Di sebuah kafe kecil yang tidak pernah benar-benar sepi, dua dunia yang berbeda perlahan saling bersinggungan.
Clay—dingin, tenang, dan terbiasa menjaga jarak.
Nindi—jujur, tegas, dan tidak suka sesuatu yang menggantung tanpa kepastian.
Mereka tidak pernah merencanakan apa pun. Tidak pernah mencari satu sama lain.
Namun setiap hari yang sama, percakapan yang sederhana, dan kebetulan yang berulang, perlahan mengubah batas antara “sekadar bertemu” menjadi “tidak ingin kehilangan”.
Dan ketika akhirnya mereka memilih untuk saling menggenggam, mereka juga harus belajar satu hal:
bahwa mempertahankan seseorang tidak pernah sesederhana memilihnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fadiez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1
Suara mesin kopi berdengung pelan, memenuhi ruang café yang belum sepenuhnya ramai. Aroma pahit yang khas mengisi udara, bercampur dengan sisa percakapan pelanggan pagi yang datang dan pergi.
Clay berdiri di balik bar, tangannya bergerak otomatis, menggiling, menuang, meracik, tanpa perlu benar-benar memikirkan setiap langkahnya.
Rutinitas selalu lebih mudah daripada berpikir. Ia mendorong satu cangkir ke arah pelanggan tanpa banyak bicara.
“Terima kasih,” kata orang itu.
Clay hanya mengangguk singkat. Tidak ada yang istimewa. Dan memang tidak pernah ada.
Sampai akhirnya, Maron mendekat, dan berkata :
"Clay, kita akan kedatangan bidadari." Maron pemuda berkulit hitam datang dengan antusias membawa sebuah kabar yang menurutnya wow. Dia memberitahu teman kerjanya yang seorang barista. Seseorang berkulit putih dengan rambut blonde sedikit gondrong dan awut - awutan bernama Clay Martin, yang sedang sibuk meracik kopi di depan meja bar.
"Bidadari apa?" Clay, pemuda itu tampak cuek, tapi tetap bertanya balik tanpa menghentikan kegiatannya.
"Akan ada gadis asia yang bekerja disini."
Clay hanya menaikkan sedikit alisnya sambil menatap sejenak pada Maron yang berbinar. Lalu sedetik kembali melanjutkan aktifitasnya. Informasi yang diberikan Maron rupanya tak cukup menarik baginya.
"Dia benar - benar cantik Clay. Kulitnya bagus dan dia mungil, seperti anak SMP."
Ya, Clay tahu, orang asia memang terkenal dengan kulit tannya yang bagus. Dan semua orang disini rata - rata mendambakannya. Orang asia juga katanya terkenal awet muda dibanding dengan usianya. Tapi bagi Clay, semua itu bukanlah hal yang istimewa. Baginya semua manusia itu sama saja. Punya kelebihan dan kelemahan masing - masing. Entah apa itu rasnya.
"Kalau kamu melihatnya, aku jamin kamu juga pasti langsung menyukainya." kata Maron lagi, penuh keyakinan.
Clay hanya menyunggingkan senyum kecil yang miring, nyaris tidak terlihat sebagai respons serius. “Oh ya?”
Nada suaranya datar, lebih seperti kebiasaan menanggapi daripada ketertarikan.
Maron tidak tersinggung. Justru semakin bersemangat.
“Aku serius, Clay. Aku tadi sempat ketemu dia sebentar. Kita sempat ngobrol juga… walaupun aku lupa nanya namanya,” katanya, lalu tertawa kecil, agak menyesal tapi tetap antusias.
“Dia ramah sekali. Cara bicaranya enak. tidak ada kesan sombong atau kaku. Kayak… gampang bikin orang nyaman.”
Clay tetap fokus pada tangannya yang sedang mengatur alat di meja bar. Namun ia tetap mendengar.
Maron melanjutkan tanpa diminta.
“Terus dia kalau senyum… ada lesung kecil di pipinya. Itu bikin dia kelihatan beda.” Nada suaranya berubah sedikit lebih lembut, seperti sedang mengingat sesuatu yang benar-benar melekat di kepala.
“Dan giginya… agak tidak rapi sedikit. Tapi justru itu yang bikin dia terasa… nyata. Aku suka yang kayak gitu.” Ia terkikik pelan, jelas tidak berusaha menyembunyikan kekagumannya.
Clay akhirnya melirik sekilas ke arahnya. Bukan dengan ketertarikan, lebih pada observasi ringan terhadap reaksi Maron yang terlalu jujur.
“Aku yakin, kalau kamu lihat dia nanti, kamu juga bakal suka, Clay.”Maron kembali mengulang keyakinannya.
Clay hanya tersenyum tipis, nyaris remeh. “Aku tidak seperti kamu, Maron. Yang gampang sekali suka pada setiap gadis yang kamu temui.”
Maron langsung mengerutkan wajah. “Eh, aku tidak seperti itu ya. Aku cuma suka kalau dia memang cantik.”
Clay melirik sekilas, lalu mendecih pelan. Kalimat itu terdengar seperti pembelaan, tapi justru semakin membuatnya jelas. Di mata Maron, hampir semua orang bisa masuk kategori “cantik” kalau gadis itu mau sama dia.
Maron tidak peduli dengan itu. Ia justru semakin bersemangat. “Gadis Asia ini beda, Clay. Serius. Levelnya di atas rata-rata,” katanya dengan nada yakin yang tidak goyah sedikit pun. “Dia benar-benar cantik. Aku bahkan sampai merasa… ini dia. Ini definisi cantik yang sebenarnya.”
"Ya, ya, terserah kamu. Kalau gitu pacari saja gadis itu kalau dia mau." Seru Clay tak peduli. Clay lebih fokus pada kopi ditangannya. Tangannya dengan terampil dan terkontol menuang susu diatas kopinya agar bisa menghasilkan pola disana.
Maron tidak tersinggung. Justru tertawa kecil. “Iya, itu rencanaku,” katanya santai, “Aku memang bakal coba dekatin dia nanti.”
Clay hanya menghela napas pelan, lalu melanjutkan pekerjaannya. Di tangannya, latte art mulai terbentuk rapi di atas permukaan kopi.
"Jadi, nanti kita harus saingan yang sehat Clay."
Clay menaikkan alisnya. Kopi yang sudah jadi itu dia letakkan di atas nampan.
"Aku yakin, dia pasti masuk tipemu." Maron menambahi kalimatnya karna melihat ekspresi keberatan di wajah Clay.
"Kenapa kamu bisa menyimpulkan seperti itu?" Bagi Clay, Maron sok tahu sekali.
"Karna aku sangat tahu seleramu, kawan."
"Memang seleraku seperti apa?" Clay masih mengangkat alisnya, heran.
"Yang mungil, dan kecil - kecil, tapi cantik."
Clay mendecak pelan, lalu menggeleng kecil. Benar juga, Maron memang terlalu cepat menyimpulkan sesuatu.
"Jadi, ayo kita saingan yang sehat kalau gadis asia itu sudah bekerja disini dan bertemu dengan kita." Seru Maron dengan sangat yakin.
“Silakan saja kalau kamu mau,” jawab Clay datar. “Ini, antar ke meja nomor sembilan.”
"Oke kawan, tapi jangan lupa, kita harus saingan yang sehat."
Clay hanya memutar bola matanya pelan, malas menanggapi lebih jauh.
Hari tetap berjalan seperti biasa setelah itu. Café semakin ramai, suara mesin kopi semakin sering terdengar, dan Clay kembali tenggelam dalam ritme kerjanya.
Struk pesanan datang satu per satu. Tangannya bergerak tanpa jeda, seperti sistem yang sudah berjalan otomatis. Tidak ada ruang untuk distraksi, tidak ada ruang untuk hal yang tidak perlu.
Sampai suara lain masuk di tengah ritme itu.
"Clay,"
Pemilik café, Sonya, berdiri di sisi bar dengan ekspresi yang lebih serius dari biasanya. Wanita itu menyandarkan tubuhnya di meja, menatap Clay dengan sorot mata yang sudah terbiasa menghadapi sikap keras kepala Clay.
"Aku sudah dapat orang yang akan menemanimu bekerja disini." Ucap wanita berkulit putih itu, yang sudah sedikit berumur.
"Oke."
"Aku harap kamu bisa bekerjasama dengannya."
"M."
Sonya menghela napas pelan.
“Tolong, bersikaplah yang baik padanya. Jangan sampai dia tidak betah bekerja di sini, seperti yang sebelumnya.” Nada suaranya terdengar lebih hati-hati kali ini, bukan sekadar peringatan, tetapi juga permintaan yang sudah bercampur dengan kelelahan. Matanya menatap Clay dengan harapan kecil yang tidak terlalu ia sembunyikan.
Clay akhirnya melirik sekilas. “Kita lihat saja nanti.”
“Clay!” Nada suara Sonya sedikit meninggi, kali ini jelas tidak lagi sekadar peringatan biasa. Ada ketegasan yang mulai menekan ujung kalimatnya. “Kamu tahu kan betapa susahnya cari barista yang mau bertahan di sini? Itu karena kamu.”
Clay berhenti sejenak dari pekerjaannya. Jadi gadis Asia yang dibicarakan Maron tadi ternyata barista baru. Sebelumnya ia mengira itu hanya staf tambahan biasa. Bukan seseorang yang akan bekerja langsung di belakang bar.
“Itu bukan salahku,” jawab Clay datar tanpa menoleh. “Mereka saja yang terlalu sensitif dan tidak bisa bekerja dengan standar yang jelas.”
Sonya menghela napas, kali ini lebih panjang. “Itu bukan karena mereka tidak bisa bekerja,” balasnya cepat, “tapi karena kamu yang terlalu perfeksionis.”
Clay tidak langsung membantah. Ia hanya mengangkat bahu pelan, gerakan kecil yang menunjukkan ketidakpedulian yang sudah menjadi kebiasaannya.
Sonya menatapnya tajam, jelas tidak puas dengan respons itu. “Pokoknya aku harap kamu bisa bekerja sama kali ini. Aku sudah susah payah membujuknya supaya mau bekerja di sini.”
“Ya, ya,” jawab Clay singkat, masih tanpa emosi yang jelas.
“Dan kali ini dia perempuan. Gadis Asia,” lanjut Sonya, kali ini lebih serius. “Tolong lebih lunak padanya. Kalau kamu sampai membuat masalah lagi, aku tidak akan segan-segan memecatmu.”
Ada jeda kecil setelah kalimat itu.
Clay akhirnya mengangkat satu alis, menatap Sonya dengan ekspresi yang sulit ditebak—antara heran dan meremehkan.
“Oh ya?” ucapnya pelan. “Memang kamu berani memecatku?”
Sonya tidak mundur. Ia justru menyandarkan tubuhnya, bersedekap dengan percaya diri.
“Kenapa tidak?” balasnya tegas. “Barista yang aku rekrut kali ini lebih berpengalaman, lebih stabil, dan lebih dihargai di bidangnya dibanding kamu.”
Kalimat itu membuat udara di antara mereka sedikit berubah.
“Wajahnya juga cantik,” lanjut Sonya. “Kalau kamu pikir café ini ramai karena kamu, kamu mungkin harus mulai sadar… bisa saja nanti orang datang bukan karena kamu lagi.”
Clay menatapnya lebih lama kali ini. Bukan marah yang terlihat pertama kali. Tapi sesuatu yang lebih halus—seperti sedikit sentuhan ego yang terusik, meski ia berusaha menyembunyikannya.
Sonya melanjutkan tanpa ragu, “Kalau dia bisa menarik pelanggan sendiri, aku tidak akan rugi kalau harus menggantikanmu.”
Hening sesaat jatuh di antara mereka, hanya diselingi suara mesin kopi yang tetap bekerja tanpa peduli percakapan manusia di sekitarnya.
Lalu Clay tersenyum miring. Bukan senyum hangat. Lebih seperti tanda bahwa ia baru saja menerima tantangan yang tidak diucapkan secara langsung.
“Ya,” gumamnya pelan, “kita lihat saja siapa yang lebih baik dari siapa.”