Dikira hoki dapet kontrakan 500rb. Ternyata isinya kuntilanak nagih utang nyawa.
Bima kuli miskin terpaksa "kawin" sama Sumi demi nyawanya. Kirain lunas?
SEASON 2 DIMULAI: Bakri penghuni baru masuk. Nyawa jadi DP kontrakan.
Berani baca jam 12 malam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maulana Alhaeri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
"Mau ikut... mandi... gak...?"
Kalimat itu bikin darah mereka berempat langsung berhenti ngalir. Bayu udah jongkok sambil nutup kuping. "Ya Allah... Ya Allah..."
Bima narik kerah Dika. "Tutup pintunya, Dik! Tutup!"
Dika gemeteran banting pintu belakang. "BRAK!" Tapi suara ketawa itu gak ilang. Malah kayak udah di dalam kontrakan.
"Hihihihihi... Di atas..."
Rian nunjuk ke plafon yang bolong. Dari celah-celah triplek, ada mata. Melotot. Putih semua. Gak kedip. Ngintip mereka berempat.
"ASTAGHFIRULLAH!" Bima sama Rian langsung bacain ayat kursi sebisanya. Lidah kelu semua.
Malam itu mereka berempat gak ada yang tidur. Duduk melingker di tengah kontrakan, punggung ketemu punggung. Lampu 5 watt kedip-kedip kayak mau mati.
Pas adzan subuh, semua suara ilang. Hening. Cuma kedengeran napas mereka berempat yang ngos-ngosan.
"Anjir... Ini kontrakan apa rumah hantu dah," kata Bayu sambil ngelap keringet dingin.
"Murah sih murah... Tapi nyawa taruhannya," timpal Dika lemes.
Pagi-pagi buta, mereka berempat langsung ke warung depan. Pesan kopi item sama indomie rebus 4. Muka kucel semua.
"Pak, kontrakan ujung itu emang angker ya?" tanya Bima ke bapak warung.
Bapak warung diem. Matanya ngelirik ke arah kontrakan mereka. Terus ngangguk pelan. "Udah 3 tahun kosong, Nak. Katanya sih... dulu ada yang gantung diri di pohon bambu belakang. Perempuan. Masih perawan."
"DEG!" Jantung Bima mau copot. Pantes pohon bambunya gede banget. Rimbun. Gelap.
"Terus mayatnya?" tanya Rian penasaran tapi takut.
"Gak ketemu. Tapi katanya... jasadnya dibuang ke sumur," bisik si Bapak. "Makanya sumurnya ditutup. Tapi tetep aja... sering kedengeran nangis sama ketawa dari dalem."
Bayu langsung muntah kopinya. "Pantes... pantes gw liat ada yang mandi di sumur..."
Mereka berempat diem. Indomie jadi hambar.
Siang itu, mereka masuk shift 1. Di pabrik, muka mereka kayak mayat hidup. Ngantuk, takut, pucat.
"Bro, gimana ini? Masa kita tidur di situ lagi?" bisik Dika.
"Ya mau gimana lagi, Dik. Duit kita pas-pasan. Kontrakan lain 500 ribu sebulan," jawab Rian pasrah.
Bima ngelamun. Keinget anak-istri di kampung. Kalo dia pulang sekarang, malu. Belum dapet apa-apa. Tapi kalo di situ terus, bisa mati berdiri.
Malam ketiga. Mereka sepakat tidur bareng. Lampu nyala semua. Dengerin murotal dari HP Rian.
Jam 12 malem. Aman. Jam 1. Aman. Jam 2...
"TOK... TOK... TOK..."
Ada yang ngetok pintu depan. Pelan. 3 kali.
Mereka berempat saling pandang. Siapa jam segini?
"Pak... Pak RT kali ya?" bisik Bayu.
Bima ngedeketin pintu. "Siapa?"
Hening. Terus ada suara lagi. Tapi dari belakang.
"TOK... TOK... TOK..."
Ngetok pintu belakang. Padahal pintu belakang langsung ke arah sumur sama pohon bambu. Gak ada jalan lain.
Jantung Bima mau copot. Dia ngintip dari celah pintu.
Di luar, gelap gulita. Tapi di bawah pohon bambu, ada yang berdiri. Baju putih. Rambut panjang nutupin muka. Tangannya megang kepala.
Kepala siapa? Kepalanya sendiri.
Dia nengadah. Mukanya ancur. Terus dia senyum.
"Mau... balikin... kepala... gw... gak...?"
"AAARGH!!" Bima jatoh ke belakang. Pingsan.
Rian, Bayu, Dika langsung heboh. Bangunin Bima sambil baca-baca doa. Dari luar, suara ketawa melengking lagi.
"HIIIIIIHIHIHIHIHI... KALIAN YANG GANGGU TIDUR GW..."
Lampu 5 watt akhirnya mati. "PET!" Gelap total.
Dari arah sumur, ada suara air bergelombang. Kayak ada yang mau naik.
"BIMA BANGUN WOY! DIA MAU MASUK!" teriak Rian sambil guncang-guncang badan Bima.
Di kegelapan, mereka denger suara langkah. Basah. "Becak... becak... becak..." Makin deket ke pintu.
Terus...
"GEDUBRAK!"
Pintu belakang jebol. Angin bau tanah sama amis darah masuk ke dalam kontrakan.