Di Benua Langit Azure, kekuatan bela diri dan kedalaman Qi menentukan segalanya. Ye Chen, seorang jenius dari keluarga cabang klan Ye, dikhianati dan "Akar Roh" miliknya dicuri oleh saudara sepupunya sendiri demi ambisi klan utama. Menjadi cacat dan dibuang ke pinggiran desa, nasibnya berubah ketika sebuah meteorit hitam jatuh di dekatnya. Meteorit tersebut menyimpan warisan dari "Kaisar Kekosongan" dari era kuno, memberikannya seni kultivasi terlarang yang tidak membutuhkan Akar Roh, melainkan menyerap energi bintang. Ye Chen kini harus merangkak dari bawah, bersembunyi dari musuh-musuh kuat, dan menapaki jalan kultivasi untuk membalas dendam serta mencari kebenaran di balik hancurnya para Dewa Kuno
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Kabut Darah Pembawa Maut dan Terbentuknya Pusaran Inti
WUUUSSSHHH!
Sensasi robekan ruang yang memuakkan menghantam tubuh Lin Chen dan Su Yue saat mereka melangkah melewati portal merah tersebut. Dunia di sekitar mereka berputar liar, sebelum akhirnya kaki mereka mendarat keras di atas tanah yang terasa lengket dan lembek.
Lin Chen membuka matanya. Langit di atasnya tidak berwarna biru, melainkan merah pekat seperti genangan darah yang mengering. Tidak ada matahari atau bintang, hanya awan-awan merah kelam yang menggulung rendah. Bau karat besi dan aroma amis darah langsung menyengat rongga hidung.
"Ugh..." Su Yue terhuyung di sampingnya, wajahnya langsung pucat pasi. Ia buru-buru menelan sebutir pil berwarna putih dan memancarkan perisai Qi elemen apinya untuk menahan kabut merah tipis yang menyelimuti tempat itu.
"Hati-hati, Lin Chen! Jangan hirup kabut itu terlalu banyak!" peringat Su Yue dengan suara terengah-engah. "Ini adalah Kabut Darah Primal. Kabut ini mengandung energi kacau dari jutaan nyawa yang tewas di medan perang kuno. Jika kabut ini masuk ke paru-parumu, darahmu akan mendidih dan meledak dari dalam!"
Lin Chen menatap Su Yue dengan ekspresi datar, lalu sengaja menarik napas dalam-dalam, membiarkan kabut merah beracun itu masuk bebas ke paru-parunya.
"Lin Chen! Apa kau gila?!" jerit Su Yue panik.
Namun, alih-alih meledak berlumuran darah, wajah Lin Chen justru terlihat sangat segar. Ia meregangkan otot lehernya hingga berbunyi kretak.
"Kakak Senior tidak perlu khawatir," jawab Lin Chen santai. "Fisikku agak bodoh. Paru-paruku tidak bisa membedakan mana kabut beracun dan mana udara pagi. Rasanya malah lumayan sejuk."
Su Yue ternganga lebar. Ia tahu fisik Lin Chen aneh, tapi melihat pemuda itu menghirup racun mematikan layaknya menghisap aroma teh bunga benar-benar membuatnya ingin membenturkan kepalanya sendiri ke pohon.
Di dalam lautan kesadaran Lin Chen, Guru Lin Tian tertawa terbahak-bahak.
"Tentu saja terasa sejuk! Ini adalah Energi Kacau murni!" seru sang Kaisar Kekosongan. "Dengar, Muridku! Tekanan gravitasi di ranah ini tiga kali lebih berat dari dunia luar, dan energi darah di udara ini sangat liar. Ini adalah palu dan landasan tempa yang sempurna. Segera aktifkan Seratus Delapan Titik Bintangmu, tarik semua energi kabut ini, dan pusatkan di pusarmu!"
Lin Chen tidak membuang waktu. Sambil terus berjalan di depan Su Yue sebagai pelindung, ia secara rahasia memutar rasi bintang di balik kulitnya. Jaring Bintang Penelan Langit langsung beroperasi pada kapasitas penuh.
Wusss... Wusss...
Secara kasat mata, kabut merah di sekitar mereka terlihat menipis, seolah-olah tersedot ke dalam pusaran angin kecil yang berpusat pada tubuh Lin Chen. Energi berdarah yang liar dan penuh kebencian itu masuk ke dalam tubuh Lin Chen, mencoba mengamuk.
Namun, di bawah tekanan absolut dari 108 Titik Bintang, energi liar itu dihancurkan, dimurnikan, dan ditekan paksa turun menuju area Dantian yang kosong.
Perlahan-lahan, sebuah pusaran kecil berputar di area pusar Lin Chen. Itu adalah fondasi awal pembentukan Inti Bintang palsu! Semakin banyak kabut yang ia serap, pusaran itu semakin padat.
"Lin Chen, tunggu. Jangan bergerak," bisik Su Yue tiba-tiba, menarik lengan baju Lin Chen.
Su Yue menunjuk ke depan. Di antara pepohonan mati berwarna hitam di depan mereka, muncul belasan pasang mata merah menyala. Udara dipenuhi oleh suara geraman rendah yang menggetarkan tanah.
Dari balik bayang-bayang, muncullah kawanan Serigala Tulang Darah. Binatang roh ini memiliki ukuran sebesar sapi dewasa, bulunya rontok digantikan oleh lapisan tulang tajam berwarna merah, dan taringnya meneteskan air liur beracun.
"Gawat... Serigala Tulang Darah tingkat menengah. Kekuatan satu ekor setara dengan kultivator puncak Pembangunan Fondasi!" wajah Su Yue memucat. Ia bersiap mengeluarkan pedang dan tungku apinya. "Mereka bergerak dalam kawanan. Kita mundur perlahan..."
"Mundur?" Lin Chen memiringkan kepalanya. Di matanya, kawanan serigala ini bukanlah ancaman, melainkan sekumpulan kantong energi berjalan yang siap dipanen.
"Kakak Senior, kau simpan saja energimu. Menahan kabut beracun itu sudah cukup menguras Qi-mu," Lin Chen melangkah maju, melepaskan pegangan Su Yue. Ia meregangkan jari-jarinya.
Melihat manusia mangsa mereka berani melangkah maju, Alpha serigala itu melolong marah dan menerjang ke arah Lin Chen. Mulutnya yang penuh taring setajam pedang langsung mengarah ke leher pemuda itu!
BAM!
Suara benturan tumpul bergema keras.
Su Yue menjerit tertahan dan menutup matanya, mengira kepala asistennya itu sudah putus. Namun, ketika ia membuka mata kembali, pemandangan di depannya membuatnya membeku seperti patung.
Lin Chen tidak menghindar atau menggunakan pedang. Ia hanya meninju kepala serigala raksasa itu dengan tangan kosong. Namun, kekuatan fisik murni dari pukulan itu—yang setara dengan kultivator Jiwa Baru Lahir—terlalu mengerikan!
Kepala serigala bertulang baja itu hancur berkeping-keping seperti semangka busuk yang dipukul palu godam. Tubuh tanpa kepalanya terpental ke belakang, menabrak tiga serigala lain hingga ikut hancur terkena gelombang kejut pukulan tersebut.
Kabut darah meledak di udara akibat kematian binatang roh itu. Dengan sangat rahasia, pusaran di pusar Lin Chen langsung menyedot habis energi darah segar dari binatang-binatang itu dalam hitungan detik.
BZZZT! Pusaran Inti Bintangnya langsung memadat sebesar kelereng!
"Satu pukulan..." gumam Su Yue dengan bibir gemetar. Membunuh binatang buas setingkat Pembangunan Fondasi dengan tangan kosong? Monster macam apa yang dipekerjakan oleh sekte sebagai pelayan?!
Melihat pemimpin mereka hancur hanya dengan satu sentuhan, sisa serigala yang lain langsung berbalik dan lari terbirit-birit, melolong ketakutan. Insting binatang mereka menyadari bahwa pemuda berwajah datar ini adalah predator yang jauh lebih menakutkan dari apa pun di ranah rahasia ini.
"Sayang sekali mereka lari. Padahal aku baru mulai pemanasan," Lin Chen mendesah pelan, menepuk sisa-sisa debu dari tangannya. Ia menoleh ke arah Su Yue yang masih terbengong-bengong. "Ayo lanjut, Kakak Senior. Di mana kita bisa menemukan Rumput Jiwa Darah itu?"
Su Yue menelan ludah dengan susah payah, mencoba menenangkan jantungnya yang berdegup kencang. Ia baru saja akan membuka peta kulit dombanya ketika suara tepuk tangan yang lambat dan penuh ejekan terdengar dari arah bebatuan merah di belakang mereka.
Prok... Prok... Prok...
"Luar biasa, luar biasa. Pantas saja kau berani masuk ke Ranah Rahasia ini sebagai pelindung, Saudara Sepupu."
Lin Chen dan Su Yue menoleh. Dari balik bebatuan, muncul sekelompok murid sekte berjubah luar. Pemimpin mereka berjalan dengan gaya angkuh, tersenyum lebar menampilkan deretan gigi putihnya.
Itu adalah Ye Mang!
Di belakangnya, terdapat lima orang murid luar lainnya, yang semuanya memancarkan kultivasi setidaknya pada tahap Pengumpulan Qi lapisan kedelapan hingga puncak.
"Ye Mang," Su Yue mengerutkan kening, aura permusuhan langsung memancar darinya. "Apa yang kau lakukan di sini? Kalian sengaja mengikuti kami?"
"Oh, jangan salah paham, Tetua Kehormatan Su," Ye Mang membungkuk dengan gaya mengejek. "Kami hanya berjalan-jalan mencari keberuntungan. Tapi siapa sangka, kami menemukan pemandangan yang sangat menarik. Pelayan cacat keluarga Ye ternyata menyembunyikan semacam pusaka penguat fisik yang membuatnya sekuat ini."
Mata Ye Mang memancarkan keserakahan saat menatap Lin Chen. Di benaknya yang sempit, manusia tanpa Qi tidak mungkin kuat secara fisik kecuali dia memakan harta karun legendaris atau membawa pusaka gaib.
"Kakak Sepupu Lin Chen," Ye Mang tersenyum licik, menarik pedangnya perlahan. "Sekte melarang pembunuhan sesama murid di luar sana. Tapi di dalam Ranah Rahasia ini... bahkan jika Tetua Kehormatan Su Yue dan anjing pelayannya mati dimakan binatang roh, tidak akan ada satu pun tetua sekte yang tahu."
Ye Mang mengangkat pedangnya, menunjuk tepat ke wajah Lin Chen. "Serahkan pusaka penguat fisikmu itu, dan aku mungkin akan bermurah hati membiarkan kalian berdua mati dengan utuh!"
Melihat kelompok Ye Mang yang bersiap menyerang, Su Yue langsung menarik pedangnya dengan panik. Namun, Lin Chen justru tidak bergerak. Ia menatap Ye Mang dan kelima anak buahnya seperti seseorang yang ditawari makanan ringan saat sedang kelaparan.
Lin Chen tersenyum tipis, sebuah senyum yang tak pernah ia perlihatkan sebelumnya.
"Kalian datang di waktu yang sangat tepat," gumam Lin Chen pelan, matanya mulai memancarkan kilatan merah yang redup akibat pengaruh kabut darah. "Pusaran di perutku ini... butuh lebih banyak tumbal untuk menjadi padat."