NovelToon NovelToon
Terjebak CEO Tampan

Terjebak CEO Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Selama 15 tahun pernikahan dengan Angga, Nayra bahkan tidak pernah bahagia. Meskipun dia sudah memiliki dua orang putri. Sikap kasar Angga tidak pernah hilang, dia sering memarahi Nayra di depan kedua anaknya. Ternyata sikap Angga, bukan hanya membuat Nayra tersiksa, tapi juga anak pertamanya yang mulai beranjak remaja. Nayra sempat berpikir keras untuk pergi dari rumah itu, tapi yang dia pikirkan hanya kedua anaknya, bagaiman masa depannya. Nayra terus bertahan meskipun luka di hatinya semakin besar, rasa cinta untuk Angga kini telah hilang. Saat Nayra terjebak hutang, Angga masih saja menyalahkannya, kini Nayra sudah berada di titik pasrah. Tapi Tuhan maha baik hidup Nayra di tolong oleh Arsen Wiratama, pemilik perusahaan terbesar di kota itu. Arsen menolong Nayra, tapi semua tidak gratis, Nayra harus bersedia meninggalkan Angga dan juga menikah dengannya secara kontrak. Bagaimana kelanjutan pernikahan kontrak mereka.

IG : purpleflower3125
FB : Flower Arsyta

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 25 : Keusilan Raya

Tepuk tangan masih menggema setelah potongan pertama kue berhasil diangkat. Lampu kamera terus berkedip. Senyum-senyum lebar menghiasi wajah para tamu.

Namun MC belum selesai. Suaranya kembali terdengar, kali ini lebih ringan, sedikit bercanda.

“Baik… sekarang momen yang paling ditunggu-tunggu. Pengantin diminta untuk saling menyuapi kue satu sama lain!”

Sorakan kecil langsung terdengar dari para tamu. Beberapa bahkan bertepuk tangan lebih meriah. Arsen menoleh ke arah Nayra. Sementara Nayra sedikit menahan napas.

Pelayan sudah menyerahkan potongan kecil kue di atas piring cantik. Arsen mengambil garpu. Tangannya terangkat pelan, namun ia sempat berhenti.

Menatap Nayra beberapa detik. Lalu tanpa berkata apa-apa, ia menyuapkan potongan kue itu ke arah Nayra. Nayra ragu beberapa detik.

Namun akhirnya ia membuka mulutnya sedikit. Menerima suapan itu, tepuk tangan kembali pecah. Beberapa tamu bahkan bersiul pelan, kini giliran Nayra.

Tangannya sedikit gemetar saat mengambil potongan kue. Matanya sempat terangkat, menatap Arsen. Lalu perlahan ia menyuapkan kue itu. Arsen menerimanya tanpa banyak ekspresi.

Namun entah kenapa, saat kue itu masuk ke mulutnya tatapannya berubah sedikit lebih lembut.

“Wah… manis banget ya suasananya!” suara MC kembali menggoda.

Para tamu tertawa kecil. Namun, kalimat berikutnya membuat suasana berubah.

“Dan… sesuai tradisi modern…” suara MC sedikit ditahan, memberi jeda dramatis. “Pengantin pria diminta untuk mencium pengantin wanita!”

Seketika Nayra membeku, matanya langsung membesar. Ia menoleh cepat ke arah Arsen. Tatapannya jelas terkejut.

Arsen juga terdiam sesaat. Namun ia segera mendekat sedikit. Wajahnya mendekat ke arah Nayra. Dan dengan suara sangat pelan, nyaris tak terdengar siapa pun... ia berbisik.

“Ini hanya formalitas di depan semua orang…” napasnya terasa dekat. “Aku tidak akan memakai hatiku untuk menciummu.”

DEG

Jantung Nayra berdebar lebih cepat. Namun bukan karena kata-katanya saja. Melainkan karena jarak mereka yang begitu dekat.

Di sisi lain, Raya yang berdiri tidak jauh dari sana langsung mengepalkan tangannya. Wajahnya menegang dan terlihat kesal.

“Kenapa harus ciuman sih…” gumamnya dalam hati. Matanya menatap tajam ke arah Arsen. “Kalau mama jatuh cinta beneran gimana? Aku nggak mau Om Arsen nyakitin mama.”

Tatapannya lalu bergeser, ke arah Ibu Ambar. Yang sejak tadi memang memperhatikan Arsen dan Nayra dengan tatapan dingin dan menusuk.

“Belum lagi nenek lampir itu, pasti bakal macam-macam sama mama. Ini nggak boleh…”

Raya melangkah maju, niatnya jelas ingin menghampiri Nayra. Namun tiba-tiba tangannya tertahan.

“Kamu mau ke mana, Raya?” suara Kakek Sanjaya lembut, namun menahan.

Raya menoleh, wajahnya masih kesal.

“Ini momen bahagia mereka, jangan diganggu ya,” lanjutnya pelan.

Belum sempat Raya menjawab, Alea sudah menarik tangannya dari sisi lain. Mulutnya masih penuh kue.

“Iya kakak sini aja. Mau nggak cobain kue coklat ini? Ini enak loh…” ucapnya polos.

Raya menatap adiknya kesal. Namun tidak berkata apa-apa. Ia hanya diam, menahan dirinya.

Sementara itu, di depan Arsen menatap Nayra dalam. Beberapa detik, seolah memberi waktu. Nayra menelan ludah pelan, matanya sempat terpejam.

Lalu, perlahan ia mengangguk. Arsen tidak ragu lagi. Tangannya terangkat, menyentuh pelan dagu Nayra. Mengangkatnya sedikit.

Dan dengan tenang, ia mendekat. Bibir mereka bertemu, Nayra merasakan kelembutan bibir Arsen. Seketika jantungnya berdetak lebih cepat.

Tapi dengan cepat Nayra mendorong Arsen untuk menjauh darinya. Ciuman singkat itu mampu membuat seluruh aula meledak dalam tepuk tangan.

Kamera berkedip lebih cepat, sorakan terdengar. Beberapa tamu bahkan berdiri. Namun di balik itu semua ada perasaan yang tidak sederhana.

Nayra membuka matanya perlahan. Dadanya naik turun, perasaannya kacau. Antara bersalah dan sesuatu yang mulai tumbuh tanpa ia sadari.

Sementara Arsen meski wajahnya tetap tenang, tatapannya sempat kosong sesaat. Seolah ia sendiri tidak sepenuhnya yakin, apakah benar ia tidak melibatkan hatinya.

Di kejauhan, Raya hanya bisa diam. Tangannya masih mengepal. Matanya menatap lurus ke arah mereka. Penuh kekhawatiran.

Dan di sudut lain, Ibu Ambar tersenyum tipis. Namun bukan senyum bahagia. Melainkan senyum yang menyimpan sesuatu. Sesuatu yang perlahan, akan menjadi masalah berikutnya.

Tepuk tangan masih belum sepenuhnya reda saat musik lembut kembali dimainkan. Lampu kristal di langit-langit aula berpendar hangat, memantulkan kilau ke gaun Nayra yang berkilauan halus. Namun di balik gemerlap itu… suasana di antara mereka berdua terasa berbeda.

Arsen menarik napas pelan, lalu mundur setengah langkah dari Nayra. “Maaf…” ucapnya sangat pelan, nyaris tak terdengar di tengah riuhnya aula.

Nayra tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap ke arah lain, mencoba mengatur napasnya yang masih tidak stabil. Tangannya tanpa sadar menggenggam ujung gaunnya sendiri.

“Ini… cuma bagian dari sandiwara,” balasnya akhirnya, suaranya lembut tapi ada getaran yang sulit disembunyikan.

Arsen terdiam. Kata-kata itu memang benar. Tapi entah kenapa, justru terasa mengganjal di dadanya.

Di sisi lain, MC kembali mengambil alih suasana.

“Luar biasa! Pengantin kita benar-benar romantis.” ucapnya penuh semangat.

Tamu-tamu kembali tertawa dan bertepuk tangan. “Baiklah, sebelum kita lanjut ke sesi berikutnya, mari kita beri kesempatan pasangan pengantin untuk beristirahat sejenak.”

Sorotan kamera mulai beralih. Musik sedikit berubah, lebih santai. Arsen menoleh ke arah Nayra lagi.

“Kita ke belakang sebentar,” ucapnya singkat.

Nayra mengangguk tanpa banyak bicara. Keduanya berjalan berdampingan, melewati deretan tamu yang masih memberi ucapan selamat. Senyum mereka tetap terpasang rapi, seperti tidak ada yang terjadi beberapa detik lalu.

Namun begitu pintu ruang privat tertutup, senyum itu runtuh. Nayra langsung membalikkan badan.

“Kenapa kamu lakukan itu?” tanyanya pelan, tapi jelas.

Arsen mengernyit. “Bukannya kamu juga setuju?”

“Aku setuju karena itu formalitas,” balas Nayra cepat. “Tapi cara kamu…”

Ia terhenti, sulit baginya menjelaskan. Cara Arsen menyentuhnya, saat ia mendekat, itu tidak terasa seperti sekadar formalitas.

Arsen menatapnya beberapa detik. Lalu ia mengalihkan pandangan.

“Aku sudah bilang sebelumnya,” ucapnya dingin, mencoba kembali ke sikap awalnya. “Aku tidak akan pakai perasaan.”

Namun kali ini, Nayra tidak langsung percaya. Ia menatap Arsen lebih dalam.

“Kalau memang begitu…” suaranya melembut, “kenapa kamu terlihat ragu setelahnya?”

DEG

Untuk pertama kalinya malam itu, Arsen tidak punya jawaban. Ruangan menjadi hening. Hanya suara musik samar dari luar yang terdengar.

Sementara itu…

Di balik pintu yang sedikit terbuka di ujung lorong, seseorang berdiri diam. Raya... matanya menatap ke arah ruangan itu dengan penuh perasaan campur aduk.

“Aku harus jaga mama…” gumamnya pelan.

Namun di belakangnya, langkah pelan mendekat. Suara sepatu hak tinggi itu terdengar jelas di lorong yang sepi. Raya yang awalnya fokus ke arah pintu langsung menegang. Ia perlahan menoleh ke belakang dan benar saja.

Ibu Ambar berdiri tidak jauh darinya, menatap dengan alis terangkat.

“Hey, anak kecil… sedang apa kau di situ?” tanyanya ketus, penuh curiga.

DEG

Jantung Raya berdegup lebih cepat. Tatapannya sempat melirik ke arah pintu di sampingnya, tempat Nayra dan Arsen berada.

“Jangan sampai dia tahu,” batinnya. Ia harus melakukan sesuatu. Sekarang juga. “Sial… ngapain sih nenek lampir itu ke sini,” gerutunya dalam hati.

Tanpa berpikir panjang, Raya langsung melangkah cepat mendekati Ibu Ambar. Tiba-tiba, ia mendorong pelan tubuh wanita itu menjauh dari pintu.

“Oma, sebaiknya oma ke depan saja, jangan di sini,” ucapnya cepat.

Ibu Ambar langsung mengernyit tidak suka. “Kurang ajar! Berani sekali kau...”

Namun Raya langsung memotong, sambil memegang perutnya.

“Aku… aku mual,” ucapnya lemah, pura-pura. “Sepertinya aku mau muntah…”

Ia membungkuk sedikit.

“Hoeegh…”

Ekspresi Ibu Ambar langsung berubah drastis. Wajahnya penuh jijik, ia mundur satu langkah.

“Ih! Jorok sekali anak ini!” ucapnya dengan nada tinggi.

Raya tetap mempertahankan aktingnya. Bahkan ia mendekat satu langkah lagi.

“Oma yakin mau di sini? Nanti aku muntah beneran loh…” ancamnya polos, tapi jelas disengaja.

Ibu Ambar refleks mundur lebih jauh. “Sudah! Sudah! Kau ini benar-benar...”

“Ya sudah, sebaiknya oma ke depan saja,” potong Raya santai, kali ini hampir tidak bisa menahan senyumnya. “Daripada nanti kena…”

Ibu Ambar mendengus kesal. Tanpa berkata lagi, ia berbalik dan berjalan cepat menjauh dari lorong itu. Langkahnya terdengar cepat, jelas terganggu dan kesal.

Begitu sosoknya menghilang, Raya langsung berdiri tegak kembali. Ekspresi lemahnya lenyap seketika. Digantikan oleh senyum kecil penuh kemenangan.

“Haha...” ia terkekeh pelan. “Gampang banget sih ngerjain nenek lampir satu ini.”

1
Arditya
Buku ini bagus ceritanya. Authornya mendalami banget ya sama cerita ini. lanjut thor sampai ratusan bab.
Vhiie Chavtry
suka banget, ada gambar visualnya di babnya... semangat Thoor😍
Vhiie Chavtry
aku suka banget sama Alea...hheee

semangat, lanjut thoor😄👍
Vhiie Chavtry
Ceritanya sangat menarik, dan relate... semangat author. recommended bangt sih😎
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!