Di Desa Karangdowo, malam Jumat Kliwon bukan sekadar pergantian waktu, melainkan sebuah gerbang yang terbuka lebar antara dunia manusia dan alam gaib. Raga, seorang pemuda yang tumbuh dengan logika kota, kembali ke desa dan mencoba mengabaikan mitos leluhur yang selama ini dianggapnya hanya dongeng belaka. Namun, segalanya berubah saat ia merasakan sendiri betapa tipisnya dinding pemisah kedua dunia tersebut.
Malam itu, suara-suara memanggil dengan wajah dan suara orang yang dicintai, jejak kaki misterius, dan irama gamelan yang datang dari ketiadaan mulai mengganggu ketenangannya. Bersama kakeknya, Mbah Joyo, Raga harus menguak misteri kutukan lama dan perjanjian darah yang dibuat oleh nenek moyang mereka. Akankah logika mampu menyelamatkannya, atau ia harus tunduk pada kekuatan mistis yang jauh lebih tua dari peradaban manusia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maullll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: PERTAPA DI GOA PENGGUNG
Kegelapan di dalam gua itu begitu pekat, seolah-olah malam abadi yang tak pernah ingin disentuh oleh cahaya matahari. Raga berjalan tertatih-tatih di belakang Mbah Joyo, tangannya meraba dinding batu yang dingin dan basah. Setiap langkah mereka menimbulkan gema yang aneh, tok... tok... tok... yang seakan dipantulkan berkali-kali oleh dinding-dinding batu, seolah ada puluhan orang yang ikut berjalan bersama mereka.
"Kek... gelap sekali. Bagaimana kita bisa melihat jalannya?" bisik Raga. Suaranya terdengar kecil dan tertelan oleh ruang gua yang luas.
"Jangan gunakan mata kepala, Rag. Gunakan mata hati," jawab Mbah Joyo pelan namun suaranya terdengar jelas. "Di sini, apa yang kau pikirkan itulah yang akan kau lihat. Jika kau pikir ini neraka, maka kau akan melihat neraka. Jika kau tenang, jalan akan terbuka dengan sendirinya."
Raga mencoba menenangkan napasnya. Ia mencoba memejamkan mata sejenak, melantunkan doa dalam hati. Perlahan tapi pasti, matanya mulai terbiasa. Ia mulai bisa melihat bentuk-bentuk samar di sekelilingnya. Dinding gua itu tidak kasar, melainkan halus mengkilap seperti dipoles oleh tangan-tangan ahli, dengan ornamen-ornamen ukiran yang sangat indah namun samar.
Mereka berjalan menyusuri lorong sempit yang menanjak naik. Semakin dalam, udara terasa semakin sejuk dan menenangkan, berbeda dengan hawa mencekam yang dirasakan mereka rasakan di luar tadi. Aroma dupa tua dan bunga melati wangi mulai tercium samar-samar, membuat pikiran terasa lebih jernih.
Tiba-tiba, lorong itu berakhir di sebuah ruangan besar yang berbentuk seperti kubah raksasa. Di tengah ruangan itu, terdapat sebuah panggung batu alami yang dikelilingi oleh cahaya keemasan yang lembut. Cahaya itu tidak menyilaukan, melainkan hangat dan menenangkan.
Dan di sana, di atas panggung batu itu, duduk bersila sosok yang dicari mereka.
Raga menahan napas. Ia mengira akan melihat seorang lelaki tua yang sangat tua, keriput, dan kurus kering seperti yang sering digambarkan dalam cerita rakyat. Namun apa yang ia lihat justru sangat berbeda.
Sosok itu tampak masih berusia sekitar lima puluhan, tubuhnya tegap dan berisi, kulitnya bersih dan bercahaya. Wajahnya tampan dengan jenggot dan kumis putih panjang yang terurai rapi di dada. Matanya terbuka, menatap lurus ke arah pintu masuk dengan tatapan yang sangat dalam, seolah mampu melihat sampai ke relung hati terdalam.
"Eyang..." Mbah Joyo segera bersujud dengan hormat, menempelkan keningnya ke lantai batu. "Hamba datang membawa masalah besar."
Raga buru-buru mengikuti apa yang dilakukan kakeknya. Ia juga bersujud, jantungnya berdegup bukan karena takut, melainkan karena rasa hormat yang sangat besar yang memancar dari sosok di hadapannya.
Tidak ada suara yang terdengar selama beberapa menit. Hanya keheningan yang damai. Hingga akhirnya, suara berat namun lembut terdengar bergema di ruangan itu.
"Bangunlah... Joyo... dan kau juga, cucu muda."
Suara itu tidak terdengar dari arah mulut sosok itu saja, melainkan seakan datang dari segala arah, dari dinding, dari lantai, dan dari langit-langit gua.
Mereka berdua bangkit dan duduk bersila dengan sopan di hadapan Eyang Sastro.
"Kau membawa beban yang sangat berat di pundakmu, Joyo," kata Eyang Sastro. Matanya yang tajam menatap Mbah Joyo, lalu beralih menatap Raga. "Dan kau... anak muda... kau membawa takdir yang rumit di lehermu."
Raga menunduk malu. "Hamba Raga, Eyang. Hamba datang memohon petunjuk dan pertolongan."
"Aku tahu segalanya sebelum kau melangkah kaki dari rumahmu, Raga," jawab Eyang Sastro santai. "Nyi Blorong... dia mulai menagih janji leluhur ya?"
Mbah Joyo mengangguk lemas. "Benar, Eyang. Dia sudah menampakkan diri. Dia mengincar cucu hamba untuk dijadikan pendamping. Hamba tidak sanggup menahannya sendirian. Kekuatan hamba sudah menipis dimakan usia."
Eyang Sastro menghela napas panjang. Ia menatap langit-langit gua yang gelap. "Perjanjian itu memang ada. Dibuat ratusan tahun lalu oleh leluhur kalian, Eyang Noto. Saat itu, desa sedang dilanda wabah mematikan dan kekeringan parah. Untuk menyelamatkan ratusan nyawa, Eyang Noto berjanji memberikan satu orang keturunannya sebagai 'jodoh' bagi penguasa alam gaib di wilayah itu, sebagai tanda persaudaraan abadi."
"Berarti... benar adanya ya, Eyang?" tanya Raga dengan suara parau. "Berarti aku ini memang milik mereka?"
Eyang Sastro menatap Raga lekat-lekat. "Secara adat dan hukum alam gaib... ya. Janji adalah janji. Darah yang berbicara, bukan kehendak pribadi. Mereka menunggu sampai kau dewasa dan siap. Dan sekarang, mereka merasa waktunya sudah tepat."
Raga merasa dunia seakan runtuh. "Lalu... apa yang harus hamba lakukan, Eyang? Apakah hamba harus menyerahkan diri agar desa aman? Apakah tidak ada cara lain?"
Air mata mulai menetes di pipi pemuda itu. Bayangan hidup selamanya di dunia kegelapan, bersama makhluk yang bukan manusia, membuatnya merasa putus asa.
Eyang Sastro tersenyum tipis. Senyum yang penuh pengertian.
"Tenanglah, anak muda. Dunia ini berputar. Waktu berubah. Hukum alam pun bisa berubah asalkan ada alasannya yang kuat."
"Maksud Eyang?" Mbah Joyo menyela penasaran.
"Janji itu dibuat atas dasar sukarela dan kasih sayang leluhur untuk menyelamatkan rakyatnya," jelas Eyang Sastro. "Tapi sekarang? Lihat apa yang dilakukan Nyi Borong? Dia tidak meminta dengan hormat, tapi dia menakut-nakuti, dia mengancam, dia melanggar batas dengan membuat kerusakan dan meneror jiwa. Itu bukan sikap saudara, itu sikap perampas."
Eyang Sastro menepuk-nepuk lantai batu di sampingnya.
"Karena dia sudah melanggar etika dan kesepakatan awal, maka perjanjian itu bisa kita gugurkan. Kita bisa minta pembatalan secara hukum adat leluhur."
Mata Mbah Joyo dan Raga berbinar. "Benarkah itu bisa dilakukan, Eyang?!"
"Bisa. Tapi caranya tidak mudah. Dan sangat berbahaya," wajah Eyang Sastro kembali menjadi serius. "Kita harus melakukan ritual 'Pemutusan Ikatan Darah' di tempat yang paling sakral, tepat di tengah malam Jumat Kliwon yang akan datang."
"Di mana tempatnya, Eyang?" tanya Raga.
"Di Punden Berdiri, pusat dari tanah perjanjian itu. Tepat di tengah hutan jati, di atas gundukan tanah tertinggi yang menjadi saksi sumpah setia ratusan tahun lalu."
Mbah Joyo mengangguk paham. "Hamba tahu tempat itu. Itu tempat paling keramat dan paling angker di seluruh desa. Tidak ada yang berani mendekat apalagi beraktivitas di sana saat malam."
"Justru di situlah kita harus hadir," kata Eyang Sastro tegas. "Kita akan mendirikan pendopo semedi, membakar dupa, dan membacakan prasasti pembatalan perjanjian. Kita akan meminta saksi dari empat penjuru angin dan para leluhur untuk mengesahkan bahwa ikatan itu batal demi hukum keadilan."
"Lalu... apa yang akan terjadi setelahnya, Eyang?" tanya Raga.
"Jika ritual berhasil dan diterima oleh alam, maka nama Raga akan terhapus dari daftar janji leluhur. Nyi Blorong tidak punya hak lagi untuk mengganggu atau memiliki Raga. Hubungan mereka putus total."
"Dan jika gagal?" tanya Mbah Joyo cemas.
Eyang Sastro terdiam sejenak, lalu berkata dengan nada berat, "Jika gagal... atau kita ketahuan dan diganggu sebelum selesai... maka Nyi Blorong berhak membawa Raga pergi selamanya, dan murka dia akan melanda seluruh desa. Tidak ada yang akan selamat."
Suasana menjadi hening. Risikonya sangat besar. Kemenangan berarti kebebasan, kekalahan berarti kematian dan kehancuran.
"Kita harus mempersiapkan segalanya dengan sempurna," Eyang Sastro berdiri. Tinggi tubuhnya ternyata sangat gagah, jauh lebih besar dari perkiraan Raga. "Aku akan ikut dengan kalian pulang. Aku tidak bisa meninggalkan gua ini selamanya, tapi untuk urusan ini, aku akan turun tangan."
Mereka bertiga pun berjalan keluar dari gua. Saat keluar, matahari sudah mulai condong ke barat. Sore telah tiba.
"Sebelum kita berangkat, ada satu hal yang harus kau ketahui, Raga," kata Eyang Sastro saat mereka beristirahat sejenak di bawah pohon beringin besar.
"Apa itu, Eyang?"
"Nyi Blorong bukan hanya sekadar makhluk halus biasa. Dia memiliki kekuatan yang sangat besar karena dia adalah titisan dari energi tanah itu sendiri. Dan satu lagi..." Eyang Sastro menatap Raga dalam-dalam. "Dia sangat menginginkanmu bukan hanya karena janji, tapi karena dia merasa... kau adalah sosok yang sangat mirip dengan seseorang yang pernah dia cintai ratusan tahun lalu, yang kini sudah tiada."
Raga terbelalak. "Jadi... aku ini cuma pelarian?"
"Bisa dibilang begitu. Tapi karena perasaan itulah, dia akan berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkanmu. Dia tidak akan mau kalah. Dia akan mengirim segala macam rintangan dan godaan terhebat saat ritual nanti."
Eyang Sastro lalu merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah benda kecil. Itu adalah sebuah manik kristal bening yang bersinar lembut di dalamnya.
"Pakai ini di jari manis tangan kananmu. Ini adalah Manik Wajik yang sudah dimantrai selama puluhan tahun. Benda ini akan membuatmu kebal terhadap ilusi dan hipnotis. Selama manik ini ada di jarimu, mereka tidak bisa mengambil bentuk orang yang kau sayangi untuk menipumu. Kau akan melihat wujud asli mereka."
Raga menerima manik itu dengan tangan gemetar. Ia memakainya di jarinya. Terasa dingin dan nyaman, mengalirkan rasa tenang ke seluruh tubuh.
"Terima kasih, Eyang."
"Sekarang, ayo kita bergerak. Waktu sangat sempit. Jumat Kliwon tinggal tiga hari lagi. Kita harus mempersiapkan segalanya sebelum gerbang malam terbuka lebar."
Mereka bertiga pun mulai melangkah turun dari gunung. Di depan berjalan Eyang Sastro dengan langkah tegap, diikuti oleh Mbah Joyo dan Raga di belakang.
Namun jauh di bawah, di kejauhan yang tertutup kabut hitam, sebuah istana gaib yang terbuat dari kabut dan tulang-belulang tampak berdiri megah dan menyeramkan. Di teras istana itu, Nyi Blorong berdiri menatap ke arah gua penggung dengan mata merah yang menyala-nyala penuh amarah.
"Kau berani mencari bantuan untuk melawanku, Raga...?" bisiknya pelan, suaranya bergema di ruang kosong. "Bagus... Semakin keras kau melawan, semakin nikmat rasanya saat aku berhasil menaklukkanmu nanti. Kita lihat siapa yang menang..."
Angin malam bertiup kencang, membawa aroma pertumpahan darah dan pertarungan besar yang tak terelakkan lagi.