Luka pengkhianatan ibu membuat hati Anandara membeku. Sinta adalah satu-satunya "rumah" baginya. Namun, kehadiran mahasiswa baru bernama Angga memicu badai. Anandara rela memendam cinta demi Sinta, menciptakan kebohongan dan permusuhan yang menyayat hati. Mampukah persahabatan mereka bertahan saat rahasia terkuak, dan dapatkah Dimas menyembuhkan luka Sinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pengamat Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Toga, Daging Panggang, dan Tatapan Tak Kasat Mata
Hari itu, langit di atas SMA Negeri 1 sangat cerah, seolah semesta ikut merayakan puncak dari perjalanan tiga tahun yang penuh dengan tawa, air mata, dan perjuangan. Lapangan utama sekolah telah disulap menjadi area prosesi kelulusan yang megah. Tenda-tenda raksasa berwarna putih dan biru berdiri kokoh, menaungi ratusan siswa-siswi kelas dua belas yang kini mengenakan pakaian kebesaran mereka: kemeja rapi, kebaya anggun, dan toga wisuda berwarna hitam dengan rumbai kuning di topi mereka.
Anandara Arunika duduk di barisan depan, tempat yang dikhususkan untuk lulusan dengan predikat sepuluh besar terbaik. Ia mengenakan kebaya modern berwarna peach yang sangat pas di tubuh semampainya, dipadukan dengan kain batik lilit yang elegan. Riasan wajahnya tipis namun memancarkan kecantikan natural yang membuat banyak mata tak bisa berhenti mencuri pandang ke arahnya. Namun, yang paling menawan dari penampilannya hari ini bukanlah pakaian mahalnya, melainkan senyum cerah yang tak pernah lepas dari bibirnya.
Di kursi tamu undangan, Pak Dirga duduk dengan dada membusung bangga. Pria paruh baya itu mengenakan setelan jas terbaiknya. Matanya berkaca-kaca saat nama "Anandara Arunika" dipanggil ke atas panggung sebagai peraih nilai Ujian Nasional tertinggi satu sekolah. Saat Anandara menerima medali dan sertifikat dari Kepala Sekolah, Pak Dirga tak henti-hentinya bertepuk tangan, diam-diam mengusap air mata bahagia yang menggenang di sudut matanya. Putrinya telah berhasil. Nanda kecilnya yang dulu harus memakai sepatu bersol jebol, kini berdiri di puncak kejayaan dengan wajah berseri-seri.
Setelah prosesi resmi yang membosankan selesai, suasana sakral itu seketika pecah menjadi lautan kekacauan yang membahagiakan. Siswa-siswi berhamburan ke tengah lapangan, mencari teman-teman mereka untuk berfoto, berpelukan, dan menangis haru.
"NANDAAA!"
Sebuah teriakan melengking terdengar dari arah kanopi. Sinta, dengan kebaya merah menyala dan riasan yang sedikit luntur karena menangis sejak kepala sekolah memberikan pidato pertama, berlari menerjang Anandara. Ia memeluk sahabatnya itu dengan kekuatan penuh, nyaris membuat topi toga Anandara terpental.
"Kita luluss, Nan! Huhu, gue nggak nyangka gue bisa lulus tanpa harus nyogok guru pakai bolu kukus nyokap gue lagi!" racau Sinta sambil mengusap ingusnya dengan tisu yang sudah lecek.
Anandara tertawa lepas, membalas pelukan Sinta tak kalah erat. "Lo lulus karena lo belajar mati-matian sebulan terakhir ini, Sin. Gue bangga banget sama lo."
"Ini semua berkat Nyonya Es yang udah berevolusi jadi malaikat berhati marshmallow!" Sinta terkekeh, mencium pipi Anandara dengan gemas.
Di tengah momen haru itu, suasana mendadak rusak oleh suara dentuman musik beatbox yang berasal dari sebuah speaker bluetooth kecil. Dari arah kerumunan, muncul dua sosok laki-laki dengan kacamata hitam murahan berbentuk hati yang bertengger di hidung mereka. Mereka berjalan dengan gaya slow motion yang dibuat-buat, persis seperti adegan di film-film mafia yang gagal.
Itu adalah Rehan dan Reza.
Reza adalah tambahan terbaru dalam circle mereka sejak semester lalu. Laki-laki itu adalah teman sebangku Rehan sekaligus partner in crime-nya dalam segala hal, mulai dari mabar Mobile Legends hingga membolos ke kantin saat jam pelajaran sejarah. Reza memiliki energi yang sama kacaunya dengan Rehan, membuat mereka berdua mendapat julukan 'Duo Beban Negara' dari Sinta.
"Minggir, minggir! Jalan untuk sang legenda Hyper Carry dan Tanker terhebat SMA 1 telah terbuka!" seru Rehan dengan suara yang dibuat berat.
Reza di sebelahnya tidak memegang bunga atau cokelat, melainkan membawa sebuah spanduk kain hasil print dadakan bertuliskan: "SELAMAT LULUS KAWAN! MAAF KAMI SERING AFK DARI REALITA!"
Kiera dan Ami yang baru saja bergabung dengan Anandara dan Sinta langsung menepuk jidat mereka secara bersamaan.
"Bisa nggak sih sehari aja lo berdua nggak bikin malu gue?" keluh Kiera, wajah cantiknya memerah menahan malu karena beberapa orang tua murid menatap duo kocak itu dengan pandangan aneh.
"Eh, jangan salah! Ini adalah bentuk perayaan paling anti-mainstream!" Reza membela diri sambil menurunkan kacamata hatinya sedikit. "Lagian, hari ini kita harus pesta besar-besaran! Ingat janji siapa bulan lalu?"
Mata Sinta langsung berbinar-binar. "Oh iya! Pengumuman SNBT udah keluar kemarin! Kita berenam lolos masuk universitas favorit itu! Nanda di Teknik Industri, gue di Komunikasi, Ami di Psikologi, Kiera di Sastra, dan dua monyet ini secara ajaib lolos di Informatika!"
Rehan membusungkan dadanya, menepuk dompetnya yang tebal (berkat tabungan hasil nge-joki game berbulan-bulan). "Sesuai nazar gue, karena kita semua lolos dan nggak ada yang harus pakai rok tutu pink, hari ini gue bakal traktir kalian All You Can Eat daging wagyu kelas satu di mall paling hits se-kota!"
"Asyiiiikk!" seru gadis-gadis itu serempak.
Anandara tertawa melihat tingkah teman-temannya. Ia melambaikan tangan pada ayahnya yang sedang mengobrol dengan beberapa orang tua lain dari kejauhan, memberi isyarat bahwa ia akan pergi merayakan kelulusan bersama teman-temannya. Pak Dirga mengangguk sambil tersenyum mengizinkan.
Satu jam kemudian, keenam remaja itu telah berganti pakaian menjadi baju kasual yang nyaman dan tengah berjalan menyusuri lantai dasar salah satu mall terbesar dan paling mewah di kota itu. Suasana mall cukup ramai, dipenuhi oleh banyak remaja lain yang juga sedang merayakan hari kelulusan mereka.
Circle Anandara berjalan dengan formasi tak beraturan. Rehan dan Reza berjalan di depan, saling dorong dan berdebat tentang karakter game mana yang paling kuat. Ami dan Kiera berjalan di belakang mereka, asyik membahas diskon pakaian di salah satu brand ternama. Sementara itu, Anandara dan Sinta berjalan paling belakang, bergandengan tangan seperti anak TK yang takut tersesat.
"Nan, lo nyadar nggak sih, dari tadi banyak banget cowok yang curi-curi pandang ke arah lo?" bisik Sinta sambil menyenggol bahu Anandara.
"Masa sih? Perasaan lo aja kali. Mungkin mereka lagi lihatin rambut lo yang abis di-styling badai itu," jawab Anandara santai, sama sekali tidak peduli dengan tatapan orang-orang.
Penampilan Anandara siang itu memang mengundang decak kagum. Ia hanya mengenakan celana jeans high-waist berwarna biru muda dan blus putih berbahan silk yang jatuh pas di tubuhnya, namun aura ceria dan senyum lepas yang menghiasi wajahnya membuatnya bersinar. Beban masa lalu tak lagi membayanginya. Ia merasa sangat ringan, sangat bebas.
Saat mereka melewati sebuah kedai kopi ternama di sudut mall, Rehan tiba-tiba melontarkan lelucon konyol.
"Eh, Za! Lo inget nggak pas ujian praktek biologi kemaren? Lo dengan pedenya ngebedah katak, eh ternyata kataknya belum mati! Lompat masuk ke kerah baju lo. Sumpah, jeritan lo waktu itu lebih nyaring dari suara soprano paduan suara sekolah!" ledek Rehan dengan tawa menggelegar.
"Sialan lo, Han! Jangan diingetin dong! Trauma gue sama yang ijo-ijo lengket!" Reza membalas dengan wajah sebal, namun ikut tertawa.
Mendengar itu, tawa Anandara pecah. Ia tertawa lepas hingga matanya menyipit, kepalanya sedikit mendongak, dan lesung pipi di wajahnya terbentuk sempurna. Suara tawanya yang renyah dan tulus mengalun di udara yang dipenuhi aroma kopi panggang dari kedai di sebelah mereka.
Tepat pada detik itu, dari arah yang berlawanan, berjalanlah seorang pemuda.
Pemuda itu mengenakan kemeja hitam lengan pendek yang rapi, dengan lengan kemeja yang sedikit ditekuk memperlihatkan urat-urat halus di lengannya. Postur tubuhnya tinggi tegap, auranya sangat tenang, berbanding terbalik dengan keramaian mall. Wajahnya tampan dengan garis rahang yang tegas, namun yang paling menonjol adalah sepasang matanya. Matanya tajam, setajam elang yang sedang mengintai mangsa, dengan pembawaan yang penuh kharisma namun tertutup rapat.
Pemuda itu sedang berjalan sambil membaca sesuatu di ponselnya, hendak menuju ke arah eskalator. Namun, suara tawa Anandara yang khas—tawa yang memancarkan kebebasan mutlak—entah bagaimana berhasil menembus fokus pemuda itu.
Langkah pemuda berwajah datar itu perlahan melambat. Ia mengangkat wajahnya.
Tatapannya langsung terkunci pada sosok Anandara yang sedang tertawa bersama Sinta. Waktu, bagi pemuda itu, seolah melambat hingga titik puncaknya. Keramaian orang-orang yang berlalu lalang di mall, suara musik dari toko-toko baju, dan aroma parfum pengunjung lainnya mendadak memudar menjadi latar belakang yang tidak penting. Satu-satunya hal yang jelas di matanya hanyalah senyuman gadis berblus putih itu.
Ada sebuah getaran aneh yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, sesuatu yang memaksa matanya untuk tidak berkedip, takut jika sedetik saja ia memejamkan mata, pemandangan indah itu akan lenyap. Ia melihat bagaimana mata gadis itu melengkung seperti bulan sabit, bagaimana rambut hitamnya bergoyang pelan saat ia tertawa. Senyum itu... senyum itu terlihat sangat murni, seolah tidak pernah ada setitik pun luka di hatinya.
Langkah pemuda itu benar-benar berhenti. Ia berdiri mematung di dekat pilar kedai kopi, membiarkan rombongan Anandara lewat tepat di depannya dengan jarak hanya sekitar dua meter. Jantung pemuda yang biasanya berdetak stabil dan sedingin es itu, kini berdegup satu ketukan lebih cepat. Sebuah perasaan asing yang tak bisa dijelaskan oleh logika merayap masuk ke dalam benaknya.
Siapa dia? batin pemuda itu, matanya terus mengikuti punggung Anandara yang perlahan menjauh.
Namun, baik Anandara maupun kelima temannya sama sekali tidak menyadari kehadiran pemuda bermata tajam itu. Mereka terlalu asyik dengan dunia mereka sendiri. Anandara terus berjalan sambil menggandeng tangan Sinta, tertawa menanggapi lelucon Rehan, tanpa tahu bahwa detik itu, di sebuah koridor mall yang ramai, ia baru saja mencuri perhatian seorang laki-laki yang kelak akan memporak-porandakan seluruh janji dan tembok pertahanan yang telah susah payah ia bangun.
Takdir telah melempar dadunya siang itu. Titik perpotongan garis hidup mereka telah dimulai, meski hanya satu pihak yang menyadarinya.
Pemuda itu masih berdiri di sana selama beberapa detik setelah punggung Anandara hilang di belokan menuju area restoran. Ia kemudian menghela napas panjang, memasukkan satu tangannya ke dalam saku celana, dan kembali melangkah menuju eskalator dengan raut wajah yang kembali datar. Namun, di dalam kepalanya, senyum bidadari itu telah tercetak permanen.
"Wagelaseehh! Ini baru yang namanya surga dunia!" seru Rehan dengan mulut penuh daging sapi wagyu yang baru saja diangkat dari atas alat panggang.
Keenam remaja itu kini tengah duduk mengelilingi meja panjang di sebuah restoran All You Can Eat ala Jepang. Asap harum dari daging panggang membumbung ke udara, bercampur dengan aroma saus teriyaki dan kaldu shabu-shabu yang mendidih. Di atas meja mereka, piring-piring berisi lembaran daging merah, sayuran segar, seafood, dan sushi berserakan tak beraturan, menandakan betapa buasnya nafsu makan mereka setelah stres menghadapi ujian.
"Pelan-pelan makannya, Han. Keselek baru tahu rasa lo," tegur Ami sambil membolak-balik daging di atas panggangan menggunakan sumpit panjang.
"Biarin, Mi. Orang yang traktir dia ini, biarin dia rugi sendiri," sahut Sinta sambil mencelupkan irisan dagingnya ke dalam saus ponzu dengan semangat.
Di tengah acara makan besar itu, Reza yang sedang mengunyah tempura tiba-tiba mengerutkan keningnya, menatap lurus ke arah Anandara yang sedang meniup pelan kuah supnya.
"Eh, guys. Gue kepikiran sesuatu dari semalem," ucap Reza dengan nada yang mendadak serius, membuat yang lain menghentikan aktivitas mengunyah mereka.
"Kepikiran apa lo? Cara nipu sistem rank ML biar nggak lose streak?" tebak Kiera asal, disambut tawa kecil yang lain.
"Bukan, njir! Ini soal kuliah," Reza meletakkan sumpitnya, wajahnya dipenuhi kebingungan yang nyata. "Kita berenam kan masuk di universitas yang sama nih. Oke, fakultasnya beda-beda. Tapi, gue sama Rehan kan sama-sama masuk Teknik Informatika. Nah, Nanda masuk Teknik Industri. Itu masih satu fakultas kan? Fakultas Teknik?"
Anandara mengangguk. "Iya, benar. Satu fakultas, beda gedung jurusan aja dikit."
"Nah!" Reza menjentikkan jarinya, matanya berbinar seperti baru saja menemukan teori konspirasi dunia. "Berarti, kita bertiga bisa satu kelas terus dong? Gue udah janjian nih sama Rehan, kita mau duduk di pojok belakang, terus kalau ada tugas kelompok yang susah, kita tinggal sekelompok sama lo, Nan. Kan Nanda otak superkomputer, kita berdua cukup nyumbang doa dan tenaga cetak makalah aja."
Rehan langsung mengangguk setuju dengan antusiasme yang sama. "Bener banget! Nan, lo nggak keberatan kan kalau mulai hari pertama masuk, kita jadi parasit setia lo? Pokoknya ke mana lo pergi, gue sama Reza ngikut. Lo masuk kelas A, kita masuk kelas A. Lo bolos—meski gue ragu lo bakal bolos—kita ikut bolos."
Mendengar rencana absurd dari duo beban negara itu, Anandara, Sinta, Ami, dan Kiera saling bertatapan sebelum akhirnya meledak dalam tawa yang sangat keras hingga beberapa pengunjung restoran di meja sebelah menoleh ke arah mereka.
Sinta tertawa sampai terbatuk-batuk, sementara Anandara harus memegangi perutnya karena keram melihat wajah polos duo kocak itu.
"Kalian kenapa ketawa sih? Emang ada yang lucu?" Rehan mengerutkan dahi, merasa tersinggung rencananya ditertawakan.
Anandara berusaha mengatur napasnya, mengelap air mata di sudut matanya yang keluar karena terlalu banyak tertawa. "Aduh... Rehan, Reza. Lo berdua itu benar-benar harus banyakin baca buku panduan mahasiswa baru deh. Kalian pikir kuliah itu sama kayak SMA?"
"Emang beda?" tanya Reza polos.
"Beda jauh, astaga naga!" sahut Ami gemas, memukul pelan bahu Reza dengan ujung sumpitnya yang bersih. "Di kuliah tuh nggak ada yang namanya wali kelas yang ngebagi-bagiin kelas! Nggak ada tuh ceritanya anak IPA 1 kumpul di kelas IPA 1 dari pagi sampai sore. Lo berdua tau KRS nggak?"
"KRS? Kereta Rel Superexpress?" tebak Rehan ngawur.
"Itu KRL, bahlul!" Sinta menoyor kepala Rehan dari seberang meja. "KRS itu Kartu Rencana Studi! Mahasiswa itu milih kelas sendiri-sendiri, milih dosen sendiri, milih jadwal sendiri. Sistemnya SKS, Satuan Kredit Semester!"
Anandara mengangguk, mengambil alih penjelasan dengan nada layaknya seorang dosen yang sabar menghadapi mahasiswa tahun pertama. "Benar apa kata Sinta. Sistem perkuliahan itu sangat individualis, Han, Za. Jangankan beda jurusan kayak gue di Industri dan kalian di Informatika. Kalian berdua yang sama-sama satu jurusan Informatika pun, jadwalnya bisa beda total. Lo bisa masuk kelas jam tujuh pagi sama Dosen A, sementara Reza masuk jam siang sama Dosen B."
Wajah Rehan dan Reza seketika memucat. Pucat pasi seperti baru saja melihat hantu di siang bolong. Imajinasi indah mereka tentang masa kuliah yang santai dengan menumpang kecerdasan Anandara hancur berkeping-keping.
"Hah?! Seriusan?!" Rehan setengah berteriak, matanya melotot. "Terus... kalau gue dapet tugas algoritma pemrograman yang disuruh bikin kode sampai ribuan baris, siapa yang mau gue contekin, Nan?! Masa gue ngerjain sendiri?! Bisa kram otak gue!"
"Ya nasib lo lah, resiko mahasiswa teknik!" ledek Kiera sambil menjulurkan lidahnya puas melihat kepanikan dua laki-laki itu. "Selamat datang di dunia nyata, Bro! Dunia di mana nilai lo bergantung murni dari seberapa sering lo ngopi buat nahan kantuk ngerjain tugas, bukan dari seberapa pintar teman sebangku lo."
"Nggak bisa gitu dong, Nan!" Reza mulai merengek, menatap Anandara dengan tatapan memelas. "Lo kan pinter, lo kan hacker jadwal. Nanti pas pengisian KRS, lo isiin punya gue sama Rehan ya? Lo cariin mata kuliah dasar yang sama kayak lo. Mata kuliah umum kan pasti ada tuh, kayak Bahasa Indonesia, Agama, atau Kewarganegaraan. Pokoknya kita harus sekelas! Kalau nggak, gue sama Rehan bisa DO di semester pertama!"
Anandara terkekeh, menggeleng-gelengkan kepalanya. "Za, mata kuliah umum emang ada, tapi fakultas teknik itu mahasiswanya ribuan. Peluang kita buat bisa klik kelas yang sama di detik yang sama saat server pengisian KRS dibuka itu kecil banget. Berebut server KRS itu lebih susah daripada lo nge-gacha skin legend di game lo itu."
"Tidaaaakkk!" Rehan dan Reza berteriak lebay secara bersamaan, menjatuhkan dahi mereka ke atas meja dengan bunyi buk yang pelan. Keputusasaan melanda duo kocak itu. Bayangan tentang dosen killer, tugas menumpuk, dan ujian tanpa Anandara di sisi mereka membuat nafsu makan mereka mendadak hilang sesaat (hanya sesaat, karena lima menit kemudian Rehan sudah kembali memanggang daging).
Sinta yang melihat itu tertawa puas, menepuk-nepuk bahu Anandara. "Syukurin! Emangnya lo berdua doang yang pusing! Gue juga pusing nih mikirin gimana caranya masuk jurusan Komunikasi yang isinya pasti anak-anak hits semua. Nanda, nanti kalau gue stres nugas, lo harus rela gue culik ke kost-an gue buat bantuin ngetik makalah, ya!"
"Dih, Nanda mah pasti sibuk di lab, mana sempat ngurusin makalah lo yang isinya teori komunikasi doang," ejek Ami.
"Eh, anak Psikologi diam aja deh! Nanti gue suruh lo baca pikiran dosen killer gue baru tahu rasa!" balas Sinta sengit.
Perdebatan konyol dan canda tawa kembali memenuhi meja makan mereka. Anandara duduk di tengah-tengah kehangatan itu, mendengarkan rengekan Rehan yang meminta diajari coding dasar dari sekarang, dan mendengarkan Sinta yang sudah merencanakan outfit apa saja yang akan dipakai di minggu pertama kuliah.
Senyum di wajah Anandara tak pernah pudar. Matanya berbinar menatap masa depan. Ia menatap teman-temannya satu per satu, mengunci kenangan ini rapat-rapat dalam ingatannya. Masa SMA telah benar-benar berakhir. Kehidupan universitas yang penuh kebebasan, tanggung jawab baru, dan lingkungan yang sama sekali berbeda telah menanti mereka di seberang sana.
Anandara merasa sangat siap. Ia punya circle yang solid, logika yang tajam, dan hati yang tertutup rapat dari segala bentuk godaan asmara. Di kepalanya, skenario perkuliahannya sudah tersusun rapi: kuliah, belajar, dapat IPK Cumlaude, kumpul bareng Sinta dan yang lain di akhir pekan, lalu lulus dan membantu perusahaan ayahnya. Sempurna dan aman. Tidak ada ruang untuk kesalahan, tidak ada ruang untuk jatuh cinta.
Namun, yang tidak Anandara ketahui adalah, di luar restoran ini, pemuda bermata tajam yang sempat terpaku melihat senyumannya tadi juga sedang mempersiapkan diri untuk masuk ke universitas yang sama. Sebuah pertemuan yang akan meruntuhkan setiap tembok rasionalitasnya perlahan-lahan sedang disusun oleh takdir, menanti waktu yang tepat untuk meledak di pertengahan semester dua nanti.
Tapi untuk malam kelulusan ini, biarlah Nyonya Es itu menikmati kebahagiaannya bersama tawa lepas dari para sahabatnya, sama sekali tidak menyadari bahwa seseorang di luar sana baru saja menjadikan senyumnya sebagai pusat rotasi dunia barunya.
Bersambung...!
pengamat Senja_