Bagaimana jadinya jika Ninja Elit hidup di bawah kekuasaan Singasari.
Hattori, Di eksekusi oleh Klan nya sendiri karena tahu terlalu banyak informasi. Jiwanya terbangun di tubuh Sena, pemuda 15 tahun yang tewas pada detik yang sama dengannya di Lembah Harau, pada masa Ekspedisi Pamalayu di Sumatera.
Awalnya Hattori hanya ingin membalaskan dendam sederhana Sena, membunuh Purwa dan Jeliteng. setelah itu ia ingin hidup damai dan membagun keluarga, tapi takdir malah menyeretnya dalam konflik lebih besar.
Ia jadi buronan Singasari dan juga jadi incaran para gerilyawan Sumatera, Pasukan Harimau yang tengah berjuang mengusir Singasari dari tanah Sumatera.
Hingga sebuah penghianatan memaksanya ke tanah Jawa, di jantung Singasari. Mencabut akar semua masalah...meruntuhkan ke
Singasari.
Ini memang bukan kisah Gajah Mada.
Tapi ini kisah dari mana sang legenda berasal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zamo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sang Bayangan
Api di sebelah barat kian tinggi, menerangi langit fajar yang masih gelap dan membuat bayangan raksasa yang bergerak liar di dinding batu Puncak Harau.
Purwa Wangsa berdiri tegak, kakinya mengangkang lebar, tangannya mencengkeram gagang pedang erat-erat. Ia tahu anak yang diburunya bukan sekadar remaja desa biasa yang ketakutan.
Sejak menginjakkan kakinya di Puncak Harau, tubuhnya merasakan sesuatu yang sangat ia kenal: getaran makhluk yang berbahaya, seekor predator. Purwa Wangsa sudah melawan banyak orang kuat. Baginya, Sena hanyalah mangsa yang sedikit lebih cerdik, sabar, buas dan licik.
Sena perlahan sudah menjauh, bergerak seperti asap tertiup angin. Ia menyelinap masuk ke celah batu yang sempit dan lembap, tempat lumut belum sempat terbakar. Tubuhnya terasa panas karena ketegangan semalam, tapi napasnya tetap teratur—pendek, cepat, dan tidak bersuara. Ia terus memikirkan jalan yang bisa dilalui.
'Sial,' pikirnya melihat langit mulai memerah. 'Pagi datang lebih cepat dari yang kuduga.'
Dari kejauhan, suara teriakan dua prajurit yang terkena jebakan bambu mulai melemah. Satu berteriak putus asa, yang lain hanya mengerang pelan seolah nyawanya mau habis.
Purwa menggeram kesal. "Akhiri penderitaan mereka," perintahnya dingin. Dua orang maju dan menebas leher mereka dengan cepat.
Seketika hutan menjadi sunyi. Hanya terdengar suara ranting yang terbakar dan debu yang beterbangan. Purwa mengangkat obornya tinggi-tinggi, mempertegas wajahnya yang penuh bekas luka.
"Sudah lebih tenang sekarang," suaranya bergema keras. "Anak itu tidak bisa bersembunyi lagi di kegelapan."
Ia menatap sekeliling dengan tajam. "Bakar lebih luas!" perintahnya lagi. Ia sudah tidak sabar. Kalau kegelapan tidak berpihak padanya, ia akan membuat tempat ini seterang siang.
Api menyebar makin luas, membakar semak-semak kering. Jantung Sena berdegup kencang. Ia merasa sedih melihat hutan tempat ia berlatih habis terbakar, tapi ia segera menenangkan diri. Ia mengatur napas dan memulihkan tenaga. Tangannya membentuk segel Zen, Pikirannya kembali jernih.
Di balik asap tebal, Sena merayap di belakang batu besar yang lembab. Ia melihat api yang makin menjalar, tapi wajahnya tetap datar. Tidak ada rasa marah atau takut.
"Baiklah," bisiknya pelan. "Kalau begitu… aku akan berburu di tempat mu."
Seekor burung terbang panik karena api. Purwa melirik dan menyeringai, dia yakin mangsanya sudah terdesak.
"Keluar kau, bocah!" teriaknya. "Atau ku bakar seluruh tempat ini sampai tidak ada yang tersisa selain abu!"
Api makin besar dan terang, menghilangkan kegelapan malam. Tapi sampai matahari mulai terbit, Sena tetap tidak terlihat. Tak ada tanda-tanda kemunculan bocah yang di burunya.
Saat pagi tiba, hanya tersisa bau darah dan kayu yang terbakar. Sena bersembunyi di balik bayangan batu , tubuhnya tertutup lumpur hitam samaran semalam yang telah mengering dan retak, membuatnya sulit dibedakan dari batu. Ia mengamati sekeliling dengan teliti—mengamati jejak langkah, ranting yang patah, atau bekas tanah yang terinjak.
Hutan yang sudah menjadi rumahnya selama tiga bulan terakhir kini terasa asing. Jalur tikus yang ia buat kini tampak jelas. Jebakan-jebakan yang ia pasang hancur terbakar.
'Tempat ini sudah tidak berguna lagi,' pikirnya.
Di kejauhan, ia melihat barisan pasukan Purwa yang tersisa tujuh belas orang. Mereka berbaris rapi, berjalan teratur, rapat dan siap siaga. Purwa sendiri ada di tengah barisan, berjalan santai seolah tidak ada bahaya.
Sena melihat dua prajurit yang terjebak di lubang ranjau, pemandu geraknya yang kini jadi mayat. Ia tahu Purwa bukan sekedar pemburu hebat, tapi juga pemimpin yang pintar—ia tak segan mengeksekusi kedua anak buahnya yang menjerit kesakitan di lubang ranjau, karena menjadi beban pasukan.
Sena tidak merasa senang melihat kedua pemandu geraknya mati, juga tidak sedih melihat hutan rusak. Ia hanya tahu satu hal: lawannya ini setara dengannya. Trik biasa tidak akan berhasil pada orang seperti Purwa.
Ia menahan napas saat sekelompok prajurit lewat hanya beberapa langkah di depannya. Jantungnya berdetak sangat pelan. Bahkan seekor burung hinggap di atas kepalanya dan berkicau, tidak sadar bahwa di bawahnya ada remaja lima belas tahun yang semalam membuat pasukan berpengalaman ketakutan.
Tubuhnya memang masih muda dan belum sekuat orang dewasa. Ia tahu, dirinya tidak bisa melawan Purwa secara langsung. Gurunya dulu pernah bilang: tahu batas adalah kekuatan Shinobi. Seorang bayangan tidak perlu mati dengan gagah di depan orang banyak.
Bagi Shinobi, kehormatan tidaklah penting. Keberhasilan misi adalah yang utama.
Sena bergerak sangat pelan, mundur sedikit demi sedikit. Ia memilih pijakan yang tidak meninggalkan jejak—batu keras dan tempat yang masih gelap. Saat pasukan Purwa menyisir lebih teliti di tempat ia bersembunyi tadi, ia sudah hilang.
Sena menyelinap menuruni tebing yang curam—tempat yang terlalu berbahaya untuk orang biasa, tapi aman baginya. Suara burung dan angin menutupi setiap langkahnya.
Di dalam kepalanya, ia sudah membayangkan tempat perang berikutnya: Pos Harau.
Perang tidak selalu harus dimenangkan di hutan. Sena berhenti sejenak dan menoleh ke belakang, melihat sisa api yang masih membara. Ia melihat Purwa yang tiba-tiba berhenti dan mengangkat tangan. Semua pasukannya langsung diam dan waspada.
Sejenak, rasanya mata mereka saling bertemu. Purwa menatap tajam, seolah merasakan keberadaan Sena.
Sena menarik napas panjang. Ia berbalik dan pergi meninggalkan Puncak Harau yang sudah habis terbakar. Setiap langkahnya menjauh dari pedang dan tombak musuh, menuju tempat yang lebih sunyi—tempat yang telah ia tetapkan.
"Pos Harau," bisiknya sambil tersenyum tipis. Bukan senyum gembira, tapi senyum yang menandakan rencananya sudah matang. Ia membayangkan bentuk pos itu, pintu masuknya, pergantian penjaga, dan setiap sudut gelapnya. Inilah keahliannya: masuk diam-diam tanpa diketahui. Infiltrasi.
Ia bukan pejuang yang ingin berduel satu lawan satu demi nama baik. Ia adalah bayangan yang tidak butuh dipuji. Ia hanya butuh hasil yang pasti. Kalau hutan sudah tidak bisa dipakai, ia akan membalas dengan mengambil hal yang paling penting bagi musuhnya: rasa aman mereka.
Di bawah sinar matahari pagi, sosok Sena perlahan menghilang. Ia bukan orang yang lari karena kalah—ia adalah Sang Bayangan yang membawa pertempuran masuk ke tempat tidur musuhnya sendiri.