Sejak bangku taman kanak-kanak, sekolah dasar, menengah, hingga ruang kuliah, mereka selalu dipertemukan, seolah takdir tak ingin memisahkan langkah keduanya. Namun perbedaan watak dan sifat menjadikan mereka dua kutub yang selalu berlawanan, sering berselisih paham atas hal-hal kecil, dan saling memandang dengan dingin. Kini, dua jiwa yang dulu saling menjauh dan penuh pertikaian, terpaksa disatukan dalam satu ikatan pernikahan. Di atas janji yang tertulis di atas kertas, tersembunyi sebuah tanya besar: mungkinkah benci yang lama terjalin perlahan meleleh, berubah menjadi rasa cinta yang tumbuh diam-diam di tengah perbedaan dan perselisihan yang selama ini ada di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nikah? Dengan Dia?
Sore itu, langit berwarna gradasi jingga dan ungu yang sangat indah, seolah alam sedang tersenyum melihat drama kemanusiaan yang sedang berlangsung di dalam rumah besar itu. Namun, bagi Vira Calista, senja ini terasa seperti senja terakhirnya di dunia kebebasan.
Di ruang tengah yang luas dan megah itu, Vira sedang sibuk mengelap meja tamu dengan kain lap yang sudah ia peras sampai kering. Gerakannya lambat, hati-hati, dan penuh perhitungan. Ia takut salah. Takut jika ada satu titik debu yang tertinggal, masa hukumannya bisa bertambah lagi menjadi dua puluh satu tahun.
Dan di sofa mewah, duduklah sang tuan rumah, Farzhan Ibrahim. Pria itu sedang bersantai dengan secangkir teh hitam di tangan, wajahnya tenang, matanya sesekali melirik ke arah Vira dengan tatapan penuh penilaian, seperti bos yang sedang mengawasi kinerja karyawannya.
"Kiri sedikit... ya, itu. Jangan lupa sudutnya," instruksi Farzhan santai.
"Iya, iya... Tuan Majikan yang kejam," gumam Vira pelan, tapi tetap mengikuti perintah.
Baru beberapa hari ia menjadi "pembantu resmi", dan rasanya seperti menjalani pelatihan militer. Farzhan benar-benar menuntut kesempurnaan. Segala sesuatu harus pada tempatnya, makanan harus pas rasanya, dan keributan dilarang keras.
Tiba-tiba, suara bel pintu utama berbunyi nyaring.
Ding-dong.
Vira dan Farzhan sama-sama menoleh.
"Siapa yang datang sore-sore begini?" tanya Vira bingung.
"Mungkin tukang pos atau staf kantor, " jawab Farzhan santai. "Coba buka pintu, Vira. Tugasmu sekarang adalah melayani tamu."
Dengan langkah patuh, Vira berjalan menuju pintu utama. Ia membuka pintu lebar-lebar dengan senyum profesional yang dipaksakan.
"Selamat sore, ada yang bisa saya bantu—"
Kalimatnya terputus di tengah jalan. Senyumnya mengeras, matanya membelalak lebar.
Di depan pintu, berdiri sepasang suami istri yang penampilannya sangat berwibawa dan elegan. Pria itu tampan dengan gaya yang dewasa, matang, wanita itu cantik dan anggun bak sosialita. Mereka adalah Zyan Ibrahim dan Shaffa Nadzira. Orang tua Farzhan, dan juga... bos besar dari orang tua Vira sendiri.
"Om Zyan! Tante Shaffa!?" Vira terkejut setengah mati. Ia langsung menunduk hormat, wajahnya memerah campur aduk antara malu dan panik. "Eh... eh... selamat sore! Silakan masuk Om, Tante!"
Shaffa yang melihat Vira langsung bersorak kegirangan. "Assalamualaikum, ya ampun! Vira sayang! Kamu di sini?!"
Tanpa menunggu Vira selesai bicara, Shaffa langsung masuk dan memeluk Vira erat-erat. Wanita itu sangat menyukai Vira. Baginya, Vira adalah anak yang manis, lucu, dan sudah dianggap seperti anak sendiri sejak kecil.
Zyan pun masuk dengan senyum ramah. "Halo Vira. Apa kabar? Kamu main ke sini ya?"
Farzhan yang melihat kedatangan orang tuanya langsung berdiri dan menyambut mereka dengan sopan. "Waalaikumsalam. Papa, Mama. Kenapa nggak bilang dulu kalau mau datang?"
"Lagi lewat di sini, sekalian mau lihat anak mama yang kaku ini hidupnya gimana," jawab Shaffa sambil meletakkan tasnya, lalu matanya kembali tertuju pada Vira. Ia baru sadar Vira memegang kain lap, dan berpakaian agak santai tapi rapi.
"Tumben kamu di sini Vi? Biasanya kan kamu jarang ke rumah Farzhan kecuali ada acara keluarga," tanya Shaffa penasaran. "Lagian kamu pegang kain lap buat apa? Mau bersih-bersih?"
Vira terdiam, jari-jarinya saling memilin gugup. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Kalau bilang jujur, nanti malu. Kalau bohong, takut ketahuan.
Di saat Vira buntu, Farzhan menjawab dengan santai dan datar, seolah membicarakan cuaca.
"Dia sekarang kerja di sini, Ma. Jadi pembantu pribadi aku."
BRUK!
Seperti ada benda berat yang jatuh di kepala Zyan dan Shaffa. Mata mereka berdua membesar secara bersamaan, menatap Vira, lalu menatap Farzhan, lalu kembali ke Vira.
"Haah?!" serentak keduanya berseru.
Shaffa langsung melepaskan pelukannya dan memegang kedua bahu anak laki-laki itu, menggoncang-goncang pelan. "Apa maksud kamu Zhan?! Pembantu?! Vira ini anak baik-baik lho! Anak teman kami! Kenapa kamu jadikan dia pembantu?!"
Zyan pun mengerutkan kening, tampak tidak setuju. "Benar itu Zhan. Kamu keterlaluan. Vira itu kan anaknya Om Evan dan Tante Fenny, mereka kan orang kepercayaan Papa. Kenapa kamu perlakukan anaknya seperti ART?"
Farzhan menghela napas panjang, lalu duduk kembali dengan santai. Ia lalu menceritakan versi singkat namun jelas tentang masalah yang menimpa Vira, bagaimana ia menolong melunasi hutang yang jumlahnya fantastis itu, dan kesepakatan bahwa Vira akan bekerja melunasinya sampai lunas.
"Jadi begitu situasinya, Pa" pungkas Farzhan. "Dia yang minta sendiri. Aku cuma memberi kesempatan dia kerja keras buat bayar hutang. Kalau bukan di sini, dia mau bayar pakai apa? Kerja di tempat lain butuh puluhan tahun. Di sini aku kasih fasilitas lengkap, makan tidur gratis, enak kpk, cuma kerja dengan rajin."
Mendengar penjelasan itu, Zyan dan Shaffa terdiam. Mereka tahu anak mereka tidak akan berbohong soal hal serius. Dan mereka juga tahu betapa besarnya jumlah uang yang disebutkan tadi.
Tapi tetap saja... melihat Vira yang manis dan cantik itu harus melayani anak mereka yang dingin dan perfeksionis itu rasanya tidak tega.
Shaffa menatap Vira dengan mata berkaca-kaca. "Kasihan sekali kamu Vi... Kamu pasti capek ya? Pasti Farzhan galak ya sama kamu?"
Vira mengangguk patuh seperti anak kucing yang disayang. "I-iya Tante... Tuan Farzhan ini sangat teliti dan... kadang bikin jantungan. Tapi aku janji akan kerja keras sampai lunas kok."
"Berapa lama lagi?" tanya Zyan.
"Kira-kira... lima belas sampai dua puluh tahun lagi Om," jawab Vira lesu.
"DUA PULUH TAHUN?!" kali ini Zyan yang ikut kaget. "Wah, itu terlalu lama, Nak. Nanti kamu jadi perawan tua di sini dong."
Suasana menjadi hening dan sedikit sedih. Shaffa menatap Vira, lalu menatap Farzhan. Otak wanita itu yang penuh ide mulai berputar cepat. Ia melihat interaksi mereka. Farzhan yang galak tapi peduli, Vira yang manja tapi patuh. Mereka sudah kenal sejak kecil, keluarga mereka sudah akrab, dan sekarang... mereka tinggal satu atap.
Tiba-tiba, wajah Shaffa berubah dari sedih menjadi berseri-seri. Matanya berbinar cerah, seolah baru saja menemukan harta karun.
"Ehm... Papa..." panggil Shaffa pada suaminya, dengan nada yang sangat manis dan mencurigakan. "Mama punya ide nih."
"Ide apa, Ma?" tanya Zyan dan Farzhan waspada. Ia tahu kalau ibunya pakai nada begitu, biasanya ada ide gila yang muncul.
Shaffa tersenyum lebar, lalu bertepuk tangan kecil.
"Daripada Vira kerja jadi pembantu selama dua puluh tahun, buang-buang waktu, mending... kalian nikah aja!"
JLEB!
Waktu seakan berhenti berputar. Udara di ruang tamu itu mendadak menjadi sangat panas dan kaku.
Vira ternganga. Mulutnya terbuka lebar, matanya melotot tak percaya. Ia pikir ia salah dengar. "Ta... Tante bilang apa? N-nikah?"
Farzhan sendiri juga terpaku. Wajahnya datar, tapi telinganya memerah. "Mama ngomong apa sih? Jangan bercanda sembarangan!"
"Bukan bercanda!" potong Shaffa tegas, matanya berkilat penuh semangat. "Dengarkan Mama ya, logikanya, Kalau kalian nikah kan otomatis harta kalian jadi satu! Hutang Vira sama kamu otomatis lunas dong! Nggak perlu bayar-bayar lagi! Nggak perlu dua puluh tahun!"
Zyan mengusap dagunya, tampak berpikir keras. "Wah... benar juga kata Mama. Itu solusi paling cerdas dan cepat. Langsung selesai masalah hutang piutangnya."
"Terus lagi!" Shaffa makin bersemangat, mendekat ke arah Farzhan dan Vira yang sama-sama masih syok. "Kalian kan sudah kenal dari kecil! Satu sekolah terus, bertemu terus! Sudah cocok banget! Farzhan yang rapi dan teratur, Vira yang ceria dan manis. Itu namanya saling melengkapi! Lagian Mama sudah lama banget pengen Vira jadi menantu Mama!"
Vira masih mematung. Otaknya lambat memproses informasi. Nikah? Sama Farzhan? Musuh bebuyutanku? Orang yang baru aja bikin aku jadi babu?
"Ta... Tante..." suara Vira bergetar, "Bukan gitu Tante... Kami itu... kami itu kayak air dan api. Kami sering berkelahi! Kami sangat tidak cocok! Lagian dia benci aku, aku juga... ehmm..." Vira tergagap, hampir bilang ia juga benci Farzhan tapi urung karena takut di bunuh.
Farzhan akhirnya sadar dari keterkejutannya. Ia mengeraskan suaranya. "Mama ini ngaco! Mana bisa aku nikah sama orang yang hidupnya berantakan kayak dia? Dia itu ceroboh, cengeng, dan bencana alam! Hidup aku bakal hancur kalau nikah sama dia!"
"EH JANGAN SEMBARANGAN MULUTMU ITU KALAU NGOMONG!" Vira akhirnya emosi, melupakan segan pada orang tua. "Kamu juga jangan sombong! Siapa juga yang mau sama pria kaku, dingin, dan cerewet kayak kamu?! Aku juga tidak mau! Nanti hidup aku kayak di penjara!"
"Sudah! Sudah!" Shaffa berteriak sedikit memotong, tapi wajahnya justru makin senyum.
"Lihat tuh! Kalian sudah mirip kayak suami istri yang lagi cekcok! Itu tandanya chemistry-nya kuat!"
Zyan pun ikut menimpali dengan nada bijak. "Dengar anak-anak. Ini bukan cuma soal perasaan, tapi juga solusi. Kalau kalian nikah, semua masalah selesai. Hutang lunas, nama baik terjaga, dan orang tua semuanya senang. Papa rasa ini keputusan terbaik."
"Jangan dong, Pa!" rengek Farzhan, kali ini wajahnya tampak panik. "Masa aku harus menikahi bencana alam ini?"
"Jangan dong, Tante!" rengek Vira juga, air matanya sudah siap tumpah lagi. "Aku mending kerja dua puluh tahun jadi babu daripada nikah sama si Robot ini!"
"Tidak bisa ditawar!" Shaffa memasang wajah tegas, berubah jadi mode ibu yang memutuskan. "Mama dan Papa sudah setuju. Pernikahan akan segera dilaksanakan. Sebagai ganti hutang, dan sebagai syarat kalau kamu mau tinggal di rumah ini dengan hormat, bukan sebagai pembantu tapi sebagai Nyonya Muda."
Shaffa memegang tangan Vira, lalu menyodorkannya ke tangan Farzhan.
"Farzhan, jagain Vira. Sedangkan Vira, patuh sama suami. Sudah ya, masalah selesai. Besok kita urus persiapannya! Pergi melamar ke rumah Evan. Mereka pasti senang sekali dengar berita ini."
Farzhan dan Vira saling berpandangan. Tangan mereka bersentuhan sebentar lalu langsung ditarik masing-masing seakan tersengat listrik. Di mata mereka berdua, ini bukan solusi. Ini adalah hukuman mati tanpa pengadilan!
"Ta... Tante serius?" tanya Vira pelan, nyaris tak bersuara.
"Serius sekali!" jawab Shaffa mantap.
Farzhan menatap langit-langit rumahnya, merasa dunia ini benar-benar tidak adil. Ia baru saja berpikir hidupnya akan tenang mengawasi Vira jadi pembantu, tapi sekarang ia malah harus menikahi sumber masalah itu?!
"Ini... ini ide paling gila yang pernah ada..." gumam Farzhan lemas.
Sementara Vira hanya bisa menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ya Tuhan... baru kemarin aku selamat dari penjara, sekarang aku dimasukkan ke dalam sangkar bersama harimau... dan harimau itu bernama Farzhan Ibrahim.
Dan begitulah, di sore yang indah itu, sebuah keputusan besar dibuat oleh orang tua mereka. Tanpa persetujuan, tanpa cinta, hanya karena sebuah pertukaran utang dan keinginan keluarga.
Vira dan Farzhan... akan menikah.