NovelToon NovelToon
SENTUHAN PAPA MERTUA

SENTUHAN PAPA MERTUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Rumah Tangga / Balas Dendam
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

"Pa, Papa mau apa??" Adelia terkejut saat papa mertuanya tiba-tiba mendekat dan memeluknya dari belakang. la tak pernah membayangkan, kalau setelah menikah papa mertuanya itu justru berubah dan bersikap seolah ia adalah istrinya.

Apakah Adelia mampu mengendalikan diri dari papa mertuanya?

Atau ia justru ikut terjerumus juga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EMPAT

Adelia membeku.

Hatinya berdegup kencang.

Jadi... Papa benar-benar datang untuk tinggal?

Suara koper beroda bergesek dengan lantai marmer memecah keheningan sore itu. Di ruang tamu, Bastian Erlangga berdiri dengan wajah tenang, sementara di hadapannya Lukas Ivander dan Adelia tampak sedikit terkejut.

Lukas baru saja turun dari tangga, rambutnya masih sedikit basah seusai mandi. Ia sempat berhenti di tengah langkah ketika melihat siapa yang berdiri di sana.

"Papa?" ucapnya dengan nada tak percaya. "Saya baru aja mau nelpon Papa buat bahas rencana Papa tinggal di sini. Kok Papa malah udah sampai duluan?"

Bastian tersenyum hangat. "Hehe, ya beginilah Papa. Kalau udah niat, langsung jalan. Lagian, daripada Papa di rumah sendirian terus, mending Papa gabung di sini sama kalian. Papa nggak akan ngerepotin kalian kok."

Lukas mendekat, menyalami papanya, lalu menepuk bahu pria itu dengan ramah. "Papa nggak bakal ngerepotin. Rumah ini luas, banyak kamar kosong. Justru saya senang Papa mau tinggal bareng kami."

Di sampingnya, Adelia berusaha ikut tersenyum, meski jantungnya berdetak tak beraturan. Ia masih ingat betul bagaimana pagi tadi Bastian menyentuh tangannya dan memujinya dengan nada yang terlalu pribadi. Tapi, ia mencoba menenangkan diri-ini papa mertuanya sendiri, jangan berpikir aneh-aneh, batinnya.

Bastian menatap Adelia sekilas dan tersenyum sopan. "Terima kasih, Del, udah mau nerima Papa di rumah ini."

"Ah, jangan begitu, Pa! Rumah ini rumah kita semua,"

Jawab Adelia cepat, berusaha terdengar ramah.

Klaim

"Betul tuh," sambung Lukas sambil menoleh ke arah dalam rumah. "Mbak Sisil!"

Tak lama, Mbak Sisil datang sambil mengeringkan tangannya yang masih basah setelah mencuci piring. "Iya, Mas Lukas?"

"Tolong bantu Papa angkat kopernya ke kamar kosong yang di sebelah ruang baca, ya! Kamar itu udah bersih, kan?" seru Lukas.

"Udah, Mas. Tinggal ditempati aja," jawab Mbak Sisil, lalu segera membawa koper besar Bastian sambil menatap pria itu sekilas. Ada sesuatu di sorot mata Bastian yang membuatnya sedikit kikuk, tapi ia memilih diam dan menunduk.

Lukas menoleh pada papanya. "Nanti kalau Papa kurang nyaman di kamar itu, tinggal bilang aja. Saya bisa ubah posisinya."

"Udah cukup, Luk. Papa nggak butuh banyak, yang penting Papa bisa tidur nyenyak," jawab Bastian sambil tersenyum.

Adelia lalu menepuk tangan suaminya pelan. "Mas, makan malamnya udah siap. Bik Vivi udah nyiapin semuanya di meja makan."

"Oh, bagus tuh," Lukas menatap Bastian. "Ayo, Pa! Sekalian kita makan bareng. Udah lama kita nggak duduk satu meja kayak gini."

Mereka bertiga menuju ruang makan. Aroma gurih dari sop buntut dan tumisan udang memenuhi udara, membuat suasana rumah terasa hangat. Bik Vivi dan Mbak Sisil sibuk bolak-balik memastikan semua tersaji dengan rapi.

Selama makan malam, percakapan berjalan ringan.

Lukas bercerita soal hasil meeting suksesnya pagi tadi, tentang klien Jepang yang akhirnya setuju bekerja sama.

Bastian tampak mendengarkan dengan penuh perhatian, sesekali menimpali dengan nasihat-nasihat bisnis.

Adelia lebih banyak diam, hanya sesekali menimpali pembicaraan sambil sesekali melirik jam di dinding. Ia tidak ingin suasana berubah canggung, jadi ia memaksa dirinya tetap tenang, tersenyum ketika dibutuhkan.

Sampai akhirnya, setelah piring-piring mulai kosong, Lukas menguap kecil dan mengusap lehernya. "Duh, aku ngantuk banget. Kayaknya kecapekan kerja terus dari pagi tadi. Papa, Del, kalian lanjut aja ngobrolnya! Aku duluan, ya."

"Masih jam delapan, Mas. Kamu nggak mau nonton dulu?" tanya Adelia.

"Nggak, sayang. Besok pagi aku ada meeting lagi," balas Lukas dengan senyum lelah. Ia berdiri, mengecup pipi Adelia, lalu menepuk bahu papanya. "Papa, selamat datang di rumah kami. Anggap aja rumah sendiri."

"Terima kasih, Luk. Istirahatlah! Kamu kelihatan capek," balas Bastian.

Lukas kemudian naik ke atas, meninggalkan Adelia dan Bastian berdua di meja makan. Suasana yang tadinya hangat perlahan berubah. Hening.

Hanya suara jam dinding yang terdengar, berdetak pelan.

Adelia mulai membereskan piring, tapi Bastian menatapnya lama, matanya mengikuti setiap gerak kecil yang dilakukan menantunya.

"Kamu capek, Del?" tanya Bastian, nadanya pelan tapi dalam.

"Sedikit, Pa," jawab Adelia tanpa menatap. "Tadi aku sempat beberes rumah juga."

Bastian mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan.

"Kamu tuh nggak perlu repot kayak gitu. Ada Mbak Sisil, ada Bik Vivi. Kamu kan istri Lukas, bukan pembantu."

Adelia tersenyum sopan. "Saya suka melakukan hal kecil, Pa. Rasanya rumah lebih hidup kalau saya ikut turun tangan."

Bastian tersenyum samar. "Kamu memang beda. Dari dulu Papa lihat kamu bukan cuma cantik... tapi juga punya hati yang hangat."

Ucapan itu membuat tangan Adelia yang sedang mengelap piring sedikit berhenti. Ia mencoba tertawa kecil untuk menutupi rasa tidak nyaman.

"Papa bisa aja mujinya," ujar Adel.

"Itu bukan pujian," balas Bastian cepat. "Itu jujur. Lukas beruntung dapat kamu. Jarang ada perempuan muda yang bisa setulus kamu."

Adelia menelan ludah, mencoba tetap tenang. "Terima kasih, Pa. Tapi, saya cuma berusaha jadi istri yang baik."

Bastian bersandar ke kursinya, suaranya lebih pelan namun nadanya berubah-lebih pribadi. "Kalau Papa boleh jujur, Del... Papa sering mikir, kalau kamu datang lebih dulu dalam hidup Papa, mungkin segalanya bakal beda."

Adelia langsung menoleh, matanya membulat. "Maksud Papa?"

Bastian tertawa kecil, menutupi kata-katanya. "Ah, Papa bercanda. Jangan serius amat! Udah malam gini, santai aja."

Adelia mencoba memaksa tersenyum, tapi jantungnya berdetak makin cepat. Ia bisa merasakan perubahan di cara Bastian menatapnya-bukan lagi pandangan seorang mertua kepada menantu.

Itu pandangan pria pada wanita.

Ia berdiri cepat, mencoba mengakhiri suasana yang mulai menekan. "Saya... saya mau bantu Bik Vivi di dapur dulu, Pa."

Bastian mengangguk pelan, tapi matanya masih menatap punggung Adelia yang menjauh. "Baik, Del. Tapi, jangan sungkan kalau butuh bantuan Papa! Apa pun itu," ucapnya pelan, nadanya ambigu.

Adelia berpura-pura tak mendengar. Ia mempercepat langkah menuju dapur, menahan napas panjang begitu pintu ruang makan tertutup di belakangnya.

Tangannya bergetar saat ia menyandarkan diri ke meja dapur. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar merasa takut-bukan karena ancaman, tapi karena tatapan yang terlalu sulit dijelaskan dengan kata-kata.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!