Pernikahan kontrak antara Elvano dan Aira awalnya hanya sandiwara. Namun, kebersamaan perlahan mengubah rasa benci menjadi cinta, dan sikap dingin Elvano berubah menjadi posesif serta sangat romantis.
Sayangnya, kebahagiaan mereka terusik saat mantan kekasih Elvano, Natasha, kembali dengan niat merebutnya kembali. Ditambah kedatangan Ardi, mantan gebetan Aira, serta berbagai fitnah yang memicu kesalahpahaman.
Mampukah mereka melewati semua ujian dan membuktikan bahwa cinta mereka adalah yang terkuat? Ikuti kisah manis, sedih, dan romantis abadi mereka! 💖🔥
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RosaSantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13
“Selamat pagi, Tuan Muda! Selamat pagi, Non Aira!” seru Bibi Asih dan Pak Budi secara serentak dengan senyum yang lebar dan wajah yang berseri-seri menyambut majikannya.
“Selamat pagi, Bi, Pak,” jawab Elvano singkat namun ramah.
Dengan sikap gentleman yang sangat natural, Elvano langsung bergerak sigap menarik kursi makan tepat di hadapannya untuk Aira.
“Duduk sini, Ra,” katanya pelan.
“Te… terima kasih banyak, Mas.” Aira duduk dengan sangat sopan, menata rok bajunya dengan rapi agar tidak terlipat atau terlihat kurang pantas.
Elvano kemudian duduk tepat di hadapan Aira, di seberang meja makan yang cukup panjang itu. Dan mulailah momen sarapan pagi itu."
Suasana di ruang makan itu seketika menjadi hening. Sangat hening. Sunyi senyap. Hanya terdengar suara dentingan sendok dan garpu yang bersentuhan dengan piring keramik. Tidak ada percakapan sama sekali di antara mereka berdua.
Aira mulai mengambil nasi sedikit demi sedikit ke dalam piringnya. Ia memakannya dengan sangat pelan, sangat hati-hati, dan sangat sopan sekali. Matanya fokus menatap piring makanannya, tidak berani mengangkat wajahnya terlalu lama atau menatap suaminya terlalu dalam.
Sesekali ia melirik curi-curi pandang ke arah Elvano yang duduk tenang di hadapannya.
Elvano makan dengan tenang, rapi, dan cukup cepat. Wajahnya kembali datar, ekspresinya kembali ke mode “dingin dan serius” seperti biasanya saat ia sedang fokus atau sedang dalam mode profesional. Tangannya lihai memotong sosis menjadi potongan-potongan kecil yang rapi, memasukkan makanan ke mulutnya tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Sangat table manner.
Aira merasa canggung sekali. Rasanya ada tembok tebal tak terlihat yang memisahkan mereka berdua di meja makan ini. Padahal status mereka adalah suami istri yang sah, tapi rasanya masih seperti dua orang asing yang baru kenal beberapa hari saja.
“Yaa Allah… kenapa jadi kaku banget sih aku…” batin Aira panik dan sedikit kesal pada dirinya sendiri. “Ayo Ra, semangat! Ajak ngobrol dikit dong! Jangan diam aja kayak patung kayu! Jangan malu-malu terus!”
Aira menarik napas panjang pelan-pelan melalui hidung, mengumpulkan seluruh keberanian yang ada di dalam dirinya yang setipis kulit bawang itu.
“E… Emm… Mas?” panggil Aira pelan sekali, suaranya hampir tak terdengar karena terlalu halus dan gemetar.
Elvano menghentikan gerakan tangannya sejenak. Ia menatap Aira dengan alis yang terangkat sedikit, tatapannya tenang menunggu penjelasan.
“Hmm? Kenapa, Ra? Ada yang kurang? Makanannya kurang enak?”
“Ti… tidak kok, Mas…” Aira langsung menunduk lagi, jantungnya berdegup makin kencang bukan main karena gugup setengah mati. “Cuma… cuma mau bilang… nasi gorengnya enak banget ya, Mas. Bumbunya pas banget di lidah, gurih gitu, dan wanginya semerbak banget. Aira suka banget.”
Elvano menatap wajah istrinya yang tampak salah tingkah, pipinya merah merona, dan matanya berkedip sebentar saja. Lalu sudut bibirnya sedikit terangkat membentuk senyum tipis yang sangat cepat dan hampir tak terlihat oleh mata. Senyum yang sangat mahal dan jarang sekali muncul.
“Iya. Bibi Asih memang jago masak, resepnya turun-temurun dari neneknya,” jawab Elvano santai, suaranya terdengar tenang dan rendah. “Makan yang banyak ya, biar kuat dan sehat. Hari ini kan kamu harus beres-beres barang lagi dan kenalan sama lingkungan kan?”
“I… iya Mas. Makasih ya perhatiannya.”
Dan… hening lagi.
Suasana kembali menjadi sunyi senyap. Aira merasa semakin canggung dan salah tingkah. Ia mencoba mengambil segelas air putih di meja untuk melegakan tenggorokannya yang terasa kering dan gatal karena terlalu banyak menahan napas karena gugup dan malu.
Tapi sayang, nasib berkata lain pagi ini.
Saat tangan kecil Aira bergerak untuk mengambil gelas itu, karena tangannya yang sedikit gemetar dan kurang fokus karena panik, siku tangannya yang tertutup kain baju itu…
BRUK!!
…Terbentur cukup keras dengan gelas kopi hitam milik Elvano yang ada tepat di sebelah piring pria itu.
Gelas itu bergoyang hebat, isinya tumpah cukup banyak membasahi taplak meja mewah itu, dan bahkan menetes sedikit ke atas meja kayu yang mengkilap dan sedikit mengenai ujung lengan jas mahal yang dikenakan Elvano!
“Astaga! Aduh!!”
Aira menjerit kecil kaget dan panik setengah mati. Wajahnya yang tadi memerah karena malu kini langsung berubah pucat pasi seketika.
“Ma… maafkan Aira, Mas! Maaf banget! Aira tidak sengaja! Aduh gimana ini, kopinya tumpah kena baju Mas! Kena meja juga! Aduh Aira ceroboh banget!”
Aira langsung panik bukan main. Ia buru-buru mengambil kotak tisu di meja, lalu mencoba mengelap tumpahan itu dengan tangan yang gemetar hebat. Ia mencoba mengelap meja, lalu mencoba mengelap lengan jas Elvano dengan gerakan yang kacau dan tak karuan. Matanya sudah mulai berkaca-kaca siap menangis karena takut dimarahi habis-habisan.
“Maaf ya Mas… Maaf banget pagi-pagi sudah bikin masalah… Maaf…”
Elvano yang melihat pemandangan di hadapannya ini justru tidak marah sama sekali. Tidak ada sedikit pun raut muka kesal, marah, atau pun kecewa di wajah tampannya itu.
Ia justru menghentikan gerakan tangan Aira yang sibuk mengelap sembarangan dan panik itu dengan tangannya sendiri.
HAP!
Tangan Elvano yang hangat, besar, dan kokoh itu menangkap pergelangan tangan Aira pelan tapi pasti, menghentikan kegiatannya yang berantakan itu agar tidak makin memperparah keadaan.
“Udah, udah… jangan dipikirin,” ucap Elvano tenang, suaranya tidak meninggi sama sekali, justru terdengar sangat lembut dan menenangkan. “Cuma tumpah dikit doang kok. Gak apa-apa sama sekali. Gak ada yang rusak kok.”
“Ta… tapi kan kotor, Mas… dan kena baju Mas juga yang bagus itu…” Aira masih menunduk penuh rasa bersalah yang mendalam, air matanya hampir jatuh menetes ke meja.
“Gak masalah, Ra. Beneran gak apa-apa.” Elvano melepaskan tangan Aira perlahan, lalu ia sendiri yang mengambil tisu dan mengelap meja itu dengan santai dan tenang seolah itu hal biasa. “Udah, lupakan aja ya kejadiannya. Jangan panik begitu dong, kamu bikin aku ikut panik dan gemas liatnya.”
Aira mengerjap bingung, ia menatap wajah Elvano dengan tatapan yang takjub dan tidak percaya. “Ta… tapi Mas biasanya kan kalau ada yang kotor-kotor atau ceroboh langsung marah besar ya? Aira dengar dari cerita orang sih…” tanyanya polos dan jujur.
Elvano mendengar pertanyaan polos itu, dan kali ini ia benar-benar tertawa kecil. Suara tawanya renyah, lepas, dan sangat enak didengar, memecah keheningan pagi itu dan membuat suasana menjadi jauh lebih cair.
“Aku galak sama orang lain, sama orang yang salah, sama orang yang tidak becus kerja. Bukan sama istriku sendiri,” jawab Elvano santai sambil terus mengelap sisa tumpahan kopi itu. “Lagipula cuma kopi doang kan? Bisa dibikin lagi, sebentar juga jadi. Baju juga bisa dicuci atau diganti sama yang lain. Yang penting kamu gak kaget, gak kepanasan, atau kenapa-napa.”
Elvano menatap Aira lekat-lekat, tatapannya teduh sekali, hangat, dan penuh rasa sayang yang mulai tumbuh. “Udah ya, jangan minta maaf terus. Makan lagi yang banyak. Oke?”
“I… iya Mas…” Aira akhirnya tersenyum lega, napasnya terasa lega sekali seperti dibebankan beban berat dari pundaknya.
“Makasih ya Mas Elvano udah sabar banget sama Aira. Aira janji nanti bakal lebih hati-hati.”
Di sudut ruangan yang tidak terlalu jauh dari meja makan, tepat di dekat pintu dapur yang sedikit tertutup, berdiri dua sosok yang sejak tadi mematung dan tidak berani bergerak sedikit pun. Mereka adalah Bibi Asih dan Pak Budi.
Mata mereka tak lepas-lepas menyaksikan seluruh interaksi yang terjadi antara majikan muda mereka, Elvano Praditya, dan sang istri baru, Aira Maharani. Mereka menyaksikan segalanya tanpa berkedip. Mulai dari bagaimana Aira terlihat panik luar biasa karena tidak sengaja menumpahkan kopi, bagaimana tangan kokoh Elvano dengan lembut menahan tangan kecil Aira agar tidak semakin kacau, dan yang paling membuat mereka takjub setengah mati adalah melihat bagaimana wajah dingin, serius, dan galak khas Elvano berubah drastis menjadi begitu lembut, sabar, dan penuh kasih sayang saat berhadapan dengan istrinya.
Melihat pemandangan itu, dada Bibi Asih terasa begitu sesak oleh haru yang luar biasa. Ia memegang dadanya sendiri yang berdegup dengan kencang, matanya perlahan berkaca-kaca tak kuasa menahan rasa haru yang memuncak. Ia menoleh perlahan ke arah Pak Budi yang berdiri di sebelahnya, lalu berbisik dengan suara yang sangat pelan namun penuh dengan semangat dan getaran emosi.
“Duh Gusti… Budi… kamu lihat itu gak? Lihat itu dengan mata kepala sendiri?!” bisik Bibi Asih tak percaya, suaranya bergetar hebat.
Pak Budi mengangguk cepat berkali-kali, matanya yang tertutup kacamata juga tampak berbinar-binar penuh kekaguman.
“Lihat dong Bi! Gila ya… gak nyangka banget! Saya kira saya bermimpi liat pemandangan ini!” jawab Pak Budi berbisik tak kalah antusiasnya.
“Dulu kan gimana, Budi? Ingat gak zaman dulu?” lanjut Bibi Asih bercerita pelan, matanya masih sesekali melirik curi-curi ke arah meja makan di mana sepasang suami istri itu sedang duduk. “Dulu kalau ada yang salah sedikit aja, misal piring kurang kinclong, atau kopi kurang manis, atau tumpah dikit doang… Tuan Muda itu mukanya bisa langsung berubah jadi serem banget! Dingin, tatapannya tajam kayak pisau, suaranya berat bikin bulu kuduk merinding semua orang di rumah ini. Orang bisa gemetar ketakutan cuma karena ditatap doang lho, Bud!”
“Iya banget Bi! Betul banget omongan Bibi!” sahut Pak Budi cepat menyetujui. “Apalagi soal kerapian dan kebersihan. Tuan Elvano itu perfeksionis tingkat dewa. Dulu rumah ini harus rapi sempurna, bersih sempurna, dan sunyi senyap sempurna. Kalau ada yang berantakan sedikit aja, langsung dimarahin habis-habisan tanpa ampun. Saya aja dulu sering deg-degan setengah mati kalau mau masuk kamarnya atau melapor.”
“Nah itu dia! Tapi lihat sekarang?! Lihat apa yang terjadi barusan?!” Bibi Asih tersenyum lebar sekali, senyum paling tulus dan bahagia yang pernah ia tampilkan selama belasan tahun mengabdi di rumah mewah ini. “Lihat Non Aira tumpahin kopi, bikin kotor meja mahal itu, malah Tuan Muda yang sabar banget! Gak marah sama sekali! Malah dia yang nenangin Non Aira biar gak panik! Duh… rasanya pengen nangis haru gitu lho, Budi, liatnya.”
“Iya nih Bi. Perubahannya drastis banget. Sifat dinginnya luntur, galaknya hilang entah kemana, diganti sama sifat lembut dan perhatian yang luar biasa. Itu namanya cinta ya, Bi? Hebat ya kekuatan cinta?” tanya Pak Budi polos namun penuh dengan makna.
“Pasti itu cinta, Budi! Pasti banget!” Bibi Asih mengangguk mantap sekali, keyakinannya penuh. “Liat deh tatapan matanya Tuan Muda ke Non Aira. Beda banget jauh sama tatapan ke orang lain. Penuh rasa punya, penuh rasa sayang, penuh rasa ingin lindungi. Matanya melekuk manis gitu lho kalau liat Non Aira.”
Tiba-tiba Bibi Asih menghela napas panjang yang sangat dalam, lalu berkata dengan nada yang sangat lembut dan penuh perasaan, kalimat yang keluar begitu saja dari hatinya yang paling dalam tanpa dipikirkan:
“Sejak Non Aira masuk ke rumah ini… Rumah jadi hangat ya, Budi.”
Kalimat itu terdengar sederhana, tapi begitu dalam maknanya hingga mampu membuat Pak Budi terdiam sejenak.
Pak Budi menatap sekeliling ruangan yang megah itu, lalu ia mengangguk setuju dengan wajah yang juga ikut tersenyum bahagia dan haru.
“Betul banget kata Bibi,” jawab Pak Budi pelan, suaranya ikut bergetar haru. “Dulu rumah ini besar, mewah, mahal… tapi rasanya dingin banget kayak istana es. Kosong, sepi, gak ada nyawanya sama sekali. Tapi sekarang… beneran kata Bibi, Rumah jadi hangat. Rasanya berasa ada isinya, berasa ada pemiliknya yang saling sayang menyayang, berasa ada cinta yang mengalir di setiap sudut ruangan ini.”
“Nah itu dia! Non Aira itu beneran bidadari yang Tuhan kirim khusus buat lembutin hati Tuan Muda yang keras kayak batu itu lho, Bud. Sejak ada Non Aira, rumah ini kedengeran suara orang ngobrol, kedengeran suara ketawa, udah gak serem lagi kayak kuburan atau gedung kosong.”
“Aamiin, Bi. Semoga langgeng terus ya sampai tua nanti. Semoga cepat dikasih momongan juga, biar rumah ini makin rame sama suara tangis dan ketawa anak kecil yang lucu,” doa Pak Budi tulus.
“Aamiin ya Rabbal Alamin. Itu yang paling Bibi doakan setiap malam.”
Mereka berdua pun kembali berdiri tegak dengan wajah yang ceria dan semangat yang baru, siap melayani dengan sepenuh hati. Karena melihat majikan mereka bahagia, rasanya pekerjaan mereka pun terasa sangat ringan, menyenangkan, dan tidak terasa beban sama sekali.