Namanya Anna.. Dia anak yang polos namun tangguh, berjiwa bebas dan baik hati.. ia terlahir di sebuah gubuk sederhana di dalam hutan yang jauh dari pemukiman warga, meski hidup sederhana, ia merasa hari harinya selalu dipenuhi kebahagiaan.
Hingga sampai suatu waktu, tragedi menimpa keluarga kecilnya dengan tragis.. Ternyata ayahnya adalah seorang putra mahkota, dan Anna pun tiba tiba menjadi seorang Putri.
bisakah Anna beradaptasi di kehidupan barunya??
Lika liku percintaannya dimulai..inilah kisah Princess Anna..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diyah_ell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anna dan Alexis
"Anna.. Hari ini di rapat bangsawan orang orang membahas tentang penerus takhta.. Bagaimana menurutmu Putriku?" ucap Kaisar dengan pelan.
"Apa untuk saat ini penobatan penerus takhta sangat diperlukan Ayah? Ayah masih sangat muda, kuat dan gagah.. Apa yang di khawatirkan?"
"Kau benar.. Ayah memang masih sangat kuat dan gagah, ayah juga menyadari itu.. tetapi kematian tidak menunggu usia tua Anna, para bangsawan hanya cemas.."
"Kenapa ayah membahas kematian? Ayah tidak boleh mati!" jawabnya sedih.
"Bukan itu maksud ayah.. Tapi memang upacara penobatan penerus takhta tidak bisa di tunda tunda terus Anna.."
"Lakukan saja apa yang menurut ayah benar" ucapnya dengan raut wajah lesu.
"Kenapa wajahmu seperti itu? Kau tidak senang menjadi penerus takhta?"
"Entahlah ayah.. sebenarnya aku kurang berminat dengan urusan politik..aku ingin hidup tenang dengan keluarga kecilku suatu saat nanti.. Maaf ya ayah, aku mengatakan ini bukan bermaksud menolak takhta, aku hanya ingin jujur kepada ayah, tapi karena tidak ada kandidat lain aku akan berusaha melakukannya dengan baik"
Kaisar terdiam sejenak setelah mendengar jawaban putrinya. Ia menyadari memang menjadi seorang pemimpin suatu kekaisaran besar sangatlah membebani.. Ia yakin putrinya mampu menjadi seorang pemimpin yang bijak, namun bagi Kaisar semua hal harus sesuai dengan isi hati. Dan bagi Kaisar, kebahagiaan Putrinya adalah yang paling utama.
"Kenapa ayah diam? Apakah aku salah bicara? Maaf Ayah.. Ayah pasti kecewa ya karena aku berkata seperti itu" ucapnya dengan rasa bersalah.
"Tidak.. Ayah hanya memikirkan bagaimana caranya memberikan semua hal yang terbaik di dunia ini untuk putri ayah.. setelah mendengar pendapatmu Ayah tidak bisa memaksamu menjadi penerus takhta"
"Aku bukannya menolak Ayah.. Aku akan menerimanya dengan hati yang lapang dan akan berusaha sebaik mungkin!!" ia berusaha meyakinkan ayahnya yang goyah.
"Sebenarnya kau tidak perlu menerimanya jika tidak ingin!!"
"Maksud Ayah? Ayah mau menikah lagi dan membuat penerus??"
"Ucapanmu keterlaluan Anna.. Ayah tidak bisa menghianati Kau dan Ibumu lagi!"
"Ahh..Itu adalah tuntutan seorang raja, dulu aku masih terlalu kekanak-kanakan, maaf ya ayah.."
"Sudahlah.. Ayah tidak bermaksud membuatmu minta maaf terus..Jadi maksud ayah.. Sebenarnya kau memiliki saudara laki-laki..ayah berpikir untuk berdiskusi dengannya dulu" ucapnya ragu ragu.
"Apah? Saudara dari mana? Ayah mengadopsi anak tanpa sepengetahuanku??" Anna sangat kaget mendengar itu tiba-tiba.
"Kau memiliki saudara kembar"
"Ha?? Ayah sedang bercanda??"
"Ayah serius! Ayah sudah memikirkan ini sejak lama, ayah ingin memberitahumu tapi aku terus mengulur waktu tanpa sadar kalian jadi tumbuh dewasa tanpa saling mengenal"
"Jadi ini serius? Aku memiliki saudara kembar?" Anna merasa tak habis pikir.
"Benar.. Ayah merasa bersalah pada kalian berdua dan juga Ibumu karena menyembunyikannya sendirian"
"Ibu juga tidak tahu? Kok bisa? Apa yang satunya Ayah yang melahirkan sendiri??" Anna menjadi semakin bingung.
"Mana mungkin!! Ayah akan jelaskan.. Jadi, Ibumu tahu bahwa dia melahirkan bayi kembar, tetapi kondisi adik laki-lakimu sangat lemah..bahkan dia sempat berhenti bernafas, kami mengira dia sudah meninggal, karena itu ibumu sangat syok dan jatuh pingsan sampai berhari hari.. tetapi Ayah tidak menyerah dan langsung membawa adikmu ke dokter istana secara rahasia, dia kembali bernafas tapi dia tidak bisa kembali ke rumah di pinggir hutan, dokter bilang anak itu harus terus dipantau karena kondisinya tak kunjung membaik, Ayah meminta Dokter itu membawanya pulang dan merawatnya secara rahasia, sebagai bayaran Ayah bertanggung jawab atas Dokter dan keluarganya, dokterpun setuju.. Ayah kebingungan untuk memberitahu Ibumu yang sudah sadar karena Ayah merahasiakan identitas ayah dan Ibumu bilang dia sudah ikhlas dengan kepergian anak itu dan melarang ayah membahasnya lagi, Helena ingin fokus membesarkan mu saja yang lebih membutuhkan kasih sayangnya.." Kaisar bercerita dengan menahan air matanya yang hendak tumpah.
"Seharusnya ayah tetap memberitahu Ibu.. Ibu pergi tanpa melihat wajah Adikku.." ucapnya sedih. Kaisar pun terlihat sangat menyesal.
"Ayah menyesal Sylvanna.. Ayah yang bodoh dan belum dewasa ini tidak tahu harus berbuat apa pada saat itu.. Ayah berencana mengatakan semuanya 10 tahun yang lalu saat anak itu telah benar benar sehat, dan ayah berniat mempertemukan kalian bertiga saat datang ke istana, tetapi kejadian tragis yang menimpa kau dan Ibumu membuatku harus semakin hati hati, Ayah mengurungkan niat itu lagi demi melindungi anak itu, tapi tetap saja ini semua adalah keegoisan Ayah sendiri"
Anna menatap wajah Kaisar yang sangat sedih, baginya alasan apapun memang sulit diterima, Posisi kaisar saat itu memang serba sulit, ia menjalani dua kehidupan dalam waktu bersamaan, lalu banyak hal yang terjadi.. tetapi apa lagi yang harus di sesali dari masalalu yang tidak bisa dirubah..
Anna memeluk Kaisar yang sedang rapuh dan merasa berdosa itu.Anna merasa bahwa saat inilah yang terpenting untuk dirinya, adik dan ayahnya. Ia tak ingin ayahnya merasakan penderitaan yang lebih dari ini..
"Ayah tidak salah..ayah tidak egois.. Ayah menyimpan semuanya sendirian pasti itu sangatlah sulit.. Jadi apa adikku masih sakit sakitan?"
"Tidak..Sejak 10 tahun yang lalu dia sudah sangat sehat berkat perawatan dokter hebat"
"Syukurlah.. aku merasa bersalah karena aku disini hidup nyaman dipenuhi kemewahan bersama Ayah, tetapi Adikku sendirian disana"
"Kau tidak perlu merasa bersalah.. Dia hidup berkecukupan sepertimu disini, dia juga menyelesaikan pendidikannya lebih dulu darimu, Ayah mengunjunginya setiap satu bulan"
"Aku lega mendengarnya Ayah.. Apa adikku tahu ada aku?"
"Ayah memberitahunya semuanya.. Ayah sering berkirim surat dengannya, tidak bisa dibilang berkirim juga..karena dia baru membalas satu surat untuk ayah setelah ayah mengirimnya 10.."
Anna tersenyum "Katanya kami kembar.. Apa kami sangat mirip ayah?"
"Wajah kalian memang mirip, tetapi tidak seperti kau yang memiliki rambut kecoklatan seperti Ibumu..dia berambut hitam seperti ayah, dan kini dia sudah setinggi Ayah, satu lagi.. Meski kembar sifat Kalian sangat berbeda..dia anak yang dingin dan cuek lalu sedikit kasar, sedangkan kau anak yang hangat dan bijaksana sejak kau kecil"
"Ayah terlalu memujiku.. Kalau adikku dengar dia pasti merasa sangat iri..Aku sangat penasaran ayah.. Kapan kami bisa bertemu?"
"Ayah akan mengirimkan surat terlebih dahulu padanya, aku akan bilang kakaknya ingin bertemu.. Entahlah mungkin anak itu akan datang paling cepat 2 sampai 4 bulan"
"Kenapa tidak mengirim kereta kuda kesana ayah? Pasti dia akan langsung datang"
"Karena salju yang menumpuk kereta kuda akan sulit lewat.. Dan satu lagi.. Anak itu tidak suka menarik perhatian"
"Sepertinya adikku orang yang sangat keren ya Ayah, siapa namanya?"
"Alexis"
"Alex ya.."
Anna yang sangat penasaran karena tiba tiba merasa memiliki seorang saudara, terus menanyakan segala hal tentang adik laki-lakinya itu dengan antusias.
Bersambung.