NovelToon NovelToon
Jauh Di Hati, Dekat Di Ranjang

Jauh Di Hati, Dekat Di Ranjang

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / One Night Stand / Trauma masa lalu
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: phiiiew

Malam itu di hotel, Vandini melihat sosok suaminya bersama wanita lain.

Apa yang lebih menyakitkan daripada pengkhianatan?

Apa lagi kalau bukan kenyataan bahwa pria yang ia cintai selama bertahun-tahun sama sekali tidak merasa bersalah. Satura bahkan berani bilang itu hal biasa dan mencoba menutupi semua luka itu dengan uang.

"Ambil transferannya. Itu bukti kalau aku masih bertanggung jawab," begitu katanya santai.

Seakan cinta, kepercayaan, dan janji setia yang dulu dia ucapkan bisa dibeli dengan lembaran rupiah.

Kini, Vandini harus menanggung segalanya sendirian. Menghadapi tatapan iba dan bisikan jahat tetangga yang menggunjingnya habis-habisan, menahan air mata demi anak-anaknya, serta berjuang memulihkan harga diri yang terinjak-injak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phiiiew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Begitu Sulit Tuk Memaafkannya

Satura duduk sendirian di sudut bar yang gelap. Gelas minumannya sudah setengah habis. Dia tidak datang ke sini untuk menikmati rasa alkohol atau mencari kenyamanan. Dia meneguk lagi, merasakan sensasi panas yang membakar tenggorokan hingga ke dada.

Setiap tegukan terasa seperti cara dia menghukum diri sendiri. Dia berusaha menenggelamkan rasa bersalah yang terus menekan dadanya.

Saat matanya menatap pantulan di cermin, kenangan masa lalu menyerbu masuk begitu saja. Gambar-gambar yang sangat ingin dia hapus dari ingatan kini terlihat begitu jelas.

Dia teringat malam-malam saat dia berbohong. Menyembunyikan ponsel dan menghapus jejak digital seakan itu bisa menghilangkan bukti kesalahannya.

"Gila, ya. Padahal aku tahu semua itu salah, tapi kenapa aku tetap melakukannya?" gumamnya pelan, tangannya mengepal kuat di atas meja.

Dia ingat betul bagaimana dia selalu tersenyum dan berpura-pura baik-baik saja. Padahal di saat yang sama, pikirannya penuh dengan rahasia gelap.

Wajah wanita itu muncul di benaknya. Penuh kepercayaan dan sama sekali tidak curiga pada kebohongan yang dia ucapkan.

"Kamu percaya banget sama aku, Van, padahal aku cuma manfaatin kebaikan kamu," bisiknya dengan suara bergetar.

Dia teringat saat wanita itu menunggunya pulang sampai larut malam. Senyum tulus yang menyambutnya, tanpa tahu bahwa dia baru saja datang dari tempat lain.

Wanita itu menyambutnya dengan cinta dan kasih sayang. Sekarang rasanya sungguh tak tertahankan. Dadanya sesak, napasnya terasa berat dan sulit ditarik.

Teringat lagi bagaimana wanita itu selalu bertanya tentang harinya dengan nada lembut. Dulu dia menjawab dengan alasan sepele, tapi sekarang rasanya sangat pahit dan menjijikkan.

Satura meneguk habis sisa minuman itu. Rasa panasnya membakar tenggorokan, tapi tidak cukup untuk mematikan rasa sakit di hatinya.

"Kenapa sih aku sebego itu? Apa yang kurang dari kamu sampai aku cari perhatian di tempat lain?" tanyanya pada pantulan dirinya sendiri di kaca.

Pikirannya beralih pada wanita-wanita lain. Kepuasan sesaat yang dia pikir butuhkan, perhatian murahan yang dia kejar demi ego sendiri. Dulu dia merasa berhak melakukan itu, berpikir tidak akan ada yang terluka. Nyatanya, dia justru melukai orang yang paling percaya padanya.

Setiap sentuhan dan tatapan itu adalah pengkhianatan. Luka dalam yang dia goreskan sendiri pada hati wanita itu.

Rasa bersalah itu menghancurkannya dari dalam, tajam seperti pisau yang terus menusuk. Dia meletakkan gelasnya dengan kasar, tangannya gemetar hebat.

"Aku hancurin segalanya. Aku rusak kepercayaan kamu yang paling berharga," ucapnya lirih, matanya mulai memanas.

Dia sadar sedang menghukum dirinya sendiri dengan mengingat semua kesalahan itu. Tapi rasa sakit ini terasa pantas dia terima sebagai penebusan dosa.

Dia tidak berani meminta maaf, bahkan ragu apakah dirinya pantas dimaafkan. Saat ini dia hanya ingin merasakan akibatnya dari pilihan bodohnya sendiri.

Satura memejamkan mata, membiarkan semua kenangan itu menghantamnya lagi. Dia tahu waktu tidak bisa diputar kembali. Tidak ada cara untuk memperbaiki apa yang sudah hancur.

"Tapi aku janji sama diri aku sendiri. Aku bakal bawa beban ini selamanya, sampai aku pantas jadi orang yang lebih baik," tekadnya kuat, meski hatinya hancur berkeping-keping. "Walau mungkin kamu nggak akan pernah mau lihat aku lagi."

...***...

Di tempat lain ... Vandini duduk berhadapan dengan Dahlia di meja dapur. Tangannya memegang cangkir hangat sambil menatap ke ruang tengah tempat Connan dan Cia sedang bermain. Suara tawa dan obrolan anak-anak terdengar jelas memenuhi ruangan.

Vandini menarik napas panjang lalu menatap Dahlia. Wajahnya terlihat bingung dan gelisah, perasaan yang sudah ia rasakan selama berhari-hari.

"Aku beneran nggak tahu harus ngapain," bisik Vandini pelan. "Hati aku masih sayang banget sama dia, Dahlia. Susah banget buat matiin perasaan itu. Tapi kadang tiba-tiba rasa marah dan kecewa itu muncul lagi, nyerang aku gitu aja. Gimana caranya aku mau terima dia lagi kalau rasanya masih sakit banget?"

Dahlia mengangguk mengerti. Ia mengulurkan tangan dan menggenggam tangan Vandini di atas meja untuk menenangkan sahabatnya itu.

"Wajar banget kok kamu ngerasa gitu. Kamu nggak perlu buru-buru ambil keputusan. Cinta sama marah itu bisa ada barengan. Itu bagian dari proses penyembuhan, jadi wajar kalau kamu merasa bingung."

Vandini menggigit bibirnya dan mengalihkan pandangan ke meja. Ia merasa bersalah karena bahkan hanya memikirkan hal tersebut.

"Kadang aku merasa bersalah banget cuma karena mikir buat kasih kesempatan lagi," ucapnya hampir tak terdengar. "Rasanya kayak aku ngkhianatin diri sendiri karena masih mau maafin dia. Tapi di sisi lain, aku kangen banget sama dia sampai rasanya nyesek."

Dahlia mengeratkan genggamannya. Suaranya lembut tapi tegas menenangkan Vandini.

"Kamu nggak mengkhianati siapa-siapa. Kamu cuma lagi berusaha ngertiin perasaan kamu sendiri, Van. Penyembuhan itu bukan soal milih salah satu perasaan, tapi biarin semuanya ada tanpa kamu merasa bersalah karenanya."

Vandini mengangguk perlahan. Dadanya terasa berat mencerna kata-kata Dahlia. Baru saja ia mau menjawab, terdengar suara langkah kaki kecil mendekat.

Cia masuk ke dapur dengan mata yang tampak mengantuk. Gadis kecil itu berjalan mendekat dan langsung memeluk kaki Vandini.

"Mama..." rengek Cia mencari perhatian. Hati Vandini langsung luluh. Ia segera mengangkat dan memangku putrinya itu.

Cia meringkuk di pelukan Vandini, tangannya mencengkeram baju ibunya. Vandini menata rambut anaknya dengan lembut, menikmati kehangatan kehadiran buah hatinya.

"Halo, sayang," gumam Vandini penuh kasih sayang. "Seru gak main sama Connan?"

Cia mengangguk sambil mengucek matanya. "Seru, tapi Cia mau pelukan Mama dulu," jawabnya polos.

Vandini tersenyum kecil lalu mengecup kening putrinya. "Mama selalu siap kasih pelukan buat kamu kok, sayang."

Dahlia tersenyum melihat interaksi itu. Mereka terdiam sejenak dalam keheningan yang nyaman, membuat beban di hati Vandini sedikit berkurang. Untuk sesaat, Vandini merasa tenang. Cinta yang ia miliki untuk anak-anaknya membuatnya sadar bahwa ia sebenarnya kuat melewati semua ini.

Begitu Cia kembali bermain, Vandini menoleh lagi pada Dahlia dan berbicara dengan suara sangat pelan.

"Momen kayak gini yang bikin aku mikir, apa aku cukup kuat buat mencoba lagi. Bukan buat dia, tapi buat kami semua."

Dahlia mengangguk mantap menatap Vandini.

"Itu udah cukup kok, Vandini. Jalani aja hari demi hari. Kamu berhak bahagia, dengan cara apa pun yang menurut kamu benar."

Vandini tersenyum tipis penuh rasa terima kasih. Ia mulai merasa sedikit lebih yakin bahwa suatu saat nanti, ia akan bisa melewati semua badai perasaan ini satu per satu.

1
Uthie
bertahan wanita hebat 👍👍😡
Uthie
bangkit lah wanita-wanita hebat yg tersakiti oleh pasangan gak tau diri kalian 👍😡😡
Uthie
mungkin kondisi di jaman sekarang yaa... yg sewajarkan apa yg terlihat saja, namun main di belakang ☹️
Uthie
sakit banget itu pasti... sesak 😢
Uthie
Mampir 👍👍👍👍
Yuni Ngsih
Authoooot ceritramu bgs bangeeeet ,tp bikin ku sediiiih kasian yg punya ceritra Vandini disakiti sm susmi yg dzolim ....smg suaminya cepat cepat karmanya kasihan Vandini smg setelah badai akan muncul pelangi buat Vandini ....semangat .....lanjut Thor
Fifi: yampun, ada yg baca rupanya, makasi kak🙏
total 1 replies
Anonim
wanjay
Anonim
betul itu ...BUNUH DIA
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!