NovelToon NovelToon
Idola Kampus Itu Pacarku

Idola Kampus Itu Pacarku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Cintapertama
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​"Woy, lihat! Itu Kak Baskara!"

​Bisikan-bisikan itu menyebar cepat seperti api yang menyambar rumput kering. Lara yang awalnya sibuk merapikan buku catatannya, refleks mendongak ketika suasana mendadak hening selama satu detik, lalu pecah oleh riuh tepuk tangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Teduh di taman budaya

Setelah riuh rendah di podium utama mereda, ribuan mahasiswa mulai mengalir menuju Taman Budaya Kampus. Area hijau yang luas itu kini telah berubah menjadi pasar seni dan kuliner yang semarak. Aroma sate lilit, kopi lokal, hingga camilan kekinian memenuhi udara, bercampur dengan suara petikan gitar dari panggung-panggung kecil di setiap sudut taman.

​Baskara sengaja mengambil jalur yang sedikit memutar untuk menghindari kerumunan besar, namun tetap membawa Lara menuju area kuliner. Baginya, tugas menjaga Lara belum selesai, terutama setelah melihat betapa lelahnya gadis itu setelah berdiri di bawah sorotan lampu podium.

​"Kamu pasti haus," ucap Baskara sambil mengarahkan Lara ke sebuah bangku kayu di bawah pohon beringin besar yang rindang. "Tunggu di sini, saya ambilkan minum dan sesuatu yang segar."

​Lara mengangguk, menyeka sedikit peluh di pelipisnya. "Terima kasih, Kak. Jangan lama-lama ya."

​Saat Baskara berjalan menuju stan minuman, Lara memperhatikan sekeliling. Mahasiswa baru tampak tertawa lepas, beberapa asyik berfoto di depan instalasi seni bambu. Namun, ketenangan Lara terusik saat ia melihat Manda berdiri tak jauh dari stan kuliner, sedang dikelilingi oleh beberapa panitia lain yang tampak memberikan laporan. Manda melihat ke arah Lara, matanya masih memancarkan kebencian, namun ia tak berani mendekat karena tahu Baskara ada di sekitar sana.

​Tak lama, Baskara kembali dengan dua gelas iced peach tea dan sepiring kecil waffle hangat dengan topping es krim.

​"Makanlah. Ini bisa mengembalikan energimu sebelum kita lanjut melihat pameran seni," kata Baskara sambil menyerahkan gelas dingin itu ke tangan Lara.

​"Wah, kelihatannya enak!" mata Lara berbinar. Ia mencicipi es krimnya dan seketika merasa jauh lebih baik. "Kak Baskara nggak makan?"

​Baskara hanya tersenyum tipis, matanya terus menyapu area sekitar, memastikan tidak ada gangguan bagi Lara. "Melihat kamu makan dengan lahap saja sudah cukup bagi saya."

​Di tengah suasana taman yang santai itu, Randy tiba-tiba muncul dari balik kerumunan dengan wajah sumringah. "Woi, pasangan paling viral hari ini! Asyik banget ya mojok di bawah pohon. Bas, lo dicariin Pak Dekan di depan gedung seni, ada sesi foto bareng pejabat kampus."

​Baskara menghela napas, tampak enggan meninggalkan Lara. Ia menatap Lara sejenak, lalu beralih ke Randy dengan tatapan mengancam. "Ran, jaga Lara di sini. Kalau sampai dia hilang atau ada yang mengganggu, lo yang gue gantung di tiang bendera."

​Randy tertawa terbahak-bahak sambil memberi hormat. "Siap, Bos! Aman terkendali!"

Randy menarik sebuah kursi kayu dan duduk di hadapan Lara dengan ekspresi yang tiba-tiba berubah serius. Ia memastikan Baskara sudah benar-benar menjauh menuju gedung seni sebelum membuka suara.

​"Ra," panggil Randy dengan nada rendah, sangat berbeda dari gayanya yang biasanya pecicilan. "Gue mau nanya satu hal, dan gue harap lo jujur sama gue. Apa benar... Manda yang sengaja mengunci lo di gudang belakang kemarin?"

​Lara terdiam sejenak. Ia memutar-mutar sedotan di dalam gelas minumannya, ragu apakah harus menceritakannya atau tidak. Namun, melihat tatapan Randy yang tampak tulus ingin tahu, Lara akhirnya mengangguk pelan.

​"Iya, Kak. Dia bilang ada berkas kelompokku yang tertinggal dan Kak Baskara yang menyuruhku mengambilnya. Tapi begitu aku masuk, pintunya langsung dikunci dari luar," jawab Lara lirih.

​Randy mengumpat pelan sambil menggelengkan kepala. "Gila... itu cewek benar-benar nekat. Gue udah curiga pas lihat rekaman CCTV bareng Baskara semalam. Lo tahu nggak, Ra? Pas Baskara lihat rekaman itu, mukanya langsung berubah menyeramkan banget. Gue belum pernah lihat dia semarah itu selama tiga tahun gue temenan sama dia."

​Lara mendongak, matanya membulat. "Kak Baskara... sangat marah?"

​"Bukan cuma marah, Ra. Dia hampir mau ngancurin monitor CCTV kalau nggak gue tahan," lanjut Randy sambil menghela napas. "Dia lari ke gudang itu kayak orang kesurupan, nggak peduli kakinya masih sakit habis jatuh. Pas dia bawa lo keluar dengan keadaan pingsan, gue bisa lihat tangannya gemetar hebat. Dia takut banget kehilangan lo."

​Lara terpaku mendengar cerita Randy. Ia hanya tahu bahwa Baskara datang menyelamatkannya, namun ia tidak menyangka bahwa pria sedingin Baskara bisa menunjukkan emosi sekuat itu demi dirinya.

​"Jangan anggap remeh perhatian dia ke lo, Ra," tambah Randy lagi sambil melirik ke arah gedung seni tempat Baskara berada. "Baskara itu orangnya tertutup, tapi kalau dia udah mutusin buat jagain seseorang, dia bakal taruhan nyawa. Makanya dia minta gue jagain lo sekarang, karena dia nggak percaya sama siapapun selain gue kalau soal keselamatan lo."

​Lara menunduk, menyembunyikan senyum kecil sekaligus rasa haru yang membuncah di dadanya. Di tengah hiruk-pikuk taman budaya, pengakuan Randy membuat Lara menyadari bahwa perasaan Baskara padanya jauh lebih dalam dari yang ia bayangkan.

1
ASTRI LIANTI
kok di paragraf atas ga berjilbab kok di sini berjilbab sih
Zet3: mksh kak koreksi nya,aku perbaiki yaa🙏🏻
total 1 replies
Ryuu
semangat terus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!