"Bismillah… percaya sama Mas.”
Kalimat itu membawa Aira pada pernikahan yang tak pernah ia bayangkan. Hamil enam bulan membuatnya harus menikah dengan Dika, pria yang ia cintai selama tiga tahun. Namun bagi Aira, pernikahan itu terasa seperti tanggung jawab, bukan cinta.
Belum sempat bahagia, Aira harus menghadapi penolakan keluarga Dika, ibu mertua yang syok hingga pingsan, dan rahasia besar yang belum diketahui ayahnya.
Di tengah tekanan keluarga dan hadirnya masa lalu Dika, Aira mulai bertanya… apakah ia benar-benar dicintai, atau hanya diperjuangkan demi anak dalam kandungannya?
Satu rahasia, sejuta luka. Dan menjadi istri Dika mungkin adalah luka terbesar bagi Aira.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon biru🩵, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Angin sore berembus pelan, membawa aroma daun kering yang berjatuhan dan debu jalanan yang terasa menyesakkan. Aku duduk di kursi kayu di teras depan rumah, memeluk lututku sendiri sembari menatap jalanan yang mulai sepi. Suasana kampung terasa berbeda hari ini; atau mungkin hanya perasaanku saja yang merasa setiap pasang mata di balik jendela rumah tetangga sedang mengintaiku dengan penuh rasa ingin tahu.
Di dalam rumah, aku bisa mendengar suara gumaman lirih. Ibu masih bersama Mbah Neni. Kehadiran Mbah Neni setidaknya membuat Ibu tidak lagi mengurung diri di kamar, meski aku tahu hati Ibu masih tertutup rapat untukku.
Deru suara motor tiba-tiba memecah lamunanku. Aku mendongak dan melihat dua motor memasuki halaman rumah. Itu Mas Dika, ia datang bersama salah seorang temannya. Mas Dika turun dari motor dengan wajah yang terlihat sangat lelah—matanya merah, sepertinya ia pun tidak tidur semalaman. Temannya membantu menuntun motorku yang kemarin kutinggalkan di kosan.
"Ini motor kamu, Ra," ucap Mas Dika pelan saat ia berdiri di depanku. Ia menyerahkan kunci motor itu dengan tangan yang sedikit gemetar.
Aku hanya mengangguk pelan, tak sanggup berkata-kata. Mas Dika kemudian mengambil beberapa kantong plastik besar yang tergantung di motor temannya. Ia meletakkannya di atas meja teras dengan hati-hati.
"Ini ada susu buat kamu, ada buah-buahan dan makanan juga. Kamu harus makan, Ra. Jangan sampai lemas, " bisiknya sembari menatapku penuh permohonan.
Aku menatap bingkisan itu dengan perasaan campur aduk. Ada rasa haru karena di tengah kekacauan ini ia masih memikirkan asupanku, namun ada juga rasa pahit yang menyergap. Susu hamil itu... seolah menjadi pengingat nyata bahwa hidupku takkan pernah sama lagi.
"Makasih, Mas," jawabku singkat. Suaraku hampir hilang tertiup angin sore.
Mas Dika duduk sebentar di ujung kursi, sementara temannya menunggu di motor dengan canggung. "Tadi Mas sudah ke kantor desa, mulai urus surat-surat. Bapak juga sudah bicara sama Pak RT di rumah Mas. Kita akan selesaikan ini secepatnya, Ra. Kamu jangan banyak pikiran ya, kasihan debay-nya."
Aku hanya bisa menunduk, meremas ujung dasterku. "Bapak pulang besok sore, Mas. Mbah Neni sudah telepon. Tapi Bapak belum tahu yang sebenarnya. Beliau cuma tahu aku mau nikah."
Mas Dika terdiam, napasnya terdengar berat. Ia tahu apa artinya itu. Kejujuran yang tertunda biasanya akan meledak dengan lebih hebat. Ia meraih tanganku sebentar, meremasnya seolah ingin menyalurkan kekuatan yang ia sendiri pun hampir kehabisan.
"Besok sore Mas akan ke sini. Mas yang akan bicara sama Bapak kamu. Mas nggak akan biarkan kamu hadapi Bapak sendirian," janjinya dengan nada yang sangat serius.
Besok aku harus berangkat kerja, Mas. Mungkin aku bisa coba tukar shift sama Reni biar bisa pulang lebih awal sebelum Bapak sampai," ucapku pelan, berusaha mengalihkan pembicaraan dari rasa takutku sendiri. Bagiku, bekerja adalah satu-satunya pelarian agar aku tidak terus-menerus tenggelam dalam pikiran yang menyiksa ini.
Mas Dika menatapku dengan sorot mata keberatan. Ia memegang bahuku perlahan. "Nggak usah kerja dulu nggak apa-apa kan, Ra? Mas khawatir kalau kamu di sana malah kepikiran terus. Mas mau kamu istirahat di rumah, siapkan mental buat besok sore," jawabnya dengan nada protektif yang begitu kentara.
Aku hanya bisa terdiam. Bagaimana aku bisa menjelaskan bahwa di toko, setidaknya aku bisa berpura-pura menjadi Aira yang biasa, bukan Aira yang sedang menjadi aib keluarga? Namun, sebelum aku sempat mendebatnya, suara pintu rumah yang terbuka menghentikan obrolan kami.
"Eh, ada Mas Dika... kok nggak kamu suruh masuk ke dalam, Ra?" ucap Mbah Neni sembari melangkah keluar ke teras. Beliau menatap Mas Dika dengan pandangan yang teduh, meski sisa ketegangan dari kejadian semalam masih terasa di udara.
Mas Dika segera berdiri dan menyalami tangan Mbah Neni dengan sopan. "Enggak usah, Mbah. Dika cuma sebentar mau antar motor Aira dan bawakan sedikit titipan makanan."
Mbah Neni melirik bungkusan plastik di atas meja, lalu kembali menatap kami berdua. "Ya sudah kalau begitu. Masuk dulu saja, minum air putih sebentar. Nggak enak dilihat tetangga kalau cuma bicara di luar begini, nanti malah jadi omongan lagi."
Mbah Neni memang selalu memikirkan pandangan orang lain, sebuah naluri perlindungan yang mungkin tidak kumiliki saat ini. Mas Dika menoleh ke arah temannya yang masih menunggu di motor, lalu mengangguk setuju. Kami pun masuk ke dalam rumah yang terasa begitu sunyi.
Di ruang tengah, aku melihat Ibu sedang duduk bersandar di kursi kayu, matanya masih sembap namun ia tampak lebih tenang berkat kehadiran Mbah Neni. Begitu melihat Mas Dika masuk, Ibu memalingkan wajahnya ke arah jendela, enggan memberikan sapaan. Suasana mendadak menjadi kaku dan dingin kembali.
"Duduk, Dik," Mbah Neni mempersilakan sembari berjalan menuju dapur untuk mengambil air.
Mas Dika duduk dengan posisi sangat tegak dan kaku, ia tampak begitu serba salah di hadapan Ibu. "Bu... Dika mau minta izin, besok sore Dika akan ke sini saat Bapak pulang. Dika yang akan bicara langsung sama Bapak," ucapnya memecah keheningan yang menyesakkan itu.
Ibu masih tetap diam, namun aku melihat bahunya sedikit bergetar. Tanggung jawab Dika memang sudah bulat, tapi bagi Ibu, kehancuran yang ia rasakan tidak bisa langsung sembuh hanya dengan kata-kata janji. Sore itu, di ruang tamu yang penuh kenangan masa kecilku, aku menyadari bahwa esok bukan hanya sekadar pertemuan, tapi adalah penentuan apakah rumah ini masih akan menjadi tempatku pulang atau justru menjadi tempat terakhirku sebelum diusir pergi.