NovelToon NovelToon
OM CEO Itu Suamiku

OM CEO Itu Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Perjodohan
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: jlianty

Aku tidak pernah menyangka pria yang kupanggil “Om” akan menjadi suamiku.

Pernikahan ini bukan karena cinta, tapi karena sebuah rahasia yang mengikat kami.
Dia dingin, kejam, dan penuh aturan. Tapi semakin aku mencoba menjauh… dia justru tidak pernah melepasku.

Di balik sikapnya yang kejam, ada sesuatu yang tidak bisa aku pahami. Apakah aku hanya permainan… atau benar-benar miliknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jlianty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Konflik Besar

Pertengkaran itu tidak direncanakan. Tidak ada yang bangun pagi itu dengan niat untuk berantem. Tidak ada provokasi besar, maupun adanya kejadian dramatis. Hanya satu kalimat dari mulut Rafandra, di waktu yang salah, dengan nada yang salah dan semuanya meledak.

Dimulai dari telepon yang Zahra tidak sengaja dengar. Ia baru turun dari kamarnya, masih setengah mengantuk, waktu suara Rafandra dari studio terdengar lebih keras dari biasanya cukup signifikan.

Zahra berhenti di depan pintu studio yang tidak tertutup rapat.

"—tidak perlu kamu khawatirkan. Zahra tidak akan jadi masalah." Hening. Rafandra mendengarkan sesuatu dari telepon.

"Dia masih muda. Belum mengerti cara kerja situasi ini. Aku yang akan mengaturnya."

Klik. Sambungan terputus.

Zahra berdiri di sana. Zahra tidak akan jadi masalah. Belum mengerti. Aku yang akan mengaturnya.

Darahnya naik langsung mendidih, tapi masih terkontrol dan sangat, sangat jelas arahnya. Ia mendorong pintu studio. Rafandra menoleh. Ekspresinya tidak berubah tapi matanya langsung tahu.

"Kamu menguping."

"Dia masih muda, belum ngerti, aku yang akan mengaturnya.'" Zahra mengulangi kata per kata. Suaranya flat. "Gue kutip dengan benar?"

Rafandra meletakkan HPnya ke meja. "Zahra—"

"Gue mau tanya satu hal." Zahra masuk selangkah. "Selama ini semua yang Om lakuin, semua yang Om bilang itu tulus? Atau itu bagian dari 'mengatur' gue supaya gue nggak jadi masalah,?"

"Kamu salah mengartikan konteksnya zahra." Katanya lembut, mencoba tenang.

"Gue salah mengartikan?" Suaranya naik satu level. "Om bilang gue belum ngerti cara kerja situasi ini. Situasi apa? Pernikahan kita? Gue yang nggak ngerti pernikahan kita sendiri?"

"Bukan itu—"

"Terus apa, Om?" Zahra menarik napas. "Karena dari yang gue denger gue kedengarannya kayak proyek yang perlu dikelola. Bukan istri."

Rafandra berdiri dari kursinya. "Telepon itu bukan tentang kamu seperti itu." Suaranya tetap terkontrol tapi ada sesuatu yang lebih tegang di baliknya.

"Ada pihak-pihak yang mencoba menggunakan situasi pernikahan kita untuk kepentingan mereka. Aku sedang menangani itu." mencoba menjelaskan

"Dengan bilang ke mereka bahwa gue nggak akan jadi masalah?"

"Untuk memastikan kamu tidak terseret ke dalam hal-hal yang berbahaya, dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi ZAHRA!." tegasnga

"Itu keputusan Om buat gue buat?!" Zahra menggeleng.

"Om nggak pernah tanya gue mau apa. Om nggak pernah kasih gue pilihan. Dari awal sebelum pernikahan ini bahkan terjadi semua sudah diputusin tanpa gue dan sekarang Om bilang Om lagi 'melindungi' gue?"

"Ya." Satu kata. Keras. Lebih keras dari yang Zahra pernah dengar dari Rafandra. "Itu yang aku lakukan."

"Gue nggak minta dilindungi dengan cara itu!"

"Kamu tidak tahu apa yang kamu hadapi."

"Karena Om nggak pernah bilang!" Suara Zahra akhirnya pecah, frustasi yang sudah terlalu lama ditahan.

"Om selalu bilang 'belum waktunya', 'nanti', 'kamu belum siap'. Kapan, Om? Kapan gue dianggap cukup siap buat tau kebenaran tentang hidup gue sendiri?"

Rafandra menatapnya. Diam. Tapi kali ini diamnya berbeda bukan diam yang tenang. Tapi ia sangat ingin menyenangkan zahra, memeluknya.

"Kamu mau tahu semuanya?" suaranya turun. "Sekarang?"

"Ya."

"Baik." Rafandra melangkah ke meja, membuka laci paling bawah, mengambil sebuah map tebal. Meletakkannya di meja di depan Zahra. "Baca ini. Semua yang ada di sini adalah alasan mengapa pernikahan ini terjadi, siapa saja yang terlibat, dan apa yang sedang aku hadapi."

Zahra menatap map itu.

"Tapi aku peringatkan kamu satu hal." Rafandra menatapnya langsung. "Setelah kamu baca tidak ada jalan untuk tidak tahu dan apa yang ada di sana bukan sesuatu yang mudah cernah."

Hening. Zahra meraih map itu. Rafandra tidak mencegah.

.

.

.

Zahra membaca selama dua jam di kamarnya. Pintu terkunci. HP dimatikan. Hanya dia dan map itu dan kata-kata yang makin lama makin berat di setiap halamannya.

Nama-nama yang tidak dia kenal. Angka-angka yang tidak langsung dia pahami. Tapi di antara semua itu beberapa hal yang sangat jelas:

Keluarga Hendra sudah masuk dalam pusaran masalah jauh lebih dalam dari sekadar perusahaan yang hampir bangkrut.

Pak Irwan pria di gala dinner itu —ada di balik sebagian besar tekanan yang membuat pernikahan ini dipercepat.

Dan Rafandra, selama dua tahun terakhir, sudah menahan semuanya sendirian sebelum memutuskan untuk mempercepat pernikahan ini sebagai langkah perlindungan.

'Perlindungan.'

Bukan untuk bisnisnya.

Tapi untuk keluarga Hendra. Untuk ayah Zahra. Untuk Zahra sendiri yang tidak tahu apa-apa.

Zahra menutup map itu.

Tangannya tidak gemetar. Tapi dadanya terasa sangat penuh dengan sesuatu yang tidak punya nama yang tepat.

.

.

.

Ia turun jam tiga sore. Rafandra ada di ruang keluarga duduk di kursi single, buku di tangan tapi tidak dibaca. Matanya langsung ke arah Zahra waktu dia muncul di tangga.

Zahra berdiri di bawah tangga. Map di tangan.

"Kenapa Om nggak bilang dari awal?" suaranya tidak marah lagi. Hanya... lelah.

"Karena kamu baru saja masuk ke kehidupan yang sangat berbeda dari yang kamu kenal." Rafandra meletakkan bukunya. "Aku tidak mau membebanimu sebelum kamu punya waktu untuk menyesuaikan diri."

"Itu keputusan Om buat gue?."

"Ya." tidak menyangkal. "Dan kalau itu salah aku minta maaf."

Zahra menatapnya. Rafandra Surya Wibowo minta maaf. Kalimat yang dua minggu lalu tidak akan pernah Zahra bayangkan keluar dari mulut pria itu.

"Om harusnya percaya gue," kata Zahra akhirnya. Pelan. "Gue mungkin masih muda. Gue mungkin belum ngerti semua cara kerja dunia Om. Tapi gue bukan orang yang gampang hancur kalau dikasih tau kebenaran."

Rafandra menatapnya lama.

"Aku tahu," katanya akhirnya.

"Jadi mulai sekarang jangan atur gue. Ajak gue bicara." Zahra meletakkan map di meja. "Kita hadapi ini sama-sama atau nggak sama sekali."

Ruangan itu sunyi seketika. Rafandra menatap map itu. Lalu menatap Zahra. Dan untuk pertama kali sejak Zahra mengenal pria ini ada sesuatu di matanya yang tidak tersembunyi. Tidak terkontrol. Tidak dijaga.

Sesuatu yang terlihat sangat seperti lega.

"Sama-sama," katanya akhirnya. Satu kata. Tapi beratnya berbeda dari semua kata yang pernah dia ucapkan sebelumnya.

Zahra mengangguk. Ia berbalik ke tangga tapi berhenti di anak tangga pertama.

"Om Rafa."

"Hm."

"Terima kasih udah nahan semuanya selama ini." Tidak menoleh. "Tapi lain kali om nggak perlu sendirian."

Ia naik tangga tanpa menunggu jawaban.

Di belakangnya, Rafandra masih duduk di kursi yang sama menatap tempat Zahra berdiri tadi dengan ekspresi yang, untuk pertama kali, tidak ada yang disembunyikan.

.

.

.

1
Liadjamileba 08
bagussss bangettt
plisss lanjut ceritanya kak🥰🙏🏼🙏🏼
jlianty: sabar ya, masih dalam peninjauan bab selanjutnya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!