Menceritakan Jiang Xuan yang kembali kemasa lalu tepatnya saat dia berusia 15 tahu, dengan mata takdir dan teknik kaligrafiya dia membantai musuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Langit di atas alun-alun Sekte Awan Azure berubah menjadi merah darah dalam sekejap mata.
Pilar-pilar cahaya raksasa melesat dari empat penjuru pegunungan, membentuk kubah energi yang mengurung puluhan ribu murid di luar. Itu adalah Formasi Pembunuh Besar sekte. Tekanan udara anjlok secara drastis. Gravitasi di alun-alun meningkat lima kali lipat, memaksa murid-murid tingkat rendah jatuh tertelungkup, muntahan darah, dan meratap dalam teror absolut.
Di atas langit yang merah, belasan sosok tua abu-abu turun melayang. Mereka adalah para Tetua Inti tingkat Inti Emas. Niat Membunuh dari belasan monster tua itu menyapu alun-alun bagai badai pisau, tidak memedulikan jika murid-murid luar yang lemah pingsan atau mengompol di celana karena ketakutan.
"Kunci setiap inci tempat ini! Jangan biarkan satu ekor lalat pun keluar!" raung salah satu Tetua yang wajahnya dipenuhi bekas luka. "Bunga Teratai Sumsum Es telah dicuri! Ye Chen dan dua murid lainnya menemukan cacat dan gila di Lembah Embun Beku! Siapapun yang berbau hawa es, potong anggota tubuhnya dan bawa ke hadapanku!"
Kepanikan meledak. Ribuan murid berteriak histeris saat para pengawal sekte dan Tetua mulai merangsek maju. Mereka merobek jubah murid secara paksa, menendang wajah mereka, dan mendukung Qi pemeriksa dengan sangat brutal ke dalam meridian setiap orang untuk mencari sisa energi Bunga Teratai. Tulang-tulang patah dan buruknya penderitaan mendominasi alun-alun.
Di tengah kekacauan itu, Jiang Xuan tergeletak di tanah berdebu. Tubuhnya bergetar, wajahnya digambarkan di balik lengan bajunya, meniru postur seekor anjing buangan yang ketakutan.
Namun, di balik bayangan poninya, bibir Jiang Xuan melengkung membentuk seringai yang sangat dingin dan meremehkan.
Mencariku ? batinnya sinis. Silakan cari sampai kalian mati membusuk.
Ia sama sekali tidak panik identitasnya akan dibongkar oleh Ye Chen. Sesaat sebelum ia meninggalkan mulut gua di Lembah Embun Beku, Jiang Xuan tidak hanya mematahkan mental Ye Chen. Dengan jari berdarahnya, ia telah melukiskan 'Segel Pemutus Ingatan' langsung ke lautan kesadaran Ye Chen, Zhao Hai, dan Sun Li.
Segel itu adalah teknik penyiksaan jiwa tingkat lanjut. Teknik itu mengoyak dan mengingat ingatan mereka tentang wajah, suara, dan identitas pelaku secara permanen. Jika mereka ditanya siapa yang menyerang mereka, otak mereka hanya akan menampilkan sosok hitam yang memicu rasa sakit hingga membuat mereka muntah darah. Apalagi Kepala Sekte tingkat Jiwa Baru Lahir pun tidak akan bisa mendengar kembali memori yang telah dihancurkan oleh Niat Membunuh murni milik sang Cendekiawan Tinta Hantu.
Meskipun demikian, perhitungan rasional Jiang Xuan tidak berhenti bekerja. Matanya melirik dari balik lengan baju. Seorang Tetua tingkat Inti Emas dengan wajah sekeras batu bata sedang berjalan mendekatinya, melempar murid-murid lain yang sudah diperiksa layaknya tumpukan karung gandum.
Sial , rutuk Jiang Xuan dalam hati. Array Penutup Aura di dadaku bisa memanipulasi tingkat terpanaku menjadi tahap tiga. Tapi aku baru saja menelan Bunga Teratai Sumsum Es mentah-mentah beberapa jam lalu. Pori-pori kulitku masih membocorkan sisa-sisa hawa dingin ekstrem. Jika Tetua Inti Emas ini memasukkan Qi-nya langsung ke dalam darahku, dia akan merasakannya.
Waktunya hanya tersisa sepuluh detik sebelum Tetua itu tiba di depannya. Jiang Xuan harus mengambil keputusan ekstrem.
Ia menurunkan tangannya sedikit ke arah dada, menyentuh kerah jubahnya yang menyembunyikan Baozi. Menggunakan energi mentalnya yang tajam, ia membiarkan sedikit Array Pembungkam di mulut gumpalan bulu putih itu.
Melalui transmisi telepati Niat Membunuh, suara Jiang Xuan menggema langsung di dalam otak kecil Baozi, membawa ancaman maut yang kejam.
Dengar baik-baik, gumpalan rakus. Sedot seluruh sisa hawa dingin yang keluar dari kulit dadaku. Lakukan sekarang, atau aku akan meremas kepalamu sampai hancur dan menjadikanmu sup tulang malam ini juga!
Baozi yang sempat marah karena mulutnya tertutup, tiba-tiba matanya berbinar lebar. Ia tidak memedulikan ancaman kematian itu sama sekali. Baginya, hawa dingin Bunga Teratai Sumsum Es yang tersisa di kulit Jiang Xuan adalah hidangan penutup yang sangat lezat.
"Kyuu!"
Baozi membuka mulut mungilnya dan mulai menyedot udara di balik jubah Jiang Xuan seperti lubang hitam mini. Seluruh sisa embun beku, hawa dingin, dan fluktuasi elemen es yang merembes dari pori-pori Jiang Xuan langsung tersedot habis ke dalam perut buncitmakhluk itu. Dalam tiga detik, suhu tubuh Jiang Xuan kembali normal layaknya manusia biasa yang kotor dan berkeringat.
Tepat pada detik keempat, langkah kaki berat berhenti di depan Jiang Xuan.
Sebuah tangan besar yang kasar dan berbau besi berkarat mencengkeram leher Jiang Xuan, mengangkat remajanya itu dari tanah layaknya mencabut rumput pembohong.
"Ukh!" Jiang Xuan kagum, kedua kakinya menendang udara.
Tetua Inti Emas itu menatap Jiang Xuan dengan mata merah buas. Tanpa peringatan, Tetua itu mendukung aliran Qi yang sangat kejam dan membakar langsung ke dalam leher Jiang Xuan. Energi itu mengoyak meridian luarnya, mengalir deras melalui pembuluh darahnya.
Rasa sakitnya luar biasa, namun Jiang Xuan membiarkannya. Ia tidak melawan sedikit pun. Ia mengendurkan seluruh ototnya, membiarkan Qi Tetua menabrak Array Penutup Aura di dantiannya yang sengaja disetel untuk memantulkan ilusi kemiskinan Qi tahap tiga.
"Di mana kau sejak fajar, tadi sampah?!" bentak Tetua itu, ludahnya memercik ke wajah Jiang Xuan.
"S-saya...saya tidur di gubuk...Tetua...uhuk! Ampun!" Jiang Xuan memasang ekspresi teror dan kesakitan yang sempurna. Ia membiarkan darah segar menetes dari sudut bibir akibat invasi Qi yang kasar itu.
Tetua itu berkilau. Qi-nya menyapu seluruh tubuh Jiang Xuan dan tidak menemukan satu pun jejak Bunga Teratai Sumsum Es. Ia hanya mendeteksi sumsum tulang tingkat rendah, aliran Qi tahap tiga yang medioker, dan... sebuah transmisi energi binatang buas biasa yang sangat lemah dari balik jubah Jiang Xuan. Karena Baozi telah menelan energinya, makhluk itu hanya terasa seperti hewan peliharaan tikus murahan di mata sang Tetua.
"Hanya sampah tahap tiga dengan hewan peliharaan tak berguna. Menjijikkan," ludah Tetua itu.
Ia melempar Jiang Xuan ke tanah dengan keras. Tubuh Jiang Xuan menghantam lantai batu alun-alun, tulang rusuknya berderit. Ia sengaja tidak menggunakan Qi untuk melindungi diri agar terlihat semakin lemah.
Setelah satu jam interogasi brutal yang memakan jiwa korban beberapa murid lemah akibat tidak tahan dengan invasi Qi, para Tetua Inti Emas berkumpul kembali di udara. Wajah mereka hitam legam karena kemarahan. Pencurinya tidak ditemukan.
Tetua yang wajahnya penuh bekas luka melangkah maju di udara, suaranya menggelegar ke penjuru alun-alun.
"Pencuri mencuri itu telah menyembunyikan jejaknya! Tetapi Sekte Awan Azure tidak akan membiarkan pelanggaran ini! Karena kalian semua adalah sampah yang tidak berguna untuk menjaga wilayah sendiri, kalian semua akan membayar kerugian ini!"
Ribuan murid menahan nafas dalam teror.
"Ujian Evaluasi Tahunan dibatalkan! Bulan depan, saat Reruntuhan Kuno terbuka, seluruh murid luar tanpa kecuali akan dilempar ke dalam sebagai pasukan perintis! Kalian akan membuka jalan, membersihkan jebakan dengan nyawa kalian, dan mencari harta untuk menggantikan Bunga Teratai yang hilang! Siapa pun yang, akan dieksekusi di tempat!"
Ratapan putus asa meledak di alun-alun. Dijadikan pasukan perintis di Reruntuhan Kuno sama saja dengan vonis hukuman mati. Tingkat kematian umpan meriam mencapai sembilan puluh persen.
Di tengah tangisan dan lolongan para murid di sekitarnya, Jiang Xuan yang masih terbaring di tanah perlahan menghapus darah dari bibirnya. Ia menatap langit merah dengan pandangan yang gelap, dalam, dan dipenuhi antisipasi yang brutal.
Hukuman masal ini tidak membuatnya takut. Sebaliknya,ini adalah jalan pintas yang disajikan langsung oleh surga ke hadapannya
.Reruntuhan Kuno, gumam Jiang Xuan dalam hati.
Nama tempat itu memicu ingatan yang terkubur jauh di dalam jiwa kunonya yang berusia tiga ratus tahun. Bukan ingatan tentang harta, melainkan ingatan tentang sesosok wanita.
Lin Ruoxue.
Mata Jiang Xuan membuka, memancarkan cahaya yang rumit. Dalam kehidupan masa lalunya, Lin Ruoxue tidak mati mengenaskan di tambang atau biara awal. Wanita itu bertahan hidup menembus gunung mayat, mengukir wawasan tajam dengan hati sedingin es abadi, hingga di masa depan ia dikenal di seluruh penjuru benua dengan satu julukan yang ditakuti: Iblis Es Hitam.
Jiang Xuan masih mengingat dengan jelas pertempuran epiknya melawan wanita itu. Pertarungan antara Niat Membunuh dari Cendekiawan Tinta Hantu melawan Niat Es Absolut milik Iblis Es Hitam. Mereka menghancurkan tiga puncak gunung, membelah sungai menjadi dua, dan bertarung selama tujuh hari tujuh malam tanpa henti. Pertarungan berdarah itu berakhir imbang. Baik kehabisan Qi, terkapar bersimbah darah di atas puing-puing, dan di tengah napas yang tersengal, mereka membuat sebuah kesepakatan mutlak.
Sebuah janji untuk bertarung kembali dalam seratus tahun, untuk menentukan siapa yang pantas hidup dan siapa yang pantas mati.
Namun, janji itu tidak pernah ditepati. Jiang Xuan menyebar oleh konspirasi besar sebelum hari itu tiba.
"Iblis Es Hitam," bisik Jiang Xuan pelan, suaranya hanya bisa didengar oleh angin kotor di sekitarnya. Seringai tipis, penuh hasrat bertarung dan kekejaman masa lalu, terukir di wajahnya. "Di garis waktu ini, aku tidak akan membiarkanmu menunggu seratus tahun. Di Reruntuhan Kuno bulan depan... mari kita lihat betapa rapuhnya lehermu sebelum kau menjadi sang Iblis."
Thor, kurangi sifat jahat MC nya
Harusnya dia bersyukur, bisa memulai dari awal dan memperbaiki semuanya
Sebenar na, Xuan itu arti na apa ya? 🙏