NovelToon NovelToon
Di Balik Topeng Kembar

Di Balik Topeng Kembar

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia / CEO
Popularitas:527
Nilai: 5
Nama Author: Diyanathan

Ziva kembali ke keluarga kandungnya setelah dua puluh tahun terpisah, namun ia harus menyembunyikan identitas aslinya sebagai bos mafia yang kejam.

Di sana, ia bertemu Arsen—pria yang dikenal sebagai pengusaha sukses, tapi ada aura bahaya yang tak bisa dibohongi oleh naluri Ziva.

Mereka saling tertarik, tapi sama-sama memakai topeng.

Saat rahasia terbongkar, akankah cinta mereka bertahan... atau justru menjadi alasan untuk saling menghancurkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diyanathan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua Raja Kegelapan & Mata yang Mengawasi

Suara mobil menderu kencang memasuki halaman rumah keluarga Sterling. Pintu terbuka, dan Zio serta Ziva masuk dengan membawa Zea yang masih terlihat lemas dan ketakutan.

Melihat putri angkatnya yang wajahnya pucat, mata bengkak, dan pakaian berantakan, Victoria dan James sontak kaget setengah mati.

"Ya Tuhan! Zea! Sayang, apa yang terjadi padamu?!" seru Victoria panik, segera berlari mendekat dan memeluk gadis itu.

"Siapa yang berani melakukan ini?! Katakan pada Papa!" wajah James berubah murka, urat lehernya menonjol menahan amarah.

"Tenang Pa, Ma. Kami sudah selamatkan dia. Dia cuma syok dan trauma," jelaskan Ziva pelan sambil membantu Zea duduk di sofa.

Segera setelah itu, James memerintahkan asisten rumah tangga untuk memanggil dokter pribadi keluarga dengan segera.

Tak lama berselang, suara mobil lain terdengar. Kevin dan Daniel baru pulang dari urusan luar. Begitu tahu Zea terluka dan menangis, Kevin yang biasanya tenang seketika berubah menjadi iblis. Wajahnya datar namun matanya memancarkan aura membunuh yang sangat pekat. Ia berjalan cepat masuk ke ruang tengah.

"Zea..." panggilnya parau.

Dokter pun segera datang dan memeriksa kondisi Zea. Setelah diberi obat penenang dan dipastikan tidak ada luka fisik yang parah—hanya memar dan syok berat—Zea akhirnya tertidur lelap. Namun anehnya, meski mata sudah terpejam, tangan kecilnya masih menggenggam erat jari-jari Ziva. Ia tak mau melepaskan sedikitpun, seolah Ziva adalah satu-satunya pelindung dan tempat ternyamannya saat ini.

Ziva tersenyum tipis, membiarkan tangannya digenggam. Ia mengelus rambut Zea pelan.

Di sudut ruangan, Kevin menyaksikan pemandangan itu. Hatinya terasa sakit dan panas.

'Viona...' batin Kevin menggertakkan giginya. 'Kau berani menyakiti gadis yang kujaga... kau akan menyesal pernah lahir ke dunia ini. Aku akan menghancurkan hidupmu perlahan-lahan.'

Kevin membalikkan badan dan keluar dari ruangan dengan langkah berat. Di luar, ia mengirimkan satu pesan singkat ke nomor rahasia.

'Cari lokasi Viona sekarang. Hancurkan segalanya. Jangan biarkan dia tinggal tenang.'

Tak ada yang tahu, bahwa di balik sikap disiplin dan dinginnya Kevin sebagai anak keluarga kaya, ia adalah Raja Mafia paling ditakuti dan disegani di kota ini. Kekuasaannya luas, dan siapapun yang menentangnya akan lenyap tanpa bekas.

Dan saat ini, Raja itu sedang sangat marah.

 

Malam Harinya...

Langit malam gelap, tertutup awan hitam. Angin berhembus kencang seakan turut merasakan dendam yang membara.

Di dalam kamarnya, Ziva berdiri di depan cermin. Wajahnya yang lembut kini berubah menjadi dingin dan tajam.

"Viona..." bisiknya pelan. "Kau pikir kau bisa lepas begitu saja setelah membuat Zea ketakutan? Salah besar."

Ziva mengenakan setelan hitam ketat yang menutupi seluruh tubuh, topi, dan masker. Ia sudah siap untuk bertindak. Sebagai pemimpin organisasi besar, membalas dendam adalah hukum alam baginya.

Dengan lincah, Ziva memanjat turun dari jendela kamarnya. Di tempat yang sudah disepakati, beberapa anak buahnya sudah siap menunggu dengan hormat.

"Bos."

"Bawa aku ke tempat Viona sekarang. Aku ingin berurusan dengannya malam ini juga," perintah Ziva dingin.

Mereka bergerak cepat menuju perumahan elit tempat tinggal Viona.

Namun, saat Ziva dan pasukannya baru sampai dan bersiap turun dari mobil, Ziva menyadari sesuatu. Suasana di sana sudah terasa mencekam. Ada aura kekuasaan yang sangat besar dan menekan di area rumah Viona.

'Ada orang lain di sana,' batin Ziva waspada.

Dengan sigap, Ziva memberi isyarat agar anak buahnya berhenti. Ia sendiri menyelinap cepat dan bersembunyi di balik semak-semak dan pilar besar di halaman rumah Viona untuk mengintai situasi.

Ternyata... ia terlambat.

Di teras rumah Viona yang terang benderang, ia melihat sekelompok pria berjas hitam dengan tatapan mematikan sedang berdiri baris rapi. Dan di tengah mereka, berdiri seorang pria dengan punggung tegap, mengenakan mantel panjang hitam, memancarkan aura yang jauh lebih berbahaya dari siapa pun yang pernah Ziva temui.

Viona dan orang tuanya terlihat berlutut gemetar di hadapan pria itu, menangis memohon ampun.

Ziva mengerutkan kening di balik persembunyiannya. 'Siapa pria itu? Kekuatannya selevel denganku.'

Karena merasa bukan saat yang tepat untuk muncul, Ziva memutuskan untuk tetap bersembunyi dan mengawasi dulu.

 

Namun, drama malam ini belum berakhir.

Tepat di bawah pohon besar yang cukup tinggi, dan di samping gedung bertingkat di seberang jalan, ada sepasang mata yang sejak tadi memperhatikan setiap gerak-gerik Ziva.

Itu adalah Arsen.

Pria itu sebenarnya sedang memantau wilayahnya, tapi instingnya membawanya ke sini saat merasakan ada kekuatan besar bergerak. Dan betapa terkejutnya ia saat melihat sosok yang ia cari-cari ada di sana.

Arsen menyeringai kecil di balik topeng malamnya.

Ia melihat dengan jelas bagaimana Ziva bergerak. Cara dia memberi komando pada anak buahnya, cara dia bersembunyi dengan profesional, dan tatapan matanya yang tajam... itu bukan tatapan seorang putri manja keluarga kaya biasa.

Itu tatapan seorang pemimpin. Seorang penguasa.

"Gadis ini... semakin menarik," gumam Arsen pelan. "Dia tangguh, berbahaya, dan terlihat sangat berkuasa. Lihat itu, orang-orang di belakangnya mematuhi perintahnya seolah dia adalah ratu."

Rasa curiga Arsen semakin menjadi-jadi. Malam ini, ia berjanji akan menggali semua informasi tentang Ziva.

Segera setelah situasi aman dan Ziva pergi, Arsen langsung menghubungi tim intelijen terbaiknya.

"Cari semua data tentang Ziva Sterling. Sejarah hidup, latar belakang, di mana dia tinggal selama ini, siapa orang tuanya dulu, semuanya! Aku butuh info lengkap sekarang juga!" perintah Arsen melalui telepon.

Namun, sepuluh menit kemudian, jawaban yang datang justru membuat Arsen tercengang.

'Laporan, Tuan. Data mengenai Nona Ziva sangat sulit ditembus. Sebagian besar arsip kehidupannya sebelum bertemu keluarga Sterling hilang, terkunci rapat, atau bahkan sengaja dihapus. Kami tidak bisa menemukan apa pun. Satu-satunya data yang ada hanyalah catatan resmi saat dia dipulangkan dan diakui oleh keluarga Sterling beberapa hari yang lalu.'

Arsen terdiam menatap layar ponselnya.

"Kosong...? Tidak ada jejak sama sekali..." Arsen tersenyum miring, matanya berbinar penuh minat. "Wah, Ziva... siapa kau sebenarnya? Kenapa masa lalumu begitu gelap dan tersembunyi layaknya rahasia negara?"

Arsen semakin yakin, gadis yang dicintainya ini bukan wanita biasa. Dia menyimpan rahasia besar di balik senyum dan wajah cantiknya.

Dan di tempat lain, Kevin pun baru saja selesai dengan urusannya. Ia berdiri di balkon kamarnya, menatap malam dengan pikiran yang sama.

'Ziva... ada sesuatu yang berbeda darimu. Jangan-jangan... kau juga salah satu dari kami?'

Malam itu, tiga kekuatan besar saling mengintai, saling menyembunyikan identitas, tanpa mereka sadar bahwa mereka berada di level yang sama.

1
YusWa
karya baru Thor? semangat semoga sukses
Mimpi Pencatat: Terimakasih suportnya ya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!