Delina Azzahra Gustia, gadis 21 tahun yang paling anti dengan yang namanya duda, harus menghadapi kenyataan pahit... ancaman dari ayahnya.
"Kalau kamu masih bangun siang terus, Bapak nikahkan kamu sama duda!"
Ancaman itu selalu ia anggap angin lalu.
Sampai suatu hari... semuanya berubah.
Sebuah kejadian konyol yang tak pernah ia bayangkan-kepeleset, lalu jatuh tepat di atas seorang pria asing-membuat hidupnya jungkir balik.
Lebih parahnya lagi, warga memergoki mereka dalam posisi yang... tak bisa dijelaskan.
Pria itu adalah Muhammad Agam Alfariz. Seorang gus berusia 30 tahun.
Dan sialnya... dia adalah tipe pria yang paling Delina benci. Namun karena fitnah yang terlanjur melebar, satu keputusan harus diambil.
Menikah...
Dalam semalam, Delina yang anti duda... justru sah menjadi istri seorang gus mantan duda.
Hidupnya yang dulu bebas, kini berubah total.
ig: adelgustian_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adelita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6
PAGI HARI PUKUL 09.00
Delina menyapu halaman rumah, sesekali melirik kearah seberang rumahnya disana Agam tampak melakukan perenggangan badan. Sepertinya pria itu baru pulang olahraga.terlihat keringat bercucuran diwajahnya dan pakaian nya behh....
Bikin pans dingin yang melihat, ia mengelap wajahnya seperti adegan slowmo membuat Delina hampir meneteskan air liurnya. Delina tdiak lagi mempedulikan menyapu halaman rumah padnagnan diseberangnya jauh lebih menarik mata.
" Ya Allah, segagah itu orang jogging." bisiknya pelan nyaris tak terdengar.
Bapak Roslan yang kebetulan ingin pergi keluar, langsung menegur.
" Mau olahraga, Nak Agam?"
Agam menghentikan langkahnya sejenak dan menoleh. Ia menyunggingkan senyum tipis_ nyaris tidak terlihat, tapi cukup untuk menunjukkan kesopanan.
" Iya Pak. habis olahraga, mau cari sarapan dulu sekalian keliling kampung sambil liat-liat." jawabnya dengan suara tenang dan baritons yang khas.
" Wah, bagus itu. Udara pagi di sini seger dan masih asri berbeda sama dikota sudah terkena polusi. apalagi disini masih banyak penghijauan dan sawaah." ucap pak Roslan ramah.
Agam mengangguk pelan.
" Terimakasih Pak Roslan sarannya."
" Kapan-kapan mampir kerumah saya, sekalian kalau ada yang diperlukan untuk kebutuhan dinas Sampean beritahu saja jangan sungkan." lanjut Pak Roslam sambil melirik anak bungsunya yang sekilas tampak bengong degnan bertopang pada tubuhnya disapu.
Agam melirik Delina seperkian detik, cukup melihat wajah wanita itu yang kini merah padam entah Agam tak tahu alasan nya, namun ia tidak berkata apa-apa.
" Baik Pak, saya permisi. " pamit Agam sambil melangkah pergi.
Delina baru sadar dirinya terlalu lama menatap Agam saat Pak Roslan berdehem keras menyadarkan nya.
" Eli, sepertinya kau tidak menyapu apapun sejak tadi? Bapak tidak melihat ada tanda-tanda bekas daun kering yang bertumpuk."
" Ihh, tadi sudah kusapu setengah Pak. Tuh! lihat, cuman belum slesai aja apalagi cuaca nya panas banget jadi haus..." keluh Delina menunjuk dedaunan di bawah sapunya.
" Bapak ganggu aja deh." sambung Delina.
" Bukan ganggu, Bapak memang mau keluar sebentar. ADa yang mau diurus." ucap pak Roslan lagi menaiki motor bututnya.
" Sekalian disuruh mamak mu, Lihat kamu beneran nyapu atau ngapelin tetangg seberang." goda Pak roslan menaik turunkan alisnya.
" Pak..." Delina mengeluh, lalu membalikan tubuhnya memunggungi bapaknya menutupi wajah Delina yang pastinya sudah memerah malu setengah mati. Tapi disela jari-jarinya ia tidak bisa menyembunyikan senyuman nya.
Dari kejauhan, Agam berjalan tenang menyusuri jalanan yang masih sangat asri dan semilir angin menambah kesejukan. " sangat sejuk." gumam Agam menghirup dalam dan menghebuskan nya lagi ia tersenyum kecil disepanjang jalanan.
➰➰➰➰
Sore harinya...
Delina yang tengah menikmati tontonan drakornya diruang tengah sambil mengemil camilan yang di buatnya tadi. tapi semua acaranya terganggu saat Mak Nurlela memanggilnya.
" Eli, sini dulu. jagnan main hp terus nanti mata kamu jadi minus." ucap Mak Nurlela sembari menghapiri anaknya dengan rantang yang dipegang wanita itu.
Delina menoleh dengna malas, tapi tetap menaruh ponselnya dipangkuan." Iya,iya...ada apa Mak?"
" Ini tolong antarkan ke kebun bapak mu, tadi Bapak telepon katanya gak bisa pulang karena ada rapat mendadak di balai, jadi kamu tarok disana aja." ucap Mak Nurlela menyeahkan rantang besi.
" Di balai desa? kenapa gak langsung kesana aja Mak? kenapa diletakan di kebun?" tanya Delina.
" Mamak cuman masak sedikit aja, gak mungkin cman bapak mu aja yang makan? apalagi disana pasti sudah disediakan konsumsinya." ucap Mak Nurlela.
" Kalau begitu aku langsung ke kebun sendirian Mak?" tanya Delina lagi yang masih memegang rantang besi yang terasa hangat.
" Iya, kenapa? kamu gak mau anterin kalau sendiri ke kebun? takut lagi?" tanya Mak Nurlela tepas sasaran saat melihat anaknya cengengesan.
" Tahu aja Mamak." ucap Delina nyengir pelan.
" Mau jadi anak durhaka kamu? gak mau anterin makan bapaknya? " hardik Mak Nurlela berkacak pinggang.
" Ihh... Mamak, jahat banget mulutnya. Maksudnya Mamak gak mau temenin gitu? " melas Delina.
" Gak bisa Eli, Mamak masih banyak kerjaan. sayur-sayuran yang dipetik aja belum Mamak bungkus. "
" Mamak kan tahu, jalanan ke kebun Bapak itu nyeremin. Ada penunggu nya..." rengek Delina.
" Sudah-sudah kayak anak kecil aja kamu, biasanya bernai aja kesana. "
" Kalau siang aku berani Mak, ini sudah jam 5 lwat. Apalagi Bapak bakalan nginep disana kan? berarti aku harus pulang sendirian dong..." cemberut Delina.
" Minta temenin Aldo, biasnaya kau sama dia. "
" Oh iya juga ya...." pikir Delina baru inget.
" HUh, dasar bocah labil. Sana pergi keburu senja nanti penunggu nya ngikut kamu lagi . " ucap Mak Nurlela meledek anaknya.
" Ihhh! Mamak apaansih, jangan nakutin..." kesel Delina langsung mengambil cardigan nya terbirit lari keluar rumah.
Suara gelak tawa Mak Nurlela sangat puas melihat anaknya yang ketakutan setengah mati.
" Sama hantu kok takut." gumam Mak Nurlela kembali kedalam dapur.
Delina mendekati rumah Aldo, ia tampak ragu..
" Apa Aldo mau temenin gue ya? dia kan penakut juga kayak gue." gumam Delina bimbang.
" Masa bodohlah, gue harus paksa dia ikut." tekad Delina.
TOK..
TOK...
TOK...
" assalamualaikum Aldo! DO! LO DIRUMAH GAK?" teriak Delina yang masih menggedor pintu rumah Aldo berutal.
KLEK...
" Woy! lo kalau ngedor santai dikit napa, rusak nih pintu gue." kesel Aldo dmengacak rambutnya sepertinya lelaki itu baru bangun tidur terlihat dari rambut yang acakan mata merah dan baju berantakan.
" Lo baru bangun jam segini Do? gila aja. "
" Gue kerja malam nyet, makanya baru bangun. Kenapa lo ngetok rumah gue?" tanya Aldo lagi.
" Gue minta tolong temenin ke kebun Bapak." ucap Delina.
" Gila-gila aja lo Lin, senja begini minta temenin ke kebun bapak lo? ngeronda lo?" ucap Ado tak habis pikir dengna pikiran Delina.
" Berarti lo bilangin bapak gue gila gitu! dia mau jagain kebun karena lo tahu sendiri kan marak nya maling makanya gue mau kesana disuruh antar nih rantang. " jelas Delina.
" Bukan...bukan, maksud gue. Ini serusan? mau ke kebun jam segini?" tanya Aldo melirik jam rumah nya.
" Iyalah, lo bisa apa gak sii? jagnan mengulur waktu lah, nanti makin ke maleman di jalan. " desak Delina.
" Jujur Lin, gue mau aja. Tapi kalau ke kebun gue nyerah. " jawab Aldo jujur.
" Do? seriusan dah, temenin gue yaa? nanti gue kasih tip deh." rngek Delina.
" gAk bisa Lin, gue juga takut. " ucap Aldo lagi.
Tiba-tiba seseorang keluar dari dalam rumah Aldo berpapasan dengan keduanya.
" Paman mau kemana?" tanya Aldo.
" Mau ke balai desa, pinjem motor mu ya Do. " jawab Agam tanpa menoleh lelaki itu memanasi motor Aldo yang ada dihalaman depan.
" Lo ikut sama paman gue aja, kan jalan nya searah." ucap Aldo mendapatkan ide cemerlang.
" GAk mau ahh, nanti ganggu paman lo." sungut Delina padahal dalam hati kesenangan.
" Ck, alesan aja lo kan."ucap Aldo berdecak remeh.
" Emang nya paman lo mau? "tanya Delina.
" Bentar gue tanya dulu."
" Paman, bisa antar Delina gak sampai ke kebun? kebetulan kebun nya searah juga sama ke balai desa." tanya Aldo.
Agam menghentikan aktivitasnya menatap lamat bergantian antara Delina dan juga Aldo.
" Ke kebun Pak Roslan?" tanya Agam lagi.
" Iya, kesana Om. bisa minta tolong gak? aku takut kalau sendirian kesana."
" SAma aldo aja." uccap Agam lagi.
" Gue juga takut Paman, bisa kan minta tolong? soalnya gue masuk malam 15 menit lagi." ucap Aldo beralasan padahal ia libur kerja hariini.
" Yaudah, saya antar." ucap Agam pasrah tidak enak juga Agam menolak pasalnya Bapak Roslan selalau mmbantunya.
" Asikk..." batin Delina kesenangan.
" Makasih Om, gue pergi dulu Do. " ucap Delina.
" Gue bantu biar lo makin deket sama paman gue." bisik Aldo lagi menaik turunkan alisnya.
" Sipp, nanti gue traktir kalau gue jadian sama dia hihihi..." bisik Delina juga.
" Aman aja, jam rolex satu ya."
" Gila-gila aja lo." sungut Delina.
" Ayo, saya antar. " desak AGam yang sudah menunggunya di motor.
Delina bergegas mendekat dan naik dibelakang tanpa memegang seinci tubuh pria itu, tanpa diduga Agam seakan tidak ingin berdekatan dengan nya maju kedepan sedikit memberi jarak yang sangat lumayan.
Delina berdecak dalam hati merasa tersinggung. " Kayak kuman aja gue, liat aja lo bakalan bertekuk lutut sama gue Tadz." tekad Delina dalam hati.