Arka tidak pernah menyangka pernikahannya akan runtuh karena sebuah ponsel tersembunyi.
Istrinya yang lembut dan sempurna ternyata menyimpan kehidupan lain yang tidak pernah ia ketahui.
Chat tengah malam. Nama asing. Dan kebohongan kecil yang perlahan berubah menjadi mimpi buruk.
Namun semakin Arka mencari kebenaran… semakin ia sadar bahwa semua orang di sekitarnya menyimpan rahasia.
Karena terkadang— orang yang tidur di sampingmu belum tentu orang yang benar-benar kamu kenal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sena himura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4
BAB 4: STATUS: ONLINE
"Kadang kenyataan lebih mengerikan dari kebohongan, karena kenyataan tak bisa ditarik kembali."
Jam menunjukkan pukul 14.30 siang. Cahaya matahari Jakarta menembus kaca jendela, terang dan menyilaukan, namun Arka merasa seolah-olah ia sedang berjalan di dalam lorong yang gelap dan lembap. Ia duduk diam di kursi meja makan, secarik kertas kecil hasil potongan dari surat perjanjian tadi tergenggam erat di tangan kanannya. Kertas itu terasa panas, seolah membakar kulit telapak tangannya.
Pikirannya masih berputar pada nama itu: Claire Nathania. Adrian Mahesa. Perjanjian.
Semua kepingan itu tak mau menyatu menjadi satu gambaran utuh, tapi justru membentuk ribuan tanda tanya yang menusuk-nusuk kepalanya. Elena bukan Elena yang ia kenal? Lalu siapa wanita yang tidur di sampingnya setiap malam? Siapa yang mencium keningnya saat ia sakit? Siapa yang menangis bahagia saat mereka menerima kunci apartemen ini dua tahun lalu?
Ponsel di atas meja berdering pelan, memecah keheningan. Nama Elena kembali muncul di layar, disertai foto wajah tersenyum manis yang dulu menjadi kebanggaannya.
Arka menatap layar itu lama, sebelum akhirnya menggeser tombol hijau.
"Halo..." suaranya terdengar datar, tanpa nada hangat yang biasa ia tunjukkan.
"Mas? Sudah taruh dokumennya belum ya?" suara Elena terdengar ceria di seberang telepon, latar belakang suara keramaian jalan dan klakson kendaraan terdengar samar. "Aku lagi di jalan nih, sebentar lagi sampai. Lagi lapar banget lho, nanti kita makan bareng ya?"
Arka menelan ludah. Di balik nada lembut itu, ia kini mulai bisa mendeteksi nada lain—kesiapan, kewaspadaan, seolah wanita itu selalu siap melompat atau menghindar kapan saja.
"Sudah, Le. Aku taruh di tengah meja," jawab Arka pelan. "Kamu... dari tadi sibuk banget ya?"
"Yaelah, namanya juga kerjaan klien besar, Mas. Ribet deh pokoknya," jawab Elena ringan, lalu terdengar tawa kecilnya. "Udah ya, nanti aku sampai dulu. Jangan dicariin ya, hehe."
Panggilan terputus.
Arka meletakkan ponselnya dengan kasar di atas meja kayu. Kerjaan klien besar? Batinnya mencibir. Padahal dokumen-dokumen di dalam laci tadi sama sekali tidak ada hubungannya dengan proyek desain interior. Tidak ada sketsa, tidak ada denah bangunan, hanya dokumen pribadi dan transaksi keuangan yang aneh.
Lima belas menit kemudian, kunci diputar di lubang pintu. Suara ketukan sepatu hak tinggi kembali terdengar, berirama dan pasti. Elena masuk, wajahnya bersinar, seolah hari ini adalah hari terbaik dalam hidupnya. Ia meletakkan tas besarnya di sofa ruang tamu, lalu berjalan ke arah meja makan dan langsung meraih map cokelat yang disiapkan Arka.
"Nah, ini dia. Makasih ya Mas," katanya sambil mengintip isinya sekilas, seolah memastikan tidak ada yang berubah. Senyum lega terbit samar di bibirnya, begitu tipis hingga orang lain takkan sadar, tapi bagi Arka yang kini sedang mengamati setiap inci gerak-geriknya, ekspresi itu sangat jelas.
"Pasti penting sekali ya dokumen itu?" tanya Arka, matanya tak lepas dari wajah istrinya.
Elena mengangguk santai sambil berjalan ke arah kulkas, mengambil sebotol air mineral. "Duh, penting banget. Kalau hilang, bisa kacau semua urusannya. Nanti aku simpan lagi di laci meja kerja ya, Mas. Jangan dibuka lagi ya, rahasia negara nih, haha."
Ia tertawa, tapi matanya tidak ikut tertawa. Ada kilatan peringatan di sana.
Arka hanya diam, mengangguk pelan. Ia menyadari satu hal: Elena sengaja menyimpan barang-barang berbahaya itu di tempat yang ia tahu Arka takkan berani sentuh. Ia tahu Arka orangnya sopan, tahu Arka sangat menghargai privasi orang lain. Ia memanfaatkan sifat suaminya itu sebagai gembok paling aman.
Sore itu berlalu dengan suasana that kaku dan dingin. Elena sibuk dengan ponselnya, duduk di sudut sofa, punggungnya membelakangi Arka. Jari-jarinya bergerak cepat di atas layar, sesekali bibirnya bergerak berbisik pelan, terlalu pelan untuk didengar.
Arka pura-pura sibuk dengan laptopnya di meja kerja, namun matanya sesekali melirik ke arah istrinya. Pikirannya tertuju pada satu hal yang sempat ia temukan semalam: Status: Online.
Ia harus membuktikannya lagi. Ia harus memastikan apakah kecurigaan semalam hanya mimpi buruk atau kenyataan pahit yang sedang menunggunya.
Malam pun tiba. Seperti rutinitas biasa, setelah makan malam, Elena mengeluh lelah, menguap berlebihan, lalu masuk ke kamar tidur tepat pukul 21.00. "Mas tidur aja dulu ya, aku nyusul nanti. Mau cuci muka dulu," katanya sebelum menutup pintu.
Setengah jam kemudian, pintu terbuka lagi. Elena keluar sebentar, mengambil botol air minum di meja makan, lalu masuk kembali. Kali ini pintu dikunci dari dalam.
Pukul 23.00, Arka masuk ke kamar tidur dengan langkah pelan. Elena sudah terbaring di sisi kanan kasur, selimut menutupi separuh badannya, napasnya terdengar berat dan teratur. Ponsel putihnya tergeletak tenang di atas meja samping tempat tidur, layarnya mati.
"Udah tidur ya, Le?" bisik Arka pelan, hanya untuk memastikan.
Tidak ada jawaban. Hanya suara napas yang sama.
Arka berbaring di sisi kirinya, punggungnya menghadap ke arah Elena. Matanya terpejam, tapi ia sama sekali tidak bisa memejamkan mata. Telinganya menangkap setiap suara sekecil apa pun. Detak jam dinding terdengar sangat keras di keheningan malam.
Jam berputar menuju pukul 01.30 dini hari.
Diam. Sunyi.
Pukul 01.45.
Arka mendengarnya. Suara gesekan kain yang sangat pelan. Diikuti bunyi klik samar, seolah benda berat diangkat dari permukaan kayu. Lalu... hening lagi.
Jantung Arka berpacu cepat. Perlahan, sangat perlahan, ia memutar kepalanya sedikit ke belakang, cukup untuk melihat bayangan Elena yang kini miring ke sisi luar kasur. Punggung wanita itu memunggunginya, tubuhnya sedikit membungkuk. Tidak ada suara ketikan, tidak ada bisikan. Gerakan tubuhnya sangat minim, seolah sedang melakukan sesuatu yang harus dilakukan dengan diam-diam.
Arka perlahan mengeluarkan ponselnya dari saku celana yang ia kenakan saat tidur. Layar menyala redup. Ia membuka aplikasi pesan instan itu dengan jari gemetar.
Dan di sana, tepat di nama kontak Elena ❤️, lingkaran kecil berwarna hijau bersinar terang.
Status: ONLINE.
Arka menelan ludah hingga terasa sakit di kerongkongannya. Matanya beralih ke meja samping tempat tidur. Ponsel putih Elena masih ada di sana, layarnya mati, posisinya sama persis seperti tadi sore.
Berarti... dia pakai ponsel lain. Ponsel hitam yang dulu ia lihat sekilas di dasar koper itu.
"Piye..." desis Arka dalam hati. Rasanya ingin ia bangkit, merampas benda itu dari tangan istrinya, dan berteriak menuntut penjelasan. Tapi ia tahu, kalau ia melakukannya sekarang, Elena akan punya seribu satu alasan. Ia akan menangis, ia akan marah, ia akan berbalik menuduh Arka gila, menuduh Arka tidak waras.
Dan Arka butuh bukti. Bukti yang tak terbantahkan.
Tiba-tiba, tubuh Elena bergerak. Ia memutar badan kembali ke posisi semula, telentang, lalu miring ke arah Arka. Matanya tertutup rapat, napasnya masih terdengar sama, namun tangannya yang terulur di balik selimut perlahan menyentuh pinggang Arka, lalu merangkulnya lembut.
"Mas..." bisiknya serak, suara orang yang baru bangun tidur. Tapi nadanya tenang, sangat tenang. "Belum tidur?"
Arka menahan napas. Ia memutar badan sepenuhnya, berhadapan dengan wajah istrinya yang tampak samar dalam remang cahaya. Wajah itu damai, cantik, kulitnya putih bersih.
"Hm... belum, Le. Masih terjaga dikit," jawab Arka berusaha tenang. Matanya menatap tajam ke manik mata Elena yang tertutup kelopak itu. "Kamu... bangun ya?"
Elena menggeleng pelan, kepalanya bergerak di atas bantal. "Enggak... cuma gatal punggungku. Tadi garuk-garuk dikit. Tidur aja ya, Mas. Besok kan harus kerja."
Ia menarik selimut lebih tinggi hingga menutupi dagunya, lalu diam kembali. Napasnya kembali teratur, seolah tak ada apa-apa.
Arka masih menatap wajah itu lama. Di dekat telinga kanannya, layar ponselnya masih menampilkan satu fakta dingin yang menusuk:
Terakhir dilihat: 01.58.
Baru saja. Beberapa detik yang lalu.
Wanita yang sedang berpura-pura tidur di sampingnya, wanita yang sedang berpura-pura tidak tahu apa-apa, wanita yang sedang berpura-pura mencintainya... baru saja aktif berkomunikasi dengan seseorang. Di jam-jam di mana suaminya seharusnya sudah terlelap.
Dan Arka sadar sekarang: Elena tidak hanya menyembunyikan sesuatu. Elena sedang menjalani kehidupan kedua di sampingnya, tanpa ia sadari sedikit pun.
Dan yang paling mengerikan... Elena tahu persis cara membuat Arka ragu pada dirinya sendiri, membuat Arka berpikir bahwa semua ini hanya imajinasi suaminya yang terlalu berlebihan.
Arka mematikan layar ponselnya, membalas pelukan Elena dengan tangan yang dingin dan kaku. Di dalam hatinya, sisa-sisa rasa percaya yang tersisa kini runtuh sepenuhnya, digantikan oleh satu tekad yang keras dan dingin.
Aku akan cari tahu, Elena. Siapa Adrian itu. Siapa Claire itu. Dan apa yang sebenarnya kamu lakukan di jam dua pagi itu.
Karena kalau ternyata semua ini bukan kesalahpahaman... maka wanita yang ada di sampingnya ini adalah penjahat terhebat yang pernah ia temui.
— BERSAMBUNG.......