NovelToon NovelToon
Peluru, Cinta, Dan Kerupuk Kaleng

Peluru, Cinta, Dan Kerupuk Kaleng

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mafia
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ry_chan04

Ailen Gavril bukanlah gadis biasa. Ia cantik, lincah, dan memiliki kemampuan bela diri yang bisa membuat atlet olimpiade menangis di pojok ruangan. Namun, otaknya punya setelan "konsleting" yang permanen. Ailen bisa saja menghajar sepuluh preman sendirian, lalu semenit kemudian menangis karena es krimnya jatuh ke aspal.
​Di sisi lain dunia yang gelap, Leon Vancort, sang "Iblis Tak Berperasaan", memimpin sindikat mafia terbesar dengan tangan besi. Hidupnya penuh dengan perhitungan matang, kesunyian, dan kemewahan yang dingin. Sampai suatu malam, rencana pembunuhan berencana yang disusun Leon selama berbulan-bulan hancur total karena Ailen tiba-tiba jatuh dari atap gudang tepat di atas targetnya, hanya karena ia sedang mengejar kucing yang mencuri sandal jepitnya.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Leon Vancort sang Iblis yang Mulai Migrain

Jika ada satu hal yang tidak pernah dibayangkan oleh Leon Vancort dalam kurikulum hidupnya sebagai penguasa kegelapan, itu adalah kenyataan bahwa musuh terbesarnya bukanlah peluru kaliber .45 atau pengkhianatan orang kepercayaan, melainkan suara cempreng seorang gadis yang sedang mencoba menirukan suara lumba-lumba di kolam renang pribadinya.

​Leon duduk di ruang kerjanya yang kedap suara—atau setidaknya, yang seharusnya kedap suara. Namun, entah bagaimana, frekuensi suara Ailen Gavril sanggup menembus lapisan beton dan busa akustik paling mutakhir sekalipun.

​Puk! Puk! Puk!

​Suara sesuatu yang kenyal menghantam kaca jendela ruang kerjanya yang menghadap ke arah taman dalam. Leon mengalihkan pandangannya dari layar monitor yang menampilkan grafik perdagangan saham ilegal. Di luar sana, Ailen sedang mengenakan ban renang berbentuk bebek berwarna kuning neon, sambil melemparkan bola-bola jeli ke arah jendela hanya untuk melihat apakah benda itu akan menempel.

​"Tuhan, jika ini adalah ujian, tolong beri aku musuh yang lebih logis," gumam Leon sambil menekan pelipisnya. Migrain yang tadinya hanya sekadar denyutan kecil di belakang mata kiri, kini mulai menjalar ke seluruh tempurung kepalanya seperti orkestra drum yang dimainkan oleh anak kecil hiperaktif.

​Pintu ruang kerja Leon terbuka tanpa ketukan. Hanya ada satu orang di rumah ini yang tidak menghargai protokol keamanan nyawa: Ailen.

​"Mas Leon! Mas! Sini deh keluar!" Ailen masuk dengan kaki telanjang yang masih basah, meninggalkan jejak kaki berbentuk aneh di atas karpet Persia seharga mobil sport. Ia masih mengenakan ban bebek di pinggangnya yang ramping.

​Leon memutar kursinya, tatapannya sedingin es yang sanggup membekukan air terjun. "Ailen, aku sedang bekerja. Dan kau baru saja mengotori karpet yang lebih tua dari umurmu."

​Ailen menatap karpet itu, lalu menatap Leon dengan wajah polos. "Yah, Mas. Karpet mah tinggal dijemur. Mas ini kenapa sih, di dalem ruangan mulu? Pantesan mukanya makin pucat kayak drakula yang lagi diet darah. Ayo keluar, saya baru nemu teknik baru buat ngelatih otot perut!"

​"Teknik apa lagi?" tanya Leon pasrah. Ia tahu, menolak Ailen hanya akan memperpanjang perdebatan.

​"Teknik ketawa sambil nahan napas di dalam air! Mas tahu nggak, itu bisa bikin perut six pack dalam semalam lho!" Ailen memeragakan gerakan tersebut dengan ban bebeknya yang ikut bergoyang.

​Leon memijat keningnya lebih keras. "Keluar, Ailen. Sebelum aku benar-benar menggunakan ban bebek itu untuk membungkus kepalamu."

​"Dih, Mas makin galak kalau lagi migrain ya? Kelihatan tuh dari urat di jidat Mas yang lagi disko," Ailen mendekat, bukannya takut, ia justru berjalan ke belakang kursi Leon. "Sini, saya kasih terapi 'Jari Sakti'. Ini resep dari kakek saya yang dulu kerja jadi tukang urut keliling."

​Sebelum Leon sempat memprotes, tangan Ailen yang dingin dan masih sedikit basah sudah menyentuh pelipisnya. Leon membeku. Refleks mafianya seharusnya membuat ia membanting siapapun yang menyentuhnya tanpa izin, tapi ada sesuatu dari sentuhan Ailen yang membuatnya tertegun.

​Jemari Ailen mulai memijat dengan gerakan memutar yang sangat presisi. Anehnya, gerakan itu tidak sembrono seperti kepribadiannya. Tekanannya pas, mengenai titik-titik saraf yang sedang menegang.

​"Pelan-pelan, Mas. Napasnya diatur. Jangan mikirin cara musnahin keluarga Moretti mulu, pikirin cara supaya Mas bisa senyum tanpa keliatan kayak mau makan orang," bisik Ailen. Suaranya mendadak lembut, sebuah anomali yang membuat jantung Leon berdetak sedikit lebih cepat.

​Selama beberapa menit, keheningan menyelimuti ruangan itu. Hanya terdengar detak jam dinding dan napas Leon yang mulai teratur. Migrainnya perlahan menyusut, digantikan oleh rasa hangat yang merambat dari jemari Ailen.

​"Tuh kan, Mas. Mas itu cuma kurang kasih sayang, bukan kurang peluru," celetuk Ailen, seketika merusak suasana syahdu yang baru saja terbangun.

​Leon membuka matanya dan segera menepis tangan Ailen, meski dalam hati ia merasa sedikit kehilangan. "Cukup. Aku sudah merasa lebih baik. Sekarang, pakai pakaian yang layak. Kita ada tamu."

​"Tamu? Siapa? Tukang martabak?" tanya Ailen dengan mata berbinar.

​"Bos dari sindikat wilayah Utara. Dia datang untuk negosiasi damai. Dan ingat, Ailen, kali ini aku mohon padamu... jangan ada bawang, jangan ada kacamata renang, dan demi apa pun yang suci, jangan pukul lalat di hidungnya."

​Dua jam kemudian, ruang tamu utama kediaman Vancort sudah disulap menjadi area pertemuan formal. Victor, bos wilayah Utara yang terkenal sombong dan terobsesi dengan kebersihan, duduk di sofa dengan angkuh. Ia membawa dua pengawal yang tampak seperti robot—diam dan tanpa ekspresi.

​Ailen berdiri di samping Leon, mengenakan terusan hitam simpel yang sebenarnya membuatnya tampak sangat cantik dan elegan. Tapi, karena dia adalah Ailen, ia terus-menerus mencoba menggaruk punggungnya menggunakan gagang pistol yang terselip di pinggangnya karena merasa gatal.

​"Leon Vancort," Victor memulai dengan suara tinggi. "Aku dengar kau mempekerjakan seorang... gadis? Apa kau sudah kehabisan pria di organisasimu? Atau kau sedang membuka kursus tata rias di markasmu?"

​Victor dan pengawalnya tertawa meremehkan. Leon hanya menatap mereka dengan tatapan datar, tapi tangannya yang berada di bawah meja mulai mengepal. Ia tidak suka ada yang meremehkan asetnya—terutama aset yang baru saja menyembuhkan migrainnya.

​"Dia bukan sekadar gadis, Victor. Dia adalah peringatan bahwa kau tidak perlu terlihat kuat untuk menghancurkan seseorang," jawab Leon dingin.

​Ailen yang merasa namanya disebut, langsung tersenyum lebar. "Halo Om Victor! Wah, bajunya putih banget ya? Pake pemutih merk apa? Kinclong amat kayak gigi kelinci saya dulu."

​Victor mengerutkan kening, merasa terhina. "Siapa yang kau panggil Om, bocah?"

​"Ya Om lah! Masa Tante? Kan Om pakai kumis, walaupun kumisnya agak jarang-jarang kayak rumput lapangan bola yang kering," sahut Ailen tanpa dosa.

​Leon menutup matanya sebentar, merasakan migrainnya mulai memberikan sinyal "halo" kembali. "Ailen, diam."

​"Tapi Mas, saya kan cuma mau ramah tamah. Kata Emak, kalau ada tamu itu harus diajak ngobrol supaya mereka nggak ngerasa kayak lagi di kuburan," bisik Ailen, tapi suaranya tetap terdengar oleh semua orang di ruangan itu.

​Victor menggebrak meja. "Cukup! Aku datang ke sini untuk membahas pembagian wilayah pelabuhan, bukan untuk dihina oleh pelayanmu ini!"

​"Saya bukan pelayan, Om! Saya Bodyguard VIP! Very Important Pe'ak," ralat Ailen sambil membusungkan dada.

​Situasi memanas. Victor memberi isyarat pada salah satu pengawalnya untuk "memberi pelajaran" pada Ailen. Pengawal bertubuh raksasa itu maju satu langkah, mencoba mencengkeram leher Ailen.

​Dalam waktu kurang dari satu detik, Leon bahkan belum sempat mengeluarkan perintah, Ailen sudah bergerak. Ia tidak memukul pria itu. Ia justru melakukan sesuatu yang jauh lebih menghina. Ailen menunduk, menangkap kaki pria itu, dan dalam satu gerakan licin, ia menarik karpet mewah tempat pria itu berdiri.

​Bugh!

​Raksasa itu jatuh terlentang dengan suara yang sangat keras, kepalanya menghantam meja kopi hingga gelas-gelas kristal bergetar.

​"Opsi A: Jatuh elegan. Opsi B: Jatuh kayak nangka busuk. Kayaknya Om yang ini milih Opsi B ya?" ujar Ailen sambil berdiri di atas tubuh pria yang mengerang kesakitan itu.

​Victor berdiri, wajahnya merah padam. "Vancort! Ini adalah deklarasi perang!"

​"Perang? Aduh Om, hari gini masih perang? Mending kita lomba balap karung aja gimana? Lebih sehat, dapet hadiah pula," Ailen tertawa kecil.

​Leon berdiri, aura kekuasaannya menyelimuti ruangan. Ia menatap Victor dengan pandangan yang membuat pria itu mendadak kehilangan keberaniannya. "Victor, pengawalmu menyerang anggota keluargaku terlebih dahulu. Di rumahku. Menurut aturan dunia bawah, aku berhak mengirim kepalamu dalam kotak saat ini juga."

​Kata "keluarga" yang diucapkan Leon membuat Ailen tertegun sejenak. Jantungnya berdesir aneh. Ia menatap punggung lebar Leon yang berdiri kokoh melindunginya. Mas Van Houten... ternyata bisa keren juga ya kalau lagi serius, batinnya.

​Victor yang gemetar melihat amarah Leon yang tenang namun mematikan, akhirnya memutuskan untuk mundur. "Kita belum selesai, Vancort!" ia bergegas pergi diikuti pengawalnya yang terpincang-pincang.

​Setelah ruangan itu sepi, Leon menghembuskan napas panjang. Ia jatuh kembali ke sofanya dan langsung memegangi kepalanya.

​"Mas Leon... migrainnya balik lagi ya?" tanya Ailen pelan, kali ini tanpa nada bercanda.

​"Apa kau pikir?" sahut Leon pendek.

​Ailen duduk di lantai di depan kaki Leon. Ia menatap Leon dengan mata besarnya yang penuh empati. "Maaf ya, Mas. Saya nggak maksud bikin kacau. Tapi Om tadi beneran sombong banget, saya nggak suka dia ngomongin Mas kayak gitu."

​Leon membuka matanya sedikit. "Kau melakukannya... untukku?"

​"Ya iyalah! Mas kan bos saya. Walaupun Mas kaku, pelit martabak, dan suka marah-marah, tapi cuma saya yang boleh ngerjain Mas. Orang lain nggak boleh!" Ailen mengepalkan tinjunya dengan semangat.

​Leon terdiam. Di dunia yang penuh dengan orang-orang yang mendekatinya karena uang atau ketakutan, kejujuran brutal Ailen adalah sesuatu yang menyegarkan. Gadis ini melindunginya bukan karena kontrak, tapi karena sebuah kesetiaan konyol yang lahir dari hati yang bersih.

​"Ailen," panggil Leon.

​"Ya, Mas?"

​"Besok... jangan pakai ban bebek itu lagi di kolam renang."

​"Lho, kenapa? Mas mau pakai ya? Nanti saya beliin yang gambar buaya buat Mas!"

​"Bukan. Karena kalau kau pakai itu, aku jadi tidak bisa berhenti memperhatikanmu dari jendela, dan pekerjaanku jadi terbengkalai," ucap Leon pelan, hampir seperti bisikan.

​Ailen terpaku. Pipinya perlahan memerah seperti kepiting rebus. Ia tidak menyangka sang Iblis Mafia bisa melontarkan kalimat yang begitu... manis? Atau itu adalah ancaman halus?

​"Waduh... Mas Leon... Mas barusan gombal ya? Mas belajar dari mana? Dari bungkus kerupuk?" Ailen mencoba menutupi kegugupannya dengan tawa canggung.

​Leon tidak menjawab. Ia hanya memejamkan mata, membiarkan keheningan malam menyembuhkan kepalanya yang berdenyut. Tapi kali ini, migrainnya terasa berbeda. Ada rasa manis yang tertinggal di tengah rasa sakitnya.

​"Mas Leon?"

​"Apa lagi?"

​"Kalau Mas migrain lagi... saya boleh pijat lagi nggak? Tapi bayarannya martabak spesial ya?"

​Leon tersenyum tanpa membuka mata. "Sepuluh kotak martabak kalau kau bisa diam selama sepuluh menit saja."

​"Yah! Pelit amat syaratnya! Diem sepuluh menit itu lebih susah daripada ngalahin satu kompi tentara, Mas!"

​Perdebatan konyol itu berlanjut hingga malam makin larut. Di rumah yang dulunya dingin itu, kini terdengar suara tawa yang saling bersahutan. Sang Iblis mungkin mulai migrain karena ulah si Gadis Semprul, tapi di saat yang sama, hatinya yang beku mulai mencair, satu persatu, tepat di bawah jemari kecil Ailen yang tidak pernah bisa diam.

​Malam itu, Leon Vancort belajar satu hal baru: migrain adalah harga kecil yang harus dibayar untuk sebuah kebahagiaan yang tidak masuk akal.

1
Riska Baelah
ap pun msalh ny slalu berakhir dng manis🤣😄🤣😄🤭👍
kya martabak komplit👍👍👍
Riska Baelah
suka bnget sama leon mna bos kaya, sabar lg ngadepin si aelin kekasih semprul ny😄🤣😄🤭👍👍👍👍
Riska Baelah
🤣😄🤣😄😄😄🤣🤭
Riska Baelah
ya gak d kenyataan gak d dunia novel yg nma ny perempuan, klu liat diskon gak akan thannnn🤣😄🤣😄🤣🤭
Riska Baelah
swettt😍😍😍😍
Riska Baelah
sempat2 ny leon ailen ciuman d tengah perang yaaa🤣😄🤣😄🤭
Riska Baelah
😍😍😍😍😍
Riska Baelah
lnjut👍👍👍👍
Riska Baelah
😍😍😍😍😍😍
Riska Baelah
kk ini ya bisa bnget buat kata2"
tampa ada sehelai rambut yg brani membangkang"😄🤣😄🤣😄🤭👍
Riska Baelah
gimana cara ny mati sambil ketawa😄🤣😄🤣🤭 ad2 aj kk ini👍
Riska Baelah
🤣😄🤣😄🤣🤭👍
Riska Baelah
kk, ap ini kisah ank ny karin sama vittorio,,yg d sebelah
Riska Baelah: kirain, soal ny blum rela jg klu vittorio d tamatin🤭
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!