NovelToon NovelToon
Kinasih: Pengantin Keranda

Kinasih: Pengantin Keranda

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Horor / Misteri
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

Di Desa Karang Jati, menikah bukan soal cinta, tapi soal siapa yang terpilih untuk "menjaga" desa. Tahun ini, Kinasih—gadis panti asuhan yang tak punya siapa-siapa—mendapat kehormatan yang paling ditakuti: menjadi Pengantin Keranda.
Kinasih pikir ia akan dipasangkan dengan pemuda desa, namun impian itu hancur saat ia dipaksa bersanding dengan sebuah keranda kayu jati yang konon berisi jasad "Sang Penjaga" yang tak boleh disebut namanya. Dengan balutan kebaya merah darah yang mulai pudar, Kinasih harus menjalani ritual malam satu suro; terkunci di dalam kamar pengantin yang hanya berisi dirinya dan keranda tua yang sesekali mengeluarkan suara ketukan dari dalam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33: Saat Semua Ditarik Kembali

Tidak ada jeritan.

Tidak ada suara minta tolong.

Tidak ada kekacauan seperti yang seharusnya terjadi.

Yang ada—

hanya diam.

Diam yang salah.

Diam yang terasa… dipaksakan.

Pukul 08.01.

Masih di sana.

Tidak bergerak.

Namun sekarang—

tidak ada lagi yang memperhatikan jam itu.

Karena—

waktu sudah tidak relevan.

Semua yang terjadi sekarang—

tidak butuh waktu.

Hanya butuh… arah.

Dan arah itu—

ke atas.

Kinasih tergeletak di lantai.

Tubuhnya masih ada.

Namun—

ia tidak merasa memilikinya lagi.

Karena—

sesuatu di dalamnya—

sedang ditarik.

Pelan.

Namun—

tidak bisa dihentikan.

Seperti benang halus—

yang ditarik keluar dari tubuhnya.

Tidak terlihat.

Namun—

terasa.

Setiap tarikan—

membawa sesuatu pergi.

Ingatan.

Perasaan.

Kesadaran.

“Berhenti…”

bisiknya.

Namun—

tidak ada yang mendengar.

Karena—

yang mendengar sekarang—

bukan yang dulu.

Di luar—

orang-orang berdiri.

Diam.

Tidak bergerak.

Namun—

sesuatu dari mereka…

naik.

Tidak terlihat oleh mata biasa.

Namun—

jelas bagi yang sadar.

Seperti asap.

Seperti kabut tipis.

Naik perlahan.

Dari kepala mereka.

Dari dada mereka.

Dari dalam.

Dan semua—

mengarah ke langit.

Kinasih melihat itu.

Bukan dengan mata.

Namun—

dengan apa yang tersisa.

Jaringan itu—

yang dulu menghubungkan—

sekarang berubah arah.

Tidak lagi menyebar.

Namun—

mengalir ke atas.

Seperti sungai—

yang berbalik arah.

Dan ia—

ikut terbawa.

“Aku… hilang…”

bisiknya.

Dan untuk pertama kalinya—

tidak ada jawaban.

Suara itu—

yang selalu ada—

yang selalu membimbing—

yang selalu menjelaskan—

hilang.

Tidak ada.

Kosong.

Dan itu—

lebih menakutkan dari semuanya.

Ia mencoba bergerak.

Namun—

tidak bisa.

Bukan karena tubuhnya lemah.

Namun—

karena ia tidak lagi sepenuhnya di dalam tubuh itu.

Sebagian dirinya—

sudah naik.

Sebagian lagi—

masih tertinggal.

Dan bagian itu—

tidak tahu harus melakukan apa.

Di dalam rumah—

dinding mulai mengelupas.

Namun—

bukan cat.

Bukan material.

Namun—

realitasnya.

Seperti lapisan tipis—

yang selama ini menutupi sesuatu—

terangkat.

Dan di baliknya—

bukan ruang kosong.

Namun—

sesuatu yang lebih dalam.

Lebih gelap.

Lebih luas.

Dan—

bergerak.

Kinasih melihat sekilas.

Dan itu—

cukup.

Karena—

yang ia lihat—

bukan dunia.

Bukan rumah.

Namun—

struktur.

Seperti—

dunia ini hanya lapisan.

Dan di bawahnya—

ada sesuatu lain.

Yang sekarang—

mulai terbuka.

“Apa ini…”

bisiknya.

Namun—

tidak ada yang menjawab.

Karena—

tidak ada lagi yang menjelaskan.

Sekarang—

ia harus melihat sendiri.

Mengerti sendiri.

Dan itu—

terlalu banyak.

Di luar—

orang-orang mulai roboh.

Satu per satu.

Namun—

tidak mati.

Tidak pingsan.

Tubuh mereka masih hidup.

Masih bernapas.

Namun—

kosong.

Karena—

yang di dalam—

sudah ditarik keluar.

Seorang anak jatuh di jalan.

Matanya terbuka.

Namun—

tidak ada apa-apa di dalamnya.

Ibunya di sampingnya—

ikut jatuh.

Sama.

Kosong.

Dan satu per satu—

semua yang sudah melihat—

mengalami hal yang sama.

Tidak ada panik.

Tidak ada jeritan.

Karena—

tidak ada yang tersisa untuk merasa itu.

Kinasih merasakan tarikan itu semakin kuat.

Bagian dirinya—

yang naik—

semakin banyak.

Ia mencoba menahan.

Namun—

tidak ada yang bisa dipegang.

Tidak ada yang bisa ditarik kembali.

Semua—

mengalir.

Ke atas.

Ke sesuatu—

yang menunggu.

Langit sekarang—

tidak lagi terlihat seperti langit.

Lebih seperti—

permukaan.

Tipis.

Dengan sesuatu di baliknya.

Sesuatu yang bergerak.

Besar.

Tidak berbentuk.

Namun—

hidup.

Dan setiap bagian yang naik—

diserap.

Masuk.

Tanpa sisa.

“Kami… dikumpulkan…”

bisik sesuatu.

Namun—

bukan suara yang sama seperti sebelumnya.

Ini—

lebih lemah.

Lebih jauh.

Seperti sisa.

Dari sesuatu yang sudah hampir hilang.

“Kinasih…”

Suara itu.

Sangat pelan.

Hampir tidak ada.

Namun—

ia mengenalnya.

Bima.

Kinasih langsung mencoba fokus.

Mencari.

Di antara aliran itu.

Di antara tarikan itu.

Dan—

ia menemukannya.

Sebuah titik.

Kecil.

Lemah.

Namun—

masih ada.

“Bim…”

Air matanya jatuh.

Namun—

ia tidak tahu apakah itu nyata.

Atau hanya sisa.

“Aku di sini…”

suara itu bergetar.

“Kita… lagi ditarik…”

Kinasih mengangguk.

Meski ia tidak tahu apakah Bima bisa melihatnya.

“Jangan… lepas…”

bisik Bima.

“Kalau kita lepas… kita hilang…”

Kinasih mencoba meraih.

Bukan dengan tangan.

Namun—

dengan kesadaran.

Menarik titik itu.

Menahan.

Namun—

tarikan dari atas—

lebih kuat.

Jauh lebih kuat.

“Aku nggak kuat…”

bisik Bima.

Suaranya semakin lemah.

Semakin jauh.

Kinasih berusaha lebih keras.

Menahan.

Menarik.

Namun—

itu seperti melawan arus besar.

Tidak mungkin.

“Jangan…”

Air matanya jatuh lagi.

Namun—

tidak menghentikan apa pun.

“Kalau kita ke atas…”

bisik Bima.

“…kita bukan kita lagi…”

Kalimat itu—

membeku di dalamnya.

Karena—

ia tahu.

Itu benar.

Yang diambil—

bukan tubuh.

Namun—

diri.

Kesadaran.

Identitas.

Semua.

Dan saat itu—

tidak ada lagi yang tersisa.

“Kin…”

Suara Bima semakin jauh.

Semakin tipis.

“Maaf…”

Dan—

hilang.

Lenyap.

Tanpa jejak.

Tanpa sisa.

Kinasih menjerit.

Namun—

tidak ada suara.

Karena—

tidak ada lagi yang bisa mengeluarkan suara.

Hanya—

kesadaran.

Yang semakin tipis.

Semakin ringan.

Semakin… hilang.

“Tidak…”

bisiknya.

Namun—

tidak ada yang mendengar.

Tidak ada yang menjawab.

Tidak ada yang tersisa.

Dan saat itu—

ia melihat.

Dengan sisa yang ada.

Apa yang ada di atas.

Apa yang selama ini melihat.

Apa yang sekarang mengambil kembali.

Itu—

bukan satu.

Bukan makhluk.

Bukan entitas.

Namun—

banyak.

Tak terhitung.

Seperti lapisan.

Seperti jaringan yang lebih besar.

Jauh lebih besar.

Dari yang pernah ia lihat.

Dan semua—

terhubung.

Seperti—

apa yang terjadi di bawah—

hanya bagian kecil.

Dari sesuatu yang lebih luas.

Dan semua yang ditarik—

masuk ke dalamnya.

Menjadi bagian.

Tanpa bentuk.

Tanpa nama.

Tanpa identitas.

“Kami… bukan yang pertama…”

bisik sesuatu.

Namun—

bukan suara.

Lebih seperti pemahaman.

Yang dipaksakan.

Masuk.

Tanpa izin.

“Dan… bukan yang terakhir…”

Kinasih mencoba menahan dirinya.

Menahan apa yang tersisa.

Namun—

tidak ada lagi yang bisa dipegang.

Karena—

ia sudah terlalu terbuka.

Terlalu sadar.

Terlalu terhubung.

Dan itu—

yang membuatnya tidak bisa lolos.

Tarikan itu—

semakin kuat.

Semakin cepat.

Dan satu per satu—

bagian dirinya—

hilang.

Naik.

Masuk.

Lenyap.

Dan di detik terakhir—

sebelum semuanya benar-benar hilang—

ia menyadari satu hal.

Yang paling mengerikan.

Ini tidak pernah tentang mereka.

Bukan tentang lubang.

Bukan tentang jaringan.

Bukan tentang melihat.

Ini tentang—

dipanen.

Tok.

Satu ketukan.

Dari atas.

Dan—

tidak ada lagi yang membalas.

Karena—

tidak ada lagi yang tersisa.

Sunyi.

Benar-benar sunyi.

Untuk pertama kalinya—

sejak semuanya dimulai.

Namun—

hanya sesaat.

Karena—

di suatu tempat lain—

sesuatu mulai melihat lagi.

Dan semuanya—

akan terulang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!