PERINGATAN!! HANYA UNTUK DEWASA.
Mina terbangun dari tidurnya dan mendapati dirinya berbaring di atas ranjang empuk dan lembut, perlahan Mina pun menyadari jika dirinya telah menjalani transmigrasi seutuhnya pada tubuh seorang wanita yang menjadi ibu tiri jahat.
Mina yang memiliki hati selembut Hello Kitty mana berani melakukan kekerasan pada anak kecil, apalagi pada anak lucu yang menjadi anak tirinya, Mina pun mengambil keputusan jika dirinya akan menjadi ibu tiri yang baik untuk mengambil hati anak tirinya, nyatanya bukan hanya anak tirinya yang terpikat. Bahkan suami dari pemilik tubuh ini malah terpikat padanya, Mina yang maniak pria tampan jadi bingung dengan posisinya saat ini.
Apa yang harus Mina lakukan? Tanpa sadar suaminya telah terpikat pada Mina, padahal tujuan Mina hanyalah mengambil hati anak tirinya bukan suaminya itu? Ikuti kisah selanjutnya, selamat membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Telpon di Lift
Mina berjalan dengan langkah santai melewati koridor lobi apartemen yang megah dan tenang menuju deretan lift privat. Di dalam gendongannya, terdapat Gino yang sudah tertidur pulas dengan kepala bersandar nyaman di bahu empuk Mina. Napas bocah itu terdengar teratur dan halus, sesekali mulut mungilnya terbuka sedikit, menyisakan jejak sisa keimutan yang hakiki. Sepertinya Gino memang sudah terlalu kelelahan setelah berlarian mengejar bola bersama Lucas, ditambah lagi perutnya sudah kenyang setelah menyantap daging panggang porsi besar di restoran tadi. Kombinasi lelah dan kenyang yang sempurna sukses membuat bocah menggemaskan itu cepat terlelap bahkan sejak mereka masih berada di dalam mobil.
"Aduh, berat juga ya kamu sekarang, Jagoan," bisik Mina pelan, membetulkan posisi gendongannya agar Gino tidak terbangun.
Meskipun tangannya mulai terasa agak pegal, jiwa keibuan Mina yang entah sejak kapan mulai tumbuh subur di dalam dadanya membuatnya tetap bertahan memeluk tubuh gembil itu dengan erat.
Mina menekan tombol panah ke atas pada panel lift bercat emas di depannya. Sembari menunggu pintu lift terbuka, benak Mina kembali dipenuhi oleh kilasan kejadian hari ini. Perasaan resah di dalam dirinya perlahan merayap naik. Di satu sisi, dia merasa sangat bahagia melihat perkembangan Gino yang luar biasa. Bocah itu sekarang sudah ceria, banyak bicara, dan tidak gagap lagi. Namun di sisi lain, kebohongannya pada Kendrick dan Lucas tentang status hubungannya dengan Gino yang diakuinya sebagai "adik" mulai terasa mengganjal.
“Aduh, kalau dipikir-pikir, gue sembrono banget ya hari ini,” batin Mina, mendengus pelan pada dirinya sendiri.
“Malah asyik tukaran nomor telepon sama cowok lain, terus ngaku-ngaku jadi kakaknya Gino lagi. Kalau si kulkas berjalan alias Mas Arsenio tahu istrinya keluyuran di taman malam-malam sampai dikira jomblo sama produser film, bisa habis gue dipotong gajinya eh, dipotong uang jatah bulanannya!”
Ting!
Suara dentingan lembut lift membuyarkan lamunan Mina. Pintu lift privat itu terbuka perlahan, menampilkan ruang kabin lift yang dilapisi cermin bersih dan lampu kristal gantung yang mewah. Mina melangkah masuk ke dalam dengan hati-hati agar kepala Gino tidak terbentur pintu lift. Dia berbalik, lalu menekan tombol lantai paling atas, tempat unit penthouse mereka berada.
Saat pintu lift mulai tertutup rapat dan bergerak naik dengan halus, keheningan di dalam kabin itu mendadak dipecahkan oleh suara getaran kencang dari dalam tas kecil yang tersampir di bahu Mina.
Bzzzz... Bzzzz... Bzzzz...
Mina tersentak kecil, jantungnya agak berdegup kencang karena kaget. Dengan gerakan perlahan yang super hati-hati agar posisi tidur Gino tidak terusik, Mina meraba saku tasnya dan mengeluarkan ponsel pintarnya. Begitu layar ponsel menyala di depan matanya, napas Mina seketika tercekat.
Di layar itu, sebuah nama kontak yang sangat familiar tertera dengan jelas, "Arsenio Jahat memanggil..."
Mina menelan ludahnya dengan susah payah. Ini sudah kedua kalinya pria dingin itu menghubunginya setelah panggilan pertamanya di siang hari ditolak mentah-mentah oleh Mina saat siaran langsung. Kali ini, Mina tahu dia tidak bisa melarikan diri lagi. Jika dia menolak panggilan ini lagi, Arsenio yang berkuasa itu bisa saja mengira terjadi sesuatu yang buruk di rumah atau, lebih buruk lagi, menganggap Mina sengaja menantang otoritasnya sebagai kepala keluarga.
Dengan ibu jari yang sedikit gemetar, Mina menggeser tombol hijau ke arah kanan, lalu menempelkan ponsel itu ke telinganya.
"Halo..." sapa Mina dengan nada suara yang dibuat sesantai dan seceria mungkin, mencoba menyembunyikan kepanikannya.
"Kenapa baru diangkat?"
Suara bariton yang terdengar sedikit formal namun santai khas Arsenio langsung menyapa indra pendengaran Mina dari seberang telepon. Meskipun jarak memisahkan mereka antara benua Eropa dan Asia, getaran suara dingin dan tegas pria itu tetap saja sukses membuat bulu kuduk Mina meremang seketika.
Mina mendengus pelan, matanya berputar malas menatap langit-langit lift.
"Ya ampun, Mas... santai dong, jangan langsung interogasi kayak polisi gitu. Ini aku baru banget masuk lift, posisinya lagi ribet banget nih," jawab Mina blak-blakan dengan gaya bicaranya yang lepas tanpa beban, sama sekali tidak ada lagi kesan manis penuh kepura-puraan seperti Alicia yang asli.
Di seberang sana, tepatnya di dalam kamar hotelnya di London, Arsenio sempat terdiam sejenak. Pria itu sedikit mengernyitkan dahinya saat mendengar nada bicara istrinya yang sangat santai dan terkesan berani mengomelinya balik. Namun, Arsenio memilih untuk mengabaikan keanehan sikap baru istrinya itu demi menanyakan hal yang jauh lebih penting baginya.
"Kamu dari mana saja malam-malam begini? Dan di mana Gino sekarang?" tanya Arsenio dengan nada suara yang sedikit melunak namun tetap terdengar cuek dan penuh tuntutan mutlak.
Mina melirik ke arah Gino yang masih mendengkur halus di pelukannya.
"Kami baru pulang jalan-jalan dari taman kota, Mas. Terus lanjut makan malam di luar tadi. Nah, sekarang anak ganteng kamu ini udah tidur pulas banget di gendongan aku. Kecapekan dia habis main bola seharian," lapor Mina jujur, nadanya terdengar bangga karena merasa telah sukses menjalankan tugasnya sebagai ibu tiri yang baik hari ini.
Arsenio tertegun di tempatnya berdiri. Sepasang mata abu-abunya menyipit penuh selidik.
"Jalan-jalan ke taman? Kamu membawa putra saya ke tempat umum yang ramai seperti itu?" tanya Arsenio, suaranya naik satu oktav, memancarkan rasa tidak percaya sekaligus kekhawatiran yang mendalam. Di dalam kepalanya, ingatan tentang Alicia yang selalu membenci keramaian dan enggan membawa Gino keluar rumah demi menjaga citranya kembali bergolak.
"Iya, Mas Kulkas... eh, maksudnya Mas Arsenio," ralat Mina cepat dengan cengiran sembrononya yang tak terlihat.
"Lagian kenapa sih emangnya? Gino itu butuh bersosialisasi sama lingkungan luar, butuh ketemu temen sebayanya biar tumbuh kembangnya bagus. Kamu gak tahu aja tadi dia seneng banget, ketawa-tawa terus sampai puas. Bicaranya juga udah pinter banget, gak ada gagap-gagapnya lagi kayak waktu kamu tinggalin kemarin."
Mendengar penuturan Mina yang begitu mengalir, hangat, dan seolah sangat memahami kebutuhan psikologis anaknya, pertahanan dingin di hati Arsenio agak sedikit goyah. Rasa heran di benaknya semakin menumpuk.
“Ada apa dengan wanita ini? Kenapa dia mendadak peduli pada tumbuh kembang Leo?” batin Arsenio bingung.
"Benarkah dia sudah tidak gagap lagi?" tanya Arsenio memastikan, nada suaranya kini terdengar jauh lebih santai, kehilangan sedikit keformalannya karena rasa penasaran yang membuncah.
"Dua rius, Mas! Kalau gak percaya, nanti pas kamu pulang dari luar negeri, kamu dengerin aja sendiri gimana cerewetnya anak kamu ini," sahut Mina santai bertepatan dengan pintu lift yang terbuka di lantai penthouse mereka. Mina melangkah keluar lift menuju pintu utama unit rumah mereka.
"Udah dulu ya, Mas. Aku mau taruh Gino di kasur dulu nih, tanganku udah mau patah rasanya gendong anak gembil ini. Bye!"
Klik.
Tanpa menunggu jawaban atau salam perpisahan dari suaminya, Mina langsung memutuskan sambungan telepon itu secara sepihak untuk kedua kalinya. Di London, Arsenio hanya bisa menatap layar ponselnya yang kembali menggelap dengan ekspresi wajah yang sulit diartikan. Pria dingin itu menggelengkan kepalanya pelan, ada kedutan kekesalan sekaligus rasa ketertarikan aneh yang mulai merayap di hatinya akibat ulah sembrono istrinya itu.
Sementara itu, Mina berhasil membuka pintu unit apartemennya dengan bantuan kaki dan sikunya yang lincah. Dia berjalan perlahan menuju kamar tidur Gino, meletakkan tubuh mungil bocah itu di atas ranjang dengan sangat hati-hati, lalu menyelimutinya dengan hangat. Setelah mengecup kening Gino pelan, Mina melangkah keluar kamar dengan helaan napas lega. Hari yang panjang, melelahkan, namun penuh warna bagi jiwa transmigrasinya akhirnya selesai juga.
Bersambung....
semngat update lagi ya kak