Erlangga Mahardika Pratama—seorang CEO muda yang dikenal dingin dan tak tersentuh—terbiasa mengendalikan segalanya dalam hidupnya. Hingga satu hari, sebuah kegagalan cinta menghancurkan pertahanannya, dan mempertemukannya dengan Zea Anindhita Kirana, gadis sederhana yang datang tanpa rencana… namun perlahan mengisi ruang kosong di hatinya.
Hubungan mereka tumbuh dalam diam—penuh tarik ulur, perbedaan dunia, dan luka yang belum sembuh. Di tengah kehangatan yang mulai tercipta, kebahagiaan itu justru direnggut oleh sebuah kebohongan kejam.
"Kadang, cinta datang bukan untuk dimulai... tapii untuk di perbaiki"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M. ZENFOX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yang Seharusnya Tidak Terjadi
Mobil sport hitam itu meluncur gila membelah keheningan malam Jakarta. Lampu-lampu jalan berkelebat di kiri dan kanan seperti garis cahaya yang cacat, memantul di kaca depan yang mulai buram oleh embusan napas berat Erlangga. Tangannya mencengkeram setir dengan buku-buku jari yang memutih hingga kaku, ia seolah ingin meremukkan kulit kemudi itu untuk mengalihkan rasa sakitnya. Napasnya tidak lagi stabil, setiap tarikan udara terasa seperti menghirup uap belerang yang membakar paru-parunya.
“Brengsek…” desisnya pelan, suaranya parau dan pecah di tenggorokan yang kering.
Pandangannya mulai kabur. Titik-titik cahaya di depannya tampak menari-nari dan berbayang. Rasa panas yang tidak wajar itu, reaksi dari zat sialan yang dicekokkan Mr. Dong kini menyebar tanpa bisa ia tahan, menggerogoti setiap inci akal sehat dan benteng pertahanan mentalnya. Dengan sisa kesadaran yang menipis, mobil itu berbelok tajam, ban berdecit keras di atas beton saat memasuki basement sebuah apartemen mewah di pusat kota.
Rem diinjak mendadak. Mobil itu berhenti dengan guncangan yang mengocok isi perut. Erlangga membuka pintu dengan kasar, hampir tersungkur saat kakinya menyentuh lantai. Ia memaksakan dirinya berdiri, meski dunia di sekitarnya terasa berputar 180 derajat. Langkahnya tidak lagi setegas biasanya, pundaknya bersandar pada dinding lift yang dingin, mencoba mencari sedikit kenyamanan dari logam beku tersebut.
Tangannya menekan tombol lift. Satu kali. Dua kali. Jemarinya gemetar hebat, keringat dingin membanjiri keningnya hingga kemeja putih yang dikenakannya kini basah kuyup dan menempel di kulit. Saat pintu lift terbuka, sebuah suara yang sangat familier membelah kesunyian lantai basement.
“Om…?”
Erlangga menoleh samar. Kepalanya berdenyut seakan dihantam palu godam. Sosok itu, pakaian sederhana, seragam cleaning service yang sedikit kedodoran, dan rambut yang diikat asal-asalan terasa seperti satu-satunya titik fokus di tengah dunianya yang buram.
“Zea?” gumamnya, suaranya lebih menyerupai rintihan.
“Om—eh, Langga?” Suara Zea berubah drastis dari heran menjadi kaget saat melihat kondisi pria di depannya. Wajah Erlangga merah padam, matanya sayu namun memancarkan kilat yang menakutkan. “Kamu kenapa? Kamu sakit? Muka kamu merah banget!”
Erlangga tidak menjawab. Ia mencoba melangkah masuk ke lift, namun tubuhnya tiba-tiba kehilangan keseimbangan, limbung ke depan. Refleks, Zea langsung menghambur menahan beban tubuh Erlangga yang jauh lebih besar dan berat darinya.
“Ya ampun… badan kamu panas banget! Panasnya nggak wajar, Langga! Kamu keracunan?” Zea panik, tangannya yang mungil berusaha sekuat tenaga menopang pundak kokoh Erlangga agar tidak ambruk di lantai beton.
Erlangga membenamkan wajahnya di bahu Zea sejenak, menghirup aroma sabun murah dari seragam gadis itu yang entah kenapa terasa menenangkan. “Lantai… tiga delapan…” lirihnya di telinga Zea. “…ruang… satu kosong satu…”
Zea langsung mengangguk cepat meski jantungnya sendiri berdegup kencang karena takut. “Oke, oke… tahan sebentar ya. Kita ke atas sekarang. Tolong jangan pingsan di sini.”
Dengan susah payah, Zea memapah Erlangga masuk ke dalam lift. Di dalam ruang sempit itu, atmosfer terasa mencekik. Napas Erlangga terdengar berat, kasar, dan panas, memenuhi setiap inci ruangan yang hening. Zea berusaha tetap tegar, meski ia bisa merasakan aura panas yang memancar dari tubuh Erlangga mulai menular ke kulitnya. Ia menatap angka-angka lift yang bergerak naik dengan gelisah.
Ding.
Pintu lift terbuka di lantai tiga puluh delapan. Zea menyeret langkah demi langkah di atas karpet koridor yang tebal, memapah pria yang biasanya tampak seperti dewa tak tersentuh itu. Sampai akhirnya mereka berhenti di depan unit 101.
“Tunggu ya… kuncinya mana?” tanya Zea bingung.
“Sidik… jari…” Erlangga mengarahkan tangannya yang bergetar ke panel digital.
Klik.
Pintu terbuka dengan bunyi mekanis yang halus. Zea langsung membawa Erlangga masuk dan menutup pintu dengan tumit kakinya. Ruangan itu gelap, hanya menyisakan keremangan dari lampu-lampu kota yang masuk lewat jendela besar dari lantai tiga puluh delapan. Tanpa menyalakan lampu utama, Zea membimbingnya ke kamar utama, merebahkan tubuh berat itu di atas kasur king size.
“Astaga… kamu kenapa sih? Aku harus telepon dokter atau ambulans?” gumam Zea dengan suara gemetar. Ia hendak berbalik, ingin mengambil air dingin di dapur atau mencari ponselnya untuk mencari bantuan. Namun, saat ia baru saja melangkah membelakangi tempat tidur, sebuah tangan yang terasa seperti bara api mencengkeram pergelangan tangannya.
Erlangga menarik Zea dari belakang. Kekuatan pria itu, meski dalam kondisi keracunan, tetap jauh di atas Zea. Zea terkesiap saat tubuhnya tertarik kembali ke atas tempat tidur, jatuh tepat ke dalam dekapan Erlangga yang sangat protektif sekaligus menuntut.
“Langga—” Zea terkejut, napasnya tertahan. Ia mencoba melepaskan diri, tapi pelukan itu mengunci pergerakannya sepenuhnya. “Lepas… Langga… kamu sadar nggak sih kamu ngapain? Kamu lagi nggak sehat!”
Erlangga tidak menjawab dengan kata-kata. Kesadarannya sudah sepenuhnya tenggelam dalam kabut gairah paksaan dari zat tersebut dan sisa amarah pengkhianatan Mr. Dong. Napasnya terasa panas dan memburu di ceruk leher Zea, membuat seluruh tubuh gadis itu gemetar. Tangannya melingkar semakin erat di pinggang Zea, seolah-olah jika ia melepaskan sedikit saja, ia akan jatuh ke dalam jurang kegelapan yang tak berdasar.
Zea mulai panik. Ia berusaha mendorong dada bidang Erlangga yang terasa sekeras batu. “Tolong… jangan… Langga, berhenti! Kamu bukan orang yang kayak begini!”
“Diam…” bisik Erlangga parau. “Hanya sebentar… kepalaku… sakit sekali.”
Suara itu terdengar begitu tersiksa hingga membuat pertahanan Zea sedikit goyah. Namun, rasa takut tetap lebih besar. “Tapi nggak begini caranya! Kamu harus minum obat, harus ke dokter!”
Zea kembali berontak, namun Erlangga justru membalikkan posisi hingga Zea berada di bawah kungkungannya. Di bawah cahaya remang yang menembus jendela, Zea bisa melihat mata Erlangga yang biasanya tajam dan dingin, kini tampak liar dan rapuh.
“Om… Langga… sadar… kumohon…” bisik Zea terakhir kali, air mata mulai menggenang di sudut matanya dan jatuh membasahi bantal. “Kamu bilang aku anomali buat kamu… jangan hancurkan anomali itu malam ini.”
Erlangga tertegun sejenak. Kata-kata itu seperti jarum yang menusuk sisa-sisa kesadarannya yang terkubur dalam. Ia menatap wajah Zea—gadis yang baru dikenalnya, gadis yang tidak tahu apa-apa tentang dunianya yang kotor, namun satu-satunya yang bersedia menopangnya saat ia jatuh.
Namun, zat di dalam darahnya berbicara lebih keras. Perang batin terjadi di balik tatapan matanya yang merah. Tangannya yang semula mencengkeram bahu Zea kini perlahan bergerak ke arah wajah gadis itu, mengusap air mata dengan jemari yang masih gemetar hebat.
“Zea…” panggilnya dengan suara yang pecah.
Di ruangan yang sunyi dan hanya dihiasi bayangan lampu kota, ketegangan menggantung begitu pekat hingga terasa menyesakkan. Zea masih mencoba melawan dengan tenaga yang tersisa, namun perlahan ia merasakan pria itu kehilangan kendali sepenuhnya. Ketakutan Zea memuncak saat ia menyadari bahwa malam ini, pintu apartemen itu telah mengunci mereka dalam sebuah takdir yang tidak pernah direncanakan, sebuah malam yang akan mengubah hidup sang CEO Mahardika dan sang gadis anomali selamanya.
Lampu kamar tetap redup, bayangan mereka jatuh samar di dinding kamar yang dingin, sementara di luar sana, Jakarta tetap sibuk, tidak tahu bahwa salah satu rajanya tengah bertekuk lutut pada insting yang paling liar.