"Hanya karena aku miskin, kau membuangku seperti sampah?"
Andra, seorang kurir yang bekerja keras 14 jam sehari, baru saja diusir dari kontrakannya dan diputuskan oleh kekasihnya demi pria bermobil mewah. Namun, di saat titik terendah hidupnya, sebuah suara mekanis bergema di kepalanya:
[Ding! Sistem Saldo Tak Terbatas Diaktifkan!]
[Level 1: Menghasilkan Rp 1.000 setiap detik secara otomatis.]
[Saldo saat ini: Rp 1.000... Rp 2.000...]
Dalam satu menit, ia mendapatkan Rp 60.000. Dalam satu jam, jutaan rupiah masuk ke rekeningnya tanpa melakukan apa pun. Dunia yang dulu menghinanya kini harus bersiap. Siapa pun yang pernah memandangnya rendah akan bersujud di bawah kakinya.
Bagi Andra, satu-satunya masalah sekarang bukan lagi cara mencari uang, tapi bagaimana cara menghabiskannya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruang_Magenta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Kekuatan Uang yang Sesungguhnya
Andra masih berdiri di bawah guyuran hujan, namun kali ini ia tidak lagi merasa kedinginan. Panel biru di depannya masih terus berkedip, menunjukkan angka yang terus bertambah tanpa henti.
[Saldo Saat Ini: Rp 452.000... Rp 453.000...]
Hanya dalam beberapa menit sejak sistem aktif, ia sudah memiliki uang hampir setengah juta rupiah. Baginya yang biasanya harus memeras keringat seharian demi uang seratus ribu, ini terasa seperti mimpi di siang bolong. Andra mencoba mencubit lengannya sendiri. Sakit. Ini nyata.
"Sistem," panggil Andra dalam hati. "Apakah uang ini bisa langsung aku gunakan?"
[Ding! Semua saldo yang dihasilkan sistem adalah uang legal yang telah melalui jalur pencucian aset global. Inang dapat menggunakannya melalui kartu debit atau aplikasi pembayaran apa pun tanpa risiko hukum.]
Andra menarik napas panjang. Ia segera menghidupkan motor tuanya yang batuk-batuk, lalu melaju membelah kemacetan Jakarta. Tujuannya bukan lagi gudang logistik tempatnya bekerja, melainkan sebuah pusat perbelanjaan kelas atas yang selama ini hanya berani ia pandangi dari luar.
Sesampainya di depan mal mewah tersebut, satpam penjaga gerbang sempat menatapnya dengan pandangan curiga. Maklum, Andra datang dengan motor butut dan jaket kurir yang basah kuyup. Namun, Andra tidak peduli. Ia memarkirkan motornya di pojokan dan melangkah masuk dengan kepala tegak.
Langkah pertamanya adalah menuju sebuah toko ponsel ternama. Ia melihat ponsel yang layarnya retak di tangannya, lalu menatap jajaran ponsel terbaru di balik etalase kaca.
"Mbak, saya mau lihat model terbaru yang paling mahal," ucap Andra kepada pelayan toko.
Pelayan wanita itu memperhatikan penampilan Andra dari bawah ke atas. Ada kilat penghinaan di matanya. "Maaf Mas, itu harganya dua puluh lima juta rupiah. Kalau cuma mau lihat-lihat, di bagian sana ada model yang lebih murah," jawabnya ketus.
Andra tersenyum tipis. Ia melirik saldo di ponselnya yang kini sudah menyentuh angka Rp 12.400.000. Ia baru pergi selama beberapa puluh menit dan saldonya sudah bertambah sepuluh juta lebih.
"Saya tanya sekali lagi, ada stoknya?" tanya Andra dengan nada lebih tegas.
"Ada, tapi—"
"Bungkus. Saya ambil dua. Satu warna hitam, satu warna titanium," potong Andra sambil mengeluarkan kartu ATM-nya.
Pelayan itu tertegun, ragu-ragu ia mengambil kartu tersebut dan memasukkannya ke mesin EDC. Saat transaksi dinyatakan Berhasil, wajah pelayan itu langsung berubah drastis. Ia membungkuk berkali-kali dengan senyum yang dipaksakan. "Baik Pak! Mohon tunggu sebentar, akan segera saya siapkan!"
Andra hanya mendengus. Uang benar-benar bisa mengubah wajah seseorang dalam sekejap, pikirnya.
Sambil menunggu ponselnya disiapkan, Andra duduk di sofa empuk toko tersebut. Ia mulai menghitung. Jika level 1 menghasilkan seribu rupiah per detik, maka dalam satu jam ia mendapat 3,6 juta. Dalam satu hari 86,4 juta. Dan dalam sebulan... 2,5 Miliar rupiah!
Itu baru Level 1.
"Bagaimana cara menaikkan level sistem?" tanya Andra dalam hati.
[Ding! Untuk naik ke Level 2, Inang harus menghabiskan total Rp 100.000.000 dalam waktu 24 jam. Level 2 akan memberikan Rp 5.000 per detik.]
Mata Andra berkilat. Menghabiskan seratus juta dalam sehari? Bagi orang miskin seperti dirinya dulu, itu mustahil. Tapi sekarang, itu adalah misi yang menyenangkan.
Setelah mendapatkan dua ponsel barunya, Andra menuju ke toko pakaian pria high-end. Ia harus membuang jaket kurir dan baju lusuhnya ini. Di dalam toko, seorang pramuniaga pria awalnya ingin menegurnya karena tetesan air dari baju Andra mengenai lantai marmer, namun Andra langsung menunjuk ke arah setelan jas seharga lima belas juta yang dipajang di manekin.
"Ganti semua pakaianku dengan itu. Cari ukuran yang pas untukku sekarang juga," perintah Andra.
Satu jam kemudian, seorang pria berbeda keluar dari toko tersebut. Andra tidak lagi terlihat seperti kurir malang. Ia kini mengenakan kemeja sutra berwarna gelap, celana bahan yang pas di kaki, dan sepatu kulit yang mengkilap. Rambutnya yang berantakan sudah ditata rapi.
Andra menatap pantulan dirinya di kaca toko. Ia terlihat seperti seorang pengusaha muda yang sukses. Ia melirik jam di ponsel barunya.
"Baru dua jam, dan aku sudah menghabiskan empat puluh juta. Masih ada enam puluh juta lagi untuk mencapai level dua," gumamnya.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah pesan WhatsApp masuk dari bos di kantor logistik tempatnya bekerja.
“Andra! Mana laporan paket sore tadi? Kamu bolos ya? Kalau dalam 30 menit kamu tidak sampai di gudang, kamu saya pecat! Jangan harap bisa dapat gaji bulan ini!”
Andra tertawa keras di tengah keramaian mal. Pecat? Gaji tiga juta?
"Pak Salim," gumam Andra sambil mengetik balasan. "Anda tidak perlu memecat saya. Karena mulai hari ini, saya yang akan membeli seluruh gudang Anda."
Andra melangkah menuju dealer mobil mewah yang berada di lantai dasar mal. Misi Level 2 harus diselesaikan sekarang juga.