Zinnia, putri cantik yang manja dari keluarga kaya cavendish. Yang jadi kesayangan semua orang, selalu mendapat apa yang ia mau. Di kenal tak suka di kekang dan sudah banyak menolak banyak lamaran lelaki muda kaya raya. Suatu ketika dia mengincar perhiasan dari batu langka di sebuah pelelangan, namun dua perhiasan yang ia incar justru jatuh ke tangan dua pengusaha muda yang langsung membuatnya kesal. Ternyata pertemuan singkat mereka kala itu adalah cerita pembuka untuk cinta segitiga di antara mereka di masa depan. Kecantikannya yang luar biasa memikat kedua pengusaha kaya itu, tanpa ia sadari. Dan perlahan kedua cowok tersebut dapat meruntuhkan tembok pertahanan yang selama ini ia buat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nakorang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 : Tamu tak terduga.
Pagi itu matahari bersinar cerah, angin sepoi-sepoi berhembus lembut menyapa taman belakang rumah keluarga Cavendish. Di sana, Zinnia sedang sibuk memanen bunga mawar kesayangannya. Tangannya yang lentik dengan hati-hati memotong tangkai bunga menggunakan gunting kecil, wajahnya terlihat sangat fokus dan damai, berbeda jauh dengan sikapnya yang biasanya heboh.
Tiba-tiba langkah kaki terdengar mendekat. Itu adalah Bi ijah.
"Non..." panggil Bi Ijah pelan.
Zinnia tidak menoleh, tangannya masih sibuk. "Ada apa Bi?"
"Non, ada tamu di depan. Baru saja datang. Katanya mau bertemu sama Non."
Zinnia berhenti sejenak.
"Siapa Bi?" tanyanya santai.
"Bibi tidak tahu, tapi sepertinya dia seumuran Ibu Non. Wajahnya cantik sekali, pakai baju yang sangat elegan... sepertinya dari keluarga berada," jelas Bi Ijah.
Deg!
Seketika Zinnia menghentikan kegiatannya. Rasa penasaran langsung muncul. Tanpa bertanya lagi, dia segera mencuci tangan di wastafel dekat taman, mengambil keranjang berisi bunga mawar yang sudah dipetik, dan berjalan cepat menuju ruang tamu.
Sesampainya di sana, dia melihat seorang wanita duduk dengan anggun. Wajahnya cantik, auranya memancarkan kekayaan dan kelembutan.
"Maaf... cari siapa ya?" tanya Zinnia sopan sambil tersenyum kecil.
Wanita itu langsung membalas senyum dengan sangat ramah.
"Kamu pasti Zinnia kan? Pacarnya Riondra..."
Zinnia terkejut, pipinya langsung memerah. "Em... i-iya... betul."
"Kenalkan, aku Layla... ibunya Rion."
JANTUNG ZINNIA HAMPIR BERHENTI BERDETAK!! Jelas kaget dengan kedatangan tiba-tiba dari orang yang tak ia sangka.
"Ta... Tante... ibunya Rion ya? Em... bagaimana Tante tahu alamat rumahku?" tanyanya terbata-bata, salah tingkah bukan main.
"Itu rahasia..." jawab Layla tersenyum misterius,
"Tapi beberapa hari yang lalu aku mendengar kabar, jika anakku satu-satunya itu mulai dekat dengan seorang gadis. Bahkan dia berani membatalkan pertemuan penting hanya karena dirimu... Itu cukup mengesankan."
Zinnia makin gugup, jantungnya berdegup kencang, wajahnya panas karena malu, takut juga jika ibu Rion justru tak menyukainya. Atau malah menyalahkan dirinya atas tindakan yang Rion lakukan.
"Rion tidak pernah bersikap begitu. Dia memang pernah punya pacar dulu, tapi mereka putus karena Rion lebih mementingkan pekerjaannya. Makanya aku cukup terkejut dan penasaran saat mendengar kabar soal kejadian itu..."
"Ma... Maaf Tante..." Zinnia menunduk sedikit. Semakin takut jika disalahkan. Dia bahkan bingung harus bicara bagaimana agar Ibunda Rion mengerti. Tapi siapa sangka, reaksi ibunda Rion justru di luar dugaannya.
"Kenapa minta maaf? Aku justru harus berterima kasih padamu sayang." Layla tersenyum hangat.
"Kau berhasil meruntuhkan ego besarnya. Aku senang dengan hal itu... yang artinya, dia sudah mulai berubah."
"Begitu kah..." gumam Zinnia pelan, hatinya terasa berbunga-bunga dan sedikit lega, karna dugaannya tidak terjadi.
Layla langsung menarik tangan Zinnia agar gadis itu duduk di sampingnya. Dia bersikap sangat ramah, sopan, dan matanya berbinar-binar cerah saat menceritakan tentang sikap anaknya.
"Katakan padaku... kapan kalian akan menikah?" tanyanya tiba-tiba.
"A... aku... tidak tahu soal itu Tante... kami kan baru saja menjalin hubungan, jadi..." Zinnia makin salah tingkah.
"Begitu ya... tapi tidak apa-apa, akan aku tunggu sampai kalian berdua siap."
Setelah mengobrol banyak hal, suasana makin cair dan akrab. Akhirnya Layla mengajak Zinnia pergi keluar, mengajak berbelanja. Zinnia merasa tidak enak hati untuk menolak, akhirnya dia pun ikut.
Layla membawa Zinnia ke butik langganannya yang sangat mewah. Begitu masuk, mata Zinnia langsung melongo melihat barang-barang di dalamnya. Semuanya bermerek, desainnya indah, dan harganya pasti luar biasa mahal.
"Zinnia ayo, pilih barang yang kamu suka. Jangan sungkan, nanti Tante yang traktir."
"Tapi Tante... harganya terlalu mahal buat aku. Apa itu tidak apa-apa?" tanya Zinnia ragu.
"Tentu saja tidak apa-apa! Belanja saja apapun yang kamu mau... jangan pikirkan harga, biar nanti Rion yang membayarnya," jawab Layla santai.
Zinnia sebenarnya tertarik dengan banyak sekali barang, tapi dia sungkan dan ragu untuk mengambilnya karena merasa canggung. Namun Layla tidak membiarkannya. Tanpa diminta pun, ibunda Rion itu dengan antusias memilihkan dan mengambilkan barang-barang bagus untuk Zinnia, seolah-olah Zinnia sudah benar-benar dianggap seperti anak sendiri.
"Nah ini... Dress yang warna pastel ini cocok banget sama kulit kamu sayang... coba deh dilihat dulu..." ucap Layla antusias sambil menyodorkan sebuah dress cantik ke depan wajah Zinnia.
"Waah... bagus banget Tante..." gumam Zinnia takjub, tangannya menyentuh kainnya yang sangat halus.
"Ya kan? Ambil aja ya, nanti kamu pakai juga pasti pas banget di badan kamu."
Zinnia hanya mengangguk mengiyakan. Layla membelikannya banyak barang bahkan tanpa dia minta. Dia pikir setelah belanja mereka akan segera pulang, tapi siapa sangaka.. Layla justru mengajaknya kembali pergi.
Zinnia cuma bisa gelagapan. Dari satu butik pindah ke butik lain, dari satu mall pindah ke mall lain. Seolah uang yang di miliki Layla gak ada habisnya, semua barang yang menurut dia bagus dan cocok buat Zinnia, langsung diambil dan disuruh kasir bungkus. Dalam waktu singkat, mobil sudah penuh dengan kantong belanjaan berwarna-warni.
Sampai akhirnya mereka berhenti di sebuah Cafe mewah untuk istirahat dan minum.
"Terima kasih banyak ya Tante... sudah baik banget sama aku..." ucap Zinnia tulus sambil menyesap minumannya.
Layla tersenyum lembut, lalu menangkup kedua tangan Zinnia di atas meja.
"Kamu jangan sungkan-sungkan ya sayang... bagiku kamu itu bukan calon menantu lagi, tapi udah aku anggap kayak anak sendiri. Aku senang banget akhirnya Rion nemu orang yang bisa bikin dia berubah. Selama ini aku khawatir, takut dia keras kepala terus, takut dia sendirian terus... tapi berkat kamu, dia jadi lebih hangat."
Zinnia tersenyum malu, pipinya merona. "Rion... dia baik padaku dia juga selalu memberikanku apa saja yang aku mau. "
"Itu kabar bagus, aku senang mendengarnya. karna itu aku butuh kamu di samping dia untuk menemani kesendiriannya ..." Layla berhenti sebentar, tatapannya jadi lebih serius tapi tetap lembut.
"Tapi.. Rion juga punya kecendrungan mudah sekali marah karna hal kecil, bahkan aku sudah sering dengar dia sering memecat karyawan kantornya hanya karna hal sepele. Jadi, kalau suatu saat sikapnya agak kasar atau memarahi kamu, tolong yah.. Kamu harus sabar. "
"Iya Tante... aku ngerti kok..."
Layla tersenyum lega,
"Oh iya, soal barang-barang tadi... kamu pakai ya bajunya. Rion itu orangnya kalau soal orang yang dia sayang, dia gak pernah lihat harga. Justru dia bakal seneng kalau kamu kelihatan cantik dan bahagia."
Zinnia hanya mengangguk, hatinya terasa begitu bahagia dan hangat dengan perlakuan dari Ibunda pacarnya itu. Padahal tadi dirinya sempat takut tak di restui. Tapi semua perasaan takut itu perlahan mulai menghilang.
***