Teratai Di Atas Abu
Setelah Klan Teratai Suci dihancurkan oleh Menara Darah Hitam, Lian Hua menjadi satu-satunya yang selamat dari malam penuh darah itu. Dengan meridian rusak dan bakat yang dianggap rendah, ia tumbuh di tengah hinaan dunia persilatan.
Namun di balik liontin teratai peninggalan klannya, tersembunyi kekuatan kuno yang mampu mengguncang dunia kultivasi.
Di antara dendam, pengkhianatan, dan perang antar sekte, Lian Hua menapaki jalan kultivasi demi mengungkap kebenaran kehancuran klannya—dan membalas semua darah yang telah tertumpah.
Karena bahkan di atas abu kehancuran… teratai tetap bisa mekar kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 20
Teratai Di Atas Abu
Bab 20 — Setetes Darah Hitam
Saat bayangan besar Serigala Bulan Merah menutupi seluruh pandangan, saat tekanan mematikan itu menekan hingga tulang-tulang terasa mau patah, Lian Hua tak lagi berpikir untuk bertahan atau menang. Ia hanya fokus pada satu hal: menahan serangan ini, memberi waktu bagi Gu Qing Cheng untuk selamat. Ia mengerahkan seluruh tenaga dalam yang tersisa, pola teratai di dadanya bersinar terang hingga menembus jubahnya, cahaya hijau itu bertemu dengan hawa merah gelap yang memancar dari tubuh makhluk raksasa itu.
Namun di detik terakhir, tepat saat cakar tajam itu hampir menyentuh bahunya, Lian Hua menangkap sesuatu yang aneh. Di balik aura liar dan darah panas binatang itu, ada aliran energi lain — dingin, kering, dan sangat jahat. Energi itu berwarna hitam pekat, berputar kacau di dalam pembuluh darah serigala itu, menggerakkan tubuhnya, dan membuat kekuatannya meningkat berkali-kali lipat dari ukuran aslinya.
Jantung Lian Hua berdebar kencang, rasa kaget dan marah bercampur jadi satu. Energi ini... ia sangat mengenalnya. Ia pernah melihatnya jelas di malam pembantaian klannya. Ia pernah merasakannya saat para penyerang membakar rumahnya, membunuh kerabatnya, dan menghancurkan segala yang ia miliki. Energi hitam ini adalah ciri khas, tanda tak terhapuskan dari Menara Darah Hitam — organisasi jahat yang telah memusnahkan Klan Teratai Suci ribuan tahun silam, musuh bebuyutan satu-satunya yang disumpah akan dibasminya sampai ke akar-akarnya.
"Mengapa... mengapa energi mereka ada di sini? Dan ada di dalam tubuh binatang buas ini?!" batin Lian Hua berteriak kencang.
Serigala itu mengaum keras, matanya merah menyala bukan lagi karena naluri buas, tapi karena pengaruh kekuatan gelap itu. Di bawah kendali energi hitam itu, makhluk itu bergerak semakin liar, serangannya semakin kejam dan tak masuk akal. Ia seolah bukan lagi binatang biasa, melainkan boneka yang dikendalikan oleh kekuatan jahat dari jauh.
Lian Hua memutuskan mengubah cara bertarungnya. Ia tak lagi menerima serangan itu secara langsung. Dengan Langkah Bayangan Teratai, tubuhnya bergerak miring secepat kilat, menyisakan bayangan samar di tempat semula. Cakar besar itu menghantam tanah dengan dahsyat, memecahkan bebatuan dan membuat tanah bergetar hebat. Tanpa memberi waktu makhluk itu membalikkan badan, Lian Hua melesat naik ke punggungnya, kedua tangannya mencengkeram bulu tebalnya, dan ia menancapkan jari-jarinya masuk ke bawah kulit kasar itu, mencari sumber energi hitam yang berputar di sana.
Serigala itu mengamuk hebat, berguling-guling, menghentakkan badan, berusaha melempar penunggang kecil itu. Namun Lian Hua menempel erat bagai akar pohon, tak tergoyahkan sedikit pun. Di dalam benaknya, ia menjalankan Seni Teratai Langit, memancarkan tenaga murni berwarna putih dan hitam, berusaha menembus masuk dan melumpuhkan aliran asing itu.
"Aku tahu kau ada di sini..." bisik Lian Hua dengan suara dingin, penuh kebencian yang terpendam lama. "Apa tujuan kalian? Mengapa kalian mengganggu tempat ini? Mengapa kalian ada di mana-mana?"
Ia menemukan titik pusat energi itu, tepat di belakang tengkuk serigala itu, tersembunyi di bawah tulang tebal. Di sana, berdenyut kencang gumpalan energi hitam pekat, seolah jantung kedua yang berdetak sendiri, terpisah dari detak jantung makhluk itu. Dengan satu gerakan tegas, Lian Hua mengerahkan seluruh kekuatan tangannya, merobek daging dan kulit, dan meremas gumpalan itu sekuat tenaga.
Sret!
Terdengar suara robekan halus. Seiring itu, setetes darah hitam pekat, berbau amis dan busuk, menyembur keluar dari luka itu. Darah itu bukan darah binatang, melainkan intisari energi jahat yang telah menyatu dengannya. Saat setetes itu jatuh ke tanah, rumput dan bunga di sekelilingnya langsung layu, menghitam, dan mati seketika.
Segera setelah gumpalan itu hancur, tubuh raksasa serigala itu seketika menjadi lemas. Cahaya merah di matanya perlahan meredup, gerakannya kacau dan lemah, dan raungan kerasnya berubah menjadi erangan sedih dan sakit. Makhluk itu jatuh berlutut, lalu perlahan terguling ke samping, napasnya tersengal-sengal, namun kini pandangannya kembali jernih dan damai, bebas dari kendali jahat yang telah menyiksanya entah berapa lama.
Lian Hua melompat turun, berdiri diam di samping tubuh makhluk itu yang kini perlahan mati. Ia menatap setetes darah hitam yang masih menempel di ujung jarinya, wajahnya pucat namun matanya menyala dengan api kebencian yang makin besar dan panas.
Ia mengerti sekarang. Binatang ini tidak menjadi ganas dan mengamuk karena kehendak sendiri. Ia hanyalah korban, sama seperti klannya dulu, sama seperti dirinya. Menara Darah Hitam telah mengerahkan kekuatan mereka ke sini, menanamkan energi jahat ke dalam makhluk-makhluk di hutan ini, menjadikan mereka senjata, pengintai, atau perusak.
"Ini bukan kebetulan..." gumam Lian Hua pelan, suaranya berat dan serius. "Mereka ada di sini. Mereka sudah sampai ke wilayah ini. Musuhku... musuh klanku yang telah hilang ratusan tahun... ternyata belum musnah. Mereka masih ada, mereka masih bergerak, dan mereka mulai menyebar pengaruhnya lagi."
Ia mengingat kembali kejadian demi kejadian: pembantaian klannya, hilangnya jejak mereka selama bertahun-tahun, dan sekarang kemunculan energi ini di hutan yang berada persis di bawah naungan Sekte Gunung Awan Putih. Semuanya membentuk satu kesimpulan mengerikan namun pasti.
Menara Darah Hitam tidak musnah. Mereka sedang menyusun rencana besar. Mereka bergerak diam-diam, menanam kekuatan gelap di mana-mana, bersiap untuk bangkit kembali dan mengulangi kekejaman masa lalu. Dan Sekte Gunung Awan Putih, serta seluruh wilayah di sekitarnya, hanyalah awal dari rencana besar mereka.
Di belakangnya, Gu Qing Cheng yang sudah bangkit berdiri dengan susah payah, berjalan mendekat perlahan. Ia melihat wajah Lian Hua yang berubah drastis — bukan lagi wajah pemuda yang diam dan tenang, melainkan wajah seseorang yang memikul beban berat ribuan tahun, seseorang yang menyimpan rahasia kelam dan dendam tak berkesudahan.
"Lian Hua... apa yang terjadi?" tanyanya lembut, khawatir melihat perubahan itu.
Lian Hua mengusap darah hitam itu ke tanah, menutupnya dengan debu agar tak merusak alam sekitar. Ia menoleh ke arah gadis itu, matanya dalam dan tajam.
"Musuhku ada di sini, Qing Cheng. Dan mereka bukan hanya musuhku saja... tapi musuh semua orang yang menginginkan kedamaian. Bahaya besar sedang datang, dan Sekte kita... mungkin sedang berjalan tanpa sadar masuk ke dalam jebakan maut."
Ia menatap jauh ke dalam hutan yang masih diselimuti kabut, ke arah tempat di mana ia tahu, jejak Menara Darah Hitam masih tertinggal, dan masih banyak lagi rahasia serta bahaya yang menunggu.
"Mereka sudah mulai bergerak lagi... dan aku harus bergerak lebih cepat dari mereka. Aku harus tumbuh lebih kuat, jauh lebih kuat dari sekarang, sebelum mereka menyebarkan kegelapan ini ke seluruh dunia."
Hati Lian Hua kini semakin mantap. Perjalanannya tidak hanya untuk membalas dendam masa lalu. Sekarang, perjalanannya juga menjadi perjuangan mencegah kehancuran baru. Di pundak pemuda itu, kini bertumpuk dua tangga berat: memulihkan nama klan, dan membasmi akar kejahatan yang mulai tumbuh kembali.
Dan di dalam kebisuan hutan itu, tekadnya mengeras bagai baja. Ia tahu, perang besar sedang menunggunya di depan. Dan kali ini, ia takkan membiarkan sejarah terulang.