NovelToon NovelToon
Immortal Legacy

Immortal Legacy

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Epik Petualangan / Mengubah Takdir
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Di Era Keruntuhan Surga, langit terbelah dan hujan darah mengubah dunia fana menjadi neraka. Para dewa telah kehilangan keseimbangan, melepaskan Bencana yang meruntuhkan sekte-sekte agung dan melahirkan Yao Aberasi pembawa maut.

Zeng Niu adalah seorang bocah desa dengan akar spiritual sampah. Ia tidak memiliki guru yang bijaksana, tidak ada klan besar yang melindunginya, dan takdir tidak memberinya keajaiban. Ketika hujan darah membasahi desanya dan mengubah segalanya menjadi monster buas, Zeng Niu harus menyaksikan seluruh penduduk desa, termasuk orang tuanya, dikoyak hingga tak bersisa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7: Taruhan Nyawa (Bagian 1)

Di dunia kultivasi, ada sebuah pepatah kuno yang dihafal oleh setiap praktisi: Di bawah Foundation Establishment, semuanya adalah semut. Meskipun monster di hadapan Zeng Niu saat ini belum memadatkan Inti Emas sejati, seekor Yao Aberasi Tingkat Brutal memiliki kekuatan fisik dan cadangan Qi Kacau yang setara dengan kultivator ranah Foundation Establishment awal. Bagi Zeng Niu yang baru menginjak tahap Penempatan Tubuh Tahap 2, perbedaan kekuatan ini bukanlah sekadar jurang, melainkan Parit Surgawi yang secara logika mustahil diseberangi.

Kelelawar Wajah Manusia itu merentangkan sayap dagingnya yang selebar dua tombak. Angin busuk berhembus kencang, menyapu kabut merah di sekitarnya. Di tengah dadanya, sebuah wajah manusia tua yang telah terdistorsi menatap Zeng Niu dengan seringai mengerikan, mata merahnya memancarkan kekejaman murni.

KIIIIIIIIK!

Wajah manusia itu membuka mulutnya hingga rahangnya robek, melepaskan jeritan sonik berfrekuensi tinggi.

Gelombang suara itu menghantam udara seperti palu tak kasatmata. Zeng Niu merasa seolah otaknya ditusuk ribuan jarum es. Darah segar seketika mengalir dari telinga, hidung, dan sudut bibirnya. Keseimbangannya hancur. Di kejauhan, Bao Tuo menjerit histeris sambil memeluk kepalanya yang terasa mau pecah.

Belum sempat Zeng Niu memulihkan pendengarannya, bayangan hitam melesat dari atas. Kecepatannya jauh melampaui Kadal Sisik Besi.

BUMMM!

Tempat Zeng Niu berpijak sedetik yang lalu meledak menjadi kawah selebar setengah tombak. Cakar kelelawar itu menghancurkan batu padat menjadi debu. Zeng Niu yang berguling ke samping tidak sepenuhnya lolos; hempasan angin dari kepakan sayap itu menghantam dadanya seperti banteng mengamuk.

Tubuh kurusnya terlempar menabrak batang pohon mati. Krak. Tulang bahu kirinya retak. Rasa manis darah memenuhi tenggorokannya, tapi ia menelannya kembali.

"Kulitnya sekeras zirah logam spiritual. Kecepatannya tidak bisa kuikuti dengan mata. Suaranya bisa menghancurkan organ dalamku dari jarak jauh," otak Zeng Niu berputar dengan kecepatan gila, menganalisis situasi di tengah rasa sakit yang merobek.

Di dunia ini, keberanian tanpa perhitungan adalah kebodohan. Zeng Niu tahu, seribu tebasan belatinya tidak akan membunuh makhluk ini. Ia butuh satu serangan fatal, ke titik yang paling tidak terlindungi.

Kelelawar itu memutar tubuh besarnya. Mata merahnya kini menatap Zeng Niu seperti melihat serangga yang mengganggu. Ia mengepakkan sayapnya, melayang rendah, dan kembali menukik dengan kecepatan penuh, rahangnya terbuka mengincar leher pemuda itu.

Alih-alih mundur, mata Zeng Niu memancarkan kekejaman yang bahkan membuat monster buas merasa merinding. Ia menendang batang pohon di belakangnya, melesat maju menyongsong monster itu.

Tepat ketika rahang kelelawar itu hendak mengoyaknya, Zeng Niu menjatuhkan diri ke tanah, meluncur di atas lumpur basah tepat di bawah perut sang monster. Ia mengerahkan seluruh kekuatan Penempatan Tubuhnya ke lengan kanannya dan menyabetkan belati besinya ke arah sayap kelelawar tersebut.

TRAAAK!

Bunga api memercik. Belati besi warisan ayahnya, yang bisa memotong leher babi mutan, hanya mampu meninggalkan goresan putih dangkal di membran sayap kelelawar itu sebelum akhirnya terpental balik. Guncangan keras membuat telapak tangan Zeng Niu robek, belatinya nyaris terlepas.

"Mustahil! Terlalu keras!" batin Zeng Niu.

Namun, serangannya memancing amarah makhluk itu. Kelelawar itu menghentikan lajunya, berbalik di udara, dan menyabetkan salah satu cakar sayapnya seperti pedang raksasa.

Zeng Niu tidak punya waktu untuk menghindar. Ia menyilangkan kedua lengannya di depan dada untuk menangkis.

DUAGH!

Tubuh Zeng Niu terhempas sejauh tiga tombak, menabrak bebatuan tajam. Kedua lengannya mati rasa, darah menetes deras dari robekan panjang di lengannya. Paru-parunya seakan berhenti bekerja. Ini bukan pertarungan; ini adalah pembantaian sepihak.

Di balik batu besar agak jauh dari arena pertarungan, Bao Tuo gemetar hebat melihat pemandangan itu. "Dia mau mati! Orang gila itu benar-benar akan mati! Firasatku tidak pernah salah!" isaknya, bersiap untuk merayap kabur.

Namun, gerakan Bao Tuo yang gemetar tanpa sengaja melepaskan fluktuasi Qi murni elemen tanah dari Dantiannya.

Bagi Yao Aberasi yang haus energi, darah fana Zeng Niu tidak ada apa-apanya dibandingkan Qi murni milik seorang kultivator. Wajah manusia di dada kelelawar itu seketika menoleh ke arah batu tempat si gendut bersembunyi. Liur hitam menetes dari mulutnya. Mengabaikan Zeng Niu yang terkapar, monster itu mengepakkan sayapnya dan melesat ke arah Bao Tuo.

"TIDAAAAAAK! KENAPA AKU?!" jerit Bao Tuo histeris melihat kematian melayang ke arahnya.

Insting bertahannya meledak hingga titik maksimal. Dalam kepanikan absolut, Bao Tuo merapalkan mantra dasarnya tanpa berpikir panjang. Ia menghantamkan kedua tangan gemuknya ke tanah.

“Teknik Dao Tanah: Dinding Bumi!”

Seketika, tanah di depan Bao Tuo bergemuruh. Sebuah dinding tanah liat setebal setengah meter mencuat dari bawah tanah, berdiri sebagai perisai.

BLAAARRR!

Kelelawar Wajah Manusia itu menabrak dinding tanah tersebut. Dinding itu hancur berkeping-keping dalam sekejap, tak mampu menahan kekuatan fisik Tingkat Brutal. Namun, benturan itu sukses menghentikan laju sang monster selama dua detik, membuat monster itu terhuyung dan pandangannya berkunang-kunang tertutup debu.

Di kejauhan, Zeng Niu bangkit dari genangan darahnya. Ia terbatuk, meludahkan darah hitam. Matanya menatap debu yang mengepul dari dinding tanah Bao Tuo, lalu beralih pada wajah manusia di dada monster itu yang sesaat kehilangan keseimbangan.

Itu dia. Titik lemahnya. Wajah manusia cacat itu adalah pusat mutasinya, satu-satunya bagian daging yang tidak tertutup kulit baja kelelawar, tempat letaknya Inti Energi.

Dua detik. Hanya itu waktu yang ia miliki sebelum monster itu pulih dan membantai mereka berdua.

Dengan dua rusuk patah dan lengan yang nyaris hancur, berlari normal tidak akan sempat. Zeng Niu melakukan hal yang paling gila. Ia menelan pil Pengumpulan Qi terakhir dari mayat kultivator Zhao yang ia simpan. Qi murni dalam jumlah masif langsung meledak di dalam tubuh fananya, merobek meridiannya yang rapuh.

Ia menggunakan rasa sakit dan ledakan energi penghancur diri itu untuk mendorong otot kakinya melebihi batas manusia.

BUM!

Tanah pijakannya amblas. Zeng Niu melesat seperti anak panah berdarah, menembus debu, mengabaikan segala insting untuk melindungi diri.

Kelelawar itu baru saja menyibak debu, matanya yang marah kini menatap Zeng Niu yang terbang tepat ke arahnya. Ia membuka rahang kelelawarnya yang penuh taring gergaji, siap menelan pemuda itu hidup-hidup.

Jika Zeng Niu menghindar, momentumnya akan hilang.

Zeng Niu tidak menghindar. Matanya sedingin maut.

"Makan aku," desis Zeng Niu.

CRAAAASSSHHH!

Taring-taring kelelawar itu menancap dalam ke bahu dan tulang selangka Zeng Niu. Darah segar menyembur ke udara bagai hujan merah. Tubuh kurus Zeng Niu kini berada dalam gigitan maut sang monster, satu inci dari tenggorokannya yang akan putus.

Namun, senyum kelam dan buas terukir di bibir Zeng Niu yang berlumur darah. Dengan membiarkan dirinya digigit, ia kini berada tepat di depan dada monster tersebut menempel langsung dengan wajah manusia yang menjadi titik lemahnya.

Tangan kanan Zeng Niu, yang mencengkeram belati besi dengan erat, terangkat ke atas bayangan kabut merah.

Wajah manusia di dada kelelawar itu membelalak, menyadari niat gila pemuda fana ini. Tapi semuanya sudah terlambat. Waktu seakan berhenti di Hutan Kematian.

1
.
absen Thor
Sang_Imajinasi: siap lanjutkan
total 1 replies
eka suci
si gendut SDN gadis ilusi di ajak ngga🤔
eka suci
paling brutal woy🤭
Xiao Bar
lnjut
Xiao Bar
ada kaitan nya kah ini? pedang Zhao xuan
Xiao Bar
ngeri 💪
eka suci
ini perpaduan Shen yu yg merangkak dari nol juga Zhao xuan yg di yg di hinggapi jiwa licik dan arogan 👍
eka suci
Lei Ling kau itu nasibnya ngga lebih baik dari kakek gu yg dulu bersemayam di Zhao xuan😄
saniscara patriawuha.
lanjutttt keunnnnn....
i
jangan kendor
i
gas niu
k
gasss
k
lanjut thor😍
p
lanjut thor👍
1
lanjut kan thor👍
eka suci
MC mu semuanya di luar nurul😄 lanjutkan 💪
p: kwkwk
total 1 replies
eka suci
pedang nya masuk cincin kah🤔
saniscara patriawuha.
gasssds keunnnnn...
eka suci
pedang yg angkuh 😄 takut Zhao xuan tapi nyari pewaris 😥
saniscara patriawuha.
gasssdddd polllll
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!