Lin Xiaoxi tewas kelaparan, namun jiwanya digantikan oleh Chu Yue, Putri Tabib jenius dari masa kuno. Terbangun di tubuh gadis desa miskin, ia dibekali Ruang Dimensi berisi herbal ajaib untuk mengubah nasibnya.
Di kota, sang penguasa Mo Yan sedang sekarat karena penyakit aneh yang tak tersembuhkan. Takdir mempertemukan mereka di jalanan, di mana satu tusukan jarum Xiaoxi menyelamatkan nyawa sang CEO.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6 六
Iring-iringan mobil mewah itu akhirnya berhenti di depan sebuah bangunan yang menjulang tinggi, menantang langit metropolitan. Bagi penduduk kota, penthouse ini adalah simbol puncak kejayaan, namun bagi Xi'er, bangunan ini tampak seperti sangkar raksasa yang terbuat dari kaca transparan yang sangat rapuh. Ia menggandeng tangan A-Chen dengan sangat erat, matanya menatap waspada ke sekeliling, seolah-olah setiap sudut bangunan ini menyimpan jebakan mematikan.
Saat mereka melangkah menuju pintu masuk utama, kejutan pertama langsung menyerang indra Xi'er. Pintu kaca besar di hadapan mereka tiba-tiba bergeser terbuka dengan suara desisan halus tanpa ada satu pun orang yang menyentuhnya.
"A-Chen, mundur ke belakangku!" teriak Xi'er refleks.
Ia segera menarik adiknya ke belakang punggung, kakinya memasang kuda-kuda kokoh, dan tangannya sudah bersiap melancarkan serangan titik saraf. "Siapa yang menggerakkan pintu itu? Hei, penghuni tak kasat mata! Keluar dan tunjukkan dirimu! Jangan bersembunyi di balik dinding kaca!"
Zuo Fan yang berjalan tepat di belakang mereka hampir saja menabrak punggung Xi'er. Ia tertegun melihat gadis itu bersiap berkelahi dengan sebuah pintu otomatis. "Nona Lin, tenanglah... itu bukan hantu. Itu namanya sensor otomatis. Pintu itu terbuka sendiri karena dia tahu kita sedang berdiri di depannya."
Xi'er tidak langsung percaya. Ia memicingkan matanya, menatap bingkai pintu itu dengan curiga. "Sensor? Alat macam apa itu? Di kerajaanku... maksudku, di desaku, jika pintu terbuka sendiri, itu artinya ada jin atau setan penghuni yang sedang lapar. Kau jangan mencoba membodohiku dengan kata-kata asing Tuan Zuo."
Zuo Fan hanya bisa mengusap wajahnya, menyadari bahwa perjalanan ini akan sangat menguras kewarasannya. Ia kemudian membimbing mereka masuk ke dalam lift. Saat kotak besi itu mulai bergerak naik dengan kecepatan tinggi, Xi'er kembali panik. Ia merasa jantungnya seolah tertinggal di lantai bawah.
"Kotak ini bergerak! Kita sedang diculik ke langit!" seru Xi'er sambil mencengkeram besi pegangan di dalam lift hingga jari-jarinya memutih. A-Chen yang ketakutan pun ikut memeluk kaki kakaknya.
Begitu pintu lift terbuka di lantai penthouse, Xi'er keluar dengan langkah terhuyung, wajahnya sedikit pucat. Namun, harga dirinya sebagai sosok yang dituakan membuatnya segera menegakkan punggung. Ia menatap ruangan luas yang didominasi marmer putih dan perabotan minimalis.
"Tuan Mo, rumahmu ini terlalu luas dan kosong. Apa kau tidak punya uang untuk membeli sekat dinding?" kritik Xi'er sambil menatap ruang tamu tanpa sekat itu.
Zuo Fan mengabaikan komentar itu dan membawa mereka menuju dapur. "Ini dapurnya, Nona Lin. Silakan digunakan. Semua bahan makanan akan segera diantar oleh pelayan."
Begitu Zuo Fan pergi, Xi'er mulai melakukan inspeksi. Ia membuka sebuah kotak raksasa yang dingin dan mengeluarkan uap (kulkas). "Benda apa ini? Kenapa kau menyimpan musim dingin di dalam kotak besi?" Ia segera menutupnya kembali karena kedinginan.
Namun, masalah sebenarnya muncul saat perut A-Chen mulai berbunyi. "Jie-jie, A-Chen haus dan lapar..."
Xi'er mengangguk mantap. "Tunggu sebentar, Kakak akan memasakkan bubur herbal yang paling enak untukmu."
Ia berkeliling dapur, mencari sesuatu yang sangat krusial, kayu bakar. Ia membuka lemari bawah, lemari atas, hingga gudang kecil di samping dapur, namun hasilnya nihil. Tidak ada satu pun batang kayu, tidak ada ranting kering, bahkan tidak ada satu pun batu tungku.
"Apa orang kota memakan makanan mentah seperti harimau hutan?" gumam Xi'er frustrasi. "Bagaimana bisa dapur semewah ini tidak punya kayu bakar? Bahkan tidak ada setetes pun minyak tanah!"
Pandangannya tertuju pada meja marmer hitam yang di atasnya terdapat kaca hitam mengkilap. Ada beberapa tombol di sana. Ia mencoba memutar salah satu tombol, namun tidak ada api yang keluar. Ia mencoba memukulnya pelan, tetap diam.
"Meja kaca ini pasti hanya hiasan tak berguna." umpat Xi'er. Sifat pembangkangnya mulai keluar. Jika rumah ini tidak punya kayu, maka ia akan menemukannya di luar.
Xi'er melangkah ke arah balkon luas yang dipenuhi taman gantung yang sangat indah. Di sana terdapat berbagai tanaman hias mahal, ada pohon bonsai yang bentuknya sangat artistik dan beberapa pohon kamboja hias yang bunganya harum. Tanpa rasa bersalah, Xi'er mematahkan dahan-dahan pohon bonsai tersebut.
"Maaf ya pohon kecil, nyawa adikku lebih penting daripada kecantikanmu." ucapnya sambil terus mematahkan dahan. Ia juga mengambil batu-batu hiasan berwarna putih yang tertata rapi di taman itu untuk dijadikan tungku.
Beberapa menit kemudian, dapur mewah Mo Yan yang biasanya bersih berkilau kini berubah menjadi pemandangan yang kacau. Di atas lantai marmer putih yang harga permeter perseginya bisa untuk makan satu desa setahun, Xi'er telah menyusun sebuah tungku batu. Ia menumpuk dahan-dahan bonsai mahal di tengahnya dan mulai mencoba menyalakan api menggunakan pemantik yang ia temukan.
Karena kayu bonsai itu masih agak basah, asap hitam mulai mengepul memenuhi ruangan. Xi'er tidak menyerah. Ia berjongkok, meniup-niup tumpukan kayu itu dengan pipi kembung, hingga noda jelaga hitam menempel di hidung dan pipinya yang halus.
"Ayo menyala! Kenapa kayu di kota ini sangat susah diajak kerjasama?!" serunya kesal.
Tepat saat asap mulai memicu alarm kebakaran (yang untungnya segera dimatikan oleh sistem internal karena dianggap gangguan kecil), Mo Yan muncul dengan kursi rodanya, didorong oleh Zuo Fan. Mereka berdua seketika mematung di ambang pintu dapur.
Mo Yan menatap lantai marmernya yang kini menghitam karena api unggun kecil di tengah ruangan. Matanya lalu beralih ke taman balkon, di mana pohon bonsai kesayangannya kini tampak botak dan menyedihkan. Terakhir, ia menatap Xi'er yang sedang belepotan arang sambil memegang dahan pohon.
"Lin... Xiaoxi..." suara Mo Yan terdengar berat, seolah ia sedang menahan ledakan emosi. "Apa yang... kau lakukan pada lantai dan pohonku?"
Xi'er menoleh, ia berdiri dengan wajah menantang meskipun hidungnya hitam karena jelaga. Ia menunjuk meja kompor induksi dengan ketus. "Tuan Mo! Kau ini CEO atau apa? Kenapa kau begitu pelit sampai tidak punya kayu bakar di dapurmu? Kau lihat meja hitam itu? Dia sama sekali tidak bisa mengeluarkan api! Aku terpaksa mengambil kayu dari tamanmu agar A-Chen tidak mati kelaparan!"
Zuo Fan menepuk dahinya begitu keras hingga menimbulkan suara plak. "Nona Lin... itu namanya kompor induksi! Itu tidak pakai api kayu! Itu pakai listrik!"
Zuo Fan mendekat, ia menyingkirkan tungku batu buatan Xi'er dengan hati-hati, lalu menaruh sebuah panci di atas kompor kaca hitam itu. Dengan satu sentuhan ringan, air di dalam panci mulai mendidih tanpa ada api yang terlihat.
Xi'er melongo. Ia mendekat, menatap panci itu dengan mata tidak percaya. "Sihir macam apa ini? Air mendidih tanpa api? Apa kau menyembunyikan naga kecil di bawah meja ini untuk memanaskannya?"
Mo Yan menatap tungku batu di lantainya, lalu menatap wajah Xi'er yang kotor namun tetap terlihat cantik dengan cara yang aneh. Rasa kesal karena pohon bonsainya hancur mendadak menguap digantikan oleh rasa geli yang ia tahan sekuat tenaga.
"Zuo Fan," panggil Mo Yan datar.
"Ya, Tuan?"
"Segera bersihkan kekacauan ini. Dan... cari toko yang menjual tungku tanah liat dan kayu bakar. Masukkan ke dapur ini." perintah Mo Yan.
Zuo Fan terbelalak. "Tapi Tuan, ini penthouse modern, tungku kayu akan membuat sensor asap berbunyi terus!"
"Maka matikan sensornya atau pasang cerobong asap tambahan." potong Mo Yan dingin. "Aku tidak ingin dia membakar seluruh gedung ini hanya karena dia tidak mengerti cara kerja listrik."
Xi'er mendengus, ia menyilangkan tangan di dada sambil mencoba mengembalikan wibawanya. "Ternyata orang kota lebih suka menggunakan kekuatan ghaib yang disebut listrik daripada usaha nyata. Baiklah, aku akan memaafkan ketidaktahuanmu kali ini Tuan Mo. Tapi lain kali, ajari aku cara menggunakan sihir meja hitam ini sebelum aku menebang semua pohon di rumahmu!"
Mo Yan menatap punggung Xi'er yang kembali sibuk mengurus adiknya. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, suasana sunyi di mansionnya terasa hidup karena keberadaan gadis desa yang luar biasa polos namun penuh harga diri ini.
Makasih double up nya othor tayaaaangg/Kiss/