Naufal hanyalah seorang sales smartphone miskin yang sering diremehkan karena tidak pernah mencapai target. Ditekan oleh target yang mustahil, dikhianati oleh rekan kerja, dan dianggap remeh oleh pelanggan sombong adalah makanan sehari-harinya.
Namun, segalanya berubah saat sebuah suara mekanis bergema di kepalanya:
[Ding! Sistem Analisis Nilai Aktif!]
[Menganalisis Target...]
[Budget: Rp150.000.000 ]
[ Keinginan: memboron 50 unit untuk yayasan pendidikan |
[Tingkat Kepercayaan: 15%]
[Misi Terbuka! Closing produk!]
[Hadiah misi pembukaan RP 10.000.000!]
Dengan bantuan Sistem Analisis Nilai, Naufal tidak hanya bisa melihat isi dompet pelanggan, tapi juga titik lemah kompetitor dan tren pasar masa depan. Dari seorang sales yang hampir dipecat, ia merangkak naik menjadi raja industri teknologi.
Satu per satu wanita hebat mulai masuk ke dalam hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11--Strategi Up Seling Dan Tanga Keberuntungan
Naufal langsung menjentikkan jarinya, matanya berkilat penuh kemenangan. Ini adalah potongan puzzle terakhir yang ia butuhkan untuk menutup transaksi ini tanpa harus menurunkan gengsi produk flagship-nya.
Kalau uang kurang dan mau up selling … solusi leasing (kredit) adalh jalannya.
"Nah, ini dia orangnya! Panjang umur kamu, Rengga!" seru Naufal sambil melambaikan tangan ke arah Rengga.
Rengga yang baru saja menaruh tasnya di meja kasir langsung menoleh, menyisir rambut belah tengahnya dengan tangan.
"Wuih, ada apa ini? Masih pagi udah tegang banget mukanya. Ada bansos buat gue?"
Naufal merangkul bahu Pak Supri dengan akrab.
"Nih, Ngga. Kenalin, ini Pak Supri. Beliau mau belikan hadiah spesial buat anaknya yang baru lulus kuliah desain. Beliau sudah punya modal awal dua juta, tapi saya nggak tega kalau Bapak ini bawa pulang seri murah. Saya mau Bapak bawa R-13F ini pulang."
Rengga melirik unit R-13F ungu di meja display, lalu melirik buntalan plastik di tangan Pak Supri. Sebagai sales kredit kawakan, dia langsung paham arah pembicaraan Naufal.
"Pak Supri tenang saja," sapa Rengga dengan nada bicara yang sangat meyakinkan.
"Kebetulan banget, hari ini HCI lagi ada promo 'DP Suka-Suka' khusus buat mitra ojek online. Uang Bapak yang dua juta itu sudah lebih dari cukup buat DP, Pak! Sisanya? Kita cicil ringan, per bulannya nggak sampai harga satu porsi bakso per hari. Gimana? Setuju ya Pak biar anaknya bangga?"
Pak Supri tampak ragu sejenak, namun penjelasan Rengga yang disisipkan "program khusus ojol" (yang sebenarnya adalah keahlian Rengga memutar kata) membuatnya kembali bersemangat.
"Beneran bisa dicicil, Mas? Saya takut bunganya mencekik..." tanya Pak Supri ragu.
“HCI gak nyekit pak,” Naufal segera menyela dengan tatapan tulus,
"Pak, daripada Bapak beli tunai dua juta tapi tahun depan HP-nya lemot dan anak Bapak susah ngerjain tugas, mending modal dua juta ini jadi DP. Cicilannya? Bapak bisa tarik dua-tiga orderan tambahan tiap hari. Anggap saja itu semangat tambahan buat Bapak kerja demi masa depan anak. Saya bantu urus administrasinya sekarang, cuma butuh KTP Bapak saja."
Siska yang memperhatikan dari balik rak display hampir saja berteriak kegirangan.
'GILA! Naufal cerdas banget! Dia nggak nurunin harga, tapi dia ngasih solusi cara bayar! Strategi duet sama Rengga bener-bener maut!' Siska pun pura-pura sibuk mengambilkan air mineral gelas untuk Pak Supri agar suasana makin "adem".
[Ding!]
[Kondisi Psikologis Target: 95% Yakin!]
[Status: Mengeluarkan KTP!]
"Ya sudah Mas... saya ambil yang ungu ini. Demi anak saya!" ucap Pak Supri mantap sambil menyodorkan KTP-nya yang sudah agak kusam.
Amel si kasir langsung sigap menyambut. Sementara itu, Rengga dengan cekatan mulai memindai KTP Pak Supri di aplikasinya.
Masalahnya mulai disini, HCI itu ibaratkan gacha. 50\=50 entah sukses atau engga. Naufal berdetak ngeri, ia sering transaksi kredit paling juga gagal.
Dan saat itulah dia kepikiran sesuatu. Dia kan punya skil keberuntungan tingkat tinggi 60% kalau pakai tangan ini, dia pasti bisa ACC.
Saat rengga mau memencet tombol cicilan, naufal merebut. “Ngga biar gue aja … tangan gue wangi.”
Rengga sempat melongo, tangannya tertahan di udara. "Hah? Apaan sih, Fal? Ini kan aplikasi gue, kalau salah pencet atau error malah ribet urusannya!"
Naufal tidak menghiraukan gerutu sahabatnya. Ia merasakan sensasi hangat yang menjalar dari telapak tangan kanannya—sebuah energi yang tidak terlihat namun terasa sangat nyata. Di matanya, sistem memberikan indikasi visual berupa bar persentase yang menyala keemasan.
[Ding!]
[Skill Aktif: 'High-Level Luck' (60%)!]
[Status: Keberuntungan Inang sedang dalam puncaknya. Peluang keberhasilan manipulasi sistem kredit meningkat drastis!]
"Udah, percaya aja sama gue. Hari ini tangan gue lagi dapet berkat dari langit," ucap Naufal mantap. Dengan jempolnya, ia menekan tombol 'SUBMIT' di layar ponsel Rengga.
Siska menahan napas di belakang rak. Ia tahu betul bagaimana ngerinya menunggu loading HCI. Putaran lingkaran di layar itu adalah penentu nasib: apakah akan muncul warna hijau (ACC) yang berarti bonus, atau warna merah (REJECT) yang berarti kerja keras mereka sia-sia.
Loading...
Loading..
"Aduh, kok lama banget sih? Wifi toko lagi ampas ya?" keluh Rengga yang mulai ikutan deg-degan. Biasanya kalau sudah lewat dari 30 detik, tandanya sistem sedang ragu mengevaluasi skor kredit nasabah—apalagi profil Pak Supri yang ojek online sering dianggap berisiko tinggi.
Amel si kasir pun ikut berhenti menghitung uang, matanya tertuju pada ponsel Rengga. Suasana toko itu mendadak jadi hening, hanya suara AC yang menderu pelan.
[Ding!]
[Intervensi Keberuntungan Berhasil!]
TI-TING!
Sebuah notifikasi berbunyi nyaring. Layar ponsel Rengga mendadak berubah menjadi warna hijau benderang dengan tulisan besar yang sangat memuaskan mata:
"KONTRAK DISETUJUI (APPROVED) - DP Rp 2.000.000"
"DEMI APA?!" Rengga hampir melompat, matanya melotot.
"ACC?! Sekali tembak langsung Approved tanpa survey telepon?! Fal, lo beneran pake jin keberuntungan apaan, hah?!"
Siska spontan memukul meja pajangan karena saking senangnya. "YES! Gila, hoki lo nggak masuk akal, Naufal! KEREN!”
Ia jadi pusat perhatian, lalu gadis itu merona karena malu. Siska langsung menutup mulutnya, sadar kalau dia baru saja terlihat sangat antusias mendukung Naufal. "M-maksud gue... syukurlah, jadi kerjaan gue tata dus nggak sia-sia."
Pak Supri yang melihat warna hijau itu langsung mengusap wajahnya dengan kedua tangan, air mata haru mulai menggenang. "Ya Allah... beneran bisa bawa pulang HP-nya buat anak saya, Mas?"
"Bisa banget, Pak! Amel, cetak notanya sekarang! R-13F Purple, bungkus pake *bubble wrap* paling tebel!" seru Naufal dengan bangga.
Dan detik itu dia jualan lagi, masih bulan baru padahal.
[Ding!]
[Misi terselesaikan!
['The Dream Phone'.]
[Evaluasi sangat baik!]
[Hadiah: Rp 20.000.000
Motor Ducati panglima v2 warna hitam]
Naufal sangat senang dia dapat motor dan uang 20 juta langsung masuk di saldonya. Sementara Siska makin kegirangan mulai dari cara bicara yang apik, dan saran kredit, sampai keberuntungan tingkat tinggi.
‘gila, si Naufal kok bisa se-hoki itu ya?' batin Siska sembari mencuri pandang ke arah Naufal dari balik tumpukan dus. 'Dulu dia kayak anak baru yang bloon dan sering di-bully Rendi, tapi sekarang... cara dia ngomong ke Pak Supri tadi bener-bener beda. Dewasa banget.'
[Ding!]
[Tingkat Ketertarikan Siska Amalia: 65%]
[Status: Kekaguman Tersembunyi]
Naufal yang melihat panel itu hanya bisa menelan ludah. Enam puluh lima persen? Angka itu mulai masuk ke zona merah yang berbahaya bagi ketenangan batinnya. Ia melirik siska langsung, dan gadis itu memalingkan wajah.
Siska segera membuang muka, pura-pura sibuk merapikan brosur yang sebenarnya sudah rapi. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat dari biasanya.
Naufal sudah memikirkan ini sejak lama, tindakan gadis ini sangat ambigu dan data dari sistem jangan bilang … dia tertarik padanya?
DAYA KHALYAL MEMBAGINGKAN