NovelToon NovelToon
Mahkota Kegelapan: Pewaris Dewa Hades

Mahkota Kegelapan: Pewaris Dewa Hades

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi
Popularitas:460
Nilai: 5
Nama Author: Vedyta Hyuk

Arkanendra adalah seorang jaksa penuntut yang berdinas di kejaksaan agung, sepak terjangnya sebagai jaksa yang dingin dan tegas juga sering memenangkan kasus besar dan sulit, membuat Arka menjadi populer di kalangan penjahat. karena profesinya itu Arkanendra menghadapi bahaya yang sangat fatal, dia nyaris saja mati di racun oleh musuh nya.

sebuah pertolongan datang dari underworld, dia bisa tertolong namun dewa Hades memberikan syarat mutlak, Arkanendra harus menghisap energi hidup dari dewi Athena sebelum 40 hari, jika tidak maka dia akan mati dan binasa.

Dewi Athena yang tak pernah tertarik dengan pria, Dewi Athena yang lebih memilih menjadi Perawan seumur hidupnya, lalu apa yang terjadi ketika bagian dari kepingan jiwanya jatuh cinta pada Arkanendra yang notebene adalah kepingan jiwa dari Dewa Hades.

Apa sejarah akan berubah, atau jeratan cinta itu membuat Dewi perawan tak berdaya, cinta memang memiliki keajaiban luar biasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vedyta Hyuk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

8. Tawaran mengantar pulang.

Setelah memastikan sabuk pengaman terpasang rapi, Arka menutup pintu itu perlahan, lalu berjalan mengitari mobil lalu masuk ke kursi pengemudi. Di dalam mobil yang hening dan sejuk itu, udaranya terasa beda. Ada aroma manis bunga yang tercium samar dari tubuh Nayyara memenuhi kabin, bercampur dengan aroma maskulin khas Arka.

Arka menoleh ke samping, menatap gadis itu lekat-lekat. Matanya yang tajam dan dingin di kantor, sekarang berubah jadi hangat dan lembut saat menatap Nayyara.

"Nah, sekarang kita sudah di dalam mobil. Tolong tunjukkan alamat kamu ya" Tanya Arka dengan nada lembut yang pernah dia keluarkan selama hidupnya. Dia mengatur GPS di mobil nya, sesekali melirik pada Nayyara diam-diam, seperti tidak mau melepaskan pandangannya.

Nayyara yang masih berdebar, perlahan menolehkan wajah, menatap balik manik mata Arka itu. Dia tersenyum malu, pipinya masih merah merona.

"Makasih banyak pak, udah anterin saya, eum rumah saya di daerah Kemang, pak "

"Oh, oke, jadi Jakarta Selatan ya?" Arka manggut-manggut lalu tersenyum.

Mendengar ucapan itu keluar dari bibir manis itu, hati Arka rasanya berdebar juga, Nayyara. Nama yang indah, persis seperti pemiliknya. Apa dia sudah jatuh hati hanya dengan pertemuan seperti ini tadi

"Arkanendra ingat misi kamu, waktumu hanya tinggal 38 hari lagi!"

Degh.....

Arka mengigit bibir nya berusaha mengabaikan suara-suara kasat mata itu.

"Ya, ya aku tau!" Sahut Arka tajam, membuat Nayyara kaget. "Kenapa pak?"

Arka tersenyum lebar bercampur gugup dia mengusap tengkuknya lalu menoleh, memberikan senyum tulus yang bikin wajah tampannya makin bersinar sepuluh kali lipat, sampai Nayyara kembali terpaku melihatnya.

"Nggak apa-apa kok" Matanya menatap dalam ke manik mata cokelat gadis itu.

"Terima kasih ya... sudah mau hampir ditabrak mobil saya. Kalau tidak, mungkin saya tidak akan pernah bertemu kamu selamanya," Ucap Arka setengah bercanda tapi nadanya terdengar begitu dalam dan serius, menyembunyikan rasa lega yang luar biasa karena akhirnya dia menemukan satu-satunya hal paling penting dalam hidupnya.

"Kasih alamat rumah kamu mbak Nayyara, ayo saya antar pulang" Ujarnya ramah lagi dengan ekspresi berubah.

'Mulai detik ini, kamu juga nggak boleh jauh-jauh dari pandangan saya' 

Tambah Arka dalam hati, kalimat terakhir itu cuma dia yang tahu, karena dia membutuhkan Nayyara agar dia tetap bisa hidup sekali lagi.

Arka belum seratus persen percaya dengan suara misterius itu.

Mobil Porsche putih itu pun melaju membelah jalanan ibu kota yang mulai padat. Sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil itu hening namun terasa nyaman. Arka sesekali melirik ke samping, menatap wajah Nayyara yang duduk tenang di kursi penumpang. Gadis itu tampak sesekali menatap ke luar jendela, namun jantungnya tak henti berdebar. Ada rasa yang aneh, namun nyaman saat berada di dekat pria bernama Arkanendra itu.

Tak butuh waktu terlalu lama, kendaraan itu akhirnya berbelok masuk ke kawasan eksekutif perumahan Kemang yang asri dan tenang.

"Itu... rumah saya yang berpagar putih itu, Pak," Tunjuk Nayyara sambil menunjuk sebuah bangunan bergaya minimalis modern yang tampak sederhana namun berkesan seni. Di bagian depan pagar tertulis nama kecil. Galeri NAY

Arka menurunkan kecepatan mobilnya, perlahan memarkirkan kendaraan tepat di pagar putih depan rumah itu. Matanya mengamati bangunan itu dengan rasa penasaran yang makin memuncak.

"Galeri Seni?" Gumam Arka pelan. Dia mematikan mesin mobil, lalu segera turun dan bergegas memutar ke sisi sebelah untuk membukakan pintu bagi Nayyara.

"Mari, saya bantu turun," Ucapnya lembut sambil mengulurkan tangan.

Nayyara menerima uluran itu malu-malu, melangkah turun dengan sedikit tertatih. Rasa nyeri di pergelangan kakinya masih terasa, membuatnya mengerang pelan tak sadar.

"Sakit sekali ya?" Arka mengerutkan kening cemas, tanpa ragu dia merangkul pinggang ramping gadis itu untuk menopang berat badannya, agar tidak banyak bertumpu pada kakinya yang sakit itu.

"Ehm... Sakit sedikit, nanti gak lama Palingan hilang kok Pak, makasih ya," Jawab Nayyara malu-malu, berjalan beriringan masuk melewati pagar yang sudah terbuka.

Begitu melangkah masuk ke teras dan pintu utama terbuka lebar, mata Arka seolah tak bisa berkedip lagi. Napasnya tertahan dan tertegun menyaksikan apa yang ada di hadapannya. Dinding-dinding ruangan itu dipenuhi lukisan-lukisan indah dengan berbagai ukuran, menampilkan pemandangan alam, wajah-wajah orang, hingga lukisan abstrak yang penuh makna. Warna-warna di atas kanvas itu seolah hidup dan memanggil perhatiannya.

Arka berjalan perlahan masuk, melepaskan rangkulannya pelan-pelan karena Nayyara sudah menemukan kursi kayu kecil di dekat pintu masuk. Mata Arka berputar ke sekeliling ruangan yang ternyata merangkap sebagai galeri kecil itu, kagum luar biasa.

"Kamu... yang melukis semua ini?" Tanyanya berbisik, seolah takut memecah keheningan indah di tempat itu.

Nayyara tersenyum tipis, mengangguk malu sambil menopang tubuhnya di kursi dekat pintu. "Iya Pak, ini kerjaan saya selama ini. Saya memang pelukis, kadang juga ada yang pesan lukisan khusus ke sini," Jawabnya pelan.

Arka manggut-manggut lalu berbalik menatap gadis itu dengan pandangan tak percaya yang bercampur kekaguman mendalam. "Kepingan jiwa Dewa Athena" Suara misterius itu kembali terngiang di telinganya, namun kali ini rasanya jauh lebih jelas dan masuk akal.

"Dewi Athena itu Dewi kebijaksanaan, seni, dan kecerdasan ingat itu Arka!"

Arka masih berpikir keras, apa ternyata gadis yang dikatakan sebagai pusat energinya itu adalah seorang seniman. Arka tak menyangka sama sekali. Di balik penampilan Nayyara yang sederhana, tersimpan bakat luar biasa yang begitu memukau.

'Diakah yang di sebut sama Denis Park?" Batin Arka bergetar. Kalau memang dia. Ternyata di luar ekspektasinya, dan jauh lebih indah, lebih bernilai daripada apa pun yang pernah ada di dunia ini.

"Karya kamu indah sekali,... semuanya luar biasa, Nayyara," Puji Arka tulus, matanya bersinar memandang gadis itu seolah sedang menatap harta paling berharga.

Ucapan itu membuat wajah Nayyara bersemu merah kembali. Dia membuang muka sedikit gugup. "Makasih Pak Arka... Ehm, maaf ya silahkan duduk jangan ngobrol sambil berdiri, Kaki saya masih agak nyeri," katanya berusaha mengalihkan topik karena tak kuat menahan tatapan Arka yang begitu lekat.

"Ah, ya ampun maaf, saya sampai lupa kamu sedang sakit," Arka tersadar seketika. Dia segera duduk dengan nyaman di kursi sofa empuk di ruang tamu ini berhadapan dengan Nayyara.

Tanpa banyak bicara tiba-tiba Arka berjongkok tepat di depan gadis itu. Dia menatap Nayyara dengan tatapan minta izin. "Boleh saya lihat kakinya? Saya biasa mengurut kalau ada kaki atau tangan yang keseleo, semoga saja nyerinya cepat hilang."

Nayyara berpikir sejenak, sebenarnya dia merasa canggung luar biasa. Pria ini baru saja dia temui beberapa jam yang lalu, dan sekarang sudah ada di rumahnya, bahkan hendak menyentuh kakinya. Namun melihat sorot mata Arka yang tulus, dan terlihat sama sekali tidak ada niat buruk, Nayyara pun perlahan mengangguk ragu.

"Boleh... tapi jangan terlalu keras ya Pak," Jawabnya pelan sambil menarik sedikit ujung celana panjang coklatnya ke atas sebatas mata kaki.

Arka mengangguk pelan, tangannya yang besar dan hangat perlahan menyentuh pergelangan kaki kecil Nayyara yang sedikit bengkak. Ada rasa canggung yang samar terasa, jantung keduanya sama-sama berdegup tak beraturan saat kulit mereka bersentuhan. Arka menghela napas berusaha fokus. Jari-jarinya bergerak terampil, menekan dan memijat dengan gerakan lembut namun pasti, mengurai rasa kaku dan nyeri di sana.

"Hhh...," Nayyara mendesah kesakitan menahan rasa nyeri. Dia menatap puncak kepala Arka yang tertunduk fokus mengurusinya. Ada rasa hangat yang menjalar ke seluruh tubuhnya, juga rasa nyaman yang aneh tapi begitu mendalam.

Ciee, apa mereka bakalan saling jatuh cinta?

1
Ananda Boy
seru banget 😍
Ananda Boy
seruuu banget 🤭
Ananda Boy
next thor
Ananda Boy
kak kasian Naya🥹
Ananda Boy
lanjut ka author 😘🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!