Kirana, Executive Chef bintang lima di Jakarta, mati konyol karena ledakan gas. Sialnya, dia malah terbangun di tubuh Putri Tantri—tokoh antagonis dalam novel sejarah yang baru saja meracuni adik angkat suaminya!
Di hadapannya, Jenderal Arga sang "Iblis Perang Utara" sudah menghunus pedang, siap memenggal kepalanya.
Tak mau mati dua kali, Kirana mengajukan penawaran gila: "Jangan bunuh aku dulu! Izinkan aku masak makanan terakhir!"
Bermodalkan bawang merah, kecap manis buatan sendiri, dan teknik masak modern, Kirana bertekad mengubah takdir kematiannya. Siapa sangka, masakan lezatnya tak hanya menyelamatkan lehernya, tapi juga menyembuhkan maag kronis sang Jenderal dan mengguncang lidah satu kerajaan?
Tapi hati-hati, Kirana! Musuhmu bukan cuma panci gosong, tapi juga pelakor bermuka dua dan intrik politik yang mematikan. Sanggupkah Kirana bertahan hidup di zaman kuno tanpa rice cooker dan kulkas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: Ninja Kebaya dan Tragedi Ikan Mas Koki
Malam semakin larut di kediaman Jenderal Arga. Suara jangkrik bersahutan dengan dengkuran para penjaga yang mulai mengantuk.
Saat semua orang terlelap dalam mimpi indah, tiga bayangan gelap bergerak mengendap-endap di balik semak-semak taman.
Operasi "Maling Ikan" dimulai.
"Nyonya... hamba takut," bisik Sari, suaranya bergetar hebat. Dia memegang sarung bekas yang kami jadikan karung dengan tangan berkeringat.
"Sst! Jangan berisik," desisku. Aku mengencangkan ikatan kain jarikku yang kuangkat setinggi lutut (mode tempur). Wajahku sudah coreng-moreng dengan arang dapur—bukan buat gaya-gayaan, tapi biar menyatu dengan kegelapan malam.
"Ingat misi kita, Sari. Perut kenyang, hati senang. Ikan-ikan itu terlalu gemuk untuk sekadar dipajang. Mereka butuh tujuan hidup yang lebih mulia: Masuk ke dalam perut kita."
Kami bertiga—Aku, Sari, dan Mbok Darmi (yang bertugas sebagai pengawas keadaan di pos belakang)—bergerak menuju Paviliun Teratai Putih.
Paviliun Laras dijaga oleh dua prajurit di gerbang depan. Tapi aku tahu jalan tikus. Di novel, disebutkan ada lubang anjing di tembok samping yang sering dipakai Laras untuk menyelinap keluar menemui informan rahasianya.
Kami menemukan lubang itu. Sempit, tertutup tanaman rambat.
"Sari, kau duluan. Kalau aman, beri kode suara kucing kawin," perintahku.
Sari merangkak masuk. Hening sejenak. Lalu terdengar suara, "Meooong... srrreet... meooong..."
Oke, aman (walau akting kucingnya buruk sekali). Aku menyusul merangkak. Tanah becek mengotori lututku, tapi demi protein hewani, harga diri Tantri kutanggalkan dulu.
Kami sampai di tepi kolam teratai.
Cahaya bulan purnama memantul di permukaan air yang tenang. Bunga-bunga teratai kuncup terlihat misterius. Dan di bawah sana... terlihatlah target operasi kami.
Ikan-ikan Mas Koki (Goldfish) berukuran jumbo. Warnanya oranye menyala, perutnya buncit-buncit, berenang lambat dengan gaya bangsawan yang tidak tahu kerasnya kehidupan.
"Gila," gumamku, air liurku menetes. "Itu satu ekor bisa setengah kilo."
"Nyonya, itu ikan 'Dewa Rejeki' kata Nona Laras. Harganya mahal sekali," bisik Sari ngeri.
"Makin mahal makin enak dagingnya, Sar. Teksturnya pasti juicy," balasku.
Aku mengeluarkan alat tempurku: Jaring serok besar yang biasa dipakai Mbok Darmi meniriskan gorengan, yang sudah kuikatkan ke batang bambu panjang.
Aku mengamati pergerakan ikan. Mereka jinak sekali. Mereka mengira aku mau memberi makan. Mereka berkumpul di tepi kolam, mulutnya cap-cap-cap di permukaan air.
"Dasar ikan bodoh," seringaiku.
HUP!
Sekali serok, dua ekor ikan mas raksasa masuk ke dalam jaring gorengan. Mereka menggelepar kaget.
Byur! Suara kecipak air cukup keras.
"Siapa di sana?!" teriak penjaga dari arah gerbang depan.
Mampus.
"Sari! Karung!" bisikku panik.
Sari dengan sigap membuka sarung. Aku menumpahkan ikan-ikan itu ke dalam sarung.
Hup! Serok lagi. Dapat satu lagi yang warna hitam (Ikan Kumpay). Total tiga ekor. Cukup buat makan besok.
Lampu obor terlihat mendekat dari kejauhan. Langkah kaki prajurit terdengar berat.
"Kabur! Kabur!"
Kami berlari membungkuk, menerobos semak bunga melati kesayangan Laras (maaf, keinjak dikit). Kami meluncur kembali ke lubang anjing secepat kilat.
"Woy! Ada maling!" teriak penjaga itu.
Tapi kami sudah berada di sisi lain tembok. Kami berlari kencang menembus kegelapan, memeluk karung berisi ikan yang masih menggelepar-gelepar di dada kami, seolah itu adalah emas batangan.
Adrenalin memacu jantungku. Rasanya seperti main Assassin's Creed, tapi versi ibu-ibu dasteran.
[Dapur Utama - 30 Menit Kemudian]
Kami bertiga ngos-ngosan di lantai dapur, tertawa tertahan sambil mengatur napas. Pintu dan jendela sudah dikunci rapat. Gorden ditutup.
"Kita selamat..." desah Mbok Darmi sambil mengelus dada. "Jantung tua hamba mau copot, Nyonya."
Aku membuka ikatan sarung. Tiga ekor ikan mas jumbo tergeletak pasrah.
Cantik sekali. Sisiknya berkilauan. Dagingnya tebal.
"Maafkan kami, Ikan," kataku sambil mengambil pisau. "Kalian hidup dimanja Laras, tapi mati dimakan Tantri. Setidaknya kalian mati sebagai pahlawan gizi."
Malam itu juga, aku mengeksekusi mereka.
Membersihkan sisik ikan mas itu butuh tenaga ekstra karena keras. Setelah bersih, kucuci dengan air jeruk nipis (curian dari pohon tetangga) untuk menghilangkan bau tanah.
"Kita masak apa, Nyonya?" tanya Sari yang sudah menyalakan api kecil (biar asapnya nggak kelihatan dari luar).
"Ikan Mas Pesmol Bumbu Kuning," jawabku mantap.
Ikan mas punya banyak duri halus. Jadi teknik masaknya harus benar.
Pertama, ikan kugoreng dulu sampai setengah kering. Kulit luarnya garing, tapi dalamnya masih lembut.
Srenggg... Bunyi gorengan itu adalah musik nina bobo terbaik.
Sambil menunggu ikan digoreng, aku meracik bumbu Pesmol.
Bawang merah, bawang putih, kemiri (wajib banyak biar creamy), kunyit, jahe, dan lengkuas. Ulek sampai halus.
Setelah ikan matang, minyak dikurangi. Masukkan bumbu halus. Tumis sampai harum dan matang (kalau bumbu nggak matang, rasanya getir). Masukkan daun salam, serai, dan daun jeruk.
Tuang sedikit air. Masukkan cabai rawit utuh yang banyak (biar ada ranjau pedasnya), dan potongan wortel serta timun (acar kuning).
Terakhir, masukkan ikan goreng tadi. Masak dengan api kecil sampai kuah menyusut dan bumbu meresap ke dalam daging ikan.
Tambahkan garam, gula, dan sedikit cuka (aku pakai air asam jawa sebagai pengganti).
Rasanya harus seimbang: Gurih, Asam, Manis, Pedas.
Aromanya... Ya Tuhan.
Wangi kunyit dan daun jeruk berpadu dengan gurihnya ikan goreng.
"Matang," bisikku.
Kami tidak sabar menunggu besok pagi. Kami makan malam itu juga, jam 2 pagi.
Daging ikan mas koki ternyata... luar biasa lembut. Lemaknya lumer di mulut. Bumbu pesmol yang kental dan medok menutupi rasa tanah yang biasa ada di ikan air tawar.
Rasa asam segarnya bikin mata melek. Cabai rawitnya meledak saat digigit.
"Ini... ini lebih enak dari daging sapi kemarin," komentar Mbok Darmi sambil menjilat jari. "Dagingnya manis sekali."
"Tentu saja manis, Mbok. Ikan ini makanannya pelet mahal," kekehku.
Kami menghabiskan tiga ekor ikan besar itu sampai menyisakan tulang belulang. Tulang-tulangnya kami kubur dalam-dalam di tanah belakang dapur, menghilangkan barang bukti.
Malam itu, kami tidur dengan perut kenyang dan senyum puas.
[Keesokan Harinya - Pagi yang Cerah tapi Kelabu bagi Laras]
Aku sedang menyapu halaman dapur dengan santai, bersenandung lagu dangdut pelan, ketika terdengar jeritan melengking dari arah Paviliun Teratai Putih.
"KYAAAAAAAAAAAA!!!"
Burung-burung gereja beterbangan kaget.
Aku tersenyum simpul. Showtime.
Tak lama kemudian, Laras datang menyerbu ke halaman dapur. Wajah cantiknya merah padam, air mata (kali ini asli) bercucuran. Di belakangnya ada para penjaga yang wajahnya pucat.
"KAK TANTRI!" teriak Laras tanpa sopan santun. "KAU! KAU PASTI YANG MELAKUKANNYA!"
Aku berhenti menyapu, menatapnya dengan wajah polos tak berdosa. "Apa lagi sih, Dik? Pagi-pagi sudah teriak-teriak. Latihan vokal?"
"Jangan pura-pura bodoh! Ikan-ikanku! Si 'Goldie', 'Lucky', dan 'Blackie' hilang!" Laras menunjuk-nunjuk wajahku gemetar. "Tadi malam penjaga melihat ada maling lari ke arah sini! Pasti kau kan?! Kau mencuri ikan-ikanku!"
"Ikan?" Aku mengernyitkan dahi. "Ikan apa? Aku tidak tahu. Semalam aku tidur nyenyak sekali karena... yah, kau tahu, aku kelaparan karena seseorang memotong jatah makanku."
"Bohong! Kau pasti memakannya! Kau kan monster rakus!"
"Hati-hati bicaramu, Laras. Kau menuduh Putri Raja Selatan mencuri ikan? Mana buktinya?" tantangku. "Coba geledah dapurku. Kalau kau menemukan satu sisik ikan pun, silakan potong tanganku."
Laras memberi isyarat pada penjaga. "GELEDAH!"
Para penjaga masuk mengobrak-abrik dapur. Mereka membuka panci, membuka gentong, memeriksa tempat sampah.
Nihil.
Dapur bersih. Panci bekas pesmol sudah dicuci gosok sampai kinclong oleh Sari. Tulang ikan sudah terkubur satu meter di bawah tanah kebun pisang.
Penjaga keluar dengan tangan hampa. "Lapor Nona, tidak ada jejak ikan. Tidak ada bau amis."
Wajah Laras berubah dari merah menjadi ungu. Dia tidak percaya. Dia yakin 100% ini ulahku, tapi tidak ada bukti.
"Mungkin... dimakan kucing liar?" saranku simpatik. "Atau mungkin mereka bosan hidup denganmu lalu memutuskan migrasi ke sungai?"
Laras mengepalkan tangannya erat-erat. Dia kalah lagi. Ikan kesayangannya seharga ratusan koin emas hilang, dan dia tidak bisa menyalahkan siapa-siapa.
"Awas kau, Tantri," desis Laras penuh dendam. "Tunggu Jenderal pulang. Aku akan laporkan kelakuanmu yang barbar ini."
"Silakan lapor. Tapi ingat, Laras..." Aku mendekat, membisikkan sesuatu padanya.
"Jenderal Arga benci wanita pengadu yang tidak punya bukti. Semakin kau mengadu hal konyol, semakin kau terlihat menyedihkan di matanya."
Laras terdiam. Kalimat itu menohoknya.
Dia berbalik dan pergi dengan hentakan kaki kasar, menangis meraung-raung meratapi nasib Goldie, Lucky, dan Blackie.
Aku menatap punggungnya sambil menahan tawa.
Satu poin untuk Tim Tantri.
"Nyonya..." Sari muncul dari balik pintu, wajahnya pucat.
"Kenapa Sar? Takut ketahuan?"
"Bukan, Nyonya... Itu..." Sari menunjuk ke arah gerbang depan kediaman.
Di sana, seekor burung elang pos mendarat di lengan seorang prajurit jaga. Prajurit itu membaca gulungan surat kecil di kaki elang, lalu berlari ke arah kami.
"Surat dari Garis Depan!" teriak prajurit itu.
Jantungku berdegup kencang. Surat dari Arga? Apa dia mati? Apa dia menang?
Prajurit itu menyerahkan surat itu padaku (karena secara teknis aku Istri Pertama, surat resmi jatuh ke tanganku dulu sebelum Laras).
Aku membuka gulungan kertas itu.
Tulisannya singkat, tegas, dan... aneh.
Kepada Istriku (yang memasak).
Abon sapimu habis dalam dua hari. Pasukan berebut sampai hampir saling bunuh.
Rendangnya kuhabiskan sendiri. Maagku tidak kambuh.
Kirimkan lagi.
SEKARANG.
P.S: Jangan kasih Laras.
— Arga.
Aku melongo membaca surat itu.
Dia tidak menanyakan kabarku. Dia tidak menanyakan kabar rumah.
Dia minta kiriman makanan lagi?!
Dan apa itu "P.S: Jangan kasih Laras"? Jenderal Iblis ini pelit makanan ternyata!
Aku tertawa kecil. Surat ini... ini adalah kekebalan diplomatikku.
Dengan surat ini, aku bisa memaksa Laras membuka gudang makanan.
"Sari! Mbok Darmi!" teriakku semangat.
"Siapkan kuali! Kita masak lagi! Kali ini kita akan kuras habis gudang Nona Laras atas perintah Jenderal!"
...****************...
...Bersambung.......
...Terima kasih telah membaca📖...
...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...
...****************...
Kasih di mana tak dapat bersatu di masa itu ,kembali bereinkarnasi menemui cinta abadi nya.
tak berjodoh di masa lalu
berjodoh di masa depan
Tantri akan bahagia bersma jenderal dan putra nya
kalau Tantri kembali ke masa depan
apa tantrii sebenarnya yg telah meninggal
siapa tahu "SUARA" itu akan tersentuh oleh ketulusan cinta kalian.
Hingga nanti semua akan berakhir bahagia
Ahh ...kirana jangan kau kacaukan dulu perjalanan mereka, biar berdiri dulu sekolah tata boga tantri dan sukses mencetak lulusan terbaik baru kau kembali ke asalmu😄
musuh baru akan segera datang
🤣
besok masakin bebek bengil yaa kirana, dengan lawar sayuran pedas🤤
sampai segala cara di pake buat merebut arga
seperti apa kisah cinta mu jenderal