Tanpa bakat, keberadaanmu hanyalah noda bagi kami!"
Tian Hao tidak memberontak. Ia justru membiarkan dirinya diseret. "Teruslah mencaci, salahkan aku atas kegagalan kalian sendiri. Itu tidak akan membuatku sedih atau marah. Karena itulah sifat asli kalian: bodoh dalam berpikir, munafik dalam bertindak, dan angkuh dalam kelemahan."
Kalimat itu seperti bensin yang menyambar api.
"Kau berani menghina kami?!"