NovelToon NovelToon
Cegilnya Mas Ajudan

Cegilnya Mas Ajudan

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Menikahi tentara / Duniahiburan
Popularitas:9.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Sebagai putri anggota DPR sekaligus model papan atas, Aurora Widjaja punya segalanya. Namun, hatinya justru jatuh pada Langit Ardiansyah, ajudan sang ayah yang kaku, dingin, dan sangat terikat protokol.
Bagi Langit, Aurora adalah tanggung jawab yang harus dijaga. Bagi keluarga Widjaja, hubungan dengan ajudan adalah skandal yang harus dihindari. Namun bagi Aurora, aturan dan kasta hanyalah rintangan yang siap ia tabrak.
Saat dunia melarangnya mendekat, Aurora justru memilih maju. Karena bagi seorang Aurora, mencintai Langit bukan lagi soal status, tapi soal hati yang sudah jatuh sedalam-dalamnya—to the bone.
“Mas Langit nggak usah repot-repot jaga jarak. Mau sejauh apa pun Mas lari, tujuannya tetep cuma satu: Jadi imam aku.”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17

Mobil sedan hitam yang membawa Anggara dan Pak Hendra perlahan bergerak melintasi gerbang besar kediaman Widjaja. Langit, yang duduk di kursi depan di samping sopir kantor, sempat melirik ke arah kaca spion samping. Ia melihat sosok Aurora yang masih duduk di kursi roda di tengah taman, melambai kecil dengan kuas di tangan.

Begitu mobil benar-benar hilang di tikungan jalan komplek, senyum Aurora berubah dari ramah menjadi jahil. Ia segera meletakkan palet lukisnya di pangkuan dan meraih ponsel yang ia selipkan di bawah bantal kursi roda.

"Tangan aku udah gatal banget mau gangguin robot satu itu," gumam Aurora sambil terkekeh pelan.

Jemarinya dengan lincah menari di atas layar, membuka aplikasi WhatsApp dan mencari kontak "Mas Masa Depan 🔒❤️".

Mas Masa Depan 🔒❤️

Aurora: P

Aurora: P

Aurora: Mas Langiiittt!

Aurora: Sudah sampai mana? Masih di jalan atau sudah sampai di hati aku?

Aurora: [Stiker Kucing Pakai Kacamata Hitam Sambil Joget]

Di dalam mobil yang sedang melaju tenang, ponsel Langit yang diletakkan di saku jasnya bergetar beruntun. Ia mencoba mengabaikannya karena di belakangnya ada Anggara yang sedang serius berdiskusi dengan Pak Hendra. Namun, getaran itu tidak berhenti. Bzzz... Bzzz... Bzzz...

Langit merogoh ponselnya dengan sangat hati-hati, memastikan layarnya tidak terlihat oleh pantulan kaca spion tengah. Ia membaca pesan itu dan menghela napas panjang. Ia melirik ke arah Anggara dari spion, lalu dengan gerakan sangat cepat, ia mengetik balasan.

Langit: Non, tolong jangan menyepam. Saya sedang bertugas mendampingi Bapak.

Aurora: Yah, dibalesnya kaku banget sih.

Aurora: Emangnya Papa liatin Hp Mas ya?

Aurora: Mas, stiker bunga mataharinya masih ada nggak di tangan?

Aurora: Awas ya kalau dicopot! Itu jimat biar Mas nggak kena omel Papa hari ini.

Langit melirik punggung tangannya. Stiker bunga matahari kuning cerah itu masih menempel erat di sana. Ia merasa konyol, seorang ajudan terlatih dengan stiker anak-anak di tangannya.

Langit: Masih ada. Tapi ini sangat tidak profesional, Non.

Aurora: Ih, 'tidak profesional' adalah nama tengah Mas Langit ya?

Aurora: Mas, nanti kalau di kantor jangan deket-deket sama sekretaris baru Papa yang cantik itu ya.

Aurora: Inget, Mas itu punya 'Non Aurora' yang lagi sakit kaki di rumah.

Aurora: [Stiker Kelinci Pakai Perban di Kepala Sambil Nangis]

Langit menahan senyumnya sekuat tenaga agar wajahnya tetap terlihat sangar di depan. Ia menggelengkan kepala pelan.

Langit: Sekretaris Bapak itu laki-laki, Non. Namanya Pak Hendra.

Aurora: Maksud aku staf magangnya! Pokoknya intinya jangan lirik kanan kiri!

Aurora: Mas, aku laper. Tadi cuma makan roti sedikit.

Aurora: Nanti kalau pulang, boleh titip martabak manis nggak? Yang cokelat kacang keju wijen komplit!

Aurora: Nanti aku bayar pakai doa biar kita cepet nikah. Gimana? Deal?

Langit hampir saja tersedak air liurnya sendiri membaca pesan terakhir itu. Ia segera mematikan layar ponselnya saat Anggara berdehem di kursi belakang.

Di taman, Aurora tertawa kecil melihat status Langit yang menjadi offline secara tiba-tiba. Ia tahu ia baru saja membuat sang ajudan kelabakan di dalam mobil. Puas melakukan "teror" singkat, Aurora mematikan ponselnya dan memasukkannya kembali ke saku.

"PAK BAMBAAAAANG!" teriak Aurora sambil melambaikan tangan ke arah pos penjagaan.

Pak Bambang yang sedang asyik merokok langsung mematikan rokoknya dan berlari kecil menghampiri. "Iya, Non? Ada apa? Mau nambah cat atau mau minum?"

"Enggak, Pak. Mataharinya udah mulai nyengat nih, kulit aku bisa kebakar nanti jadi nggak laku jadi model," canda Aurora sambil merapikan peralatan lukisnya. "Tolong anterin aku ke dalam rumah dong, Pak. Mau istirahat di ruang tengah aja sambil nungguin balasan chat dari 'seseorang'."

Pak Bambang tersenyum penuh arti sambil mulai mendorong kursi roda Aurora. "Seseorang itu yang barusan jalan sama Bapak ya, Non?"

"Ih, Pak Bambang kepo banget sih!" Aurora mencibir, tapi wajahnya tidak bisa menyembunyikan rona bahagia.

"Tadi saya liat Mas Langit mukanya tegang banget pas masuk mobil, Non. Pasti gara-gara Non spam chat ya?" goda Pak Bambang lagi.

"Biarin aja, Pak. Biar dia nggak spaneng terus kerjanya. Mas Langit itu butuh sedikit 'kekacauan' dalam hidupnya supaya dia tahu kalau dunia itu nggak cuma isinya peraturan baris-berbaris," sahut Aurora mantap.

Saat kursi roda itu melewati pintu lobi, Aurora sempat melirik ke arah ponselnya lagi. Belum ada balasan, tapi ia tahu, di suatu tempat di dalam mobil dinas itu, seorang pria sedang berjuang melawan senyumnya sendiri karena ulah gadis "cegil" yang sedang ia dorong ini.

"Pak Bambang," panggil Aurora pelan saat mereka sudah di depan lift.

"Iya, Non?"

"Mas Langit itu... sebenernya baik banget ya, Pak?"

Pak Bambang berhenti mendorong sejenak, ia menatap punggung Aurora dengan tulus. "Dia orang paling tulus yang pernah saya kenal, Non. Dia cuma terlalu takut untuk gagal dalam tugasnya. Tapi kalau soal hati... saya rasa dia sudah kalah telak sama Non."

Aurora tersenyum lebar, ia merasa jantungnya menghangat. "Makasih ya, Pak Bam. Bapak emang bener-bener tim sukses aku!"

"Sama-sama, Non. Mari, kita masuk. Nanti saya mintakan Bi Ijah buatkan jus jeruk segar buat Non," ujar Pak Bambang sambil mendorong masuk ke dalam rumah.

Aurora duduk manis di kursi rodanya, memandangi stiker bunga matahari yang sama yang juga ia tempelkan di pinggiran kursi rodanya. Baginya, hari ini bukan soal gips yang mengikat kakinya, tapi soal tali-tali pesan singkat yang perlahan mulai mengikat hati sang ajudan kaku itu.

***

Langit sore Jakarta berwarna jingga keunguan, memantul di pilar-pilar putih mansion Widjaja. Suasana yang tadinya tenang mendadak sedikit sibuk saat mobil dinas Anggara memasuki pelataran. Di teras depan, Aurora duduk manis di kursi rodanya, ditemani oleh Pak Bambang yang sedang asyik memijat punggung Bintang—yang katanya pegal karena terlalu lama berjaga di gerbang.

Anggara turun dari mobil dengan wajah yang tampak lelah namun lega. Di belakangnya, Langit menyusul dengan langkah tegap, membawa tas kerja kulit milik sang majikan. Penampilan Langit sore itu memang sedikit berbeda; jasnya sudah dilepas, menyisakan kemeja putih bersih yang pas di badan dengan dasi yang sedikit dilonggarkan dan lengan baju yang digulung hingga bawah siku.

"Papa pulang!" sapa Anggara sambil mengusap kepala Aurora singkat sebelum masuk ke dalam rumah. "Papa mandi dulu ya, Ra. Gerah sekali."

"Iya, Pa," jawab Aurora patuh.

Begitu pintu jati besar itu tertutup di belakang punggung Anggara, Aurora langsung mengalihkan pandangannya sepenuhnya kepada Langit yang masih berdiri di dekat mobil, memberikan instruksi terakhir kepada sopir kantor.

Aurora menopang dagunya dengan tangan kanan, matanya menyipit penuh kekaguman. "Ganteng banget... kayak Byeon Woo-seok," celetuknya dengan nada yang cukup keras.

Kalimat itu sukses membuat Pak Bambang yang sedang memijat Bintang langsung berhenti mendadak. Keduanya melongo, menatap Aurora dengan ekspresi bingung yang luar biasa.

"Byeon Woo-seok siapa, Non? Saudara jauhnya Pak Hendra?" tanya Pak Bambang dengan polosnya.

Aurora mendengus, memutar bola matanya dengan dramatis. "Aduh, Pak Bambang mana ngerti sih! Itu lho, aktor Korea yang lagi viral. Yang tingginya semampai, mukanya ganteng, terus senyumnya bikin hati meleleh. Persis banget kayak Mas Langit kalau lagi mode begini."

Bintang menggaruk lehernya. "Aktor Korea ya, Non? Waduh, berarti Mas Langit sudah naik pangkat dong dari ajudan jadi bintang film."

Langit yang merasa namanya disebut-sebut akhirnya mendekat. Ia sudah meletakkan tas Anggara di meja lobi dalam dan kini kembali ke teras untuk memastikan keamanan area luar. Mendengar dirinya disamakan dengan aktor, alisnya bertaut sedikit.

"Non berbicara soal saya?" tanya Langit datar, meski ada kilat rasa ingin tahu di matanya.

"Iya, Mas Woo-seok," goda Aurora dengan senyum jahil. Ia menepuk-nepuk kursi kayu di sebelahnya yang kosong. "Mas Langit, duduk sini dong. Jangan berdiri terus kayak patung selamat datang di perbatasan kota. Aku pegal liatnya."

Langit ragu sejenak. Ia melirik ke arah pintu rumah, lalu ke arah Pak Bambang dan Bintang. "Saya masih dalam jam tugas, Non. Tidak sopan jika saya duduk sementara kawan-kawan saya masih berjaga."

"Ih, kaku banget sih! Ini kan teras rumah aku, bukan markas besar. Sini cepetan," desak Aurora.

Pak Bambang, yang menangkap sinyal "butuh privasi" dari raut wajah Aurora, tiba-tiba langsung menarik kerah baju Bintang.

"Eh, Bin! Baru ingat saya kalau masih punya tugas penting di paviliun," ucap Pak Bambang dengan suara yang dibuat-buat panik.

Bintang mengernyit bingung, "Hah? Tugas apa sih, Pak? Bukannya tadi Bapak bilang mau lanjutin pijit—"

Sebelum Bintang sempat menyelesaikan kalimatnya, Pak Bambang buru-buru menutup mulut pemuda itu dengan telapak tangannya yang lebar. "Tugas negara, Bin! Penting! Mendesak! Ayo ikut saya!"

Pak Bambang menyeret Bintang menjauh dari teras dengan gerakan yang sangat terburu-buru, meninggalkan Aurora yang langsung terkekeh melihat tingkah mereka.

"Ada-ada aja sih Pak Bambang," gumam Aurora sambil menggelengkan kepala. Ia kembali menatap Langit yang kini berdiri canggung karena ditinggal sendirian. "Nah, sekarang nggak ada alasan lagi. Duduk, Mas."

Langit akhirnya mengalah. Ia duduk di ujung kursi kayu, menjaga jarak sekitar satu meter dari kursi roda Aurora. Posisinya masih sangat tegak, tangannya diletakkan di atas lutut.

"Kenapa Non menyamakan saya dengan aktor?" tanya Langit pelan, suaranya terasa lebih santai karena suasana sore yang sejuk.

"Karena Mas itu memang ganteng kalau lagi nggak pasang muka galak," jawab Aurora blak-blakan. "Mas tahu nggak, tadi di grup WhatsApp teman-teman model aku, aku pamer kalau aku punya pengawal pribadi yang levelnya internasional."

Langit sedikit terkejut. "Non pamer soal saya? Itu bisa mengundang perhatian media, Non."

"Biarin aja. Biar mereka tahu kalau Aurora Widjaja itu nggak sembarangan pilih orang," Aurora memajukan kursi rodanya sedikit lebih dekat ke arah Langit. "Mas, tadi di kantor gimana? Ada yang godain nggak? Secara, sekretaris Papa kan cowok, tapi staf-staf di gedung kementerian kan banyak yang cantik."

Langit melirik punggung tangannya sendiri. Stiker bunga matahari dari Aurora tadi pagi sebenarnya sudah ia lepas sebelum masuk ke ruang rapat, namun bekas lemnya seolah masih terasa di sana.

"Saya hanya fokus pada agenda Bapak. Tidak ada waktu untuk melihat orang lain," jawab Langit jujur.

"Masa? Nggak ada yang minta nomor telepon Mas?"

"Ada beberapa. Tapi saya bilang saya tidak pakai ponsel pribadi untuk urusan luar," bohong Langit—sebenarnya ia memang menolak secara dingin setiap staf yang mencoba mendekat.

Aurora tertawa, merasa menang. "Bagus. Pertahankan prestasi itu, Mas Woo-seok. Oh iya, titipan aku mana? Martabak manis cokelat kacang keju wijen komplit?"

Langit menepuk dahinya pelan. "Astagfirullah, saya lupa, Non. Tadi jalanan sangat macet dan Bapak minta segera sampai rumah karena ada telepon penting."

Wajah Aurora langsung berubah cemberut. Ia melipat tangannya di dada. "Tuh kan... kalau soal tugas Papa aja inget terus. Soal permintaan aku dilupain."

Melihat Aurora yang mulai merajuk, Langit merasa ada sesuatu yang mencubit hatinya. Ia merogoh saku jasnya yang tadi sempat ia tenteng. Ia mengeluarkan sebuah bungkusan kecil berisi cokelat batang premium dengan persentase kakao tinggi.

"Saya lupa beli martabak, tapi tadi sempat beli ini di minimarket pom bensin saat Bapak sedang istirahat sebentar," ucap Langit sambil menyodorkan cokelat itu.

Mata Aurora langsung berbinar kembali. Ia mengambil cokelat itu dengan riang. "Wah! Ini lebih bagus daripada martabak! Mas Langit ternyata perhatian juga ya, diam-diam menghanyutkan."

"Itu hanya agar Non tidak teriak-teriak lagi seperti tadi siang," elak Langit, meski sebenarnya ia sengaja memilihkan cokelat yang bisa memperbaiki mood.

Aurora membuka bungkus cokelatnya dan mematahkan satu bagian kecil. "Aaaa... Mas, buka mulutnya. Cobain dikit."

Langit tersentak, wajahnya mendadak memanas. "Non, jangan... kalau Bapak lihat—"

"Papa lagi mandi, Kak Elang belum pulang, Mama lagi di dapur. Cepetan, sebelum aku berubah jadi naga lagi," ancam Aurora dengan mata yang menyipit jahil.

Langit melihat ke sekeliling dengan waspada, lalu dengan sangat cepat ia membuka mulutnya sedikit. Aurora memasukkan potongan cokelat itu ke mulut Langit sambil tertawa kecil.

"Gimana? Manis kan? Kayak aku?" tanya Aurora tanpa rasa malu.

Langit mengunyah cokelat itu pelan, mencoba meresapi rasa manis yang kini memenuhi indranya. Ia menatap Aurora yang sedang tersenyum ceria di bawah lampu teras yang mulai menyala. Di saat seperti ini, Langit sadar bahwa julukan "Byeon Woo-seok" atau aktor apa pun tidak ada artinya. Baginya, menjadi ajudan yang bisa melihat senyum tulus Aurora adalah peran terbaik yang pernah ia jalani dalam hidupnya.

"Manis," jawab Langit singkat, namun tatapan matanya mengatakan lebih dari sekadar rasa cokelat.

"Besok-besok, jangan blokir aku lagi ya, Mas Ganteng," bisik Aurora.

Langit hanya mengangguk pelan. Di teras itu, di antara aroma bunga sedap malam yang mulai tercium, protokol dan kasta seolah memudar, digantikan oleh rasa manis cokelat dan janji-janji kecil yang tak terucapkan.

***

Jangan lupa tinggalkan jejak 😘 biar aku makin semangat updatenya hehe.

1
Lulukdicka Dicka
🤣🤣🤣
aurora gitu dechhhh
Lulukdicka Dicka
🤣🤣🤣🤣🤣
penyelamatttt
apiii
kapan jinaknya ini bapak"🤣
Rita Rita
🤭🤣🤣 Aurora bikin mas ajudan hidup terasa mati tapi mati paling nikmat, AQ aja berasa Jak jek Jak jantung baca aksi nekad Aurora 🤣😍😍
Istrinya _byeonwooseok💃: tungguin gebrakan Aurora selanjutnya ya kak🤣🙏
total 1 replies
Yosi Indah
alur dan penulisannya bagus, lanjut kak 😍
Istrinya _byeonwooseok💃: hehe maaciw😍
total 1 replies
apiii
si cegil makin cegil🤣
Fitri Yama
Mereka ngapain Thor??main kuda2 an kah???
Istrinya _byeonwooseok💃: belom sampe itu padahal 🤣
total 1 replies
Rita Rita
kasihan dengan dua anak manusia yg sama Dimata tuhan tapi sangat berbeda Dimata manusia yg punya pangkat dan jabatan. cinta terhalang kasta dan restu,,
apiii
lebih ganas ternyata dari singa nasution🥲
Istrinya _byeonwooseok💃: no no jangan disamain ya. yang ini diam-diam menghanyutkan 🤭🙏
total 1 replies
apiii
semangat ya cegil dan mas langit💪
apiii
demi apapun kagetttt🤣
Istrinya _byeonwooseok💃: jangan kaget ya sama cegil🤭
total 1 replies
apiii
akhirnya ya
apiii
semangat cegilll🤣
apiii
berhasil gasihh si cegil ini🤣
SuryaDharma S
bagus sich ceritanya...
apiii
kerja bagus kejar terus cegill
English Lesson
😍
English Lesson
bagus👍🏻
falea sezi
lanjut donk
falea sezi
bapaknya jahat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!