Sepuluh tahun lalu, keluarga Arlan hancur dalam semalam karena konspirasi korporasi besar "Vanguard Group". Orang tuanya dijebak sebagai pengkhianat negara dan tewas dalam kecelakaan yang diatur. Arlan kembali dengan identitas baru, "Joker"—seorang manipulator bayangan yang tidak membunuh dengan peluru, melainkan dengan menghancurkan reputasi dan mental musuhnya.
Di sisi lain, Elara, putri dari CEO Vanguard Group, adalah seorang detektif cerdas yang mencoba membersihkan nama kepolisian. Dia mulai mengejar Joker, tanpa menyadari bahwa pria yang dia cintai di kehidupan normal adalah sosok di balik topeng yang ingin menghancurkan ayahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Tertawa di Atas Penderitaan
Menyaksikan seseorang kehilangan jiwanya bukanlah sebuah proses yang dramatis seperti di dalam film. Tidak ada jeritan yang menggelegar ke langit, dan tidak ada kilatan petir yang menyambar.
Proses itu terjadi dalam keheningan yang mematikan. Seperti melihat selembar kertas putih yang perlahan menyerap setetes tinta hitam pekat, hingga tak ada lagi warna asli yang tersisa.
Aku duduk bersandar di kursi kayu ruko tua ini, menatap Elara yang sedang bersiap. Gerakannya tidak lagi canggung atau dipenuhi keraguan seperti beberapa jam yang lalu. Ia mengikat rambut panjangnya menjadi cepol yang sangat ketat di belakang kepala. Ia mengenakan kembali jaket kulit hitamnya yang kotor, menyembunyikan pistol Glock-19 di balik pinggangnya, dan memasukkan dua buah magasin cadangan ke saku kargonya.
Matanya... matanya adalah bagian yang paling mengerikan sekaligus paling memesona. Duka dan kebingungan yang sebelumnya menggenang di sana telah menguap. Yang tersisa hanyalah kekosongan yang sangat dingin. Kekosongan yang sama persis dengan yang kulihat setiap kali aku menatap pantulanku sendiri di cermin selama sepuluh tahun terakhir.
Darmawan Salim bermaksud mematahkan semangat putrinya dengan mengirimkan api ke gudang Marunda. Tapi pria tua itu melakukan kesalahan fatal. Ia tidak membakar Elara hingga menjadi abu; ia membakarnya di dalam tungku pandai besi, dan menempanya menjadi sebilah pedang yang siap menebas lehernya sendiri.
"Pusat Forensik dan Identifikasi Kepolisian berada di sayap barat gedung utama," suara Elara memecah kesunyian, menunjuk ke sebuah denah kasar yang baru saja ia gambar di atas selembar kertas HVS menggunakan spidol. "Akses masuk utamanya dijaga dua puluh empat jam oleh penjaga bersenjata, dan menggunakan pemindai retina kepala divisi."
"Retasan digital dari jarak jauh tidak akan bekerja pada server berpendingin air (air-gapped) seperti milik polisi," tanggapku, menahan ringisan pelan saat aku membetulkan letak perban di rusukku. "Kita harus memasukkan payload virusnya secara langsung melalui port fisik di ruang server mereka."
Elara mengangguk tanpa ragu. Ia menunjuk sebuah titik kecil di bagian belakang sayap barat denah tersebut.
"Dua tahun lalu, saluran ventilasi bawah tanah di area ini direnovasi karena banjir. Jalur itu terhubung langsung ke ruang bawah tanah penyimpanan barang bukti, tepat satu lantai di bawah ruang server forensik," Elara mengetuk kertas itu dengan jari telunjuknya. "Tidak ada kamera di gorong-gorong itu. Dan sistem alarm di pintu darurat lantai bawah menggunakan keypad numerik kuno karena anggaran kepolisian selalu dikorupsi sebelum sampai ke divisi pemeliharaan."
Aku menatapnya dengan senyum tipis di balik masker medis yang kembali kukenakan. "Kau menguasai anatomi markasmu sendiri dengan sangat baik, Detektif."
"Aku tidak pernah menjadi detektif untuk mereka, Arlan. Aku hanya pion yang diberi lencana," jawabnya datar, tidak ada emosi dalam nada bicaranya. "Dan malam ini, pion itu akan mematikan sistem mereka."
Tiga jam kemudian, pukul dua dini hari.
Gedung Pusat Forensik Kepolisian menjulang di tengah rintik hujan malam Jakarta. Benteng beton yang seharusnya menjadi tempat di mana kebenaran diungkap melalui mikroskop dan analisis DNA. Namun malam ini, tempat itu hanyalah sebuah pabrik kebohongan yang memproduksi skenario palsu pesanan Vanguard Group.
Sesuai instruksi Elara, kami tidak mendekati gedung itu dari jalan raya. Kami merayap melalui jalur gorong-gorong drainase kota yang bau dan pengap, merendam sepatu bot kami dalam lumpur hingga akhirnya mencapai sebuah jeruji besi di area belakang kompleks kepolisian.
Aku menggunakan cairan asam pelarut logam yang kubawa dalam botol kecil. Hanya butuh tiga menit bagi asam itu untuk melelehkan engsel jeruji besi tersebut tanpa menimbulkan suara berisik layaknya mesin pemotong.
Kami menyelinap masuk ke dalam ruang bawah tanah penyimpanan barang bukti. Udara di sini sangat dingin, diatur oleh mesin pendingin sentral. Deretan rak besi raksasa yang dipenuhi kotak-kotak kardus cokelat berjejer seperti barisan nisan di pemakaman.
Kami bergerak dalam diam. Elara berjalan di depanku. Langkahnya luar biasa sunyi, menghindari setiap titik decit di lantai linoleum yang usang. Ia tidak terlihat seperti polisi yang sedang menyusup; ia terlihat seperti predator yang hafal setiap jengkal sarangnya.
Saat kami mencapai tangga darurat yang mengarah ke lantai atas—ruang server forensik—sebuah pintu baja dengan keypad numerik menghalangi jalan kami.
Aku melangkah maju, merogoh saku jaketku untuk mengambil perangkat dekripsi (brute-force scripter). Butuh waktu sekitar dua menit bagi alatku untuk mengacak jutaan kombinasi angka.
Namun, Elara menahan lenganku.
"Itu akan memicu log kesalahan di ruang keamanan," bisiknya pelan, menatap keypad tersebut.
Tanpa ragu, jari-jarinya menari cepat di atas tombol-tombol berdebu itu. Tujuh. Tiga. Sembilan. Kosong. Dua. Bintang.
Lampu indikator yang tadinya berwarna merah, seketika berubah menjadi hijau diiringi bunyi klik mekanis yang sangat halus.
Aku menatapnya dari balik topeng porselen putih yang kukenakan. Ia baru saja membobol keamanan level tiga dalam waktu kurang dari lima detik.
"Kepala pemeliharaan IT divisi ini adalah pria pemalas bernama Yudi. Dia menggunakan tanggal lahir putri bungsunya sebagai sandi darurat sejak empat tahun lalu dan tidak pernah menggantinya," Elara menjelaskan tanpa diminta, mendorong pintu baja itu perlahan. "Sistem yang paling canggih selalu memiliki celah pada kebodohan manusianya."
Aku menyeringai di balik topengku. Ia belajar dengan sangat cepat.
Kami menaiki tangga beton dalam kegelapan, hanya mengandalkan cahaya neon redup yang memantul dari lorong.
Di lantai dua, tepat di depan ruang server utama berlapis kaca tebal, berdirilah seorang petugas kepolisian berseragam. Ia sedang duduk di kursi lipat, mengunyah permen karet sambil menatap layar ponselnya yang memutar video komedi. Ia tertawa pelan, sama sekali tidak menyadari kematian yang baru saja naik dari ruang bawah tanah.
Aku mencabut pelumpuh kejut (stun gun) dari balik jaketku, bersiap melangkah keluar dari bayangan tangga untuk melumpuhkannya. Jika aku menyengat lehernya, ia akan pingsan selama dua jam tanpa luka mematikan.
Sekali lagi, Elara menahan dadaku dengan telapak tangannya.
Ia menggeleng pelan, memberi isyarat agar aku tetap bersembunyi. Lalu, sebelum aku sempat mencegahnya, Elara melangkah keluar dari bayang-bayang. Ia berjalan santai ke arah petugas penjaga itu, membiarkan cahaya lampu lorong menyinari wajahnya.
Petugas itu mendongak saat mendengar suara langkah kaki. Matanya membulat sempurna saat melihat wajah Elara. Wajah detektif yang berita kematiannya baru saja disiarkan di seluruh stasiun televisi sore tadi. Wajah yang tulangnya seharusnya sedang diidentifikasi di dalam laboratorium forensik di sebelahnya.
Mulut petugas itu terbuka lebar, permen karetnya nyaris terjatuh. Wajahnya pucat pasi seolah baru saja melihat penampakan hantu wanita dari neraka.
"Detektif... Detektif Elara?!" suaranya bergetar hebat, tangannya gemetar meraih radio komunikasi di bahunya. "Kau... bukankah kau..."
"Halo, Bripka Anton," sapa Elara dengan nada yang sangat bersahabat, namun sorot matanya sedingin balok es.
Ia terus berjalan maju hingga jarak mereka hanya setengah meter.
"Kau hidup?! Bagaimana bisa? Laporan forensik mengatakan..." Anton masih tergagap, pikirannya gagal memproses realita.
"Laporan forensik kadang bisa salah, Anton," potong Elara lembut.
Di detik berikutnya, dengan kecepatan yang sangat mengejutkan, tangan kanan Elara melesat ke depan. Bukan memegang pistol, melainkan menghantamkan pangkal telapak tangannya tepat ke titik saraf brachial plexus di sisi leher Bripka Anton.
Hantaman itu presisi dan brutal. Anton tersentak, matanya berputar ke atas, dan tubuhnya langsung kehilangan kesadaran seketika. Sebelum tubuh besar petugas itu membentur lantai dan membuat kegaduhan, Elara menangkap kerahnya dengan sigap dan menurunkannya perlahan ke atas lantai.
Aku melangkah keluar dari bayangan, menatap Elara yang sedang menggeledah saku petugas yang pingsan itu dan mengambil sebuah kartu akses berwarna biru.
"Kau bisa saja membuatnya mati syok jika hantamanmu bergeser dua sentimeter ke arah jakun," gumamku, setengah takjub setengah terkejut. Elara benar-benar tidak lagi menahan diri.
"Dia polisi yang baik. Aku tidak ingin dia mati," jawab Elara datar, menempelkan kartu akses biru itu ke pemindai pintu kaca ruang server. "Tapi dia terlalu banyak menonton video di jam tugas. Itu adalah hukuman yang pantas."
Pintu kaca bergeser terbuka. Hawa dingin ekstrem yang disemburkan oleh unit AC raksasa langsung membekukan kulit kami. Suara dengung ratusan mesin server terdengar seperti sarang lebah mekanis. Di sinilah jantung data seluruh kepolisian disimpan.
Aku melangkah mendekati konsol terminal utama yang menyala di tengah ruangan.
Tubuhku terasa seperti akan remuk. Jahitan di lenganku berdenyut meminta darah. Tulang rusukku terasa seperti retak setiap kali aku bergerak terlalu cepat. Namun saat aku melihat barisan data di layar monitor ini, semua rasa sakit itu tertelan oleh adrenalin.
Aku mencolokkan flashdisk khususku ke dalam port terminal. Jari-jariku menari di atas keyboard, membongkar partisi keamanan menggunakan kredensial tingkat komandan yang Elara berikan padaku.
Dalam waktu kurang dari dua menit, aku masuk ke dalam folder penyimpanan Laporan Forensik Harian.
"Cari laporan dengan namaku. Tanggal hari ini. Diunggah oleh Dokter Kusnadi, Kepala Forensik," perintah Elara yang berdiri di belakangku, matanya terus mengawasi pintu kaca.
Aku mengetikkan kata kunci tersebut. Sebuah file PDF muncul dengan lambang gembok enkripsi tingkat tinggi di sebelahnya.
Laporan_Otopsi_DNA_ESalim_Gudang14.pdf
Aku membukanya dengan paksa menggunakan skrip retasanku. Layar monitor menampilkan dokumen resmi berkop kepolisian. Dokumen itu sangat rinci. Terdapat foto-foto serpihan tulang hangus, analisis susunan gigi, dan pencocokan DNA yang secara meyakinkan menyatakan kecocokan 99,9% dengan sampel sikat gigi Elara yang 'kebetulan' dikirimkan oleh pihak keluarga (Darmawan Salim) pagi tadi.
Tanda tangan Dokter Kusnadi tertera tebal di bagian bawah laporan, disahkan oleh stempel resmi negara.
"Mereka bekerja cepat sekali," Elara tertawa getir di belakangku. Tawa yang terdengar sangat kering dan hampa. "Uang Darmawan Salim bisa membuat tulang anjing pelacak sekalipun memiliki DNA anak kandungnya jika ia menginginkannya."
"Kusnadi menjual integritasnya dengan harga yang pasti sangat fantastis," gumamku. "Darmawan akan menggunakan laporan ini pada konferensi pers pukul sembilan pagi besok. Dia akan menangis di depan ribuan lensa kamera. Dia akan memeluk peti mati kosong yang berisi abu kayu, meminta masyarakat untuk bersatu melawan teroris gila bernama Joker yang telah merenggut putri kesayangannya."
Darmawan akan menjadi pahlawan yang teraniaya. Reputasinya akan meroket, dan pengamanannya akan dilipatgandakan oleh simpati negara.
Aku menatap laporan palsu di layar itu. Sebuah ilusi yang dirancang dengan sangat sempurna untuk mengelabui jutaan manusia.
Tiba-tiba, tanpa bisa kutahan, sebuah tawa pelan lolos dari balik topengku. Awalnya hanya getaran di bahu, lalu berubah menjadi kekehan parau, dan akhirnya meledak menjadi tawa yang menggema di dalam ruang server berpendingin ini.
Aku menertawakan absurditas dari semua ini.
Aku tertawa karena membayangkan pria setua dan selicik Darmawan Salim, sedang duduk di rumah mewahnya malam ini, melatih pidato duka citanya di depan cermin. Ia mengira ia memegang kendali penuh. Ia mengira penderitaan yang ia ciptakan untuk keluargaku dan untuk Elara adalah tiket menuju keabadian kerajaannya.
"Arlan?" Elara menatapku dengan kening berkerut. "Kenapa kau tertawa?"
"Aku membayangkan wajah ayahmu besok pagi," jawabku, menghentikan tawaku, mengubahnya kembali menjadi kedinginan yang mematikan. "Dia adalah sutradara yang luar biasa. Dia menyiapkan panggung, dia mengundang media, dan dia menulis naskahnya. Tapi dia lupa bahwa kita berada di ruang kontrol teaternya malam ini."
"Apa yang akan kau lakukan? Menghapus file ini?" tanya Elara. "Jika kau menghapusnya, Kusnadi hanya perlu mencetaknya ulang besok."
"Menghapus kebohongan tidak akan menghancurkan pembohongnya," aku menggeleng, mataku terkunci pada keyboard. "Kita tidak akan menghapusnya. Kita akan menggantinya dengan sebuah kebenaran yang jauh lebih mematikan."
Aku membuka program skrip injeksi (payload) dari flashdisk-ku.
"Darmawan tidak akan membacakan laporan ini dari kertas. Konferensi pers besok akan dilakukan di aula utama kepolisian. Mereka akan menampilkan salinan PDF ini di layar proyektor raksasa agar semua stasiun TV bisa meliput bukti ilmiah kematianmu," jelasku, mengetik barisan kode yang akan menjebak file tersebut.
Aku menyalin file PDF laporan palsu itu, membongkar struktur metadata-nya, dan menanamkan sebuah bom waktu digital di dalamnya.
"Saat operator komputer di aula besok pagi mengklik tombol Fullscreen untuk menampilkan laporan forensik ini ke layar raksasa, file ini tidak akan menampilkan gambar tulang belulangmu, El," aku menyeringai di balik topeng, membiarkan racun balas dendam ini menguasai nadiku.
Aku mengakses kamera web laptop milik Bripka Anton yang tergeletak di luar tadi melalui jaringan nirkabel.
"Buka maskermu, Elara. Menghadaplah ke arah lensa kamera kecil di ujung ruangan itu," perintahku.
Elara terdiam sejenak. Ia memahami apa yang sedang kurencanakan. Ia sedang menata ulang kematiannya sendiri untuk menghancurkan sang pembunuh.
Ia menarik turun kerah ritsleting jaketnya. Wajahnya yang penuh memar, kotor oleh jelaga, dan sorot matanya yang dipenuhi oleh kebencian absolut, kini menatap lurus ke arah lensa kamera pengawas di sudut ruang server.
Aku menekan tombol rekam.
"Katakan apa yang ingin kau katakan pada ayahmu di depan jutaan rakyat negeri ini besok pagi," bisikku.
Elara mengambil napas dalam-dalam. Tidak ada air mata. Tidak ada nada bergetar. Ia berbicara dengan suara detektif yang sedang membacakan dakwaan untuk seorang terdakwa hukuman mati.
"Halo, Ayah," suara Elara terekam dengan sangat jernih. "Aku tahu kau sedang menangis di depan kamera sekarang. Aku tahu kau sedang meminta keadilan atas kematianku. Tapi seperti yang selalu kau ajarkan padaku saat kecil... tidak ada kebohongan yang tidak bisa dikubur tanpa meninggalkan bau busuk."
Elara menatap lurus, seolah ia bisa melihat mata Darmawan Salim menembus lensa tersebut.
"Pria yang berdiri di podium itu, Darmawan Salim, CEO Vanguard Group, bukanlah seorang ayah yang berduka. Dia adalah monster yang mengirim enam orang pembunuh bayaran untuk membakarku hidup-hidup di Gudang 14 Marunda, hanya karena aku menemukan bukti bahwa ia memerintahkan pembunuhan Detektif Arya, pria yang sudah kuanggap Seperti ayahku sendiri, sepuluh tahun yang lalu. Laporan forensik yang ia bayar dengan miliaran rupiah hari ini adalah palsu."
Elara menyelesaikan kalimatnya dengan sebuah kalimat penutup yang akan membuat seluruh lantai bursa saham dan markas kepolisian terguncang.
"Aku, Detektif Elara Salim, masih hidup. Dan aku akan datang untuk menghancurkanmu, Ayah. Tidak ada uang yang bisa menyelamatkanmu kali ini."
Aku menekan tombol stop. Rekaman video berdurasi dua puluh detik itu langsung kuenkripsi, kukompresi, dan kusisipkan tepat di balik file PDF laporan forensik palsu milik Dokter Kusnadi.
Tidak ada ahli IT kepolisian yang akan menyadarinya malam ini, karena ukuran file-nya telah kumanipulasi agar terlihat persis sama.
Aku mencabut flashdisk-ku. Layar terminal kembali menampilkan desktop normal seolah tidak pernah ada hantu yang masuk ke dalam sistem mereka.
"Selesai," kataku, memutar tubuhku menghadap Elara.
Panggung telah diatur ulang. Senjata telah diisi peluru. Besok pagi, saat Darmawan Salim mencoba meraih puncak panggung sandiwaranya, ledakan rekaman ini akan memotong urat nadinya di depan seluruh rakyat negeri ini. Saham Vanguard akan terjun bebas ke angka nol. Dokter Kusnadi akan langsung ditangkap di tempat. Dan Darmawan akan berlari ketakutan sebagai tersangka pembunuhan putrinya sendiri.
Inilah puncak dari tawa di atas penderitaan. Menggunakan senjata musuh untuk menggorok leher musuh itu sendiri.
"Ayo pergi dari sini," Elara berjalan mendahuluiku menuju pintu kaca.
Ia tidak menoleh ke belakang saat melangkahi tubuh Bripka Anton yang masih pingsan di lantai. Ia sudah siap untuk meninggalkan masa lalunya yang suci demi menghancurkan monster yang menciptakannya.
Aku mengikutinya dalam diam, membiarkan kegelapan markas kepolisian ini kembali menelan kami.
Besok pagi, kota ini akan terbakar oleh kebenaran. Mari kita lihat bagaimana sang raja menangisi pemakamannya sendiri.