Saat keluarganya menjualnya demi uang, Lin Qingyan diselamatkan oleh pria misterius bernama Gu Beichen dan dipaksa menikah dengannya.
Ia mengira itu hanya pernikahan palsu.
Sampai ia tahu suaminya adalah pria paling berbahaya di dunia.
Ketika putri mereka lahir membawa darah kuno yang diincar seluruh dunia, perang besar pun dimulai.
Dan siapa pun yang berani menyentuh keluarganya... akan lenyap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wanita Ini Sudah Menjadi Milikku
📖 BAB 13: Wanita Ini Sudah Menjadi Milikku
Aula megah keluarga Qin membeku dalam satu detik.
Musik klasik masih dimainkan, tetapi tak ada yang benar-benar mendengarnya. Para tamu elite menahan napas. Kamera media bergetar di tangan pemiliknya. Bahkan pelayan yang sedang menuang anggur berhenti di tengah gerakan.
Semua mata tertuju pada Gu Beichen.
Tangannya masih melingkar di pinggang Qingyan.
Tatapannya tetap tenang.
Seolah ia tidak baru saja melempar granat sosial ke tengah ruangan.
Lin Qingyan—atau Qin Yue, nama yang terus dipaksakan kepadanya—menoleh perlahan.
“Apa maksudmu milikmu?”
Beichen menjawab tanpa melihatnya.
“Kalimat darurat.”
“Itu kalimat pembunuhan.”
“Efektif.”
Ia ingin menginjak kakinya.
Sayangnya gaun malam terlalu sempit untuk gerakan tempur.
---
Madam Qin tetap tersenyum.
Namun sudut bibirnya menegang sepersekian detik.
“Menarik,” katanya halus. “Saya tak tahu Tuan Gu dan keponakan saya memiliki hubungan sedekat itu.”
“Sekarang tahu.”
Nada Beichen datar.
Armand menyesap anggur sambil menatap Qingyan.
“Sepupu, apakah ini kejutan bagimu juga?”
“Sebagian besar hidupku kejutan akhir-akhir ini.”
Beberapa tamu tertawa kecil, lalu pura-pura batuk.
Qin Serin berdiri di tangga sambil memiringkan kepala.
“Aku mulai menyukai pesta ini.”
Madam Qin menatap Beichen.
“Wanita ini adalah darah keluarga Qin.”
Beichen menjawab tenang.
“Dan saat ini berdiri di sampingku secara sukarela.”
Semua mata beralih ke Qingyan.
Ia sadar sedang dijadikan pusat perang dua keluarga.
Kalau ia diam, orang lain akan bicara atas namanya.
Kalau ia salah bicara, hidupnya makin kacau.
Jadi ia tersenyum.
Lalu berkata,
“Aku berdiri di sini karena sepatu ini mahal dan aku tak mau jatuh.”
Han, di sudut ruangan, menunduk cepat agar tawa tidak keluar.
---
Madam Qin mengangkat gelas lagi.
“Baiklah. Kalau begitu kita dengar langsung dari Qin Yue.”
Qingyan membeku sedikit saat nama itu disebut.
Wanita itu melanjutkan,
“Apakah kau menerima keluarga ini... atau memilih menjadi boneka keluarga lain?”
Beberapa tamu langsung berpaling pura-pura melihat dekorasi.
Serangan halus.
Qingyan mengerti sekarang kenapa orang kaya menakutkan.
Mereka menusuk sambil tersenyum.
Ia melepaskan tangan Beichen dari pinggangnya perlahan, lalu maju satu langkah.
“Aku tak ingat keluarga ini.”
Sunyi.
“Aku juga tak merasa berutang pada siapa pun di ruangan ini.”
Tatapan Madam Qin menjadi lebih dingin.
Qingyan melanjutkan,
“Tapi aku tahu satu hal.”
Ia menatap seluruh aula.
“Orang yang benar-benar mencari keluarganya... biasanya tidak mengumumkannya lewat konferensi pers.”
Ruangan hening total.
Satu tamu menjatuhkan garpu.
---
Qin Serin tertawa paling keras.
“Dia memang yang asli.”
Madam Qin menoleh sekilas padanya.
“Serin.”
Wanita muda itu mengangkat bahu.
“Maaf. Aku hanya menikmati kejujuran.”
Armand maju dengan senyum elegan.
“Sepupu, mungkin kita bisa bicara tanpa penonton.”
“Aku belum menyetujui kata sepupu.”
“Secara hukum darah cukup jelas.”
“Secara emosional tidak.”
Armand tertawa kecil.
“Bagus. Aku benci orang penurut.”
Beichen menatap pria itu.
“Aku benci orang hidup.”
Han berdehem pelan.
“Tuan, publik.”
“Benar.”
Beichen menyesap air mineral seperti baru saja tak mengancam siapa pun.
---
Madam Qin memberi isyarat.
Musik kembali dimainkan.
Para tamu mulai bergerak lagi, meski telinga mereka jelas tetap mengarah ke pusat konflik.
“Karena malam ini adalah malam keluarga,” katanya anggun, “mari kita makan malam bersama.”
Qingyan berbisik pada Beichen,
“Kalau aku pingsan, itu murni strategi.”
“Kalau kau pingsan, aku akan tetap menyuruhmu bangun.”
“Menyentuh sekali.”
---
Meja makan utama memanjang seperti jalur diplomasi berbahaya.
Madam Qin duduk di ujung kepala meja. Armand di kanan. Serin di kiri. Qingyan sengaja ditempatkan dekat tengah.
Beichen menarik kursi dan duduk tepat di sebelah Qingyan tanpa diundang.
Madam Qin menatapnya.
“Kursi itu untuk anggota keluarga.”
“Aku sedang menjaga aset berharga.”
“Aku bukan aset,” gumam Qingyan.
“Benar,” jawab Beichen pelan. “Aset biasanya lebih tenang.”
Ia menyikut lengannya di bawah meja.
---
Hidangan pertama datang.
Sup truffle.
Tak seorang pun menyentuh sendok selama beberapa detik.
Madam Qin memulai.
“Qin Yue, kau dibesarkan sederhana?”
Qingyan menatap sup.
“Kalau maksud Anda listrik sering telat dibayar, ya.”
Beberapa tamu menahan ekspresi.
“Pasti sulit.”
“Kadang.”
“Sayang sekali kau tak tumbuh di tempat seharusnya.”
Qingyan mengangkat kepala.
“Tempat seharusnya yang mana? Laboratorium?”
Sendok Madam Qin berhenti.
Armand tersenyum samar.
Serin menutup mulut, jelas menahan tawa.
---
“Siapa yang memberitahumu itu?” tanya Madam Qin.
“Internet. Tempat favorit orang kaya saat mau bohong.”
Beichen hampir tersenyum.
Madam Qin mengalihkan serangan.
“Tuan Gu tampaknya memberi pengaruh besar padamu.”
“Tidak,” kata Qingyan cepat. “Aku memang begini.”
“Itu benar,” sela Beichen.
Ia menoleh kesal.
“Tak ada yang minta validasi.”
“Aku memberi gratis.”
---
Di bawah meja, ponsel Han bergetar.
Ia membaca pesan dan wajahnya berubah.
Ia berjalan cepat mendekat lalu membungkuk ke Beichen.
“Tuan.”
“Apa.”
“Tim kita menemukan arsip lama yang dicari.”
“Di mana?”
“Sebuah brankas pribadi mendiang Tuan Gu.”
Qingyan menoleh.
Armand memperhatikan.
Madam Qin pura-pura tak mendengar, artinya ia mendengar semuanya.
Beichen bertanya singkat,
“Isinya?”
Han ragu sepersekian detik.
“Akta kelahiran.”
Udara di meja langsung berubah.
Qingyan menggenggam sendok.
“Akta siapa?”
Han menatapnya.
“Anda.”
---
Madam Qin meletakkan serbet perlahan.
“Menarik.”
Armand bersandar.
“Ayah Tuan Gu menyimpan akta kelahiran sepupu saya? Ini mulai romantis atau kriminal.”
Beichen berdiri.
“Kita selesai.”
Madam Qin mengangkat alis.
“Makan malam belum selesai.”
“Aku tidak bertanya.”
Ia meraih tangan Qingyan.
“Kita pulang.”
Qingyan tak bergerak.
“Aku mau lihat akta itu.”
“Di rumah.”
“Kalau aku pergi sekarang, mereka menang.”
Beichen menatapnya lama.
“Ini bukan permainan.”
“Justru semua orang di ruangan ini sedang bermain.”
Sunyi.
Untuk pertama kali malam itu, ia menarik tangannya dari genggaman Beichen.
“Aku tinggal sampai makan malam selesai.”
Tatapan Beichen mengeras.
“Qingyan.”
“Aku lelah selalu ditarik ke mana-mana.”
Kalimat itu mengenai lebih keras dari niatnya.
Beichen diam.
Lalu duduk kembali.
Namun udara di sekitarnya berubah dingin.
---
Hidangan kedua datang.
Tak ada yang menikmati.
Serin memecah keheningan.
“Kalau boleh jujur, aku penasaran.”
Semua menoleh.
Ia menatap Qingyan.
“Jika kau benar pewaris asli... apa kau akan mengambil semuanya dariku?”
Madam Qin menajamkan pandangan.
Armand tersenyum tertarik.
Qingyan menjawab tenang.
“Aku belum tahu apa saja yang kau ambil.”
Serin tertawa kecil.
“Jawaban bagus.”
“Jawaban ancaman,” gumam Han dari jauh.
---
Tiba-tiba layar besar aula menyala sendiri.
Musik berhenti.
Seseorang meretas sistem acara.
Wajah pria tua muncul di layar rekaman lawas.
Mendiang Gu Zhengyuan—ayah Beichen.
Ruangan gempar.
Beichen berdiri perlahan.
Rekaman itu jelas dibuat puluhan tahun lalu.
Pria tua di layar berkata:
“Jika video ini diputar, berarti aku gagal menjaga rahasia.”
Semua orang terpaku.
Ia melanjutkan:
“Anak perempuan yang lahir malam kebakaran bukan milik keluarga Qin.”
Qingyan membeku.
Madam Qin kehilangan senyum untuk pertama kalinya.
Beichen menatap layar tanpa berkedip.
Dan suara ayahnya terdengar lagi:
“Dia... adalah putri kandungku.”
Ruangan meledak dalam kekacauan.
Qingyan merasa dunia runtuh untuk kedua kalinya.
Ia menoleh perlahan ke Beichen.
Artinya hanya satu.
Suara seraknya hampir tak terdengar.
“...Kita saudara?”
BERSAMBUNG