"Woy, lihat! Itu Kak Baskara!"
Bisikan-bisikan itu menyebar cepat seperti api yang menyambar rumput kering. Lara yang awalnya sibuk merapikan buku catatannya, refleks mendongak ketika suasana mendadak hening selama satu detik, lalu pecah oleh riuh tepuk tangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesunyian yang menyelamatkan
Lara menghela napas lega saat menyadari area gerbang sudah mulai sepi. Mahasiswa lain kebanyakan sudah pulang sejak satu jam yang lalu, dan hanya ada beberapa petugas keamanan yang berjaga di kejauhan. Tidak ada kerumunan mahasiswi yang biasanya akan memekik heboh jika melihat sang idola kampus membonceng seorang gadis baru.
"Syukurlah... nggak ada orang," gumam Lara sangat pelan, namun ternyata masih tertangkap oleh pendengaran Baskara di balik helmnya.
"Kenapa? Kamu malu kalau ketahuan bareng saya?" tanya Baskara sambil memacu motornya perlahan keluar dari area kampus. Suaranya sedikit terendam deru angin, namun tetap terdengar tegas.
Lara tersentak, wajahnya memerah. "Eh, bukan gitu Kak! Justru saya takut fans Kakak nanti salah paham. Saya kan cuma mau pulang, bukan mau cari masalah."
Baskara hanya diam, namun di balik kaca helm gelapnya, ia tersenyum tipis. Jawaban polos Lara justru membuatnya merasa lega. Ia sendiri sengaja menunggu di ruang transit sedikit lebih lama tadi, memastikan massa sudah bubar sebelum ia menghampiri Lara di depan.
Jalanan sore itu mulai berwarna jingga. Lara yang duduk di jok belakang berusaha menjaga jarak agar tidak terlalu menempel, tangannya memegang erat besi pegangan motor di belakang. Namun, setiap kali motor sport itu melakukan pengereman, Lara tak sengaja sedikit terdorong ke depan.
"Pegang bahu saya saja kalau takut jatuh," ucap Baskara tiba-tiba.
"Nggak apa-apa Kak, begini saja sudah cukup," jawab Lara cepat, meski jantungnya berdegub lebih kencang dari mesin motor yang ia naiki.
Baskara tidak memaksa, namun ia sengaja melambatkan laju motornya. Ia ingin menikmati momen ini—momen di mana ia tidak perlu menjadi "Baskara sang Idola" yang dikejar-kejar, melainkan hanya seorang pria yang sedang mengantar pulang gadis yang sejak tadi siang tak bisa ia lupakan dari pikirannya.
Kejutan demi kejutan seolah sengaja disusun oleh takdir sore itu. Perjalanan yang awalnya kaku perlahan mencair saat Baskara mulai menyadari sesuatu yang familiar dari arah jalan yang disebutkan oleh Lara.
Motor sport Baskara berbelok memasuki sebuah kawasan elite dengan gerbang besar dan penjagaan super ketat. Lara sempat bingung, namun ia lebih terkejut saat Baskara dengan santainya mengangguk pada petugas keamanan yang langsung membukakan palang otomatis tanpa bertanya banyak.
"Lho, Kak? Kok bisa masuk sini?" tanya Lara setengah berteriak di balik helm.
Baskara tidak menjawab. Ia terus melaju hingga mereka memasuki sebuah komplek perumahan mewah di mana jarak antar rumah sangat luas dan dikelilingi taman yang asri. Hingga akhirnya, Baskara berhenti tepat di depan sebuah rumah dengan pagar tinggi yang sangat dikenal Lara.
"Ini kan rumah saya..." Lara turun dari motor dengan wajah melongo. "Kak Baskara kok tahu?"
Baskara melepas helmnya, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan karena angin. "Saya nggak tahu ini rumah kamu. Tapi rumah saya cuma beda dua blok di sana," ia menunjuk ke arah ujung jalan yang masih satu deret.
Lara terpaku. Ternyata selama ini idola kampus yang ia takuti itu adalah tetangganya sendiri. Namun, kejutan belum berhenti di situ. Saat motor Baskara masih terparkir, sebuah mobil sedan mewah hitam masuk ke halaman rumah Lara. Sosok pria paruh baya berpakaian rapi turun dari sana—Papa Lara.
"Lara? Kamu pulang bareng siapa?" tanya Papanya heran, namun matanya langsung beralih ke arah Baskara. "Eh, kamu... bukannya kamu anak dari Pak Adiguna Langit?"
Baskara turun dari motor dan menyalami Papa Lara dengan sangat sopan. "Iya, Om. Saya Baskara. Papa tadi sempat cerita kalau baru saja menandatangani kontrak kerja sama dengan perusahaan Om Wijaya untuk proyek di pusat kota."
Lara hampir saja menjatuhkan map tugasnya. Jadi, bukan hanya mereka bertetangga, tapi orang tua mereka adalah rekan bisnis yang mengelola perusahaan besar yang saling bersinggungan.
Baskara melirik ke arah Lara yang masih mematung. "Sepertinya 'informasi penting' yang saya bilang di ruang panitia tadi memang benar-benar akan ada, Lara. Karena sekarang, kita bukan cuma senior dan maba, tapi juga tetangga."